Rahasia Manis Suksesnya Mixue

649
Facebooktwitterpinterestlinkedinmail


Di edisi bulan lalu, kita me-review produk-produk Mixue yang baru buka di Sydney World Square. Sekarang, yuk kita lihat bagaimana Mixue bisa begitu sukses di mana-mana!

Asal Usul Mixue
Pada tahun 1997, dua saudara bernama Zhang Hongchao dan Zhang Hongfu yang berasal dari Henan mulai menjual es serut di kota Zhengzhou. 

Awalnya, perusahaan kecilnya dinamai “Mixue Ice Cream & Tea” yang setelah itu didirikan sebagai Mixue Bingcheng, yaitu istana es yang terbuat oleh salju manis. Tujuannya adalah untuk memberi produk dengan kualitas tinggi dan harga terjangkau bagi seluruh dunia. 

Hongchao mulai menjual produknya di samping sebuah toko kecil. Namun, dalam beberapa tahun, mereka menghadapi beberapa situasi sulit yang memaksa mereka untuk akhirnya menutup toko pertamanya. 

Pada awal tahun 2000, mereka mulai menjual makanan China dan Barat, tapi jualan ini kurang berhasil. Akhirnya, pada tahun 2005, mereka membuat es krim susu yang pertama dan pada tahun 2007 Mixue membuka gerai es krim pertamanya! Di tahun 2018, Mixue meluncurkan branding yang baru dan memerkenalkan maskotnya yang berupa manusia salju bernama Snow King.

Pada tahun yang sama, Mixue membuka gerai pertamanya di Hanoi, Vietnam. Ketika COVID-19 menerpa dunia, banyak toko minuman tutup karena jumlah pelanggan menurun drastis. Namun, ketika semua toko lainnya menjual es krim dengan harga 10 yuan, Mixue berhasil untuk menjualnya dengan harga 2 yuan saja! 

Para pelanggan pun mulai mengalir ke Mixue. Walaupun mereka mengatakan bahwa rasa es krim Mixue tentunya nggak seenak brand high end, seperti HeyTea di China, tapi dengan harga sedemikian terjangkau, rasa masih bisa diadu.

Beberapa pelanggan bahkan merasa es krim Mixue seperti mengingatkan kembali cita rasa nostalgia es krim masa lalu, saat mereka masih kecil. Dengan demikian, saat merek-merek minuman teh lainnya mundur teratur dihantam kompetisi dan pandemi, Mixue malah berkembang pesat.

Setelah Vietnam, Mixue terus membuka cabang di sekitar Asia Tenggara, dan saat ini mencapai 20.000 cabang di seluruh dunia dan 197 di Indonesia. 

Model Bisnis
Mixue juga memiliki model bisnis yang sangat menarik. Berbeda dengan perusahaan bubble tea lainnya, seluruh supply chain Mixue dimiliki sendiri. Mereka juga memiliki semua pabrik yang memproduksi bahan-bahan yang mereka perlukan. Kontrol atas ketersediaan bahan ini memastikan bahwa kualitas dan jumlah bahan selalu terjamin.

Mereka juga memutuskan untuk membeli semua gudang yang diperlukan. Oleh karena itu, seluruh aspek dari supply chain Mixue benar-benar terkontrol sehingga Mixue dapat memangkas biaya
sewa gudang. Inilah yang membuat mereka mampu memotong harga dan memiliki keunggulan yang kompetitif dalam bidang F&B di Indonesia yang sudah sangat padat.

Mixue juga menggunakan model waralaba untuk membuka cabang. Seperti perusahaan lainnya yang menganut sistem ini, Mixue menjual bahan baku dan gelas-gelasnya kepada tiap franchisee-nya, menjadikan salah satu sumber pendapatan Mixue. Sistem ini juga membuat Mixue untuk memiliki langsung 50 gerai dari 20.000 gerai di seluruh dunia karena biaya sewa toko ditanggung oleh para franchisee. Tak ayal, Mixue mendapatkan keuntungan margin yang lumayan besar. 

Lokasi
Walaupun di Australia baru buka satu gerai, di Indonesia, Mixue telah menjamur seolah dalam semalam! Popularitasnya menjadi tren di internet, dan mereka bisa ditemukan di-mana-mana di Indonesia, baik di mal-mal besar maupun di ruko-ruko kecil. Setelah diperhatikan, gerai-gerai Mixue menyebar secara lebih konstan dibanding gerai Starbucks yang mengumpul di kisaran kota. Hal ini membuat Mixue sanggup untuk mencapai berbagai kelompok pelanggan dan meraih pendapatan yang besar.

Efisiensi dan Tipe Toko
Di Indonesia, tipe toko Mixue merupakan kombinasi tempat produksi dan area untuk duduk.
Selain memiliki luas area yang tepat untuk keramaian pelanggan, ada hal-hal lain yang juga membuat setiap tokonya optimal dan efisien. Salah satunya adalah kerumitan menunya. 

Menu Mixue memiliki banyak ragam produk, tapi ada beberapa kategori produk yang memiliki basis yang sama. Contohnya, es krim susu yang bisa dinikmati dalam king cone atau bisa dinikmati dalam sebuah cup dengan topping sirop stroberi, sirop mangga, atau boba. Oleh karenanya, pegawai Mixue dapat mengambil pesanan dan membuat minuman atau es krim secara cepat dan efisien.

Kompetisi dan Masa Depan
Walaupun Mixue telah berhasil untuk mengembangkan bisnisnya di masa yang sangat sulit ini,
banyak yang mengatakan bahwa masa depannya belum tentu akan selalu berjalan mulus.
Dengan penurunan ekonomi dunia, banyak toko teh di China mulai menurunkan harga mereka.
Yang awalnya tidak memiliki banyak kompetitor dalam golongan harganya, sekarang Mixue mulai menghadapi saingan-saingan baru.

Apakah Mixue akan terus bisa memertahankan kesuksesan mereka? Only time will tell!
Yang pasti, sekarang mereka adalah sebuah fenomena di bidang F&B yang kita bisa nikmati! [IM]

Previous articleSydney Opera House
Next articleMengenang Sosok Ibu Sumarni Natakusuma Soemarjono