Kelap-Kelip Bumi: Dalam Sekejap, Ke Mana Perginya Alam Kita?

177
Facebooktwitterpinterestlinkedinmail


Lampu-lampu di jendela apartemen di sekitarku berkedap-kedip ketika aku mematikan lampu di kamarku sendiri, menyinari malam hari yang tidak sunyi dalam desingan dan klakson dari jalanan di bawah. Aku beruntung bisa tinggal di daerah yang sangat aman pada malam hari, tapi pengorbanannya adalah sebuah langit yang jernih, sebuah langit yang tidak tercemar oleh cahaya buatan manusia. 

Seandainya ku bisa melihat bintang-bintang berkelap-kelip, menyahut rekan-rekan mereka di daratan. Seandainya aku bisa melihat kelap-kelip kunang-kunang, yang hanya keluar dalam suasana sunyi senyap dan gelap gulita. Pada saat-saat seperti ini, aku suka membayangkan kehidupan di tempat yang dikelilingi oleh alam, dikelilingi oleh bintang-bintang dan kunang-kunang setiap malam daripada cahaya lampu-lampu apartemen. 

Adikku selalu berkata bahwa kalau ada versi dunia lainnya, aku pasti menjadi seorang park ranger daripada seorang anak kota haha. Dari kecil aku suka banget nonton Animal Planet pada tengah malam ketika aku masih mau main dan nggak mau tidur. Orang tuaku awalnya memilihnya untuk membuatku ngantuk, tetapi aku malah jatuh cinta dengan acara itu dan semua cerita dan kehidupan hewan-hewan. 

Dari situ aku melanjut ke buku-buku cerita tentang karakter-karakter yang bisa berbicara dengan binatang, yang memiliki koneksi istimewa dengan hewan-hewan tertentu, baik itu hewan jinak seperti anjing dan kelinci, hewan liar seperti macan dan lumba-lumba, maupun hewan-hewan mitos seperti naga dan unicorn.

Cerita-cerita yang aku baca pada masa kecil dan remaja semuanya adalah cerita fiksi. Walaupun aku tahu cerita-cerita tersebut terinspirasi oleh hal-hal yang sesungguhnya terjadi di dunia, namun tetap berbeda ketika mendengar kejadian-kejadian yang sesungguhnya. Kejadian poaching terhadap hewan-hewan yang dilindungi, kejadian berburu untuk hiburan, kejadian pohon-pohon yang telah berdiri selama ratusan tahun dijatuhkan untuk dijadikan produk untuk dijual atau mengosongkan lahan untuk daerah perkebunan.

Aku terasa sangat kecil, seperti seekor kunang-kunang yang mungil di tengah dunia yang begitu besar dan begitu gelap. Ketika tokoh-tokoh besar memiliki kekuatan dan pengaruh yang jauh melebihiku. Ketika peristiwa-peristiwa alam yang menyedihkan terjadi di tempat yang sangat jauh dariku. Ketika aku tinggal di sebuah hutan beton, jauh dari wilayah-wilayah alam yang perlu perlindungan. 

Seandainya aku mengetahui lebih banyak tentang ini. Seandainya aku bisa melakukan lebih banyak dari ini. 

Pada saat bersamaan, aku mendengar para aktivis berteriak-teriak, terkadang bahkan menghancurkan barang-barang atas nama melindungi alam dari kehancuran dari manusia.
Dan jadinya capek banget mendengar kemarahan yang menyebar seperti kebakaran hutan.
Capek banget mendengar usulan yang terasa mustahil untuk dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. 

Namun, dalam kelelahan kehidupan dan kabar-kabar buruk, hal-hal kecil mulai muncul dalam kehidupan sehari-hariku. 

Aku kepengen sekali bermain di alam lagi dan merasakan air yang jernih mengalir di atas kakiku.
Aku selalu ingat rasanya berjalan di bawah pepohonan yang sejuk, di antara sambutan burung-burung yang bersembunyi, sebuah dunia yang persis seperti cerita-cerita yang aku baca. 

Akhir-akhir ini, saking sibuknya dengan pekerjaan, aku jadi belum sempat menghabiskan waktu di luar, apalagi karena Australia telah memasuki musim dingin. Maklum, ya, anak Jakarta nggak suka dingin hihi… Tapi aku juga tahu itu semua hanyalah sebuah alasan. Ketika aku keluar rumah, bahkan hanya untuk berjalan ke stasiun kereta, udara yang dingin terasa sangat menyegarkan. Ketika aku jalan ke mobil, wangi rumput dan hujan langsung melepaskan ketegangan di badan dan mengingatkan kembali kenangan-kenangan bermain di Puncak bersama keluargaku. 

Tidak hanya itu, akhir-akhir ini herannya aku mulai memikirkan cara untuk lebih sadar akan rutinitas sehari-hari untuk menjadi lebih ramah lingkungan. Aku mulai memisahkan sampah organik dari sampah yang bisa didaur ulang. Aku mulai tertarik dengan inisiatif City of Sydney untuk mengoleksi barang-barang yang sulit didaur ulang seperti bateri dan kemasan obat maupun baju dan mainan. Mereka bahkan akan datang dan mengambilnya dari rumah kita, jadi kita nggak perlu menambahkan perjalanan yang khusus untuk menyerahkan barang-barang tersebut! 

Sejujurnya aku juga lumayan kaget akan ketertarikkan aku terhadap hal-hal tersebut. Sebelum ini walaupun aku peduli terhadap lingkungan, namun rasanya sulit sekali untuk melakukan hal-hal ekstra yang ramah lingkungan karena dulunya aku tidak memiliki kebiasaan tersebut, apalagi di Jakarta di mana upaya daur ulang belum terlalu kuat. Selain itu aku juga tidak merasa bahwa hal itu akan membuat perbedaan yang besar (apalagi karena kadang walaupun ada dua kategori tempat sampah, akhirnya-akhirnya digabungkan juga). 

Mungkin ada sesuatu di dalamku yang selalu ingin melakukannya, sebuah cinta terhadap alam yang hanya memerlukan waktu untuk mekar dan mewujudkan dirinya dalam tindakan sehari-hari. Mungkin hanya memerlukan waktu untuk melepaskan ekspektasi dan suara orang lain yang mengharuskan tindakan tertentu. 

Pendapat dan suara-suara yang kita dengar dari media sekeliling kita seringkali mendesak kita untuk membuat tindakan sekarang, sekarang dan sekarang juga. Namun sebenarnya, ada suatu keindahan yang cemerlang ketika kita berhenti dan memberikan rasa peduli itu tempat untuk berkembang sendiri. Biarkanlah rasa itu keluar dari dalam hati, bukan dari tekanan yang datang dari luar. Itu yang akan membuatnya berkelap-kelip seperti seekor kunang-kunang yang kecil tetapi gemilang di tengah-tengah dunia yang sunyi dan gelap. [IM]

Previous articleDi Bawah Salju Laut
Next articleTemukan Petualangan Seru Saat Liburan Sekolah di Museum Maritim Nasional Australia