Mengenang Sosok Ibu Sumarni Natakusuma Soemarjono

378
Facebooktwitterpinterestlinkedinmail


26 SEPTEMBER 1938 – 15 MARET 2023

Innalilahi wainailahi rojiun… berita duka yang kuterima pagi itu begitu mengejutkan. Tidak percaya dengan apa yang kudengar, sampai beberapa kali aku ulang bertanya untuk memastikan kebenarannya. Suara serak bercampur tangis di telpon dengan lemah mengiyakan.

Bukan hanya aku, tapi semua masyarakat Indonesia di NSW merasa kaget dan kehilangan sosok seorang ibu, pendamping setia Bapak Jon Soemarjono, salah satu tokoh masyarakat Indonesia yang banyak berjasa dan berdedikasi tinggi.

Ibu Sumarni Natakusuma Soemarjono, lahir di Tasikmalaya 26 September 1938, yang lebih dikenal dengan panggilan ibu Itje, telah berpulang dengan tenang di usia ke 85 pada 15 Maret jam 01.31 di rumah sakit Siloam Jakarta dan dimakamkan di San Diego Hills Memorial Park.

Pada bulan Februari lalu, ibu Itje sudah 62 tahun dengan setia penuh kasih sayang menemani pak Jon, bersama-sama menapak jalan dalam suka dan duka.

Menikah pada 4 Februari 1961, setahun kemudian pak Jon mendapat tugas belajar di Sydney. Pada permulaan tahun 1965 seluruh keluarga dengan anak balita Tristanti dan Hadyan yang baru berumur beberapa bulan pindah ke Sydney, karena pak Jon mendapat pekerjaan sebagai dosen di Sydney Uni.

Dapat dibayangkan beratnya seorang ibu muda mengatur rumah tangga dengan dua anak kecil tanpa pembantu rumah tangga di masyarakat baru dengan budaya yang berbeda dan bahasa asing. Pada waktu itu belum ada keluarga-keluarga Indonesia selain mahasiswa dan pejabat pemerintah dan perusahaan yang tinggal di Sydney.

Ibu Itje sebagai istri tidak pernah mengeluh, selalu melepas suami bekerja dan menyambut suami pulang ke rumah dengan hangat dan nyaman. Tugas sebagai ibu rumah tangga dijalani dengan penuh suka cita apalagi disusul oleh lahirnya Raditya, melengkapi keluarga yang bahagia.

Waktu berjalan, ketiga anak mulai sekolah. Hari-hari ibu Itje disibukkan dengan mengurus, mengantar-jemput dan menghadiri pertemuan-pertemuan sekolah anaknya serta mengatur
semua kebutuhan keluarga. Terjaga di saat anak-anaknya sakit, menemani belajar dan memberi nasehat sehingga anak-anaknya tumbuh mandiri dan sukses.

Di tengah kesibukannya ibu Itje masih sempat aktif di kegiatan wanita dan sosial (OWIAS) yang dibentuk Konsulat Jenderal RI Sydney (sekarang Dharma Wanita).

Ibu bersuara lembut ini mempunyai jiwa yang kuat dan pendukung sang suami dalam berkarir. Selalu memberi semangat di saat suami lelah dan hampir menyerah. Peranannya sangat besar, menjadikan seorang Jon Soemaryono bertahan dan menjadi tokoh masyarakat yang dikenal, bukan saja oleh pemerintah Indonesia tapi juga pemerintah setempat.

Pak Jon menerima beberapa penghargaan dari pemerintah Indonesia, surat penghargaan
dari beberapa Konsul Jenderal RI Sydney, Menteri Luar Negeri Adam Malik dan ikut aktif dalam Kongres Diaspora Indonesia Pertama di Los Angeles pada tahun 2012.

Dari pemerintah dan organisasi Australia Pak Jon juga mendapat medali dan penghargaan,
mulai dari Mayor di Local Government, Minister dan Premier of NSW, sampai Prime Minister
dan Governor General di tingkat Commonwealth.

Tidak berlebihan bahwa penghargaan-penghargaan tersebut juga adalah berkat dorongan dan jerih payah Ibu Itje. Beberapa kali pula pak Jon diangkat sebagai Ketua Pemilu dan Ibu Itje dengan rela ditinggal sendiri di rumah saat suami menjalankan tugasnya.

Pak Jon dan ibu Itje merupakan pasangan yang tidak terpisahkan, dimana ada pak Jon disitu ada ibu Itje. Seperti kata bijak “behind every successful man, there stands a woman.”  

Sosok Ibu Itje yang Saya Kenal
Saya mengenal ibu Itje sejak saya tiba di Sydney tahun 1976. Bergabung dalam Perhimpunan Indonesia yang diketuai pak Jon, satu-satunya organisasi Indonesia yang ada masa itu. Bekerja bersama dengan ibu Itje dalam berbagai kegiatan.

Hubungan kami erat dan tetap terjaga, bahkan sampai usia senja mereka, saya masih sering mengunjungi dan mengadakan pertemuan dengan teman-teman dekat beliau. Karena saya tahu mereka sangat merindukan teman-teman lama.

Beberapa hari sebelum keberangkatan mereka ke Indonesia, pada 25 Januari lalu saya sempat mengadakan pertemuan dengan beberapa teman dekat. Dan itu merupakan pertemuan terakhir kami dengan ibu Itje. Beliau tampak sehat dan bahagia. Keluhannya hanya kakinya. Beberapa kali beliau mengatakan ingin tinggal di Indonesia dan tidak ingin kembali ke Sydney, karena kasihan dan tidak ingin membebani pak Jon.

Selama beliau di kursi roda, pak Jon dengan sabar menyiapkan semua kebutuhannya. Sinar matanya memancarkan rasa kasih sayang setiap bercerita tentang suami tercintanya. Ucapan terima kasih selalu diberikan setiap pak Jon mendorongnya di kursi roda.

Begitu besar kasih sayang mereka, saling mengasihi dan saling melengkapi. Ibu Itje dengan tutur katanya yang halus dikenal sangat generous dan siap membantu masyarakat yang membutuhkan bantuan dana.

Kini beliau pergi dengan tenang tanpa sakit, sesuai yang diinginkan tidak kembali lagi ke Sydney tapi beristirahat di tanah airnya Indonesia.

Ibu Itje mengajarkan kami arti kasih sayang yang tulus dalam hidup, bahkan setelah pergi, kasih sayang itu tetap ada.

Selamat jalan ibu. Jangan risau, kami akan menjaga pak Jon. [IM]

 

Oleh Yoen Yahya

Previous articleRahasia Manis Suksesnya Mixue
Next articleABSC INC. Gelar Konferensi Media Untuk Mempromosikan Ekonomos Edisi 4