This December, Let’s Go To Christmas Island!

225
Facebooktwitterpinterestlinkedinmail


Dengan perbatasan antarnegara bagian yang sudah terbuka semua, mari kita holiday di Pulau Christmas yang menakjubkan bak Pohon Terang–baik sejarah dan kecantikannya.

Christmas Island adalah nama yang begitu menarik untuk sebuah pulau kecil di titik terjauh Australia. Dikenal sebagai “Galapagos of the Indian Island”, kekayaan alam dan budayanya sungguh menakjubkan. Bagaimanakah pulau ini ditemukan dan apa yang dialaminya hingga kini? Mari kita “jalan-jalan” di sejarah dan fakta-fakta uniknya.

Christmas Island on Christmas Day
Pulau kecil ini sebenarnya ditemukan oleh Richard Rowe pada tahun 1915, tetapi baru mendapatkan namanya saat Captain Mynors dan krunya di kapal The Royal Mary tiba di pulau itu di hari natal 1643. Tak ayal, Pak Kapten pun menamakannya Christmas Island–meski beberapa nama lain muncul seiring berjalannya waktu, hanya nama Christmas Island-lah yang paling yang melekat pada pulau kecil bak surga di dunia ini. Nama pulau yang catchy kemudian identik dengan liburan dan holiday-feels yang para pelancong alami saat mengunjungi pulau ini.

Dekat Indonesia
Meskipun merupakan bagian dari negara Australia, lokasi pulau ini sebenarnya lebih dekat ke negara tetangga, Indonesia. Lokasinya hanya sekitar 350 kilometer di selatan Jawa dan Sumatra, sementara ke daratan Australia berjarak 1,550 kilometer. Penduduknya sendiri berasal dari berbagai ras dan budaya. Diperkirakan, 2/3 nya itu dari orang-orang China keturunan Malaysia atau Singapura. Agama dan bahasa yang digunakan di sana pun beragam. Pulau yang hanya berukuran 135 kilometer persegi itu ternyata adalah tempat keberagaman yang kaya sekali, ya.

Lokasi Penambangan
Awalnya, para penjelajah yang tiba di pulau ini mengambil beragam contoh flora dan fauna untuk pengembangan koleksi biologi dan mineralogi. Kemudian, Davis Murray, seorang insinyur mekanika dari Purdue University ditugaskan untuk penambangan fosfat di sana. Murray kemudian dikenal sebagai “King of Christmas Island”. Karena kekayaan alamnya juga, pulau ini pun menjadi sasaran penjajahan Jepang saat Perang Dunia II. Jepang membom stasiun radio dan berhasil mengirimkan pasukannya untuk menguasai pulau itu. Tahun 1943, 60% penduduk Pulau ini “dibuang” ke penjara di Surabaya.

Menjadi Milik Australia
Pada tahun 1945, pulau ini kembali dikuasai oleh Inggris sebelum akhirnya diberikan pada Australia. Atas seijin pemerintah Inggris, Australia memberi kompensasi sebesar $20 juta pada Singapura sebagai pengganti untuk hilangnya pemasukan dari penambangan fosfat. Pulau ini pun resmi berada di bawah Commonwealth of Australia tanggal 1 Oktober 1958. Sejak itu, pembangunan dimulai.

Refugee dan Immigration Detention
Seiring berjalannya waktu, Christmas Island mulai bergeser fungsi dan identitasnya. Di awal 1990-an, perahu-perahu bermuatan pencari suaka, kebanyakan dari Indonesia, mulai berdatangan.

Di tahun 2001, pulau ini menjadi lokasi Tampa Controversy, sebuah insiden saat pemerintah Australia menghentikan perahu berbendera Norwegia yang menurunkan 438 pencari suaka yang sebelumnya diselamatkan. Lima tahun kemudian, sebuah Pusat Penampungan Imigran dibangun di sana oleh Department imigrasi dan Multicultural Affairs dengan biaya hingga $400 juta. The Christmas Island Immigration Reception and Processing Centre ditutup pada 30 September 2018.

Quarantine Centre
Di masa pandemi Covid-19 awal tahun ini, pemerintah Australia membuka sebagian dari Pusat Imigrasi di sana untuk menjadi fasilitas karantina bagi para orang-orang Australia yang tiba dari Wuhan. Mereka yang dievakuasi itu tiba tanggal 3 Februari dan diwajibkan tinggal di sana selama 14 hari sebelum “terbang” ke mainland Australia.

Holiday Destination
Terlepas dari fungsinya sebagai tempat pengungsian dan karantina, pulau ini juga selalu dikenal dengan keindahan dan keberagaman alamnya, membuatnya menjadi salah satu destinasi liburan di Australia. Beberapa aktivitas yang paling terkenal di pulau ini adalah scuba diving, memancing ikan, bird watching, dan Annual Crab Migration yang menjadi ciri khas pulau ini.

Jembatan Khusus Kepiting
Tak hanya kepiting merah, turis pun membanjiri pulau ini saat tiba waktunya puluhan juta kepiting merah ini berbondong-bondong pindahan. Diperkirakan, populasi Christmas Island Red Crab ini ada 40 – 50 juta! Mereka akan bermigrasi sekitar 4-5 minggu sebelum waktu mereka bertelur.

Untuk 2021, waktu bertelur mereka diperkirakan tanggal 28-30 November dan Desember. Uniknya, pemerintah daerah di sana melakukan penutupan jalan untuk memfasilitasi migrasi kepiting-kepiting yang telah menjadi ciri khas pulau ini. Bukan hanya itu, mereka pun membangun jembatan khusus kepiting yang melintangi jalan besar di pulau ini. Ini, sih, yang paling bikin kepo dan bikin aku ingin mengunjungi pulau ini, mungkin di waktu natal 😉 [IM]

Sumber: https://www.christmas.net.au/

Previous articlePusat Kesehatan Kelas Dunia Bagi Komunitas Indonesia
Next articleA Peek into Studying MASTER OF TEACHING (SECONDARY)