The Life Of An Australian-Born Indonesian

401
Facebooktwitterpinterestlinkedinmail


Banyak komunitas Indonesia di Australia terdiri dari anak-anak yang lahir dan dibesarkan di Australia. Yuk, kita kepoin kehidupan mereka yang penuh dengan lika-liku unik yang kita nggak alami di Indonesia!

* Salah satu perbedaan dengan kita yang besar di Indonesia, anak-anak yang dibesarkan di Indonesia seringkali dianggap lebih nyaman memanggil diri sendiri sebagai orang Australia daripada orang Indonesia. Namun, sebenarnya kebanyakan dari mereka merasa bahwa keduanya adalah identitas mereka.

* Mereka seringkali juga masih suka banget sama Indonesia, seperti makanan, jajanan, dan apalagi masyarakatnya. Nggak terpikir bahwa mereka sebenarnya senang juga bertemu dengan seseorang yang memiliki etnis yang sama dengan mereka. Bagi yang komunitas sekolahnya sangat beragam, mereka sebenarnya rindu akan komunitas Indo di mana mereka bisa melatih bahasa Indonesia dan belajar lebih banyak tentang budaya Indonesia.

* Setelah berbicara dengan beberapa anak Indonesia-Australia, aku jadi sadar bahwa ada banyak yang aku anggap remeh sewaktu di Indo. Salah satunya adalah ketika menyebutkan suatu tradisi Indonesia atau nama makanan. Di Indo, aku nggak pernah kesulitan dimengerti oleh orang lain ketika menyebutkan hal tersebut. Di Australia, ketika anak-anak kita mencoba jelaskan hal-hal, seperti batik atau nasi kuning, teman-teman mereka seringkali bingung dan nggak mengerti. Ada hal-hal kecil yang anak-anak kita lakukan yang kadang dianggap aneh oleh teman-teman mereka, seperti makan roti dengan mesis Ceres!

* Bahkan, dulu sering teman-teman mereka nggak tahu bahwa Indonesia adalah sebuah negara sendiri. Mereka hanya tahunya Bali! Di sisi lainnya, anak-anak Indonesia-Australia kadang juga kesulitan mengerti kata-kata gaul.

Walaupun semua pengalaman itu bisa bikin frustrasi, belakangan ini, sepertinya, teman-teman mereka mulai mengetahui lebih banyak tentang Indonesia. Bahkan, mereka suka tertarik mencoba bekal ala Indonesia dari anak kita. Ketika anak-anak kita bicara dalam Bahasa Indonesia, ada dari teman-teman mereka yang merasa bahasa kita kedengaran keren banget! Wow! Nggak sangka, ya, ternyata banyak orang Australia sangat tertarik dengan budaya dan bahasa kita!

Tentunya, kadang sulit mengatasi perbedaan yang timbul oleh karena anak Indonesia-Australia hidup di antara budaya yang kadang sangat berbeda dengan di Tanah Air. Mereka sering merasa bahwa komunikasi dengan orang tua tentang sistem sekolah itu susah, karena apa yang mereka alami seringkali beda banget dengan sistem yang kita jalani dulu di Indonesia. Didikan orang tua teman-teman mereka juga kadang berbeda dengan kita. Akibat dari perbedaan prioritas yang ingin kita tanamkan dalam kehidupan anak-anak.

Meskipun demikian, anak-anak Indonesia-Australia ternyata terus melihat orang tua mereka sebagai role model. Mereka melihat orang tua mereka memberi contoh memerlakukan orang lain dengan baik, mengajar tata krama, dan mengasihi tanpa menyimpan dendam. Hal-hal ini tetap membuat mereka ingin tumbuh menjadi sosok seperti orang tua mereka.

Kadang kita juga mendengar asumsi bahwa anak yang besar di luar negeri kehilangan daya tarik untuk mengenal hal-hal yang terkait dengan Tanah Air. Ternyata, hal ini jauh dari kenyataannya! Banyak anak Indonesia-Australia, apalagi yang masih memiliki keluarga di Indonesia, sangat tertarik untuk mengetahui kejadian-kejadian di Indonesia yang bisa memengaruhi kehidupan dan kesehatan keluarga mereka di Indo. Selama penyebaran COVID-19 di dua-tiga tahun ini, banyak dari mereka juga rindu akan keluarga di Indo, khawatir akan kesehatan mereka, dan sangat bersyukur akan adanya teknologi dan media sosial yang membantu mereka untuk terus merasa terkoneksi dengan keluarga di Indo.

Ternyata, nggak gampang, ya, jadi anak Indo yang hidup di Australia. Ada banyak tantangan yang bisa merasa asing bagi kita. Namun, di antara semua perbedaannya, ternyata menjadi orang Australia nggak menyingkirkan identitas dan kebanggaan mereka menjadi orang Indonesia. [IM]

Previous articleSoutherns Highland: Australia’s First Booktown
Next articleSenandung Nostalgia 2022