Pengalaman Nonton “The Way”

122
Facebooktwitterpinterestlinkedinmail


An out of this world spectacle
Pada hari Jumat, 29 Maret, terlihat kumpulan orang-orang di Martin Place, Sydney. Ada yang duduk di kursi-kursi yang mengelilingi area seperti sebuah lingkaran, dan banyak lagi yang berdiri di belakang mereka.

Suasana terasa penuh antisipasi, penuh dengan rasa kegembiraan ketika teman dan keluarga saling menyambut satu sama lain, penuh dengan rasa penasaran bagi mereka yang datang sendirian atau belum pernah melihat pertunjukan besar yang diadakandi tengah kota seperti ini. 

Dalam suasana yang sedang menunggu dengan santai, mulai terdengar nada-nada jazz yang menambahkan rasa santai. Dari antara penonton yang masih sibuk ngobrol sambil menunggu pertunjukkan mulai, keluarlah dua orang – father and son.

Acaranya
Mereka menata kursi-kursi yang tadinya tertumpuk berantakan di tengah-tengah lingkaran penonton menjadi sebuah lingkaran yang rapi, dan tak lama kemudian terdengar sebuah sorakan dari jauh. Sekelompok kecil yang terdiri dari berbagai umur dan bangsa memasuki area pertunjukkan sambil bernyanyi pujian, orang-orang yang yang diciptakan Tuhan dan Anak-Nya.

Dari situ, mereka mulai menceritakan sebuah kisah tentang kabar baik yang telah mendatangi dunia, yang memasuki hati-hati orang yang tadinya penuh dengan kabar buruk di dunia. Mereka memperlihatkan cerita diri sendiri, bagaimana setiap darinya memiliki beban yang telah diambil oleh Tuhan yang membebaskan mereka.

Namun, sambil mereka bernyanyi pujian yang memuliakan Tuhan dan mengumumkan komitmen mereka kepada-Nya, tak lama kemudian mereka menjadi teman-teman yang mengkhianati Tuhan Yesus dan meninggalkannya sendirian. Sampai akhirnya kami melihat pemain Tuhan Yesus berdiri di depan kayu salib, membuka jalan bagi mereka yang mengkhianatinya untuk datang kepada Bapaknya dan diampuni.

Selama semua ini terjadi, seorang wanita dengan koper besar menonton dari jauh, mengamati dan merindukan sebuah tempat untuknya di antara yang lain. Dan akhirnya, setelah Yesus disalibkan, pemain Yesus datang kepadanya dan mengundangnya untuk mendekati kepadanya. Dia meletakkan koper beratnya di kaki kayu salib, dan meninggalkannya di sana.

Lalu para penonton juga diundang untuk mengambil tangkai bunga dari para pemain yang berdiri di kedua sisi kayu salib untuk membuat sebuah jalan. It was a beautiful and touching moment as everyone took a flower and placed it, along with all their burdens and anxieties and everything else they carry, at the foot of the cross.

Prosesnya
Pertunjukkan Jumat Agung yang berjudul “The Way” memiliki Bethany Simons sebagai direkturnya. Dia telah mengarahkan pertunjukkan ini selama tiga tahun terakhir, dengan tema yang berbeda setiap tahun. Dengan waktu berlatih sekitar dua jam selama enam minggu, siapa pun boleh datang dan ikut serta. Setiap pemain membawa sesuatu yang sangat berharga dan unik, dan seluruh prosesnya bekisar sekitar para pemain, sekitar cerita-cerita yang mereka bawa dan setiap visi yang Tuhan menaruh di dalam hati mereka.

Proses persiapannya juga sangat berbeda dengan pertunjukkan lainnya. Dimana biasanya dimulai dengan casting dan penulisan naskah sebelum masuk ke persiapan logistik, untuk pertunjukkan Jumat Agung ini persiapan dimulai dengan pesanan peralatan teknik, sebelum cast dan naskah diwujudkan. Bahkan beberapa minggu sebelum hari-H masih bisa ada perubahan dalam cast dan naskah. Walau demikian, setiap tahun jumlah perlengkapan elektronik dan properti cocok persis dengan kebutuhan mereka di hari-H!

Dalam semua itu, Bethany mengarahkan seluruh cast dengan iman yang dalam terhadap Tuhan dan rencana-Nya untuk pertunjukkan ini. Setiap minggu dia merasakan pentingnya untuk melindungi dan menghabiskan waktu dengan Tuhan, berbicara dengan-Nya, mendengar dari-Nya. Tema-tema yang muncul dan berbagai kejadian terasa terlalu sempurna untuk menjadi sebuah kebetulan.

Setiap latihan juga merupakan sebuah kesempatan untuk membangun a sense of family antara para pemain, bukan hanya sekedar melatih pertunjukkan. Bethany sangat berfokus kepada elemen ini melalui berbagai games yang pendek dan menarik seperti menggunakan suara-suara yang lucu untuk berbicara atau menggunakan gerakan badan untuk membuat sebuah lukisan hidup bersama. 

Ketika aku ikut serta sebagai salah satu pemain tahun lalu, aku ingat sekali rasa kekeluargaan yang timbul hanya dalam enam minggu itu, dan membuatku sangat kangen dan rindu ketika tidak bisa ikut tahun ini.

Hasil dari proses yang sangat unik dan sangat berpusat pada Tuhan ini adalah sebuah pertunjukkan Jumat Agung yang menakjubkan dan sungguh-sungguh menggerakkan hati para penonton. Semoga pertunjukkan ini bisa menyentuh kota Sydney and beyond dengan kisah Jumat Agung yang mengubah dunia dan mengubah hati manusia. [IM]

Untuk menonton kembali pertunjukkan “The Way”, bisa klik tautan atau scan QR Code ini.

 

 

 

 

https://www.youtube.com/live/bGsLLYrRctY?si=_0Xj2tAAgJVfWls2

Previous articleJakarta For The Weekend
Next articleDessert Hunting In Sydney CBD