Single vs In-Relationship: My Personal Experience

367
Facebooktwitterpinterestlinkedinmail


Mumpung masih di bulan cinta, mulai-mulai ada nih pikiran ingin tahu tentang nikmatnya menjadi single versus in relationship. Walaupun menjalani hubungan selama beberapa tahun ada banyak asyiknya, tetap ada masa-masa aku kangen dengan saat masih single.

Mandiri vs Bergantung Pada Pasangan
Aku sudah menjalani hubungan dengan pacarku selama empat tahun. Sekarang, sudah susah untuk membayangkan hidup tanpa dia. Ketika aku mengalami keadaan bahagia atau diterpa dengan situasi yang menyebalkan/membingungkan, orang pertama yang aku ceritakan adalah dia. Enak rasanya ada seseorang yang bisa mengerti perasaanku dan keadaanku, orang yang akan mendengarkan segala curhatanku tanpa mengkritik.

Namun, walaupun jarang, pasti ada sesuatu yang dia nggak bisa mengerti, baik oleh karena perbedaan didikan atau budaya. Aku orang Indonesia etnis China yang dibesarkan di Jakarta. Sedangkan keluarga pacarku berasal dari Hong Kong dan dia sendiri dibesarkan di Sydney. Perbedaan ini kadang membuatku sangat kesal ketika dia nggak bisa mengerti hal-hal yang sudah jelas bagiku. Memiliki seseorang yang begitu dekat denganku juga bisa membuat perselisihan pendapat lebih menyengat, apalagi di topik-topik yang sangat berarti bagi kita.

Kadang, aku berpikir apakah lebih enak ketika single? Waktu belum ada pasangan,
aku berasanya lebih mandiri, dan nggak begitu tergantung pada pasangan. Sekarang, tantangannya adalah bagaimana aku bisa terus menghadapi hal-hal secara mandiri ketika pasanganku belum bisa ngobrol dan mendengar curhatanku serta memberikan pendapatnya.

Ketika masih single, aku juga nggak perlu memikirkan kenyamanan pasangan kalau mau ganti rencana atau mau ikut aktivitas ini-itu. Aku bisa langsung pergi tanpa harus permisi dengan siapa pun.

Perbedaan pendapat dan budaya rasanya juga lebih gampang diatasi ketika hanya dengan teman. Biasanya, aku dan teman-temanku nggak segitu dekat sampai harus bertentangan atas perbedaan tersebut.

Hobi Sama dan Berbeda
Aku dan pacarku memiliki beberapa hobi yang sama, seperti main board games, bowling, dan lainnya. Selain itu, kami juga memiliki beberapa hobi yang berbeda. Awalnya, kita berdua nggak begitu tertarik untuk mencoba hobi satu sama lain, karena memang dari dulu kami nggak berminat dengan aktivitas tersebut. Tapi, lama kelamaan, kita juga belajar untuk saling mengapresiasi hobi masing-masing. Aku mulai mencoba beberapa hobinya dan dia mulai tertarik mendengar cerita-cerita dari buku-buku yang aku suka baca, walaupun dia sendiri nggak suka baca.

Kalau dari sisi hobi dan mencoba hal-hal baru, nggak terlalu berbeda dengan sewaktu masih single. Saat itu, aku sudah tahu bahwa teman-temanku memiliki hobi yang berbeda-beda. Kalau mau mengenal mereka lebih dalam dan mau hang-out bareng, kita pasti saling terbuka terhadap kegemaran masing-masing. Seringkali buatku, ini terjadi dalam bentuk mencoba makanan baru. Teman-temanku banyak yang suka mengeksplorasi makanan,
dan mereka tahu tempat-tempat makan yang enak di sekitar Sydney. Jadi, walaupun kadang sedikit jauh, seru banget ketika menemukan tempat makanan enak yang baru!

Kebebasan Berteman
Sebelum punya pasangan, berteman dengan lawan jenis rasanya lebih mudah. Kalau mau hang-out berduaan, bisa aja, asalkan dua-duanya nyaman. Beberapa kali, karena sudah malam, teman lawan jenisku itu menawarkan untuk bantu menyetirku pulang. Namanya cewek di kota baru, aku juga merasa lebih nyaman ketika ada teman yang mengantarku pulang, baik itu cewek atau cowok nggak gitu mengaruh bagiku.

Sekarang, banyak hal yang harus dipikirkan. Pacarku belum tentu nyaman kalau aku sendirian di mobil dengan lawan jenis. Jadi, kita berdua harus saling menghormati permintaan itu. Dalam budaya Australia, memeluk teman lawan jenis jauh lebih umum dibanding dengan budaya Indonesia. Namun, sebagai pasangan, kita juga selalu hati-hati terhadap hal ini untuk memastikan bahwa kita nggak sedang memicu kesalahpahaman. Kata pacarku, rule of thumb-nya adalah Menara Eiffel–ketika sedang berpelukan dengan lawan jenis, saling menyentuh nggak apa-apa. Tapi, dari situ ke bawah harus ada jarak. Seperti bentuk Menara Eiffel, kan?

Kesimpulanku
Jadi, secara kesuluruhan, menurutku pribadi, nggak ada yang lebih enak. Baik saat single maupun sedang berpasangan, keduanya punya kelebihan dan tantangan masing-masing. Dan, dalam beberapa hal, ternyata being single dan in relationship sebenarnya nggak jauh beda! Ada hal-hal yang kita bisa dapatkan dari teman-teman, nggak selalu dari pasangan, seperti hang-out dan mencoba hal-hal baru!

Yang pasti, satu hal yang aku belajar adalah selalu berusaha untuk terus memperbaiki diri sendiri, bukan untuk mencari pasangan atau membuat orang lain senang, tapi untuk kebaikan diri kita sendiri. Sebelum aku memulai hubungan dengan pacarku sekarang,
aku sempat menjalani waktu untuk belajar fokus pada diri sendiri. Saat melakukannya,
aku malah merasa lebih senang. Nggak perlu dibebani pikiran-pikiran “Duuhh, dia suka aku nggak, ya?”

Bagi yang sudah memiliki pasangan, jangan membuat kasih sayang yang unconditional menjadi suatu alasan untuk nggak terus bertumbuh menjadi versimu yang paling baik. Gampang banget memang untuk merasa “Ah, I’m good enough already. Kan, sudah dapet pacarnya, jadi nggak perlu melakukan apa-apa lagi.” Agar hubungan berjalan lancar, kedua pihak harus terus berusaha memperbaiki diri sendiri.

Juga jangan lupa, yang paling penting adalah enjoy saja! Ketika sudah ada pasangan,
ada hal-hal yang nggak akan sesederhana dibanding single. Walaupun mudah untuk berpikir bahwa punya pasangan pasti selalu lebih enak, nikmatilah hal-hal yang bisa dilakukan ketika masih sendiri.

Gimana menurut teman-teman? [IM]

Previous articleA Love Story in the Stars
Next articleBantuan Untuk Grup Dukungan Keluarga Multikultural