Nostalgic Eats in Sydney CBD

266
Facebooktwitterpinterestlinkedinmail


Dua tempat di Tengah Sydney CBD yang memberikanku a taste of home.

Sejak tinggal di Sydney, satu hal yang susah untuk ditemukan adalah makanan Indonesia yang sungguh-sungguh autentik dan memiliki profil rasa yang sama dengan restoran-restoran di Indonesia yang menggunakan bahan-bahan lokal. Namun, ada dua tempat di tengah kota Sydney yang memasak hidangan yang benar-benar memicu rasa nostalgia. Kejutan: salah satunya bahkan
bukan restoran makanan Indonesia! 

Garam Merica
Restoran yang baru buka di Sydney beberapa bulan yang lalu ini membanggakan produk yang sangat autentik: nasi bungkus. Lengkap dengan daun pisang dan pilihan lauk yang leluasa, nggak heran ketika rasa setiap hidangan juga sangat autentik sebab salah satu partner Garam Merica adalah William Wongso, yang aktif mengembangkan Garam Merica melalui product development.

Terletak di dalam gedung Wesley Mission Conference Centre, 220 Pitt St, Sydney, restoran yang memiliki suasana tenang ini hanya beberapa menit jalan kaki dari Town Hall Station, QVB, maupun Sydney Centrepoint Tower. Ketika masuk ke area restorannya, aku langsung merasakan suasana Indonesia dengan desain interior kayu dan lagu-lagu Indonesia yang memberikan atmosfer yang santai.

Walaupun nasi bungkus adalah specialty Garam Merica, semua hidangan lainnya yang aku coba juga enak banget! Soto kuning adalah salah satu masakan favorit di keluargaku. Inilah hidangan yang sering disantap oleh mama papa ketika masih berkencan dan pada tahun-tahun pertama setelah menikah. Akibatnya, mereka sering sekali membawaku dan adikku untuk makan soto, dan nenekku pun sering memasaknya untuk kita. Jadi, ketika aku mencoba soto di Garam Merica, serasanya kembali ke foodcourt sebuah mal di Jakarta yang kerap kami kunjungi setiap Jumat malam.

Selain itu, ragam minuman yang bisa ditemukan di Garam Merica juga bernuansa sangat nostalgia. Salah satunya adalah Teh Botol dalam botol gelas khasnya! Wah, ketika melihatnya, aku langsung gembira. Selama ini aku hampir nggak pernah melihat Teh Botol dalam bentuk botol gelas. Biasanya hanya di dalam kotak atau botol plastik. Walaupun agak mahal dengan harga $5 per botol, kadang aku membelinya untuk mendapatkan rasa nostalgia. Ketika minum Teh Botol asli, serasa aku sedang mengundurkan waktu balik ke momen-momen makan bersama keluarga di Hoka-Hoka Bento, karena itulah tempat kami paling sering pesan Teh Botol dalam botol gelas! Hihi… 

Minuman satu lagi yang bisa ditemukan di Garam Merica adalah Teh Poci! Suatu hari, aku melihat di menunya ada pilihan “teh hangat manis”. Aku jadi penasaran, apakah teh poci atau bukan. Soalnya, namanya bukan teh poci. Wah, pas keluar, senang sekali aku! Dari harumnya aja sudah tahu bahwa itu teh poci! Rasa tehnya pas! Cuma sayangnya, mereka menyajikannya dalam sebuah cangkir kertas tebal (biasanya digunakan di event untuk menyajikan minuman panas). Jadi, kehangatan tehnya cepat menghilang. Aku juga kaget teh pocinya manis banget! Tetapi, walaupun terasa kemanisan untukku, sejujurnya, itu menjadi salah satu elemen nostalgia juga untukku haha… Di Indonesia, baik es teh manis maupun teh manis hangat seringkali kemanisan, sampai keluargaku seringkali meminta mereka untuk memisahkan gula dari minumannya.

Kowloon Café
Surprise! Restoran kedua yang ternyata juga memberikanku rasa nostalgia adalah Kowloon Café di Chinatown! Dalam sebuah gang kecil yang agak tersembunyi, di situlah letak Kowloon Café, bersama satu restoran ala Taiwan yang bernama Mother Chu’s, serta beberapa toko makanan yang lebih kecil lagi. Ketika masuk ke area restoran Kowloon Café, serasa tiba-tiba di Hong Kong, bukan di Sydney! Dari perhiasan dindingnya yang merupakan signs dengan karakter mandarin yang ditulis dengan lampu neon, maupun kursi-kursi dan tempat duduk sofa cokelat yang hanya muat 4 orang dan selalu berdempetan dengan tempat duduk lainnya, sampai ke keramik lantainya yang mirip banget dengan lantai ruko-ruko. Suasananya Asia banget, deh!

Namun, yang memicu rasa nostalgia bukanlah suasananya, melainkan makanannya. Beberapa minggu yang lalu, aku makan di sana lagi bersama adikku dan pasanganku. Aku dan adikku penasaran terhadap hidangan yang bernama “baked spaghetti”. Menurut pasanganku (keluarganya berasal dari Hong Kong), hidangan itu adalah salah satu khas masakan Hong Kong. Jadi kami coba. Ketika memakannya, aku dan adikku langsung kaget. Rasanya persis dengan spaghetti yang kami santap di kantin sekolah! Kami sendiri sudah lupa tentang memori itu, sampai kemudian ia muncul lagi saat menyantap baked spaghetti. Pada saat itu, makanan ini adalah favorit semua murid! Siapa sangka bisa menemukan a taste of childhood di restoran Hong Kong ini!

Selain baked spaghetti, kami juga mencoba XO Sauce with Pork Chop Stir Fried Instant Noodles. Namanya panjang banget, ya! Sebenarnya kami lebih tertarik dengan kata-kata instant noodles-nya. Saat kami cicipi, pengalaman yang sama terjadi! Rasanya mirip banget dengan hidangan mi goreng ala peranakan di Jakarta, yang merupakan perpaduan antara masakan Tionghoa serta masakan Indonesia yang dikelola oleh imigran dari China yang menetap di Indonesia! Keseimbangan antara rasa manis dan asin, dan cita rasa manis dan asinnya mirip banget dengan profil cita rasa yang kami sering santap di Jakarta. Ditambah lagi bahan-bahannya terasa segar dan dagingnya empuk, nggak kering sama sekali.

Wah, memikirkannya aja jadi laper, nih! Jadi pengen kembali ke kedua tempat tersebut untuk menikmati hidangan-hidangan yang memberikanku a taste of home. Lain kali ketika mengunjungi Sydney CBD, jangan lupa untuk mengunjungi kedua tempat ini. Selamat menikmati masakan nostalgia! [IM]

Previous articlePermainan Nostalgia Yang Wajib Dimainkan Lagi
Next articleBagaimana Antibiotik Bekerja Dalam Tubuh?