Benarkah Suplemen Membuat Kita Lebih Sehat?

143
Facebooktwitterpinterestlinkedinmail


Dari multivitamin dan melatonin hingga serat dan minyak ikan, banyak orang mencoba meningkatkan kesehatan dan kekebalan tubuh dengan suplemen.

Ya, penggunaan suplemen telah berkembang pesat selama beberapa dekade terakhir seiring dengan industri kesehatan yang kian maju. Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS, dikutip dari Time, sekitar 58% orang dewasa berusia 20 tahun ke atas mengonsumsi suplemen makanan. Industri suplemen sendiri bernilai lebih dari US$30 miliar per tahun di AS.

Seorang profesor di Sekolah Ilmu dan Kebijakan Gizi Friedman Universitas Tufts, Fang Fang Zhang, mereka yang mengonsumsi suplemen secara keseluruhan lebih sadar akan kesehatan. Namun, jika kamu sudah sehat, sebagian besar suplemen mungkin tidak banyak membantu meningkatkan kesehatan atau mencegah kematian. “Tidak ada bukti jelas yang menunjukkan manfaat penggunaan suplemen makanan bagi banyak hasil kesehatan yang populer atau umum,” kata Zhang.

Dalam beberapa kasus, penggunaan suplemen bahkan bisa berbahaya. Sebuah studi tahun 2015 yang diterbitkan dalam New England Journal of Medicine menemukan, ada sekitar 23.000 kunjungan unit gawat darurat setiap tahun di AS untuk mengetahui efek samping terkait penggunaan suplemen makanan, banyak di antaranya terkait masalah kardiovaskular akibat produk penurun berat badan atau energi.

“Khususnya ketika kita menggunakan penerapan dosis yang sangat tinggi, terkadang lebih banyak menimbulkan dampak buruk daripada manfaatnya,” kata Eliseo Guallar, profesor epidemiologi dan kedokteran di Sekolah Kesehatan Masyarakat Johns Hopkins Bloomberg. Beberapa ahli bahkan sampai menyerukan peraturan federal yang lebih ketat untuk memastikan bahwa suplemen aman dan efektif.

Lantas, Apa Gunanya Suplemen?
Vitamin, mineral, dan banyak zat gizi mikro lainnya sangat penting untuk fungsi tubuh dan merupakan bagian penting dari pola makan yang baik. Namun mengonsumsi nutrisi dalam makanan tidak sama dengan mengonsumsinya dalam bentuk suplemen. “Penggunaan suplemen makanan bukanlah pengganti pola makan yang sehat dan seimbang,” kata Zhang. Suplemen vitamin dan mineral bisa sangat bermanfaat bila diresepkan untuk orang yang kekurangan nutrisi dan penyakit tertentu.

“Suplemen berkualitas tinggi harus tersedia secara luas, dan kita membutuhkannya sebagai bagian dari perawatan medis,” kata Dr. Pieter Cohen, seorang profesor di Harvard Medical School dan ahli penyakit dalam di Cambridge Health Alliance.

Namun, sebagian besar makanan kemasan di AS sudah diperkaya dengan nutrisi tambahan, sehingga kekurangan nutrisi jarang terjadi pada masyarakat umum. Bagi kebanyakan orang, suplemen mungkin menawarkan manfaat yang meragukan.

Dalam analisis yang diterbitkan pada tahun 2020 di BMJ, Zhang meninjau hasil dari beberapa uji coba dan tidak menemukan bukti jelas bahwa suplemen nutrisi seperti vitamin dan mineral bermanfaat bagi orang sehat untuk mencegah penyakit kronis, seperti kardiovaskular atau kanker. 

Bukti yang lebih mencengangkan lagi ada pada suplemen makanan tertentu yang berasal dari tumbuhan yang dikenal sebagai botanical, seperti echinacea dan ginkgo.

Para ilmuwan telah mencoba menguraikan efek dari banyak tumbuhan atau suplemen nutrisi, namun bidang ini masih dipenuhi dengan hasil yang lemah atau bertentangan. “Kami tahu banyak. Masalahnya adalah terkadang klaim tersebut melampaui apa yang kita ketahui,” kata Guallar.

Efek Penggunaan Suplemen atau Multivitamin Jangka Panjang
Multivitamin advocats menunjukkan kurangnya bukti kuat bahwa mengonsumsi suplemen atau multivitamin selama bertahun-tahun itu berbahaya. Walaupun kemungkinan terjadi dampak buruknya kecil, tapi kemungkinan adanya manfaat kesehatan yang jelas juga sangat kecil. Terkait hal itu, peneliti di Universitas Harvard mengatakan belum memiliki bukti yang jelas.

Meskipun tidak ada bukti jelas mengenai manfaat kesehatan, suplementasi multivitamin memiliki risiko rendah dan biaya rendah. Hal ini membantu mengisi kesenjangan potensial dalam pola makan yang mungkin dimiliki masyarakat. Para peneliti kemudian mengamati pengaruh penggunaan multivitamin jangka panjang pada pria sehat terhadap berbagai aspek kesehatan.

Inilah yang mereka temukan, sebagaimana dikutip dari laman resmi Harvard Health Publishing:
• Kanker: Pria 8% lebih kecil kemungkinannya untuk didiagnosis menderita kanker.
Efek perlindungan paling besar terjadi pada pria dengan riwayat kanker.
• Penglihatan: Menurunkan risiko terkena katarak.
• Penyakit kardiovaskular: Tidak ada perlindungan terhadap serangan jantung, stroke, atau kematian akibat penyakit kardiovaskular.
• Otak: Tidak ada perlindungan terhadap penurunan memori atau keterampilan mental. [IM]

Previous articleBiarkan Masyarakat Memimpin: Hari Aids Sedunia 2023 Menganjurkan Penyertaan, Hormat Dan Ekuitas
Next article19 Desember 1948 – Indonesia Merdeka Berakhir, Akibat Kesalahan Militer Belanda Luar Biasa