Bebas Kerja Atau Kebebasan Dari Kerja?

358
Facebooktwitterpinterestlinkedinmail

Pelajaranku Saat Bekerja Di Tahun Pertama

Sebelum aku masuk ke dunia kerja, aku sudah memiliki banyak ekspektasi tentang working life. Ada capeknya, tapi juga seru mencoba banyak hal-hal yang berbeda dan baru, dan juga memiliki kebebasan finansial maupun waktu akibat lebih mandiri. Namun, nggak semuanya sesuai ekspektasi.

Not what I expected
Tahun pertama kerja, langsung mulai dengan tiga pekerjaan part-time: penulis Indomedia, marketing di sebuah perusahaan kecil, dan admin di gereja. Awalnya seru, banyak pekerjaan baru, dan ada satu-dua elemen yang mirip dengan jurusanku di kuliah juga, yaitu Creative Writing dan juga Marketing.

Ekspektasiku: kerja akan memberikan kebebasan. Kebebasan yang datang dari memiliki penghasilan sendiri, kebebasan untuk membiayakan hal-hal yang aku ingin lakukan tanpa harus tergantung atau membebani orang tua, untuk beli apa yang aku mau. Dan, yang paling penting, kebebasan untuk mengeksplor dan melakukan hal yang baru, mencoba berbagai pekerjaan yang baru dan berbeda! Rasanya seperti petualangan yang seru!

Tetapi, setelah beberapa bulan, pekerjaan perlahan mulai menumpuk. Aku jadi ingat kata-kata teman-temanku ketika mereka mulai kerja, bagaimana mereka tiba-tiba capek banget dan nggak punya waktu untuk hangout lagi. Dan sekarang, aku mulai mengerti perasaan mereka.

Ada tantangan besar dalam menyeimbangkan waktu antara ketiga pekerjaanku, dan belum lagi pekerjaan rumah yang tetap harus dilakukan, dan waktu-waktu refreshing bersama teman-teman, keluarga, maupun diri sendiri. Aku mulai kesulitan mengurus semuanya. Di salah satu tempat pekerjaanku, terkadang muncul tugas-tugas yang aku nggak harapkan, dan bukan termasuk sesuatu yang menarik bagiku. Seiring dengan kegirangan yang menyusut akibat hal-hal baru pada saat ini sudah terasa biasa, motivasiku pun menciut.

Trapped in want, want, and more want
Dan, ketika nggak puas dengan sesuatu, ya… kecenderungannya adalah untuk membayangkan sesuatu yang berbeda, sebuah situasi ketika hal-hal yang kita nggak suka lenyap semua. Wah, mulai deh, scrolling di Instagram dan mendengar orang-orang berkata: “Hidup cuma sekali! Jangan buang waktu mengerjakan hal-hal yang kamu nggak suka!” “Follow your heart! Chase after your dreams!” “Carilah pekerjaan yang menghasilkan kepuasan dan kebahagiaan, sampai kerja tidak terasa seperti kerja! Itulah pekerjaan yang paling baik untukmu!”

Sounds familiar?

Kedengarannya enak ya, sangat memotivasi! Sangat mendesak untuk mencari dream job yang akan memuaskan hati dan memberikan kedamaian. Pikiranku mulai kembali pada tulisan-tulisanku, pada impianku untuk menjadi seorang novelis, bagaimana aku akan merasa jauh lebih bahagia seandainya bisa menghabiskan waktuku dalam menulis cerita-cerita yang aku bayangkan.

Tapi, kok, malah jadi merasa lebih nggak enak? Malah jadi merasa terjebak dalam situasi saat ini, dan akhirnya tambah frustrasi. Mau mengejar impian, tetapi nggak punya waktu untuk melakukannya. Tambah nggak ada motivasi untuk melakukan pekerjaan di depan mata, tambah menumpuk pekerjaannya, dan akhirnya menjadi vicious cycle.

Jadi, bisa nggak, sih, merasa bebas dalam bekerja?

Finding freedom in strange places
Itu pertanyaanku. Gimana bisa merasa bebas kalau kebebasan yang dijanjikan oleh kehidupan kerja nggak terwujud? Gimana bisa merasa bahagia kalau pekerjaan yang sebenarnya aku ingin lakukan (seperti menulis buku cerita) nggak cukup untuk memberi nafkah pada saat ini? Akhirnya, saking frustrasinya dan saking lelahnya dari level motivasi yang begitu rendah, aku memutuskan, “Ya, udah deh, coba lihat apakah bisa mencari kebebasan di dalam pekerjaanku saat ini, biarpun hanya secuil.”

Mulainya kecil aja. Daripada memikir bahwa jam kerja akan menyedot semua waktu luangku (dan akibatnya membuatku lebih gampang distracted ketika kerja), aku mulai mencoba meluangkan waktu pada malam hari untuk hal-hal yang aku enjoy. Dan, ketika sedang melakukan kegemaranku, coba untuk tidak memikirkan seberapa banyak waktu yang aku punya, melainkan just enjoy being in the moment.

Selain itu, aku juga mencoba untuk lebih disiplin untuk nggak teralih oleh hal-hal yang lain ketika bekerja. Aku juga lebih berusaha untuk mengerjakan tugas-tugasku dalam jam kantor karena kalau nggak, bakal lebih stres dari kerjaan yang menumpuk dan bakal lebih susah menikmati momen-momen istirahat. Tugas-tugas yang membosankan nggak akan pernah lenyap 100%, tetapi aku juga mulai mencoba mencari hal-hal yang menarik dalam setiap tugas.

Sesuatu yang juga sangat membantuku adalah menemukan cara mendaftar tugas yang works banget untukku yaitu jangan menulis semua tugas yang harus dilakukan, melainkan tulis beberapa yang paling urgent dulu. Lalu, ketika satu tugas selesai, coret dan tambahkan satu lagi di daftarnya. Yang paling penting adalah pastikan bahwa setiap tugas yang ditulis merupakan sesuatu yang terasa mudah untuk dicapai.

Contohnya, daripada mengatakan “Tulis artikel 800 kata”, aku coba untuk break it down jadi beberapa tugas-tugas kecil seperti “Tulis satu kalimat tentang topik ini yang menarik bagimu.” Lalu tugas berikutnya adalah “Tulis satu paragraph tentang hal itu menjelaskan mengapa menarik bagimu.”

Nggak disangka, itulah game-changer yang aku harapkan!

Aku tiba-tiba jadi merasa lebih ada motivasi untuk mengerjakan pekerjaanku karena terasa lebih menarik dan hasil yang diinginkan lebih mudah untuk dicapai. Akibat lebih efektif dan efisien mengerjakan tugas dan lebih jarang teralih di tengah-tengah kerja, aku juga nggak merasa terbeban dengan rasa bersalah lagi, dan itu sungguh-sungguh melepaskanku untuk bisa menikmati waktu istirahat.

Meskipun deep down aku masih punya impian untuk bekerja sebagai seorang novelis anak-anak dan menulis semua cerita-cerita fantasi yang ada di benakku, aku bisa berkata bahwa itu tidak harus mencuri kebahagiaanku. I am where I am now for a reason, so the best thing to do is just enjoy it!
Dan, ternyata, aku terjebak oleh pikiranku sendiri. 

Ketika kita menemukan cara untuk keluar dari perangkap pikiran negatif terhadap hal-hal yang menurut kita kurang ideal, kita malah lebih bebas untuk menikmati keadaan sekarang dengan kebahagiaan dan harapan akan sesuatu yang lebih indah lagi di masa depan. [IM]

Previous articleLong Beach
Next article7 Karbo Yang Sehat Sekali