When You Wish Upon The Staaaar

232
Facebooktwitterpinterestlinkedinmail


Jawaban dari sebuah bintang yang menjadi legacy Disney

Dari dahulu kala, manusia selalu terpukau dengan bintang-bintang di langit, sebuah lambang yang memberikan kita arahan dan sesuatu yang memberikan sebuah harapan bahwa keinginan kita dapat terkabul.

Sejak Disney mengeluarkan film “Pinocchio” pada tahun 1940 dengan lagu “When You Wish Upon a Star”, lagu ini telah menjadi sebuah lagu ikonis yang membuka setiap film Disney sejak itu. Tahun lalu pada 16 Oktober 2023, Disney merayakan anniversary nya yang ke-100! Nggak lama kemudian, pada November 2023, mereka mengeluarkan film berjudul “Wish” yang merupakan sebuah tribute to their animation legacy.

The Movie
Film “Wish” mengikuti perjalanan seorang gadis bernama Asha yang ingin menjadi murid Raja Magnifico, pemerintah kota Rosas yang menjaga wish-nya setiap orang menggunakan kemampuannya menyihir. Setelah kehilangan keluarganya dan seluruh kampung halamannya waktu kecil, Magnifico memutuskan untuk mempelajari magic untuk mencegah keinginan orang-orang lain hancur oleh dunia nyata.

Dia lalu membangun kota Rosas untuk semua orang tanpa memedulikan latar belakang mereka, dan setiap orang memiliki pilihan untuk memberikan deepest wish mereka kepada Magnifico dengan harapan bahwa suatu hari dia akan mengabulkannya.

Namun, setelah mengenal Magnifico lebih dalam, Asha menyadari bahwa kebanyakan dari wishes itu nggak akan pernah dikabulkan oleh Magnifico. Bahkan, wishes ini akan terkurung selama-lamanya di istana Magnifico. Dengan karakternya yang idealis dan berani, Asha makes a wish pada bintang-bintang di belakang rumahnya… dan nggak sangka… bintangnya menjawab!

Asha, bersama Star, sebuah bintang yang turun dan bisa membuat hewan dan tanaman berbicara, berusaha untuk membujuk teman-teman dan keluarga Asha untuk membebaskan semua wishes.

The Characters
Menurutku, konsep ceritanya sangat menarik dan sungguh-sungguh memiliki potensi untuk menjadi sebuah cerita yang sangat bermakna. Aku memiliki banyak harapan terhadap semua karakternya, terutama Raja Magnifico. 

Disney telah membuatnya sebagai seorang villain yang sangat angkuh dan narsis. Namun, setelah mendengar backstory-nya, aku menjadi penasaran tentang apa yang membuatnya berubah dan mengapa dia sekarang lebih mementingkan dirinya sendiri daripada mementingkan kebaikan rakyatnya. Nggak tahu kenapa, tetapi aku ingin merasakan simpati terhadap Magnifico dan melihat dia sebagai karakter yang dalam dan menarik.

Sayangnya, Disney tidak mengembangkan karakter Magnifico. Dia terus menjadi seseorang yang narsis, dan juga lumayan immature. Bahkan digambarkan sebagai semacam karikatur. Menurutku, inilah yang membuatnya sulit untuk mengembangkan karakter Asha juga.

Asha yang sangat idealis belum pernah melihat sebagaimana sulitnya bagi orang-orang lain untuk mengabulkan impian mereka. Dia belum pernah merasakan ketakutan dan trauma yang Magnifico telah menjalani akibat tragedi yang terjadi pada masa kecilnya, dan karena ini nggak didalami lebih di filmnya. Inilah membuat Asha sulit untuk mengerti alasan Magnifico untuk menjaga wishes rakyatnya seperti itu. 

Asha juga tidak mengerti risiko dengan membebaskan wishes, apa yang akan mereka rasakan kalau mereka gagal untuk mengabulkan keinginan mereka. Dan, sepertinya, ini merupakan elephant in the room yang Disney nggak bahas. Akibatnya, karakter Asha yang sangat berani menjadi seorang tokoh yang terlihat agak naif.

Karakter Magnifico yang lumayan dangkal juga membuat aku bertanya: apa yang membuat ratunya jatuh cinta dengannya? Apa backstory mereka? Mengapa dia memutuskan untuk melawan Magnifico? Sedikit kurang jelas, karena ada saat-saat tertentu dimana ratunya terlihat seperti dia sangat memedulikan Magnifico, tapi pada saat-saat yang lain terasa seperti dia nggak sayangi lagi.

Walaupun demikian, tokoh kakek Asha yang ceritanya baru saja merayakan ulang tahunnya yang ke-100 memiliki peran yang penting sebagai salah satu motivasi yang paling dalam bagi Asha untuk membebaskan wish kakeknya itu. Sidekick Asha, seekor kambing bernama Valentino, juga memberikan elemen humoris, artfully voiced by Alan Tudyk (yang juga merupakan voice actor Hei-Hei si ayam di film “Moana”, dan Duke of Weaselton di “Zootopia”). 

The Songs
Walaupun pengembangan karakternya bisa di-improve, lagu-lagu di “Wish” enak didengar. Yang paling terkenal adalah “This Wish” yang dinyanyikan Ariana De’Bose sebagai Asha, dan merupakan lagu saat Asha makes a wish on a star. “This is the Thanks I Get?!” dan “Knowing What I Know Now” juga sangat ditonjolkan selama ini. Tetapi, menurutku, lagu yang sebenarnya paling menggerakkan hati adalah
“At All Costs” yang dinyanyikan oleh De’Bose sebagai Asha dan Chris Pine sebagai Raja Magnifico.

Melalui lagu ini, Asha dan Raja Magnifico memerlihatkan keinginan mereka yang sama untuk melindungi wishes rakyat Rosas. Adegan ini juga merupakan adegan yang paling indah di seluruh film, yaitu Asha dan Magnifico dikelilingi oleh bola-bola yang gemilang yang melambangkan wishes semua orang yang telah memberikannya kepada Magnifico. Aku juga kaget ketika mendengar suara Pine yang dalam menyanyikan melodi yang rumit di lagu ini, dan bagaimana kedua suara mereka menyatu dengan merdu.

Bagi yang sudah menontonnya ataupun yang belum, saranku adalah perhatikan warna bola-bolanya yang di sekitar Magnifico dibanding yang di sekitar Asha. Perhatikan baik-baik tindakan Asha sepanjang lagu ini, dan kalian akan melihat sebuah foreshadowing yang sangat subtle dan indah yang pernah diciptakan Disney! 

The Animation
Selain alur, karakter, dan musik, suatu elemen dari “Wish” yang paling menarik debat adalah style animasinya. Sebagai film perayaan anniversary Disney yang ke-100, banyak penggemar yang sedikit kecewa melihat style animasi yang seperti digambarkan dengan pensil warna. Berbeda dengan style kartun yang lebih umum dengan film-film animasi Disney.

Memang, pada awalnya aku juga sedikit tidak yakin, apalagi ketika melihat Asha mengambil benda yang terlihat 2D dari salah satu meja di rumahnya, dan tiba-tiba benda itu terlihat 3D. Namun, semakin lama, semakin berkurang rasa anehnya, dan menurutku, style ini, walaupun agak beda dari biasanya, tetap memiliki keindahannya sendiri. Mungkin, ini juga menandakan sebuah era yang baru untuk Disney!

Di sepanjang film “Wish”, para produser juga memasukkan banyak referensi kepada film-film Disney klasik. Beberapa darinya merupakan gambaran yang diambil persis dari film-film lainnya, seperti tokoh Peter Pan dan gaun Sleeping Beauty. Namun banyak referensinya juga dalam bentuk shots yang diambil, seperti transformasi yang berkilau yang diambil dari adegan ikonis di film “Cinderella” dan seseorang yang sedang melukis yang diambil dari “Tangled”. Bagi semua penggemar Disney, jumlah easter eggs yang bisa ditemukan di “Wish” tentu akan menjadi suatu permainan yang seru untuk mencoba menemukannya semuanya! 

Secara keseluruhan, film “Wish” sejujurnya memiliki banyak elemen yang bisa di-improve sebagai salah satu perayaan anniversary Disney yang ke-100. Namun, film ini tetap memiliki animasi dan lagu-lagu yang menyenangkan, dan konsep alurnya masih sangat menarik bagiku dan membuatku ingin menulis fan fiction untuk mengembangkan semua karakter-karakternya! Hahaha… Dan, bagi yang belum menontonnya, inilah satu tip: ada end credit scene yang sangat manis. Don’t miss it! You won’t regret it! [IM]

Previous articleI Wish…. To Have You Back
Next articleValentine Yang Unik