The Passion Of Yenli Taniwan

377
Facebooktwitterpinterestlinkedinmail


Wanita berusia 32 tahun memliki kehidupan baru: menjadi ibu, menjadi Kristen, dan menjadi fotografer. 
Nah, bagaimana penyantap sayur asem, bakso abang, dan pecel lele mendapatkan “new life” itu semua? Yuk, kita berbincang dengannya.

Halo, Yenli! So good to have you with us today! Bisa perkenalkan diri dan menceritakan sedikit tentang dirimu?
Nama saya Yenli. Suami saya Tony, keturunan Vietnam, tapi lahir di Australia. Kami punya dua anak laki-laki, Lukas berumur 4 dan Zachy berumur 3 bulan. Saya datang ke Sydney dari Surabaya di tahun 2008.

Boleh ceritakan sedikit tentang mengapa pindah ke Australia dan kenapa akhirnya memutuskan untuk menetap di Australia?
Saya datang ke Sydney untuk belajar desain grafis di Billy Blue College of Design pada tahun 2008.

Di bulan pertama saya di Sydney, kakak saya mengajak saya ke sebuah bible study di universitas tempat dia belajar. Saya mulai mencari tahu tentang Yesus Kristus melalui Alkitab. Ketika saya membaca Efesus 2:8, “.. karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu.”.

Saya sangat terpukau atas apa yang Yesus lakukan di kayu salib untuk menebus dosa saya. Datang dari background bukan Kristen, mengetahui bahwa keselamatan saya 100% pemberian Allah dan bukan tergantung kerja tangan saya yang nggak sempurna, adalah kabar yang sangat baik. Saya jadi Kristen di bulan April 2008.

Identitas baru saya ini membentuk tujuan hidup saya. Setelah lulus kuliah, saya berencana untuk mencari pengalaman bekerja selama beberapa tahun, dan menabung untuk kuliah teologi, dan balik ke Indonesia untuk kerja mengajar Alkitab. Namun, saya bertemu suami saya di tahun pertama kerja saya, dan kami berdua memutuskan untuk tinggal di Australia untuk mendapatkan pelatihan dalam pelayanan. Kami memiliki keinginan untuk pekerjaan misi di luar Australia ke depannya.

Wow, benar-benar kayak memiliki kehidupan baru, ya! Selain passion-mu pada Yesus, aku lihat kamu juga punya bisnis fotografi, ya? Bisa sharing sedikit tentang itu?
Betul. Saya sangat gemar dengan fotografi sejak meminjam DSLR kakak saya di tahun 2007. Ketika lulus kuliah dan bekerja sebagai desainer grafis di tahun 2012-2018, saya juga terlibat dalam in-house photo shoots dan gemar melakukan photo session untuk teman atau keluarga.

Ketika anak saya yang paling besar lahir di tahun 2019, saya berhenti bekerja karena ingin mendedikasikan waktu saya untuk membesarkan anak. Secara finansial, kami diberikan cukup, jadi saya bisa dibebaskan untuk stay at home dan jaga anak. Saya melihat itu sebuah privilege, because their little years go by so quickly, dan saya yakin pembentukan karakter dan penanaman benih iman dimulai sejak dini.

Sejak memiliki anak, kegemaran fotografi saya semakin terasah (karena sering DIY photo sessions). Pada 2021, saya meluncurkan website yentand.com, sebagai channel kreativitas dan juga platform untuk portofolio fotografi saya.

Saya mengambil beberapa mini/full photo sessions per bulan. Karena jadwalnya flexible, saya bisa dengan mudah menyesuaikan waktu supaya nggak mengganggu peran saya dalam mendukung suami saya yang waktu itu sedang kuliah teologi. Jadi, biasanya saya melakukan photo sessions sore-sore, atau pada akhir pekan ketika suami saya bisa menjaga Lukas.

I’ve loved meeting the families I’ve taken photos of, dan senang sekali untuk bisa mengabadikan momen intim mereka.

Kalau ada yang tertarik, feel free to check out my website and contact me! Although, sekarang ini saya sedang mengambil time off untuk beberapa bulan, saya berencana memulai lagi di bulan Juli/Agustus.

Oh, mengapa sekarang sedang break dari fotografi?
Sebenarnya karena beberapa hal. Alasan paling utama adalah karena kami baru saja menyambut kelahiran anak kedua kami di bulan Januari. Jadi, saya mau fokus mengurus Zachy, terutama di beberapa bulan pertama ini. Dan, juga keluarga kami sedang melalui perubahan yang banyak.

Akhir tahun lalu, suami saya mendapat pekerjaan sebagai pendeta muda di gereja Anglican di Ryde, jadi kami pindah rumah ke sekitar gereja supaya kami bisa melayani komunitas lokal kami. Dan, saya mau sepenuhnya available to my family untuk support suami dan anak-anak dalam masa perubahan ini.

I see. Apa pengalaman Yenli sebagai seorang new mother? What is it like to have a new life under your care?
Saya ingat betul momen-momen ketika Lukas baru lahir di tahun 2019. Pertama kali kami melihat dia lahir, walaupun capek dan kesakitan karena melahirkan, ada sukacita yang sangat besar dan meluap-luap. Kami melihat bagaimana indahnya kerja tangan Tuhan dalam menenun seorang bayi di dalam kandungan.

Dan, kami sangat bahagia untuk mempunyai relationship dengan anak yang sudah Tuhan percayakan untuk kami jaga dan besarkan. Dan juga peluang untuk mengasihi anak ini dengan kasih yang Tuhan berikan buat kami melalui Yesus.

Tentunya ada kesulitan juga, apalagi di bulan-bulan pertama. Saya ingat berpikir, “Wah, sekarang tangan saya, waktu dan energi saya, semuanya ditumpahkan untuk seorang kecil yang totally dependant on me!” Kekurangan tidur karena menyusui, banyaknya cucian baju, dan kadang merasa hari-hari seperti diulang-ulang, hanya diisi dengan ganti popok dan menyusui.

Saya bersyukur orang tua saya datang untuk membantu selama dua minggu ketika Lukas lahir. Dan, waktu mereka sudah pulang ke Indonesia, teman-teman gereja membantu membawakan makanan. Saya juga pergi ke childhood clinic sessions selama 4 minggu, dan mereka memberikan saran-saran yang sangat membantu.

Dari klinik ini, saya join mothers group. Kami menggunakan grup Whatsapp untuk kontak satu sama lain. Sebagai new mom pasti banyak banget pertanyaan tentang ini itu bayi. 

Apakah rash ini normal, pas mulai makan solid mau dikasih makan apa, konstipasi normal atau nggak, dll. Mothers group saya berperan besar dalam membantu saya merasa bahwa saya nggak sendiri dalam menjalani peran sebagai ibu baru.

Saya juga bersyukur untuk teman-teman gereja yang datang mengunjungi, atau telepon dan berdoa buat saya. Jadi walaupun ada kesulitan, komunitas di sekitar sangat membantu saya.

Bagaimana pengalaman Yenli ketika punya anak kedua? Apakah ada persamaan atau perbedaan, atau hal-hal yang terasa lebih mudah/lebih sulit?
Zachy baru saja berumur 3 bulan,  jadi saya cuma bisa share dari waktu yang singkat ini! Saya menemukan beberapa hal jauh lebih mudah, misalnya ganti popok tanpa dipipisin anak di muka… hahaha (karena kami sudah berpengalaman ganti popok selama 3 tahun!).

Dan, standard or expectations kami juga lebih rendah. Jadi, kami lebih toleransi akan banyak hal. Contohnya, dengan anak pertama saya, dulu saya selalu khawatir kalau tidur siangnya pendek-pendek, atau, kok, nggak mau tidur siang di cot, atau takut dia jadi “bau tangan” seperti orang-orang bilang.

Sekarang, dengan anak kedua, kalau dia nggak mau tidur siang di cot, ya, kita babywear di carrier atau gendong. Nggak apa-apa dilabel “bayi manja” atau “bau tangan”, karena kami juga sadar musim ini akan berlalu, dan mereka akan tumbuh besar dalam sekejap. Might as well enjoy the snuggles and cuddles while we can! The saying can’t be more true: the days are long, but the years are short.

Yang susah mungkin adalah menyesuaikan rutinitas dua anak. Misalnya, Lukas lagi mau bermain dengan suara kencang, Zachy mau tidur. Atau, mungkin hal sesimpel mau keluar rumah dengan dua anak, pasti lebih ribet dibanding bersiap-siap dengan satu anak. Dan, kadang juga merasa bersalah karena harus membagikan fokus untuk dua anak.

Sukacita yang paling besar adalah melihat mereka berdua berinteraksi. Lukas senang memberi Zachy pelukan, atau membacakan buku ke Zachy.

Wah, that’s so sweet! Apakah kedua anakmu pernah ke Indonesia? What was that like?
Anak pertama saya Lukas pernah ke Indonesia di awal tahun 2020 sebelum COVID lockdown. Waktu itu dia baru berumur 9 bulan, dan kami bawa dia ke Surabaya selama tiga minggu. Sangat bersyukur kami pergi waktu itu, because who would have guessed that we wouldn’t be able to come back for the next few years due to coronavirus!

Setelah border dibuka kembali, orang tua saya datang ke Sydney pada April 2022, setelah dua tahun tidak bisa bertemu cucu-cucu mereka di sini. Aku ingat masa itu sangat susah dan sedih, karena kami merasa orang tua kami ketinggalan banyak sekali perkembangan anak-anak. Walaupun kami banyak melakukan facetime, itu nggak akan bisa menggantikan pertemuan secara langsung. Ketika mereka datang berkunjung pun, cucu-cucunya butuh beberapa saat untuk merasa familiar. Zachy belum pernah ke Indonesia, tapi ketika dia lahir, orang tua saya datang ke Sydney selama 3 minggu untuk memberikan bantuan. Waktu-waktu itu sangat berharga.

Apakah Yenli bisa sharing beberapa tip bagi ibu-ibu yang sedang preparing untuk punya anak atau baru punya anak tapi keluarga masih di Indo?                            Tip dari aku, biasanya setelah melahirkan, rumah sakit memberikan beberapa contact details untuk bagian-bagian yang sangat membantu, seperti childhood clinic centres untuk health check bayi dan juga koneksi untuk mothers groups, Australia breastfeeding association untuk menyusui, Tresillian atau Karitane untuk membantu dalam hal menidurkan anak. Make the most out of organisasi-organisasi ini.

New moms bisa juga cari tahu ada acara apa di sekitar tempat tinggal, misalnya, story or rhyme time di local libraries, atau supported playgroups (biasanya ada support person yang bisa membantu menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang perkembangan anak). Acara-acara ini juga tempat yang bagus untuk bertemu dengan ibu-ibu lain. Semangat ya ibu-ibu! [IM]

Previous article15 Hal Tentang Michelle Anita Yunita
Next articleSalat Eid bersama ribuan muslim asal Indonesia, Konjen RI Sydney ajak pertebal persatuan dan toleransi