Harjo: Sukses Hantarkan Cita Rasa Masakan Ibu ke Australia

536
Facebooktwitterpinterestlinkedinmail


Kisah sukses Harjo mungkin bisa disebut ‘agak laen’ dibanding pebisnis Indonesia di Australia. Bagaimana tidak, semua perjalanan bisnis Harjo berangkat dari lidahnya yang gagal move on dari masakan kampung halamannya, Medan, Sumatera Utara. Gagal move on ini kemudian Harjo sulap menjadi bisnis makanan yang sukses berkat bekal resep penuh cinta dari Sang Mama. 

Semua ini bermula dari Harjo yang dibesarkan oleh Ibu yang berbisnis catering, dan Nenek yang selalu berperan jadi ‘head chef’ di setiap acara kendurian, Harjo kecil terpaksa membantu Nenek dan Ibu di dapur demi uang jajan. Pria berbintang Cancer ini akhirnya menjadi terbiasa dengan dunia dapur. 

Menamatkan kuliah di Universitas Sumatera Utara Jurusan Sastra Inggris, Harjo memantapkan hati menjadi guru Bahasa Inggris. Setelah 10 tahun berkecimpung di dunia pendidikan, Ia ingin rehat dari hiruk pikuk profesi guru dan memutuskan jalan-jalan keliling Australia hingga akhirnya muncul kerinduan masakan ibu karena sulitnya menemui masakan Medan saat itu.  

Dengan bumbu yang tersedia, Harjo mengeksekusi resep ibunda. Bukan hanya dia yang menikmati tapi juga teman-teman yang tinggal di dekatnya. Dari situ, lewat kekuatan words of mouth, Harjo terdorong untuk berbisnis catering. Ia menyediakan dua masakan setiap hari, Senin hingga Jumat. Medan Catering semakin meluas sejak tahun 2008 hingga pada tahun 2012 Ia memutuskan untuk membuka restoran, namun kesiapan seluruh materi dan non-materi rupanya dapat terwujud 4 tahun setelahnya.

Sudah Makan Belum?

Medan Ciak dibuka pada tahun 2016 di Surry Hills dengan status “sold out” selama 3 pekan pertama grand opening. “Antrian (customer) sampai 1 jam lho, Mbak. Bayangin! Padahal kami baru punya nasi padang, lontong sayur medan, dan mie pangsit medan,” jelasnya penuh kenangan. 

Nama “Medan Ciak” dipilih karena kami berasal dari Medan. Kata “Ciak” adalah bahasa Hokkian di mana budaya orang Medan asal ketemu selalu bertanya “Ciak liaw boi?” (sudah makan belum?). Kota Medan yang terkenal sebagai surga kulinernya Indonesia sangat berpengaruh karena sebelumnya restoran Indonesia yang ada di Sydney umumnya adalah masakan bercitarasa Jawa. Sehingga dengan munculnya Medan Ciak memberi rasa / pilihan baru bagi pecinta kuliner Indonesia akan masakan Sumatera.

Selama 2 tahun berproses, Harjo memikirkan cara inovatif untuk memajukan bisnisnya. Dia mengeluarkan menu nasi kapau yang masih terbatas pada tahun 2018. Dan akhirnya berhasil membuka dua restoran di Sussex Street dan Liverpool Street. Nasi Kapau menjadi sangat populer sekarang di Sydney, selain Medan Ciak yang pertama kali perkenalkan tetapi juga otentitas rasa dan cara penyajiannya yang dibungkus daun pisang & kertas dialasi piring kaleng jadul memikat pelanggan untuk menikmatinya sehingga Medan Ciak itu identik dengan Nasi Kapau di mata pelanggan.

Beyond the Limit

Namun, layaknya sektor bisnis lain, pandemi Covid-19 memberi dampak besar terhadap Medan Ciak di tahun 2020. Terpaksa satu restoran ditutup karena kurangnya SDM dan merosotnya jumlah customer. Tantangan ini dijawab oleh Harjo dan support system yang ia miliki, Medan Ciak tetap harus beroperasional dengan cara menjemput bola, yaitu dengan menyediakan delivery order tanpa minimum purchase. Idenya berhasil, lewat delivery saja, Medan Ciak menjajakan 400 bungkus nasi setiap harinya. 

Bangkit dari keterpurukan pandemik Covid-19, Harjo mengubah identitas (rebranding) Medan Ciak lewat nasi kapau dan tampilan restorannya yang lebih modern kekinian sehingga target pelanggannya menyentuh generasi kekinian. Di akhir tahun 2023, Harjo membuka cabang baru di Mascot dengan penjualan rendang dan iga bakarnya saja menyentuh angka 500 kg per minggu.

Kesuksesannya ini bukanlah sekedar keberuntungan, tapi karena prinsip hidupnya yang ia pegang selama ini, yaitu “Never stop learning. Dare to dream and make it come true.” Kepiawaian dan kerja kerasnya membuahkan hasil yang bisa dinikmati banyak orang. Bisnis kulinernya tidak hanya mengantarkan Harjo kepada kesuksesan tapi juga mengenalkan budaya Indonesia lewat makanan dan masakan Indonesia. Jajanan pasar yang tersedia di Medan Ciak merupakan jajanan pasar paling banyak variannya di Australia, mulai dari kue wajik hingga es koteng.

Tidak hanya itu, dia juga terus belajar untuk beyond the limit terutama pada hal-hal baru yang lagi ngetren di masyarakat. “Prinsip saya dalam berbisnis itu kita pelajari customer behaviour, karena pembeli adalah raja.” ujarnya mantap. Dia juga menambahkan, kunci sukses bisnis bukan hanya pada customer tapi juga pada kesejahteraan karyawan. Baginya, karyawan adalah keluarga. Terbukti hingga kini, karyawan MedanCiak betah dan setia pada Harjo. 

Berkenalan dengan IBC Australia

Harjo mulai bergabung dengan IBC Australia sejak tahun 2020. Melalui IBC,ia banyak kenal dengan berbagai pengusaha Indonesia di Sydney. Selain itu ia belajar bahwa norma dan etika menjadi titik 

penting dalam menjalin hubungan dengan siapapun terutama dalam berorganisasi. Selain itu aktif terlibat dalam kegiatan organisasi juga sangat penting. Menurutnya, IBC Australia sangat berperan dalam menjalin hubungan Diaspora Indonesia di Australia dengan berbagai kalangan pengusaha yang bukan hanya pengusaha lokal Indonesia tapi juga pengusaha asing dalam hal memperkenalkan peluang investasi atau  bisnis di Indonesia.

Percakapan ditutup dengan harapan untuk mewujudkan mimpinya, yaitu buka cabang Medan Ciak di seluruh Australia, terutama di kota besar seperti Melbourne dan Perth. Well, nothing is impossible, Harjo! [IM]

Oleh: Sari Puspita Dewi

Previous articleAwali Momentum Golf 2024 dengan Allen W Cup 2024
Next articleAngeline Stella: When Life Gives You Lemon…