Cindy Febrianne Rawatan

687
Facebooktwitterpinterestlinkedinmail


A Story Of Chasing Your Dreams And Running Your Race
Di usia sangat muda, 28 tahun, gelar BA(Hons) RIBA Architecture and Planning dari UWE Bristol dan Master of Urban Design dari UWA Perth diraihnya. Saat ini, ia bekerja di Perth sebagai Graduate Architect and Urban Design. Ia sedang menghidupi mimpinya: menjadi seorang arsitek. Tentu saja, perjalanan menuju ke sana tidak mudah. Pecinta olahraga dan lomba lari ini menuturkan kisahnya.

Halo Ci Cindy, bisa ceritakan kapan pindah ke Australia dan apa alasannya?
Sebenarnya, aku seharusnya nggak ke Perth untuk melanjutkan master degree. Di awal-awal COVID, di tahun 2020, aku sudah apply ke Cardiff University di UK dan sudah diterima juga, bahkan sudah bayar DP. Waktu itu, aku dan keluargaku yakin kalau pandemi akan selesai di pertengahan atau hampir akhir tahun, sehingga aku bisa balik ke UK. Ternyata tidak, and by that time aku mencoba permintaan untuk menjalani uni online, kampusnya menolak.

Jurusanku di Master of Urban Design mengharuskan hadir perkuliahan secara langsung. Alasannya, salah satu mata kuliahku, yaitu Studio, kami diharuskan membuat gambar dan model fisik untuk memastikan agar karyaku itu 100% buatanku sendiri. Setelah dipikir-pikir, aku memutuskan untuk tetap di Jakarta dan delay my study.

Di bulan Oktober/November 2020, aku iseng melamar ke University of Western Australia (UWA). Mama dan papaku juga bilang untuk berkuliah saja di sana kalau diterima. Jujur saja, waktu itu aku merasa nggak punya harapan untuk diterima di UWA karena katanya diterima di sana lumayan susah. Tapi, setelah menunggu 3 bulan, aku kaget juga mendapat offering letter dari UWA.

Awal-awalnya, karena Perth belum dibuka untuk umum, aku harus menjalani kuliah online selama satu semester. Di bulan Maret 2022, aku baru ke Perth setelah perbatasan dibuka. Sejak itu, setelah di Perth selama 2-3 bulan, aku memutuskan untuk menetap di Perth. Puji Tuhan orang tuaku juga mendukung.

Wow, COVID benar-benar bisa membuat kita merubah rencana, ya. Mengapa kamu memutuskan untuk menetap di Perth daripada balik ke Indonesia setelah menyelesaikan master?
Aku suka tinggal di Perth karena kotanya cantik, in terms of its aesthetic, the city planning and also because the city is calm. Aku selalu bilang Perth got its own charm that makes people fall in love with the city itself. Tinggal di sini hidup berasa lebih seimbang. Mau ke suburbs ada, city life ada, ke taman, gampang, alam dan pantainya cantik.

Selain itu aku juga lihat peluang dan potensi di Australia lebih baik untuk karier aku sebagai seorang arsitek. For me, I can learn a lot here and can get into a proper architecture firm which has always been my dream. Menurutku, di sini, work-life balance juga ada dan setiap pekerja mau kerja apa pun rata-rata, di Australia, they are being treated well.

Puji Tuhan setelah aku lulus kuliah master pada tahun lalu di bulan Juli, nggak lama menunggu dan di bulan September aku diterima dan mulai bekerja di perusahaan arsitek di sini yang bernama MJA.

Apa yang mebuat kamu fall in love dengan architecture?
Awalnya, aku suka gambar dari masih kecil. Saat SD, aku pernah bicara ke orang tua bahwa kalau sudah besar, aku ingin membuatkan mereka istana. Aku bertanya cara membuatnya bagaimana. Mereka menjawab kalau aku mau bisa membuatnya sebuah istana, jadiah arsitek. Dari situlah cita-citaku muncul dan Puji Tuhan, sudah tercapai.

Wow! Apa impian untuk kedepannya? Apakah masih ingin membangun sebuah istana untuk orang tuamu?
Impian aku untuk di masa depan adalah ingin menggunakan desainku sendiri untuk kehidupan nyata dan dapat melihat proses infrastruktur dan orang banyak bisa menggunakannya dengan baik. Selain itu impian itu nggak pernah ada habisnya sebagai seorang manusia. Menurutku, selama aku masih bisa belajar dan improve my skils I will always keep learning and never stop dreaming.

Aku masih ingin design and build my parents’ dream house in the future! That will be my ultimate dream goal seeing them happy and enjoy their life!

Apakah ada gedung atau daerah tertentu di Perth yang kamu paling sukai secara architecture/city planning?
Kawasan hangout yang aku paling suka di Perth adalah Fremantle karena terkenal sebagai Perth’s old town but it’s full of vibrancy, colour, and culture. Its like the area speaks for itself dari segi architecture-nya, planning, and how the area being accommodate. You can see the streets fill with buzzing from the songs of buskers, music floats out from local cafes and bars, and sidewalks fill with shops of local art and wild collections!

They still keep their port facilities but at the same time they utilize the surrounding area for people to be able to visit, do business, see tourist attractions and learn the history. I like it when an area supports locals and keeps their aesthetics even though the world and infrastructure and design is evolving! 

Tadi ada di mention bahwa sedang training untuk HYROX competition di Sydney dan Perth. Apakah bisa ceritakan sedikit tentang pengalamannya so far?
Iya aku lagi mempersiapkan diri untuk dua race HYROX tahun ini di Sydney dan Perth. Aku tahun lalu sempat ikut di Sydney. Dari pengalamanku, it’s a really great experience karena it challenges you physically and mentally. Untuk training-nya sendiri pasti dibutuhkan disiplin karena seminggu 5-6 kali aku harus latihan strength, endurance, dan juga recovery dan nutrition yang harus diperhatikan. 

Yang susah mungkin lebih ke mental game. Contohnya, kadang aku suka berpikir bisa nggak ya untuk menyelesaikannya, dan bagaimana cara untuk menjadi lebih baik. Sejauh ini, sih, it’s a really enjoyable experience and I have a great coach who is always supporting me!

Apakah ada tips bagi yang ingin mengikuti HYROX ataupun olahraga lainnya seperti half-marathon?
Menurutku, find the right coach and community that can support your journey in preparing for the competition/race, because if you find the right coach and you can work as a team towards the goals it will make your training feel enjoyable and easier to go through.

Biasanya juga orang berpikir harus latihan keras dan latihan sebanyak mungkin. Boleh saja, tapi based on my experience, don’t neglect your recovery and nutrition karena ini juga faktor yang sangat penting dalam persiapan. Kita mau badan kita siap untuk melakukan latihan and our daily activities also to prevent any injuries. One of my coach always said to me “Train hard, recovery harder!” [IM]

Previous article[Celebrating International Women’s Day] Kisah Reni Turnbull Capai Work-Life Balance Sebagai Ibu Bekerja
Next articleBagaimana ketakutan bisa menghambatmu