Sensory Play Untuk Hidup Yang Lebih Sehat

311
Facebooktwitterpinterestlinkedinmail


Bermain dan kesehatan mental memiliki hubungan yang dekat dan erat. Sayangnya, masyarakat awam tidak banyak yang paham. Untungnya (biar ada imbangan), seiring banyaknya diskusi dan pemberitaan tentang kesehatan mental dan terutama akibat efek masa COVID pada orang dewasa maupun anak-anak, popularitas sensory play dan sensory activities makin naik.

Jadi, apa itu sensory play?
Sensory play adalah sebuah aktivitas yang menstimulasi panca indera. Permainannya paling mudah dilakukan dengan ‘menggoda’ penglihatan, pendengaran, dan perabaan. Belakangan, permainan yang merangsang indera penciuman maupun pengecapan juga mulai diperkenalkan.

Dalam konsep ini, penegasannya bukan hanya pada kata ‘sensory’, tetapi juga kata ‘play’. Kita semua tahu bahwa permainan adalah sesuatu yang integral pada kehidupan anak-anak, dan ternyata ada banyak manfaat bermain dalam pertumbuhan anak-anak, dan kewarasan orang dewasa! 

Bagi anak-anak, bermain bukan hanya sesuatu yang menyenangkan atau dilakukan hanya untuk berekreasi seperti kita sebagai orang dewasa. Bermain adalah sebuah cara untuk belajar tentang dunia sekitar kita. Dengan meraba, mencicip, melihat, mendengar, dan mencium, kita mengetahui hal-hal baru dan belajar untuk mengerti hal-hal yang terjadi di sekitar kita. 

Buat anak, karena belum terbiasa dengan benda-benda di lingkungannya, bermain adalah cara mereka mencari tahu, mengeksplorasi, dan mengerti. Saat melakukannya, seringkali mereka mereka seru sendiri karena buat orang yang belum paham, bermain dengan sesuatu yang baru tentu mengasyikkan.

Bermain juga memberikan anak kesempatan untuk berimajinasi. Ketika mereka diberikan ruang untuk bermain sesuka hati, seringkali mereka akan melakukan hal-hal yang tidak akan terlintas di benak kita! Kreativitas dan kemampuan kognitif mereka meningkat. Pengalaman yang tidak akan terjadi jika mereka hanya duduk manis dan diam.

Selain itu, aktivitas sensory juga sangat membantu dalam menenangkan diri. Di era digital dengan stimulasi visual, suara, dan lain-lainnya berkembang pesat, anak-anak pun bisa merasa overstimulated. Hal ini bisa berefek terhadap perasaan, membuat mereka nggak bisa diam dan fokus. 

Padahal, fokus sangat diperlukan dalam sensory play agar indera mereka menjadi aktif dan ‘nyambung’ dengan sinyal-sinyal otak. Hal inilah yang kemudian membantu sekali dalam menenangkan pikiran. Sebuah terapi bagi otak yang terlampau overstimulasi akibat terpapar layar digital terlalu lama. Dengan demikian, sensory play adalah muara bagi bertemunya kesempatan untuk mengeksplorasi lingkungan dan menenangkan diri. 

Tips & Tricks for

Sensory Play
Sensory play bisa mengambil berbagai wujud, dari yang simpel banget, seperti squishy, slime, kinetic sand, play-do, dan lainnya, sampai ke aktivitas yang lebih kompleks, seperti dramatic play, marble run, atau membekukan mainan dalam es!  mainan yang dibekukan dalam es batu. Walaupun demikian, konsep sensory play ini masih bisa terdengar sangat sulit, apalagi ketika melihat contoh-contoh di sosial media yang tekesan rumit dan repot!

Jadi, bagaimana cara untuk menggabungkan sensory play ini ke dalam kehidupan yang nggak ada habis sibuknya?

Beberapa waktu lalu, aku berbincang dengan Jenny, seorang ibu di Melbourne yang memiliki 3 anak di bawah 10 tahun. Ia telah belajar banyak tentang konsep sensory play dalam kehidupan anak-anaknya dan bahkan telah menciptakan sebuah produk sensory play, yang menurutnya sangat diperlukan oleh setiap orang tua dengan anak kecil. Nah, berikut ini sarannya.

Tip #1: Sensory play nggak harus dilakukan setiap hari!
Keluarga Jenny kadang melakukan beberapa aktivitas sensory yang simpel pada hari biasa. Aktivitas ini jauh lebih panjang saat akhir minggu, saat anak-anak lebih banyak di rumah dan memerlukan aktivitas lain selain bermain gadget.

Tip #2: Carilah hal-hal yang anakmu suka dan nggak suka
Jenny membagikan pengalamannya bahwa mencari ide untuk sensory play pada awalnya nggak selalu gampang. Dia mulai mengeksplorasi sensory play di masa COVID ketika dua anak pertamanya yang sudah bersekolah harus sekolah dari rumah dan memerlukan lebih banyak aktivitas untuk mengisi waktu. Setelah beberapa trial and error, dia baru tahu bahwa salah satu anaknya nggak menyukai tekstur slime, tapi ketiganya sangat suka main air! Itulah sebabnya Jenny sering bikin aktivitas berbasis air.

Tip #3: Siapkan 2-3 aktivitas per minggu saja
Frekuensi ini dirasa cukup asalkan dilakukan pada hari yang berbeda dengan kombinasi anak bermain di luar. Kalau satu nggak berhasil, siapkan aktivitas cadangan. Jangan ragu juga untuk mengulang permainan yang sama asalkan anak masih bisa menikmatinya. Lumayan, kan, jadi punya cadangan ide untuk aktivitas minggu depan.

Setelah beberapa tahun menjalani sensory play dengan anak-anaknya, Jenny  membuat panduan gratis yang merupakan kompilasi ide-ide sensory play yang mudah disiapkan oleh orang tua. Tautan untuk panduan gratis sensory play Jenny: https://kingdomplayroom.com/pages/sensory-play-ideas

Sensory play for… ADULTS!

Yup! You heard me right! Sensory play nggak hanya mengasyikkan untuk anak-anak saja, lho!
Orang dewasa bisa melakukannya, dan manfaatnya juga segudang banyaknya.

Bagi yang sudah tahu, salah satu grounding exercise yang sering direkomendasikan oleh terapis adalah metode 5-4-3-2-1, yaitu menamakan lima hal yang bisa dilihat, empat hal yang bisa diraba, tiga hal yang bisa didengar, dua hal yang bisa dicium, dan satu hal yang bisa dicicip. Metode ini sangat efektif dalam membawa pikiran kita balik ke saat kini. Buat kamu yang sering dilanda pikiran cemas dan overthinking mengenai masa lalu atau masa depan, grounding exercise ini bisa membantu untuk mendiamkan pikiran mengganggu tersebut serta mengurangi tekanan mental juga.

Nggak heran ketika menjalani masa COVID, banyak orang berusaha mengatasi dan melarikan diri dari stres dengan mencari hobi-hobi yang umumnya memiliki elemen panca indera yang kuat. Contoh, baking, berkebun, merawat hewan peliharaan, olahraga, dan lain-lain. Aku sendiri lari ke berkebun. Pada saat itu, aku merasa bahwa waktu yang dihabiskan di kebun dan memelihara tanaman membantu mengalihkan pikiran-pikiranku dari hal-hal yang bikin stres ke hal-hal yang indah di taman, baik dari sisi warna bunga atau cabe yang terang, melihat pertumbuhan tanaman-tanaman yang kurawat, maupun suara-suara burung yang berterbangan di sekitarku.

Bahkan, sekarang pun, aku masih suka banget mencari aktivitas yang menstimulasi panca indera dan berusaha untuk mengurangi aktivitas digital. Salah satu contohnya adalah kembali bermain LEGO dengan pasanganku. Seru sekali memiliki saluran kreativitas yang bebas dari tekanan. Kadang, kami suka membuat kreasi sendiri, di lain waktu kami merancangnya bersama. Yang paling penting adalah waktu bersama dan stimulasi penglihatan dan peraba yang membantu kami istirahat dari stres bekerja. Aku juga suka banget bermain dengan air mancur dekat rumah karena merasakan air yang dingin di kulitku. Kalau sudah sore, aku bisa melihat lampu-lampu yang nyala di lantai sekitar mata air mancur. Semuanya sangat menenangkan dan menyenangkan. Itulah sensory play untuk dewasa.

Jadi gimana menurutmu? Sensory play seperti apa yang akan kamu coba untuk anakmu ataupun dirimu sendiri? Semoga bisa menemukan yang cocok dan menyenangkan, ya. Selamat bermain! [IM]

Previous article5 Aplikasi Password Manager Terbaik 2023
Next articleSydney Has The Biggest Store In The World!