Pindah Ke Sydney Sebelum Dan Sesudah Pandemidemi

294
Facebooktwitterpinterestlinkedinmail


Rupanya, pindah kedua kali ke kota ini punya rasa pahit dan manis…

Ketika aku pindah ke Sydney pada pertama kalinya untuk kuliah, rasanya, kok, gampang jatuh cinta dengan kota ini, ya? Teman-teman internasional lainnya bicara tentang kesulitan mereka dengan culture shock, tetapi aku nggak merasakannya. Eh, ketika aku kembali lagi ke Sydney untuk kedua kalinya setelah tinggal di Jakarta selama masa pandemi berat, barulah aku merasakan culture shock itu.

Pindah sebelum Covid-19
Aku pindah pertama kali ke Sydney pada tahun 2017 untuk kuliah. Saat itu, teman-teman baikku juga bepergian ke negara lain untuk kuliah. Aku merasa ‘this is time for a fresh start’. Aku ingin bergaul dengan orang-orang yang berbeda. Walaupun ada banyak komunitas Indo di Sydney, aku melawan arus dan mengurangi main dengan orang Indo. Aku pilih berteman dengan orang lokal atau orang dari negara lain. Kupikir, mumpung di luar negeri, lebih baik bergaul dengan orang-orang yang nggak bisa kutemui di Indo. I want to make the most of the international environment at UNSW, kampusku.

Surprisingly, aku juga nggak merasakan culture shock. SMA-ku di Jakarta menggunakan kurikulum NSW, oleh karenanya aku juga mendapatkan ijazah SMA NSW (NSW HSC). Jadi ketika teman-teman lokalku bicara tentang ujian HSC dan mata pelajaran yang mereka ambil, aku bisa ngerti dan ikut diskusi. Kayaknya, mereka yang mendapatkan reverse culture shock ketika mendengar aku ambil NSW HSC di Indo, deh, hehehe.

Selain itu, hal-hal yang mengejutkanku skalanya kecil, seperti semua orang harus pakai seatbelt saat berada di mobil. Kalau nggak, SIM temanku yang lagi nyetir bisa dicabut. Atau, ketika menyanyikan seseorang yang berulang tahun, di akhir lagu “Happy Birthday” ada “Hip hip hooray!”. Suatu tambahan yang aku nggak pernah alami di Indo.

Putting Down Roots
Beberapa tahun pun berlalu. Dari semua orang yang kukenal, aku paling ‘klik’ sama teman-teman gereja. Tiap hari Jumat, aku ingat perasaan excited banget untuk bertemu dengan mereka dan persekutuan bareng. Walaupun banyak dari kita kuliah di universitas yang berbeda dan bahkan ambil jurusan yang juga berbeda, somehow ngobrol sama mereka gampang banget rasanya.

Selain itu, aku juga mengikuti acara-acara young adult di gereja ketika baru menempati tahun pertama kuliah. Tak heran, aku jadi salah satu yang paling muda di sana. Mereka sering bercanda dan mengisengiku. Aku sebenernya lebih biasa jadi “cici” karena cucu paling tua di antara cucu-cucu nenek-kakekku. Tapi, sama teman-teman gereja, aku merasa menjadi adik di sebuah keluarga besar ternyata enak juga. Enak punya kakak-kakak yang selalu menjagaiku, memastikan bahwa aku pulang dengan aman, dan semenyebalkan apa pun, mereka selalu memberikanku banyak momen yang sangat berkesan.

Pada saat itu, ketika aku stres dan bingung, mereka yang selalu ada tiap minggu untuk menghibur dan menasihatiku. Ketika aku senang, mereka juga ikut merayakannya denganku. Bahkan, ketika aku mulai pacaran, kegirangan dan kehebohan mereka adalah sesuatu yang takkan pernah kulupakan.

Everything Changed
Ketika COVID-19 menerpa dunia, aku ingat pas satu minggu sebelum perbatasan ditutup, aku dan keluargaku memutuskan untuk lebih baik pulang ke Jakarta. Waktu itu, kami berpikir dalam 3-4 bulan situasi menegangkan ini akan reda, dan aku bisa kembali ke Sydney untuk terus melanjutkan program master yang sedang berjalan. Namun, as we all know, keadaan tidak berjalan semulus itu. Tiga bulan menjadi tujuh bulan, lalu satu tahun, dan masih nggak ada tanda sama sekali bahwa perbatasan akan dibuka kembali.

Apa yang bisa dilakukan ketika dicabut dari tempat yang sudah merupakan rumah kedua dan dari komunitas yang telah membantuku berkembang? Not much I could do selain berusaha untuk terus menjaga kontak dengan komunitas yang tinggal begitu jauh dan sedang mengalami kesulitannya masing-masing, dan, sayangnya, kami nggak bisa saling memberi support seperti sebelumnya.

Sydney, a Second Time
Dua tahun kemudian, setelah perbatasan ke Australia akhirnya buka kembali, aku bahagia sekali! Akhirnya, aku bisa kembali! Akhirnya, aku bisa menjalani kehidupan kuliah bersama teman-temanku lagi! Akhirnya, aku bisa melakukan semua hal yang tertinggal di tahun terakhir kuliahku! Aku siap untuk memungut kehidupanku yang harus kutinggalkan beberapa tahun yang lalu.

Yang aku nggak siap adalah kelelahan karena lifestyle yang sangat berbeda; ngurusi rumah sendiri, naik kendaraan umum tiap hari. Aku nggak siap menghadapi kuliah tanpa teman-temanku karena banyak yang telah lulus ketika aku terjebak di luar negeri. Aku nggak siap menghadapi kesulitan hangout sama teman-teman karena mereka sudah kerja, sedangkan aku masih menyelesaikan semester terakhir kuliah yang tertunda.

Itu dan kesadaran bahwa aku telah mulai terbiasa dengan jadwal kehidupan kerja akibat sempat magang di Jakarta selama delapan bulan. Kerja jam 9-5, malam waktu istirahat. Namun, kuliah master di Sydney malah kebalikannya. Banyak kelas sore ataupun malam karena mahasiswa master seringkali sudah berkarier dan hanya memiliki waktu luang pada sore hari. Aku juga sudah lupa caranya melaksanakan proyek dan ujian, saking sudah terbiasa dengan sistem kerja daripada sistem akademik.

Tanpa kehidupan sosial yang telah kurindukan setelah sekian lama, dan dengan reverse culture shock yang kualami, aku seperti merasa tersesat. Seperti sedang hidup di area “in-between”. Secara umur, mestinya sudah melangkah ke life stage berikutnya bersama teman-teman sebaya, tapi, realitanya, aku satu langkah di belakang semua orang. Dan, teman-teman yang lebih muda yang masih menjalani life stage yang sama sepertinya sulit mengerti apa yang aku alami.

An Enlightening Experience
Kok, bisa begitu berbeda, sih, saat pertama kali pindah ke Sydney dibandingkan yang kedua? Bukannya harusnya lebih mudah, ya? Kan, sudah kenal orang dan budayanya… 

Pertanyaan-pertanyaan itu berputar di hatiku saat merasakan frustrasi dan kesepian. Namun, akhirnya, setelah dijalani saja, lama-kelamaan aku jadi sadar bahwa nggak semua dari perjalanan itu buruk.

Hal-hal itulah yang membuatku sadar bahwa aku sudah siap untuk meninggalkan kehidupan mahasiswa dan melangkah ke tahap berikutnya. 

Aku ingat waktu baru mulai master pada tahun 2020. Aku merasa cepet banget sudah lulus S1 dan sekarang S2, lalu tak lama lagi kerja. Aku nggak mau ini semua terlalu cepat, rasanya belum siap. Dan, perasaan ketidaksiapan ini sempat membuatku lumayan cemas. Jadi, sebenarnya, aku lega juga ketika menyadari bahwa the time away from Sydney telah mempersiapkanku untuk menyelesaikan studiku dengan baik dan terjun ke dunia kerja.

Aku juga sadar bahwa sebenarnya yang kualami itu bukan sekadar culture shock, melainkan ketidaksamaan antara ekspektasi dan realita. Di tahun-tahun pertama, sepertinya ekspektasi untuk siap berteman dengan orang-orang baru dan belajar tentang kehidupan baru di Sydney merupakan kunci kebahagiaanku. Berbeda ketika aku kembali kedua kalinya yang memiliki ekspektasi tidak ada perubahan yang telah terjadi selama dua tahun COVID. Kupikir semua masih sama saja. Itulah yang menghancurkan sebagian kebahagiaanku sampai akhirnya aku bisa menerima perubahan tersebut.

Such a roller coaster of experiences! Yang pasti, aku nggak akan pernah menyesal pindah ke Sydney, dan pengalaman tersebut telah membentukku menjadi orang yang lebih mengerti diriku sendiri, dan lebih siap untuk menghadapi dunia yang terus berubah ini. [IM]

Previous articleLive Action Little Mermaid Yang Menggelitik Kritik
Next articleHalal Bihalal Di Sydney