Perbedaan Gaji Indonesia Dan Australia

55
Facebooktwitterpinterestlinkedinmail


Orang-orang selalu berkata kalau gaji di Australia lebih besar daripada di Indonesia.
Tapi benar, nggak, sih? Ataukah sebenarnya ada beberapa bidang yang bahkan gajinya lebih tinggi di Indonesia? Kalaupun berbeda, seberapa besar, sih, perbedaannya?
Mari kita kepoin perbedaan gaji di dua negeri ini!

Upah Minimum
Untuk memulai, baiknya kita tengok dulu data resmi minimum gaji di dua negara ini, ya. Secara nasional, di tahun 2020-21 ini Australia menetapkan upah minimum $20.3 per jam atau sekitar $3,248 per bulan dengan perkiraan 8 jam kerja per hari dan 5 hari kerja per minggu. Dalam Rupiah konversinya Rp34,316,625.42 (berdasarkan kurs saat penulisan artikel).

Sementara itu, Indonesia sendiri memiliki ketetapan yang berbeda mengenai gaji di provinsi yang berbeda. Untuk memudahkan riset, mari kita bandingkan dengan UMP
(Upah Minimal Provinsi) di DKI Jakarta. Drumroll… ternyata upah minimum di tahun
2020 Rp4,267,349 di DKI Jakarta. Berarti di provinsi lain bahkan bisa lebih rendah.

Let’s say, semua orang taat dengan gaji minimum ini, berarti paling tidak perbedaan
gaji antara pekerja di Australia dan Indonesia sebesar Rp30,049,276. Wah, besar juga. Dengan gaji minimum di Australia lebih besar 8x lipat, rasanya sulit membayangkan
ada area dengan gaji yang lebih tinggi di Indonesia dibandingkan Australia.

Pekerja Tingkat Rendah
Sekarang kita lihat secara lebih realistis. Mirisnya, masih banyak sekali pekerja yang
digaji dengan upah di bawah ketetapan pemerintah di poin awal tadi. Kelompok pertama tentunya adalah para pekerja kasual atau paid internship yang di Australia seringkali diisi oleh mahasiswa atau bahkan pekerja di bawah umur. Mereka seringkali dibayar dengan tunai dengan upah yang lebih rendah.

Cukup sulit mendapat informasi ini. Jadi, mari ambil angka gaji yang didapat temanku
dulu saat bekerja sebagai pramusaji di sebuah restoran, yaitu sekitar $10 per jam.
Perlu dicatat, untuk international students ada batasan jam kerja yaitu 40 jam per
dua minggu. Jadi, bisa dibilang gajinya hanya $800 saja dengan anggapan dia
mendapat roster yang sesuai dengan ketentuan batasan jam kerjanya.

Dibandingkan dengan UMR Indonesia, upah ini masih lebih tinggi. Tapi, dibandingkan dengan minimum wage di Australia ada perbedaan yang sangat besar. Sayangnya, kenyataan di Indonesia pun menyedihkan dengan banyaknya underpaid workers yang dianggap cukup umum. Pekerja kontrak di sini pun banyak yang belum mencapai UMP yang dibahas tadi.

Lagi-lagi, karena sulit mendapatkan informasi, jadi saya mengambil contoh yang dikatakan sebagai salah satu gaji terendah, yaitu Rp1,400,000 per bulannya. Hampir seperempat dari UMR yang ditetapkan. Dibandingkan saja sudah miris, ya. Tapi, perlu diingat, kalau dua angka tersebut hanyalah contoh dan sepertinya masih banyak yang gajinya lebih rendah lagi.

On the other hand, ada juga kasus yaitu lulusan luar negeri mendapat gaji yang cukup tinggi di perusahaan start-up top yang fresh-graduate-nya bisa mendapat Rp17,000,000 per bulan! Eits, menurut riset, rata-rata gaji di Australia untuk fresh grad aja sekitar AU$60,000 per tahun atau sekitar Rp50,000,000 per bulan.

Pekerja Tingkat Tinggi
Sekarang, kita melihat ke sisi satunya. Kalau kita ambil gaji tertinggi dari kedua negara ini, berapa, ya, perbedaannya? Karena luasnya bidang yang ada, mari kita lihat gaji rata-rata CEO atau posisi tertinggi dalam suatu perusahaan. Menurut averagesalarysurvey.com, gaji CEO di Australia adalah sekitar AU$384,780 per tahunnya. Berarti sekitar AU$32,000 per bulan atau Rp338,755,774. That’s about 10x the minimum wage!

Menariknya, ternyata gaji untuk profesional level C (CEO, CFO, COO) di Indonesia ada
di kisaran 250-500 juta per bulannya, menurut akseleran.co.id dan bahkan ada yang mencapai 20 miliar per tahun menurut Qerja.com. Jadi mungkin bisa disandingkan yaa
gaji CEO di Indonesia dan di Australia.

Presiden Indonesia vs Perdana Menteri Australia
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 75 Tahun 2000 tentang Gaji Pokok Pemimpin Lembaga Tinggi Negara serta Keppres Nomor 68 Tahun 2001, tunjangan presiden dan gajinya adalah Rp62.740.030 per bulannya menurut data dari ajaib.co.id. Jika ditotalkan sekitar Rp744,000,000. Selain itu, beliau juga mendapat ragam fasilitas yang berhubungan dengan rumah tangga, kesehatan, dan keamanan.

Beda beberapa jam pesawat adalah Perdana Menteri Australia, dianggap sebagai salah satu pemimpin negara dengan pendapatan tertinggi–kelima di dunia, dengan gaji sebesar Rp5,3 miliar per tahun atau sekitar 7x national wage per bulan menurut Australian
Bureau of Statistics. Tetapi, dikabarkan kalau beliau mendonasikan gajinya ke beberapa departmen pemerintahan, termasuk Department of Education.

Proporsi perbedaan gaji dengan biaya hidup
Meskipun terlihat besar jarak pendapatan antara rata-rata orang Australia dan Indonesia, tentu tidak adil jika kita tidak melihat pula berapa biaya hidup di kedua negara ini. Untuk mendapatkan perbandingan yang seimbang, mari kita lihat rata-rata pengeluaran di dua kota besar, yaitu Sydney dan Jakarta. Menurut Australian Bureau of Statistics, rata-rata biaya hidup untuk satu orang adalah sebesar $712 atau Rp7,537,315–kebanyakan dipakai untuk biaya sewa rumah dengan rata-rata rent $300-400 per week. Maka, dengan upah minimum sekitar AU$20 dan 40 jam kerja per minggu seharusnya masih mencukupi.

Sementara itu, rata-rata biaya hidup di Jakarta untuk satu orang adalah sekitar Rp4,416,186 per bulannya. Angka ini merupakan perkiraan oleh lifepal.co.id karena saratnya data untuk biaya perorangan. Dengan angka itu, tampaknya gaji UMP Jakarta masih belum mencukupi untuk kebutuhan sehari-hari! Tapiiiii, budaya orang Indonesia, yaitu selama belum menikah masih tinggal dengan orang tua, memiliki biaya seperti itu sangat ringan. Apalagi kalau biaya hidup ditanggung bersama oleh anggota keluarga.
Data ini merujuk ke rata-rata biaya hidup sekeluarga sebesar Rp7,500,726 di Jakarta
dan rata-rata 4 orang per rumah tangga menurut data dari biaya.net.

Dengan perbandingan itu, bisa dibilang biaya hidup di Sydney sekitar 6 kali lipat biaya hidup di Jakarta. Masih lebih kecil proporsinya dibandingkan dengan upah minimum di
kota tersebut.

Jika bisa disimpulkan dari artikel yang cukup panjang ini, ternyata secara umum memang penghasilan di Australia jauh lebih tinggi daripada di Indonesia dengan biaya hidup yang tidak sebanding dengan perbedaannya. Tetapi, menariknya, pekerja menengah atas
di Indonesia bisa mendapat gaji yang serupa dengan seseorang di posisi yang sama di Australia. Dengan begitu C-level professionals tersebut bisa memiliki keseluruhan kekayaan yang lebih tinggi karena rendahnya biaya hidup di Indonesia dibandingkan di Australia! [IM]

Previous articlePROMISED LAND, TASMANIA
Next articleIra Puspita: Yang Menarik Dan Kreatif Dari Kayu&Co