Kunjungan ke Proyek Kerjasama Australia-Indonesia di Sukabumi

110
Facebooktwitterpinterestlinkedinmail


Untuk Digitalisasi dan Pemberdayaan Petani Perempuan di Era COVID-19 Guna Mendukung Presidensi G20 Indonesia 2022

Sukabumi – Indonesia merupakan negara agraris, dengan 30% dari total populasi bekerja di sektor pertanian. Pandemi global COVID-19 yang muncul di Indonesia sejak Maret 2020 yang lalu menyebabkan banyak sektor terhambat, namun tidak dengan sektor pertanian yang tetap menunjukkan pertumbuhan dan menjadi sektor andalan.

Lebih dari 60% UMKM di Indonesia dikelola oleh perempuan. Sayangnya, akses ke permodalan dan pasar, untuk mempertahankan dan mengembangkan usaha mereka masih menjadi kendala utama. Alhasil, banyak usaha yang hanya berjalan di tempat atau bahkan mengalami gulung tikar. Terlebih menjalankan bisnis di masa pandemi, juga masih menjadi tantangan tersendiri bagi para perempuan tani yang berjuang dengan upaya modernisasi.

Dengan bantuan dari Pemerintah Australia, Good Return bersama dengan pendukungnya, Good Business Foundation, berkomitmen untuk berkontribusi pada kelompok petani perempuan binaan CROWDE, melalui program Investasi berdampak. Program ini bertujuan untuk memberikan investasi dengan dampak positif, melalui penyaluran modal usaha disertai dengan pendampingan dalam bentuk pemberian pelatihan seputar budidaya dan inkubasi bisnis, serta pembentukan komunitas ramah gender dengan memberdayakan perempuan untuk peningkatan pendapatan rumah tangga.

Pada 18 Juni lalu, Good Return yang diwakilkan oleh Shane Nichols (CEO) dan Fifi Rashando (Impact Investment Manager) serta Good Business Foundation diwakilkan oleh Peter McMullin AM (Founder) dan Stuart Thomson (Executive Director), menilik salah satu lokasi implementasi program CROWDE di Sukabumi. Program ini menggerakkan petani perempuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam pengolahan produk turunan pertanian dengan harapan membentuk kemandirian ekonomi.

Fifi Rashando (Good Return Impact Investment Manager)

Sekelompok petani perempuan hadir berlatih membuat bubuk cabai sebagai pemanfaatan dari cabai grade rendah. Pengolahan hasil tani menjadi produk turunan lainnya dapat meningkatkan harga jual. Selain itu, program ini juga menghubungkan rantai pasok, olahan tersebut dapat langsung dibeli oleh institusi bisnis lainnya.

“Kami senang dengan proyek kerjasama Good Return dengan CROWDE. Salah satu pasangan muda yang memiliki seorang anak telah mampu membangun rumah dengan hasil tani mereka,” ujar Stuart, Direktur Good Business Foundation

Pencapaian kerjasama CROWDE dengan Good Return hingga Maret 2022, 1,243 pekerjaan telah diciptakan dan dipertahankan, 155 UKM di rantai nilai cabai, jagung, mentimun, dan padi telah menerima pinjaman sebesar Rp 5,73 miliar dari CROWDE melalui kerjasama dengan Good Return. 83% dari UKM ini dimiliki oleh perempuan.

Akses ke keuangan hanyalah salah satu bagian dari program ini. Melalui dukungan dari Pemerintah Australia, Good Return juga membantu CROWDE dengan proses untuk memasukkan inklusi sosial dalam investasi dan program yang berjalan, serta meningkatkan akses perempuan ke pasar, teknologi dan digitalisasi.

Saat ini keduanya sedang membangun program baru yang akan melatih petani untuk penggunaan teknologi pertanian, seperti drone, untuk memantau tanaman, dan berpotensi memasukkan lebih banyak penyandang disabilitas ke dalam sektor pertanian.

Good Return, dan Good Business Foundation bertemu kembali di Konferensi AVPN G20 di Bali (21/06/2022). Mereka bertukar pikiran dengan berbagai kelompok aktor (mulai dari finantropi hingga investor, perusahaan hingga pembuat kebijakan, dan peneliti hingga pengusaha) untuk membangun kembali ekonomi inklusif di Asia dan untuk mencapai UN SDGs. [IM]

Penulis:
Lucia Yuriko (Program Manager – CROWDE) dan
Fifi Rashando (Indonesia Business Council Member)

Previous articleSehati Dalam Keberbedaan
Next articleRayakan 300 Tahun Persahabatan, Kolaborasi Makassar-Aborigin Undang Decak Kagum