Ananda Sukarlan “Saya Hanya Ingin Menuliskan Yang Ada Di Kepala”

184
Facebooktwitterpinterestlinkedinmail


Kenyataan menempatkan Ananda sebagai musisi jenius yang mendunia lewat jalur
musik klasik. Meski berada di jalur sempit, tapi Ananda diapresiasi khalayak luas
lewat kreatifitas yang membenturkan budaya Indonesia dengan musik klasik. Dahsyat!

Siapa yang memperkenalkan musik klasik kepada Anda di waktu kecil?
Apakah bermusik adalah sebuah tradisi panjang di dalam keluarga Anda?
Waktu kecil ada piano bekas tinggalan teman keluarga Belanda. Karena saya tujuh bersaudara (saya bungsu), kakak saya yang nomor 3 saja yang di les-in karena orang tua kami bukan orang kaya. Pulang les piano, dia ngajarin adik-adiknya. Nah, karena masih kecil, saya nggak dihitung ikut diajari main piano. Tapi, saya bikin berisik, main piano sendiri. Akhirnya, orangtua bilang, itu adikmu diajari saja daripada bikin berisik.
Malah ternyata saya yang paling berminat. Kakak-kakak saya nggak ada yang lanjut.

Seperti apakah lingkungan musik Anda masa kecil dan remaja?
Apakah Anda punya ketertarikan lain kepada aliran musik lain seperti jazz, rock, punk, disko, sebelumnya? Musik klasik tidak selalu populer bagi semua orang. Bagaimana Anda masuk ke dalamnya, ketika pasti sebagian besar teman Anda mendengarkan musik pop yang populer?
Ada keluarga Belanda, teman mama yang balik ke negaranya, meninggalkan koleksi piringan hitamnya yang ada puluhan. Itu semua musiknya Rachmaninoff, Tchaikovsky, Mozart, Bach dll. Kata kakak-kakak saya, dari sejak pulang sekolah sampai tidur,
saya dengerin itu, aja, sama main piano. Lupa mandi, makan, belajar. Itu juga
ternyata aspek dari Asperger’s Syndrome, sih. Saya bisa ingat semua simfoni
Rachmaninoff atau Prokofiev yang panjangnya sampai 40 menit.

Tapi kakak-kakak saya juga punya kaset The Beatles, Queen, Elton John, dan lainnya,
tapi 3 itu yang jadi favorit saya. Jadi, musik mereka juga jadi bahan acuan sampai sekarang (ditambah Michael Jackson, Pet Shop Boys, dan Lady Gaga, sih, sekarang).
Juga, mama punya kaset The Beach Boys. God only knows what I’d be without you, Mom!

Setelah menyelesaikan pendidikan sekolah menengah di Kolese Kanisius,
Anda pindah ke Belanda untuk melanjutkan pendidikan di Royal Conservatory of Den Haag. Siapakah yang menyarankan untuk berkuliah di sana? Apa sebenarnya keinginan jangka panjang Anda saat itu?
Saya beneran hanya berminat ke musik, dan kemampuan saya di Matematika, Arsitektur, dll, itu nol besar. Totally useless! Bahasa saya lumayan, nggak bego-bego amat. Orang tua juga kebingungan, karena untuk musik klasik saat itu (sampai sekarang juga, sih) hanya bisa melanjutkan kuliah ke luar negeri. Untung, waktu itu saya “ditemukan” oleh Pak Fuad Hassan (saat itu menteri Pendidikan dan Kebudayaan), lewat Ibu Pia Alisjahbana yang ngotot bahwa saya “jenius” (kalau saja beliau tahu, saya ngitung duit kertas dan ngiket
tali sepatu aja gak becus!). Dan, Pak Fuad, kok, setelah dengar saya main piano juga ikutan percaya! Pak Fuad bilang ada beasiswa G2G dengan Belanda, saya ikutan tes,
dan ehm … lulus dengan cukup mudah, sih.

Apa saja manfaat yang Anda berhasil dapatkan sejak berkuliah di sana
dan setelah lulus, seperti apa pengembaraan Anda di dunia musik?
Apakah Anda langsung kembali ke Indonesia atau tetap di negara
yang sama atau pindah ke sebuah negara?
Saya lulus dengan Summa Cum Laude (bahasa Belanda-nya 10 met onderscheiding,
yaitu nilai 10 tapi ekstra). Terus, mengikuti beberapa kompetisi piano dan menang.
Untuk saat itu (sampai sekarang), kompetisi itu adalah “pintu” untuk berkarier, anak tangga pertama yang harus dilewati. Nah, saya inget pertanyaan orang tua bahwa
di Indonesia itu musikus klasik itu bukan “makan apa?” tapi “apa makan?”, sedangkan karier udah lumayan di Eropa. Saya pikir, ya ngapain pulang kalau gitu.

Kapan Anda memutuskan untuk berkarier sebagai musisi di dunia panggung? Sejak kapan Anda memilih untuk menjadi solois? Apakah Anda pernah berkecimpung di dunia orkestra? Seperti apa pengalaman Anda?
Sebetulnya, saya tidak memutuskan. Hidup saya, tuh, persis kata John Lennon
“Life is what happens to you when you’re busy making other plans”. Beneran kecemplung aja, karena kontrak untuk konser dan rekaman berdatangan setelah para promotor
melihat saya di berbagai kompetisi. Itu uang, masak saya tolak? Banyak yang nggak tahu, sebetulnya saya itu nggak suka bepergian dan punya sedikit fobia dengan kapal terbang. Jadi, saya udah ke seluruh negara Eropa Barat, Amerika, Australia, dll., tapi saya benar-benar menganggap itu kerja.

Sepertinya, Anda telah menemukan kalau piano adalah kanal imajinasi Anda
yang sangat lebar. Apa sebenarnya ambisi Anda secara musikal, edukasional
dan spiritual?
Mungkin karena Asperger’s Syndrome, saya hanya ingin menuliskan apa yang ada di kepala. Saya ini orang yang sangat membosankan. Kalau dibolehkan, saya duduk aja di depan kertas pentagram dan komputer, nulis musik sepanjang hari. Bagian dari Asperger’s itu namanya synesthesia, yaitu semua yang saya lihat itu berbunyi. Istilahnya “mendengar bentuk, mendengar warna”. Makanya, saya, tuh, nggak kayak Beethoven yang terinspirasi megahnya gunung atau birunya langit. Saya, tuh, sama cangkir kopi, gagang pintu, keset “welcome” saja berbunyi dan bisa jadi musik. Soal bagus atau jeleknya bunyi, itu lain hal. Itu yang saya butuh teknik, ilmu untuk memilah-milah mana bunyi yang bisa saya olah
jadi musik, untuk saya berikan ke publik, mana yang saya simpan sendiri.
Tapi, pada dasarnya, semua bunyi itu jadi material yang potensial untuk diolah.

Apakah Indonesia punya masa depan yang menjanjikan bagi musik klasik dalam konteks finansial dalam jangka panjang? Seperti apa pengamatan Anda terhadap besaran yang bisa dicapai dari musik klasik? Apakah yang membuat para seniman musik klasik tetap setia di jalurnya?
Ada atau tidaknya masa depan, itu tergantung dari kita. Gersang? Ya, dikasih pupuk.
Terus ditanami bibit-bibit unggul. Kalau Jepang, Korea, Australia, dan negara-negara Amerika Selatan yang tidak punya tradisi musik klasik bisa memasukkan devisa negara dengan itu, kenapa kita tidak? Kita punya kelebihan: material untuk dikembangkan ke dalam musik piano, simfonik, dll., itu kita punya yang paling kaya sedunia, yaitu kekayaan lagu-lagu daerah dengan melodi, sistem tangga nada dan intervalik, ritme dan harmoni tiap-tiap daerah.

Bagaimana Anda melihat para seniman musik klasik di Indonesia.
Bagaimana juga mereka melihat Anda sebenarnya yang Anda pernah dengar? Apakah Anda punya sesuatu yang dapat diberikan kepada mereka agar bisa diapresiasi di negara selain Indonesia?
Karya yang ditulis khusus oleh seorang komponis untuk seorang musisi (pianis, instrumen lain maupun penyanyi) itu sangat berguna untuk karier sang musisi, karena itu menjadi “trademark” dari sang musisi itu. Walaupun ditulis oleh para komponis Eropa, karya-karya yang ditulis khusus untuk saya itu jadi sangat Indonesia.

Siapakah sebenarnya orang atau institusi yang peduli terhadap musik klasik
dan perkembangannya di Indonesia? Apa sebenarnya dasar mereka menyokong musik klasik? Apakah mereka sekadar suka atau bagaimana hati mereka disentuh oleh musik klasik?
Saat ini pak Hilmar Farid, Dirjen Kebudayaan, dan juga Pak Ahmad Mahendra kepala Direktorat Perfilman, Musik dan Media Baru di bawah Ditjen tersebut sangat mendukung musik klasik, terutama yang beridentitas keindonesiaan yang kuat. Kalau dari swasta banyak. Yayasan Habibie-Ainun, Keluarga Panigoro dari MEDCO, Keluarga Alisjahbana
dari FEMINA Group, kaya.id, bahkan sekarang partai politik seperti Partai Solidaritas Indonesia pun menggunakan musik klasik untuk penggalangan dana mereka.

Anda pernah tinggal di Spanyol dalam waktu yang lama, seperti apa hubungan Anda dengan negara itu? Apa yang membuat negara itu suka dengan Anda dan musiknya? Kenapa di Indonesia tidak ada yang terpikat sedalam mereka?
Saya masih bolak-balik ke sana, sih. Well, negara-negara Eropa tentu menghargai para musikus asing yang mau mendalami tradisi mereka. Ah, di Indonesia banyak kok yang memang mencintai musik klasik, tapi mungkin jumlahnya nggak banyak. [IM]

PENULIS: ALDO SIANTURI / PHOTO: PRIBADI

Previous articlePesan & Kesan Konjen Sydney Heru Hartanto Subolo
Next articleBang & Olufsen Beosound Explore