Orthorexia – Obsesi Sehat Yang Berbahaya

150
Facebooktwitterpinterestlinkedinmail

Kehidupan yang semakin berkembang membuat gaya hidup masyarakat ikut berubah. Misalnya, memilih makanan sehat untuk dikonsumsi. Bicara tentang makanan sehat, makanan seperti apa saja, sih, yang dapat dikatakan sehat? 

Tingkat konsumerisme yang semakin tinggi menyebabkan timbulnya beberapa masalah di bidang kesehatan, seperti obesitas dan penyakit-penyakit mematikan seperti jantung dan kanker. Oleh karena itu dalam beberapa tahun belakangan ini, gerakan untuk menjalani pola hidup sehat semakin banyak kita jumpai di mana-mana. Selain memang untuk menurunkan risiko terkena penyakit, pola hidup sehat kian menjadi tren yang mengemuka.

Banyak cara untuk menjalani pola hidup sehat. Ada yang memilih berolahraga, ada juga yang memilih menerapkan gaya hidup sehat dengan menjaga pola makan. Berbagai diet pun bermunculan dari mulai diet golongan darah, diet keto, diet paleo, diet mayo, dan sebagainya. Disiplin dalam memilih makanan sudah tentu menjadi kebiasaan bagi mereka yang ingin mempunyai tubuh yang sehat. Namun, tahukah Anda bahwa kebiasaan hanya ingin makan makanan tertentu yang dianggapnya sehat bisa menjadi obsesi yang berbahaya? Kondisi seperti ini dikenal dengan nama orthorexia nervosa (ON). Istilah orthorexia sendiri pertama kali diciptakan pada tahun 1997 oleh dokter asal Amerika, Steven Bratman. Ia mengambil kata “orthos” dari bahasa Yunani yang berarti “benar”. Lantas, apa itu ON?

Gangguan Pola Makan
Kita mungkin sudah sering mendengar gangguan makan seperti anorexia nervosa dan bulimia nervosa. Orthorexia nervosa adalah gangguan pola makan yang membuat seseorang menerapkan gaya hidup sehat secara ekstrem. Pasien dengan orthorexia nervosa terobsesi dengan cara makan dan makanan sehat, dengan fokus terhadap kualitas dibandingkan dengan kuantitas.

Pengidap orthorexia biasanya bukan orang yang sedang melakukan penurunan berat badan. Kebanyakan mereka terobsesi dengan manfaat sehat yang ada pada sebuah makanan. Salah satu contoh kasusnya adalah seorang blogger sukses dengan 70.000 pengikut Instagram. Ia mengejutkan banyak orang dengan menggambarkan bagaimana motivasinya untuk makan sehat menjadi obsesif, sehingga ia mengalami kekurangan gizi. 

Kini orthorexia mulai diakui oleh komunitas medis, meskipun belum secara resmi didefinisikan sebagai gangguan makan oleh American Psychiatric Association atau Manual Diagnostik dan Statistik Gangguan Mental. Sebagai gangguan makan, orthorexia memiliki beberapa kesamaan dengan Anorexia Nervosa (AN) dan Bulimia Nervosa (BN), juga dengan Obsessive Compulsive Disorder (OCD). Terdapat juga beberapa ciri-ciri yang spesifik untuk Orthorexia Nervos (ON).

Orthorexia dan anorexia memiliki karakteristik perfeksionis, kecemasan tinggi, dan keinginan untuk memiliki kontrol dan potensi untuk penurunan berat badan yang signifikan. Pasien dengan orthorexia dan anorexia memiliki tujuan dan mereka begitu disiplin demi mencapai tujuan mereka. Kegagalan diet bagi mereka adalah kegagalan mengontrol diri sendiri. Kedua pasien ini tidak mengakui bahwa mereka memiliki sebuah masalah atau gangguan terhadap kehidupan sehari-hari. Pasien orthorexia dan OCD memiliki beberapa kesamaan yaitu pemikiran yang terus-menerus mengganggu di saat-saat yang tidak sesuai.

Penyebab Orthorexia
Penyebab orthorexia yang paling umum adalah kecenderungan perfeksionisme, kecemasan berlebihan, dan kebutuhan untuk mengontrol diri. Kurangnya informasi yang jelas dan obsesi untuk menjadi pribadi yang sehat juga termasuk dalam faktor yang menyebabkan seseorang dapat menderita gangguan makan ini.

Beberapa penelitian melaporkan bahwa mereka yang berfokus pada kesehatan untuk karier mereka, kemungkinan memiliki risiko lebih tinggi terkena orthorexia, seperti petugas kesehatan, penyanyi, penari balet, musisi, dan juga atlet. Faktor usia, jenis kelamin, status sosial, dan pendidikan juga mempengaruhi orthorexia walaupun belum ditemukan kesimpulan lebih lanjut. Pada umumnya kasus orthorexia sulit dideteksi. Namun jika telah ditemukan efek negatif pada tubuh, Anda akan mengetahuinya.

Dampak Fisik dan Psikologis
Meskipun tidak terlalu terlihat dan dianggap bukan hal yang serius, nyatanya orthorexia dapat mengarah pada gangguan kesehatan yang serius hingga komplikasi seperti gangguan makan lainnya. Misalnya kekurangan nutrisi yang disebabkan oleh makanan yang terbatas dapat menyebabkan kekurangan gizi, anemia, hingga detak jantung yang tidak normal. Selain itu masalah kesehatan lainnya yang dapat terjadi yakni masalah pencernaan, keseimbangan elektrolit dan hormon, asidosis, hingga gangguan kesehatan pada tulang. Komplikasi fisik ini jika diremehkan dapat mengakibatkan kondisi yang serius.

Tak hanya fisik, seseorang yang mengidap orthorexia bisa merasa bersalah jika melanggar aturan makan yang ia buat sendiri. Mereka membenci diri mereka secara berlebihan sehingga menyebabkan frustasi yang hebat. Selain itu sejumlah besar waktu mereka akan dihabiskan untuk meneliti apakah makan tersebut benar-benar sehat atau tidak. Bahkan sampai terlalu fokus pada pengukuran kalori serta perencanaan makan selanjutnya.

Di tengah masyarakat, pengidap orthorexia sering kali mengalami masalah sosial seperti misalnya kesulitan berbaur dengan yang lain. Hal ini dikarenakan mereka memiliki aturan tersendiri dalam hal pola makanan, serta merasa bersalah jika melanggarnya. Hal ini membuat mereka menghindari makan di luar, tidak mau berbaur dengan banyak orang sehingga mereka terisolasi di dunia mereka sendiri. Jika hal ini tidak segera diatasi maka akan mengakibatkan gangguan kesehatan yang fatal. [IM]

Please follow and like us:
error