Obsesi Bahagia Masyakarat Modern

62
Facebooktwitterpinterestlinkedinmail

Disadari atau tidak, masyarakat modern telah menjadikan kebahagiaan sebagai tujuan hidup. Pergeseran makna dari waktu ke waktu telah mengubah pola pikir masyarakat modern tentang konsep kebahagiaan itu sendiri.

Masyarakat dunia menghabiskan jutaan materi demi mencari tahu kunci dari kebahagiaan dalam hidup. Semua orang ingin berbahagia dan semua berhak untuk bahagia. Alih-alih mengatakan tidak ada salahnya untuk bersedih, orang lebih suka mencari alasan untuk memaklumi. Bahkan, kini, kita dapat mengunduh aplikasi untuk membantu kita tetap berbahagia dalam keseharian. Dengan atau tanpa disadari, kebahagiaan menjadi obsesi masyarakat modern.

Pergeseran Makna Kebahagiaan
Artikel dan buku-buku self-help tentang bagaimana menjadi bahagia ada di mana-mana. Hampir 40 ribu judul buku terkait dengan topik kebahagiaan tersedia untuk dibeli di Amazon. Di bandingkan berbagai belahan dunia lainnya, kebahagiaan menjadi topik yang marak diperdagangkan di Amerika Serikat. Meskipun begitu, masyarakat dunia turut terpapar obsesi untuk menjadi bahagia.

Konsep kebahagiaan sendiri merupakan hal yang sangat kuno. Filsuf Aristoteles percaya bahwa kebahagiaan adalah produk sampingan dari kehidupan yang dijalani dengan baik. Di sisi lain, masyarakat modern mengartikan kebahagiaan sebagai keadaan di mana kita merasa nyaman atau baik-baik saja. Daripada berpikir menjalani hidup dengan baik, masyarakat modern sering mengasosiasikan kebahagiaan dengan menghindari rasa sakit dan mengejar kesenangan, dengan kepuasan pribadi atau kesenangan indrawi.

Kebahagiaan Menurut Aristoteles
Aristoteles mendefinisikan kebahagiaan sebagai kehidupan yang dijalani penuh dengan kebajikan dan menguraikan filosofi berbahagia melalui berlaku baik. Bagi Aristoteles, kebahagiaan bukanlah perasaan, melainkan evaluasi dari kehidupan yang dijalani dengan baik. Hal ini mulai bergeser sedikit demi sedikit pada abad ke-18. Orang-orang mulai mendefinisikan kebahagiaan sebagai perasaan, emosi, dan hal-hal yang bisa membuat kita tersenyum.

Pada 1700-an, muncul prinsip utilitarian yang mengemukakan gagasan, bahwa individu harus memaksimalkan kesenangan dan meminimalisir rasa sakit. Hal ini menjadi lazim dalam percakapan budaya. Ekonom Inggris abad ke-18 dan pencetus utilitarianisme Jeremy Bentham percaya, bahwa masyarakat dan individu harus bertindak sedemikian rupa untuk mengusung “greatest happiness for the greatest number”. 

Karena pergeseran budaya ini, masyarakat dunia dihadapkan pada sebuah prospek baru. Sejarawan dari Florida State University dan pengarang Happiness: A History Darrin McMahon mengatakan, masyarakat kini berpikir, “Mereka bisa bahagia dan mereka seharusnya bahagia”. Hasilnya, pada abad ke-18, Kontrak Sosial Rousseau mengemukakan, bahwa aturan-aturan masyarakat harus dibuat dengan mempertimbangkan kebahagiaan umat manusia. Di Amerika, Deklarasi Kemerdekaan menempatkan kebahagiaan sebagai ‘hak yang tidak dapat dicabut’ dari individu.

Perbedaan Timur dan Barat
Dalam penelitian yang dilakukan oleh Mohsen Joshanloo dan Dan Weijers dari Victoria University of Wellington disebutkan, meskipun ada keinginan untuk mencapai kebahagiaan pribadi yang berkaitan dengan struktur sejarah dan budaya Amerika, budaya lain tidak begitu mengamininya. Ada lebih banyak negara di berbagai belahan dunia lain yang menyikapi kebahagiaan secara skeptis.

Para peneliti berfokus pada bagaimana budaya timur dan budaya barat menyikapi kebahagiaan. Dalam salah satu penelitian tahun 2004, siswa Taiwan dan Amerika ditanya pendapat tentang apa itu kebahagiaan. Banyak peserta Amerika menganggap kebahagiaan sebagai nilai dan tujuan tertinggi dalam hidup mereka, sedangkan siswa Taiwan tidak membuat pernyataan seperti itu.

Dalam budaya Timur, orang lebih menekankan tujuan hidup pada pencapaian harmoni sosial, di mana mereka saling memiliki dan menghargai. Lain dalam budaya Barat, masyarakat lebih menekankan tujuan hidup pada pencapaian kebahagiaan yang lebih individualistis.

Perangkap Hedonic Treadmill 
Dalam mengejar kesenangan dan kegembiraan, individu cenderung jatuh ke dalam perangkap yang disebut dengan hedonic treadmill. Teori ini mengemukakan, seseorang mengejar kesenangan dan pengakuan eksternal, yang mereka yakini akan membawa kebahagiaan, daripada menemukan lebih banyak kesenangan dalam pengalaman yang mereka telah dapatkan.

Menurut teori hedonic treadmill, yang diuraikan dalam makalah 2006 oleh Ed Diener, Richard E. Lucas dan Christie Napa Scollon, hal-hal baik atau buruk untuk sementara memengaruhi tingkat kebahagiaan kita, tetapi ketika pengalaman itu berakhir, kita dengan cepat kembali ke netral. Itu artinya, kebahagiaan hanya menjadi hal yang bisa dirasakan dalam satu waktu, namun dengan mudah dilupakan ketika momen berakhir.

Dalam budaya konsumerisme, kita dapat dengan mudah untuk melihat bagaimana obsesi terhadap kebahagiaan dapat memperkuat skenario hedonic treadmill. Seseorang akan terus mencari sesuatu yang dapat meningkatkan kebahagiaan mereka dari waktu ke waktu. Ketika mereka telah mendapatkan apa yang mereka mau, mereka akan mencari kembali hal lain yang bisa membuat perasaan bahagia kembali hadir.

Tidak Sepenuhnya Baik
Kebahagiaan kini telah menjadi tujuan inti dalam hidup sebagian besar masyarakat modern. Beberapa psikolog berpendapat, jika seseorang terlalu fokus pada kebahagiaan sebagai tujuan hidup, hal ini justru akan membuatnya kurang bahagia. Terobsesi dengan kebahagiaan bisa menjadi salah satu indikasi bahwa sebenarnya kita tidak sebahagia yang kita pikirkan atau inginkan.

Para kritikus menujukkan, obsesi terhadap kebahagiaan dapat menyebabkan sebagian orang mengabaikan kehadiran dan nilai dari peristiwa menantang dan menyakitkan yang tidak bisa dihindari dalam hidup. Kita juga akan merasa tidak mampu ketika gagal mencapai kebahagiaan yang menurut kita ideal. Jika saja masyarakat modern bisa mengubah pola pikir mereka tentang kebahagiaan, apakah mungkin justru hidup mereka bisa lebih bahagia? [IM]

Please follow and like us:
error