Kecopetan di Sesi Pre-Wed Sydney

381
Facebooktwitterpinterestlinkedinmail


Cerita ini berawal di kolom Indomedia101, saat aku menceritakan persiapan melakukan sesi foto pre-wedding aku. Dan, ini kelanjutan. Karena kalian ingin tahu, kan? 

Setelah makan siang di area Spice Alley, kami berfoto di jalan sebelahnya yang juga masih dipenuhi restoran dengan tempat duduk alfresco/luar ruang. Akibat kelengahanku sendiri, aku menaruh tas di salah satu pembatas resto itu saat berfoto di sana. Sebenarnya, temanku berdiri dekat tasku, tetapi tidak sadar kalau aku menaruh tas di situ. Ketika kembali beberapa menit kemudian, tasnya sudah tidak ada.

Pikiran pertamaku adalah ada orang yang memberikan tasku ke resto di sana karena disangka barang ketinggalan. Because this is Sydney, right? Tapi, setelah bertanya ke beberapa resto dekat situ, dan tidak ada yang melihatnya, mulai deh aku berkeringat dingin. Aku dan pasanganku segera ke Airbnb untuk melihat app “find my iPhone”

di laptopku, sementara temanku dan fotografer-videografernya meminta footage CCTV dari hotel sebelah yang memiliki kamera mengarah ke lokasi tasku itu.

Masih setengah tidak percaya, aku membuka find my iPhone app dan menemukan keanehan. iPad dan iPhone-ku ada di lokasi yang berbeda. iPad-ku mengarah ke sebuah gang di daerah Central Park, sementara iPhone-ku masih bergerak dan sudah sampai di Redfern, suburb sebelah. Tidak, tidak, tidak… kepalaku masih meneriakan penolakan. Masa, sih, tasku dicuri… di Sydney?!

Aku segera menelpon temanku (dengan handphone pasanganku). “My phone is in Redfern,” aku bilang. “They got someone on CCTV,” temanku berseru. 

Temanku segera menelepon polisi. Aku dan pasanganku segera menuju ke tempat iPad, mengikuti peta di app find my iPhone di laptopku. Hanya sekitar 5 menit jalan-lari dari Airbnb kami, kami sampai di gang kosong. Di tengah-tengah gang ada tiga tong sampah… dan di dalam tong sampah bertutup biru, kami menemukan tas dan cover handphone-ku. 

Dan di dalam tasnya ada iPadku, cover-nya sudah terlepas. Selain itu, ada kotak cincin tunanganku. Untungnya cincinnya sedang aku pakai. Sisanya hilang, termasuk pasporku. Mengambil napas panjang dan berusaha tenang, kami bertemu dengan temanku dan para fotografer yang sudah seperti teman juga di titik ini. Mereka menunjukan footage CCTV. Seorang pesepeda membawa pergi tasku… 

Kami langsung menuju ke lokasi handphoneku di Redfern dengan mobil. Temanku masih berhubungan dengan Police Call Centre yang rasanya menanyakan banyak sekali pertanyaan mendetail seperti merek handphone yang hilang dan apakah aku memiliki “confidential government documents”.

Sesampainya di lokasi handphone-ku, aku merasa harapanku mulai pupus. Lokasinya ada di Redfern Housing Community, tiga blok gedung apartmen besar. Kami berbicara dengan receptionist-nya yang menyatakan tidak bisa menunjukan CCTV selain kepada polisi. Dengan frustrasi kami mengitari apartemen itu mencari sepeda yang seperti tertangkap di CCTV.

Menelepon langsung ke Redfern Police, kami diminta menunggu karena ada kasus kebakaran yang lebih urgent. Tidak perlu menunggu di lokasi, kata mereka. Baiklah, tidak ada yang bisa kami lakukan pula. 

Di jalan pulang kami melewati dua police officer penunggang kuda patroli. Kami berhenti dan menyapa. Secara cepat aku menceritakan kejadiannya kepada mereka. Tapi, mereka pun berkata tidak bisa meminta CCTV karena bukan “jurisdiction” mereka.

Setelah dipikir-pikir aneh juga, ya. Tapi, bagaimana lagi. “We’ll keep an eye out for this guy” ujar mereka sambil meminta foto pelaku yang tertangkap CCTV itu. “The Redfern police will probably know who he is,” kata mereka.

Masih belum menyerah, kami menuju ke alley tempat kami menemukan iPad tadi dan mengamati sekitar, berusaha berpegang pada sisa-sisa harapan untuk menemukan bukti-bukti lain.
BINGO! Ada CCTV di ujung jalan. 

Gedung ber-CCTV itu memiliki interkom di bawah dan karena bingung harus memencet yang mana, kita memencet tombol dengan logo Hello Fresh di sebelahnya. Sang receptionist menjawab dan mempersilakan kami naik. Setelah mendengar penjelasanku tentang kejadian pencurian ini, ia berjanji untuk memeriksa footage CCTV dan menghubungiku via email jika menemukan sesuatu.

Menunggu telepon polisi dan menunggu email, kami mempertimbangkan untuk melanjutkan photoshoot. Yep, masih ingat, kan, kalau hari ini adalah hari pre wedding photo kami? Mengambil napas sejenak sambil touch-up dan berganti baju, aku berpikir betapa berbedanya hari ini dari bayanganku sebelumnya. Tapi, hari ini belum berakhir… 

Dan memang belum karena setelah kami siap untuk foto di lokasi selanjutnya, kami mendapat telepon dari Redfern Police, yang meminta kami ke kantor polisi untuk membuat statement. Sesampainya di sana, seorang polisi junior mengajak kami ke ruangan terpisah dan basically, meminta kami menceritakan kejadiannya dari awal lagi.

Si polisi juga meminta tas dan cover iPad-ku untuk diambil sidik jarinya. Email dari Hello Fresh datang malam itu, menyatakan kalau CCTV di sana ternyata padam hari itu sehingga tidak ada footage yang terekam… 

Well, all trails have gone cold. Tidak ada yang bisa dilakukan, tetapi banyak yang harus diurus.
Pre-wedding photo session dilanjutkan hari berikutnya. Handphone dan kartu sim baru harus dibeli, paspor harus dibuat lagi. Dan, sampai saat artikel ini kutulis, masih belum ada kabar lagi dari polisi.

Ternyata, Sydney tidak immune dari pencurian dan tak bisa terhindari perasaan menyesal karena tidak lebih berhati-hati. Paling tidak, iPad-ku ditinggal, meski entah kenapa apple pencil-nya diambil. [IM]

Previous articlePerubahan Periode Isolasi Covid-19 Mulai 9 September
Next articleRasanya Melakukan Pre-Wedding Di Sydney