Di Bawah Salju Laut

85
Facebooktwitterpinterestlinkedinmail


Pernahkah kamu bayangkan kehidupan di bawah permukaan laut? Bagaimana rasanya mengalami efek pemanasan global tanpa mengetahui apa yang menyebabkannya? Bagaimana rasanya ketika diamati oleh manusia dan mendengar usaha mereka untuk mengerti kejadian di dalam laut? 

Salju Laut dan Menguping Ikan
Putih dan lembut, berputar-putar santai seperti salju yang lembut, tidak terburu-buru. Di tengah-tengah lambaian biru dan hijau, mereka menunggang arus dan pelan-pelan dibawa turun. Salju laut ini turun terus-menerus, menangkap daya matahari dan mengantarkannya kepada lautan dalam. Walaupun terlihat putih dan indah, mereka sebenarnya terdiri oleh fitoplankton (organisme-organisme kecil yang mendapat makanan dari cahaya matahari seperti tanaman), bahan organik yang telah mati, bakteri, kotoran dari organisme lainnya, dan membawa bahan-bahan bergizi dan zat karbon ke daratan laut. 

Para ilmuwan telah lama mengamati salju laut ini dan percaya bahwa turunnya salju laut sangat berdampak dalam menurunkan efek pemanasan global dan jumlah karbon di atmosfer. Karena lautan sangat terpengaruh oleh pemanasan global, banyak penelitian juga mulai fokus kepada aktivitas hewan laut untuk mendapatkan gambaran efek perubahan yang lebih akurat. Salah satu caranya adalah untuk mengenali suara-suara ikan dan berusaha menafsirkannya. 

Kita hanya dapat mengerti sedikit dari suara-suara yang dihasilkan oleh berbagai ikan. Namun, kalau kita menyelam dalam ke dunia laut, tidak ada habisnya. Bahkan untuk seekor zooplankton, kehidupan tidak selalu santai dan sederhana… 

Kehidupan Doki, Seekor Zooplankton
Salju terus menurun, dan sepertinya lebih pelan daripada biasanya. Akhir-akhir ini perasaannya juga ada lebih banyak fitoplankton, berarti lebih banyak makanan untuk kita! Aku mengapung di air seperti biasanya, sambil mendengar kedua temanku berbicara. Sebagai seekor zooplankton, asalkan tidak kemakan oleh ikan-ikan, kehidupan kami sangat tenang. 

Terkadang kami bisa terbawa turun juga seperti salju laut, turun… turun… turun… sampai ke dasar laut. Belum pernah terjadi padaku, tetapi apakah itu yang terjadi kepada Wigel dan Lobo? Matahari sudah terbit dan terbenam beberapa kali dan aku masih nggak bisa menemukan mereka… Di sebelahku, Tiki dan Toku sedang mendiskusikannya. 

“Dingin nggak, ya, di bawah?” Tiki menanya sambil berenang dengan gayanya yang bersentakan. 

“Nggak tahu, nih, tapi perasaannya akhir-akhir ini tambah hangat di atas. Tiki, bisa diam, nggak sih, pusing, tahu,” Toku menyahut, tentakelnya yang panjang melambai pelan dekat Tiki. 

“Aaahh, geli!!” Tiki berteriak dan membelok badannya yang panjang dan runcing jauh dari Toku. 

Aku kangen sama Wigel dan Lobo. Kalau benar mereka turun ke dasar laut, apakah aku rela untuk mengikuti mereka? Aku suka kehangatan permukaan, suka banget melihat matahari yang bernari di air, apalagi ketika arusnya membawaku pas di bawah sorotannya. 

Pikiran-pikiranku disela oleh sebuah ikan besar yang melewati kami. aku bisa mendengar dengungan yang tersiar dari sisik-sisiknya, membuat gelombang-gelombang di air yang menembus seluruh badanku. 

Tidak jauh darinya, terdengar dengungan yang lebih tinggi dan cepat dari sebuah ikan dengan warna sisik lebih muda. Walaupun ikan itu lebih kecil, derumannya lebih kencang, dan gayanya terlihat sangat bersemangat.

Sayangnya aku tidak bisa mengerti bahasa ikan. Aku cuma bisa mengerti Tiki and Toku bertengkar lagi tentang getar-getaran air yang berubah akibat percakapan kedua ikan. 

Tiba-tiba sesuatu tercebur ke dalam air, tepat di depanku, menghalangi matahari siang yang tadinya sudah pas di mukaku. Warnanya hitam mengkilap, dengan sebuah ekor panjang yang mengulur sampai keluar dari permukaan air. 

Arusnya berubah lagi, sebuah sinyal bahwa ada benda baru di dalam air lagi, tetapi kali ini aku tidak bisa melihatnya. Aku hanya bisa melihat bahwa salju laut di dekatku tiba-tiba tambah lebat. 

“Doki…? Doki!!! Doki!!!”
“Hah?? Wigel? Lobo?” Aku nggak bisa percaya.
“Iya!! Ini kami!!” Wigel bersorak girang.
“Kamu muncul darimana?” Aku masih kaget dan bingung.
“Dari situ,” Lobo menunjuk ke perairan yang masih padat dengan salju laut.

Setelah beberapa saat, aku sadar bahwa ada batang-batang tipis yang memencarkan cahaya. Warnanya mirip dengan sisik ikan todang, dan sepertinya ada dinding-dinding siluman di antaranya. “Beberapa hari yang lalu kami terperangkap di dalam kotak itu dan dibawa ke tempat yang aneh.” 

“Iya! Tapi untungnya sekarang sudah balik!” Wigel bergeliat-geliut mendekatiku.
“Aku kira kalian terbawa arus turun ke dasar laut,” kataku.
“Hahaha untungnya nggak. Aku lebih suka di sini,” Wigel berkata. “Untung akhirnya kami dikembalikan.

Selama beberapa hari ini, kami ditaruh di perairan yang aneh… nggak ada rumput laut, nggak ada ikan-ikan lain… bisa melihat dasar lautnya, tetapi ada arus yang berputar-putar jadi kami nggak pernah menyentuh dasar laut itu. Mengambang aja di tempat…” 

Lobo mengangguk. “Iya, dan selama itu, kami kayak diamati oleh makhluk-makhluk daratan besar. Lucu, deh, mereka juga suka mendengar percakapan ikan.” 

Aku nggak pernah bayangkan kehidupan di atas permukaan air. Untung Wigel dan Lobo hanya diamati dan nggak dimakan! 

“Eh! Hati-hati Wigel!” Aku tiba-tiba teriak ketika melihat Wigel terbawa oleh arus mendekati makhluk hitam dengan ekor panjang yang selama ini tidak bergerak. Siapa tahu dia sengaja berdiam untuk menunggu mangsa. 

“Hah? Kenapa? Oh, ini. Nggak apa-apa ini, nggak bakal makan aku, kok,” Wigel berusaha menghibur. “Ini kayaknya peliharaan makhluk darat yang mengamati kita. Dia mendengar percakapan ikan dan mengingatnya, lalu menyampaikannya ulang kepada pemiliknya. Nggak tahu bagaimana dia bisa mengucapkan semua suara-suara ikan dan suara air pada bersamaan…” 

“Santai Doki, aku setuju sama Wigel. Si hitam nggak pernah makan apa pun, dan ketika di luar air dia hanya menggulung dan tidur atau menyampaikan percakapan ikan kepada pemiliknya.” 

“Dan lucunya ketika pemiliknya mendengar suara ikan-ikan yang sedang mencari pasangan, mereka tiba-tiba terlihat sangat kaget.”
“Bukan kaget aja, panik mereka,” Wigel tertawa heran. 

“Apalagi kalau mendengar suara paus yang sedang berkawin. Memangnya mereka sedang melakukan sesuatu yang menghalangi paus-paus berkawin?” Lobo ikut tertawa. 

Mendengar tawa mereka, aku ikut ketawa, apalagi ketika hewan hitam licin itu mulai naik lagi ke permukaan laut. Buntutnya sepertinya dikaitkan di sesuatu di udara dan sedang menarik badannya naik. Arus laut tiba-tiba berubah arah lagi, dan aku terbawa ke perairan yang diterangi matahari lagi. 

Aahh… hangat…

Salju terus turun. Aku memetik sebuah fitoplankton yang gendut dari sebelahku dan mengunyahnya, sambil mendengar ikan-ikan berkeletak dan berdengung dalam bahasa yang aku tak mengerti, sambil menikmati kenyamanan jemur matahari, sambil melamun tentang kotak-kotak siluman dan putaran arus yang tiada habisnya…  [IM]

Previous article5 Rekomendasi Aplikasi Yoga Terbaik
Next articleKelap-Kelip Bumi: Dalam Sekejap, Ke Mana Perginya Alam Kita?