Devina Vania: The Tale Of Two Cities

273
Facebooktwitterpinterestlinkedinmail


Setelah meraih jurusan S1 dari Australia, Vania, begitu panggilannya, pulang ke Jakarta
dan membuka sebuah bisnis sendiri, justru di tengah berkecamuknya COVID. Inilah cerita pengalamannya di Sydney dan Jakarta!

Hi, Van! Apa kabar? Udah lama banget, nih, nggak ketemu sejak kuliah bareng di sini!
Sekarang lagi sibuk apa?
Halo, Jess, aku kabarnya baik. Iya, udah lama banget kita nggak ketemu, ya. Ada kali lima tahun. Sekarang, aku menetap di Jakarta dan mengembangkan bisnisku sendiri, namanya Ogloo Studio, yang kudirikan saat masa COVID.

Bisa ceritakan kapan pertama kali pindah ke Sydney dan alasannya?
Pertama kali ke Sydney itu setelah lulus SMA kelas 1 di Jakarta, yaitu tahun 2015, bulan September. Aku berangkat ke sana untuk mengambil Foundation di UNSW. Alasannya kenapa pilih Sydney adalah karena banyak teman SMA-ku yang mau melanjutkan sekolah di luar negeri. Kebetulan, setelah banyak mempertimbangkan ini itu dengan orang tuaku, kami memutuskan Australia. Negaranya tidak terlalu jauh dari Indonesia dan menjadi pilihan yang tepat untuk aku saat itu.

Setelah lulus Foundation, aku melanjutkan S1 di UNSW juga dengan Bachelor of Arts and Business. Mengapa aku ambil degree itu karena saat itu program itu masih baru dan dengan satu degree bisa mendapatkan pelajaraan arts dan business sekaligus. Jadi, pada saat itu, aku pikir itu hal yang baru dan bagus untuk dijalankan.

Bagaimana pengalamanmu di Sydney? Dan apa hal yang paling berharga yang kamu dapatkan dari pengalaman itu?
Experience aku di Sydney overall sangat menyenangkan, karena hal tersebut tidak akan bisa diulang kembali. Impresi pertama tentang Sydney adalah kotanya sangat bagus, memiliki transportasi yang bagus, orang-orangnya juga yang ramah.

Hal valuable, yang aku pelajari di Sydney adalah menjadi orang yang lebih mandiri, karena tinggal sendiri, jauh dari orang tua. Kita harus mengurus sekaligus menjaga diri sendiri baik, mulai dari makan, cuci baju, dan lainnya, diimbangi dengan membagi waktu dengan baik karena masih ada kewajiban untuk belajar, mengerjakan tugas, dan bekerja part-time juga.

Apa pengalaman yang paling mengesankan bagi kamu di Sydney?
Walaupun semua experience di Sydney sangat tidak terlupakan, ada satu hal yang sampai sekarang nggak aku bisa lupakan. Waktu aku sedang jalan balik dari tempat kerjaku di sebuah toko es krim di Kingsford, aku dilempari telur mentah dari seberang jalan dan sempat dikejar oleh orang yang melemparnya. Kami, aku dan teman kerjaku, langsung kabur dan mencari sekuriti sekolah karena kejadian ini terjadi persis di depan kampus aku.

Oh, aku masih inget cerita itu dari kamu beberapa hari setelahnya. Sampai sekarang, aku jadi teringat terus! Hmm, lumayan beragam juga, ya, pengalamanmu di Sydney, ada yang buruk, juga banyak yang baik. Apa yang membuatmu memutuskan untuk kembali ke Indonesia?
Dan, apa perbedaan kehidupan di Sydney dan Jakarta?
Sebenarnya, setelah lulus, aku melanjutkan sekolah bahasa di China. Sebelum selesai sekolahnya, datanglah wabah Covid. Oleh karena itu aku balik ke Jakarta dan menetap di Jakarta sampai sekarang.

Perbedaan kehidupan di Sydney dan Jakarta sangat berbeda. Perbedaan pertama adalah dari segi populasi, yang sangat kelihatan dan terasa. Sydney jelas tidak semacet Jakarta. Ke mana-mana di Sydney itu lebih cepat dan efisien karena transportasi yang memadai untuk jumlah populasinya. Kedua, cost of living di Sydney tentu lebih mahal daripada di Jakarta, baik dari tempat tinggal maupun makanan. Terakhir, kalau tinggal di Sydney, kita akan jauh dari keluarga. Dan, banyak pertimbangan lainnya yang ikut menentukan alasan aku balik ke Jakarta pada akhirnya.

Apa yang kamu paling kangeni tentang Sydney/Australia?
Yang paling aku kangeni tentang Sydney adalah makanannya yang sangat beragam dari banyak negara lainnya. Udara yang bersih dan banyak taman, dan teman-teman yang masih ada di sana.

Wah, menarik banget. Aku kalau di Sydney paling kangennya makanan di Jakarta haha. Ternyata, makanan di kedua tempat memang nggak bisa ditemukan di tempat lain, ya!
Van, sekarang kamu telah memiliki bisnis sendiri bernama Ogloo Studio. Bisa ceritakan perjalanan Ogloo dari awal ide sampai sekarang berkembang?
Awalnya, karena Covid jadi balik ke Jakarta. Saat itu, aku benar-benag enggak tahu mau ngapain, karena kita semua hanya di rumah, enggak keluar-keluar. Jadi, setiap hari kerjaannya hanya nonton Youtube. Waktu menonton orang menggambar dan bikin sesuatu, aku jadi terinspirasi untuk membuat hal yang serupa dengan gambarku sendiri.

Walaupun aku tidak mempunyai degree desain atau semacamnya, tapi dari kecil, aku memang hobi menggambar. Jadi, pas covid, aku memulai lagi menggambar dan bereksplorasi membuat stiker.

Awalnya, sangat susah karena tidak mengerti soal stiker maupun menjualnya di toko online.
Butuh tiga bulan untuk penjualan pertama. Tapi, karena banyak dukungan dari keluarga dan teman, lama kelamaan aku bisa menjalankan bisnis ini sampai sekarang. Walaupun masih tergolong bisnis kecil, aku sudah sangat bersyukur sudah bisa di titik ini.

Apa tujuan / impianmu untuk ke depannya?
Impian aku supaya Ogloo Studio bisa buka booth di acara-acara ilustrator internasional di berbagai negara.

Apakah kamu ada saran bagi yang sedang consider mau menetap di Australia atau pulang ke Indonesia? Dan, apakah ada saran bagi yang baru lulus kuliah dan ingin membangun bisnis sendiri?
Saranku, jalan apa pun yang dipilih jangan disesali, karena pasti ada alasan mengapa ada di jalan itu. Untuk yang mau menetap di Australia, semangat mengumpulkan poin untuk mendapatkan PR. Jangan pantang menyerah walau sulit. Untuk yang mau balik ke Indonesia, semoga kita semua melakukan hal hal yang positif untuk diri kita maupun untuk negara kita.

Dan, untuk yang baru lulus dan membangun bisnis sendiri, pantang menyerah karena bisnis sendiri tantangannya sangat besar. Kita melakukan semuanya sendiri tanpa arahan, walaupun aku sendiri juga belum di tahap yang bisnisnya bisa jalan sendiri. Tetaplah maju dan pantang mundur selagi
masih bisa. [IM]

Previous articleSederet Aturan Baru Di Australia (Berlaku 1 Januari 2024)
Next articleSuara Show at Stale Biskitz 20 year Anniversary Jam