Hans & Jeremy Sangtoki: Orang Muda Pecinta Tuhan & Musik Klasik

513
Facebooktwitterpinterestlinkedinmail


Mencari dua pemuda santun, berparas oke banget, dan punya ekspresi teduh ini mudah sekali. Datanglah ke sebuah gereja Indonesia di Botany Road, dan pantau-pantau yang sedang di panggung. Good luck!

Pada konser Cantate Deo di akhir tahun 2023, aku bertemu dengan dua kakak-adik yang sangat berbakat dalam musik – Hans Sangtoki, Principal Conductor dari Cantate Deo Youth Orchestra (CDYO), dan Jeremy Sangtoki, soloist dan pemain flute di CDYO.

Meskipun baru menduduki tahun kedua dalam kuliah musik di University of Sydney, Hans telah memegang peran sebagai assistant conductor sejak tahun 2022 dan naik menjadi principal conductor untuk CDYO di awal tahun 2023. Jeremy yang hanya berumur 16 tahun dan baru saja memasuki kelas 12, menyanyikan lagu “Indonesia Pusaka”.

Hari ini aku mendapatkan kesempatan untuk mewawancarai kakak beradik ini. Mari kita intip kehidupan sehari-hari mereka di belakang layar dan mendengar bagaimana mereka melintasi segala tantangan untuk melaksanakan konser yang sangat berdampak ini! 

Halo Hans! Halo Jeremy! So glad you could be here today. Sebelum kita masuk ke wawancaranya, bisa perkenalkan sedikit tentang dirimu dan mungkin bisa ceritakan sedikit highlight dari liburan kemarin? 

Hans (H): Saya sebenarnya lahir di Singapura, tapi besar di Australia dan saya senang sekali dengan all things music and that’s my degree as well. Liburan kemarin kami jalan-jalan ke Indonesia. Highlight-nya adalah we were able to catch up with our grandparents dan menghabiskan waktu dengan mereka.

Jeremy (J): Saya lahir di Australia. Sedikit tentang diriku, makanan Indonesia favoritku adalah ayam kremes, dan hobiku adalah menyanyi. Aku juga suka main flute and just music in general. Saat pada liburan kemarin we got to meet our grandparents which I think was also the highlight for me.

Hans, boleh ceritakan sedikit kamu main alat musik apa saja dan apa yang membuatmu tertarik dengan conducting?

H: Piano adalah alat musik utama saya, dan saya juga main cello sebagai alat musik kedua. Apa yang membuat saya tertarik dengan conducting… apa, ya? Kayaknya, at some point I just wanted to do it. 

Saya suka menonton conductors di Youtube dan mungkin juga karena kami memiliki Cantate Deo Youth Orchestra di gereja kami. Juga, saya melihat Calvin Abdiel (conductor pertama kami) dan itu menjadi sesuatu yang saya juga mau lakukan. Dan, ketika Calvin pindah ke negara lain untuk kuliah, aku menggantikannya sebagai conductor CDYO.

Tapi, untuk jurusan saya di kuliah masih piano karena conducting nggak di-offer sebagai sebuah jurusan utama, hanya untuk elective.

Jeremy, apa yang membuatmu masuk ke dalam dunia bernyanyi? Dan apakah ini sesuatu yang kamu ingin pursue ketika kuliah? 

J: I’ve always liked singing ever since I was young. And then I only took it seriously and like took lessons starting when I was 11. Pada saat itu saya bernyanyi sebagai treble in a choir as a chorsiter karena waktu itu suara saya belum berubah.

Lalu, setelah puber dan suara berubah jadi lebih rendah, I took it at a slower pace but am still continuously singing. Saya belum yakin sih tapi untuk melanjutkannya di kuliah. Mungkin saya mau ambil economics, tapi juga masih ada kemungkinan aku pursue musik.

Hans dan Jeremy, kalian berdua memegang peran yang sangat penting pada konser tahun lalu. Bisa ceritakan prosesnya, terutama untuk membawa lagu “Indonesia Pusaka”? 

H: Jadi sebenarnya “Indonesia Pusaka” adalah sebuah perubahan yang sangat last minute. So initially, we planned to play one of Ananda Sukarlan’s piano concerto arrangements of “Indonesia Pusaka”, with the orchestra as well. Dan, sebenarnya, rencana awalnya adalah Calvin akan datang untuk memainkannya. Tapi, last minute he couldn’t make it. Itu terjadi sekitar dua minggu sebelum konser.

J: Iya, jadi dua minggu sebelum konser saya belajar lagu “Indonesia Pusaka’. Melodinya nggak terlalu susah because it’s like a well-known tune, tapi yang sulit adalah liriknya.

I couldn’t have a music stand in front of me so memorising the words was stressing me out. Apalagi sehari sebelum konser, kami ada dress rehearsal and when we did it, I messed up one of the lines. Jadi, saya belum pernah menyanyikannya sempurna tanpa kertas, jadi pas saat konser itu pertama kali aku menyanyikannya dengan sempurna.

Wow! You did amazing during the concert! Aku masih ingat sambutan semua orang ketika kamu selesai menyanyi, Jeremy, dan sebagai orang Indonesia aku merasa bangga banget ketika mendengarkanmu nyanyi “Indonesia Pusaka” di Sydney Conservatorium of Music! Selain itu, apa tantangan-tantangan lainnya atau pengalaman yang baru yang kalian menghadapi selama persiapan konser Cantate Deo?

J: Hmm… Salah satunya pas kami pertama kali latihan dengan orkestra, kami berlatih tanpa mikrofon karena itu cara yang lebih tradisional. Dan, biasanya, penyanyi opera nggak pakai mikrofon. They usually just sing over the orchestra. But this time the orchestra arrangement was very loud and big.

Jadi, di bagian-bagian tertentu, suara saya nggak kedengaran. Di situ saya harus pake mic, dan itu pengalaman baru untuk saya karena biasanya saya nggak menggunakan mic saat nyanyi. Itu juga menjadi salah satu tantangan buat saya dan perlu adjust diri sendiri untuk nyanyi dengan mikrofon.

H: Untuk saya, mungkin yang sulit pada waktu sebelum konser adalah sebulan sebelum konser kami memutuskan untuk memainkan lagu “Indonesia Pusaka”. Dan karena Calvin nggak bisa datang untuk memainkan aransemen Ananda Sukarlan yang awalnya direncanakan, kami mencari-cari aransemen dari orkestra lainnya di Indonesia. 

Mungkin karena mereka nggak punya atau nggak menerbitkan sheet music mereka, kami nggak bisa membelinya. So in the end I decided to arrange it myself from scratch, so it was a really big project in a short time.

Wahh… perjalanan yang sungguh-sungguh penuh ups and downs dan banyak tantangan baru untuk kalian berdua ya! Nggak sangka banget ketika menonton hasil akhirnya yang sungguh menakjubkan bagi kami semua sebagai penonton! Jeremy, bagaimana perasaanmu ketika waktunya datang untuk menyanyi solo dan membawa lagu “Indonesia Pusaka”? 

J: It was nerve wrecking at the beginning before it starts. Sebelum itu saya main flute, jadi saya perlu turun ke backstage sendirian saat Mahiera dan Ko Hika (kedua MC konser) sedang berbicara, dan cepat-cepat memakai jas. Then I got a little bit of time to just try, breathe, and then compose myself. 

Saat-saat sebelum mulai itu yang paling nerve-wrecking bagi saya, tapi once you go out on stage you just enjoy it. Kayak pas mulai nyanyi jadi sangat menyenangkan. 

Hans dan Jeremy, walaupun kalian berdua dibesarkan di Australia, kalian masih sangat connected dengan Indonesia. Apa yang membantumu merasa bahwa Indonesia is home as well? 

H: Kami masih ada kakek dan nenek di Indonesia dan itu menjadi salah satu koneksi kami dengan Indonesia. Kami sebagai keluarga juga suka keliling Indonesia ketika liburan, dan gereja kami juga sering mengadakan mission trips ke daerah-daerah regional di Indonesia, di berbagai pulau-pulau, dan bahkan juga ke Papua.

Biasanya, kami mengajar di sekolah-sekolah mereka. So we’ve seen the land and it’s just so diverse, so many different cultures, and it’s just something to be proud of and something to continue, to contribute and make an impact and make it flourish more as a nation.

J: Dan yang paling menonjol buat saya is the richness of the nature. Itu di mana-mana hampir belum disentuh sama sekali. Salah satu hobi saya adalah fotografi, jadi ketika kami ke tempat tersebut, saya bawa drone saya dan pas dilihat dari atas it’s very, very beautiful. Semua pemandangan alamnya itu unik banget.

H: Dan orang-orangnya pun di mana-mana mereka memiliki budaya dan etnis yang berbeda, tetapi satu hal yang sama adalah they’re really nice and welcoming. Mereka mengundangmu ke rumah mereka, memberikanmu makan, memberikanmu tempat untuk tinggal. Jadi, walaupun mereka hidup sederhana, kesempatan untuk connect dengan mereka is really something I’m grateful for. [IM]

Previous articleAisha Goodman: Generasi Muda Yang Pantang Menyerah Meraih Impiannya
Next articleFREE – PTE Preparation Seminar