Connect With The Oldest Living Culture On Earth

46
Facebooktwitterpinterestlinkedinmail


Kakadu National Park adalah area yang termasuk di UNESCO World Heritage List dan memiliki area seluas hampir 20,000 km2 atau setengahnya negara Swiss! Mulai dari habitat natural, flora dan fauna yang beragam, keindahan sungai dan hutannya maupun bebatuannya yang merekam seni sejarah aboriginal Australia. Terletak 171 km dari Darwin, Kakadu sendiri hanya didiami oleh kurang dari 500 penduduk (menurut sensus 2016). Gimana, tertantang untuk menjelajahinya? Paling tidak kita bisa jalan-jalan virtual ke sana, ya.

1. Dahulu Kala…
Nama Kakadu sendiri muncul dari kesalahan ejaan kata “gaaggudju” yaitu Bahasa yang dahulu digunakan oleh kaum aboriginal di area utara taman tersebut. Kaum Aboriginal sudah menghuni area Kakadu selama 60,000 tahun dan taman ini menjadi dikenal oleh kekayaan budaya aboriginalnya. Banyak mata penasaran yang berusaha menjelajahi area Kakadu sepanjang sejarah. Orang-orang China, Malayu, dan Portugis mengaku menjadi penjelajah asing pertama yang menjelajahi pantai utara Australia. Namun, bukti tertulis pertama akan adanya penjelajahan muncul dari Belanda. Jan Carstenszoon, bagian dari “Dutch East India Company”, mencatat perjalanannya melalui bagian paling utara dari Australia. Terdengar familiar? Ya, Dutch East India Company itu seringkali dikenal juga sebagai “VOC” yang memiliki sejarah muram tersendiri bagi negara kita.

Tetapi, ternyata orang-orang pertama yang berinteraksi dengan suku Gaaggudju adalah orang-orang Makassar! Di musim hujan, mereka berangkat ke Australia untuk berburu tripang, mutiara, cangkang kura-kura, dan barang berharga lainnya untuk dijualbelikan di Tanah Air. Menarik juga, ya, melihat bagaimana hubungan ekonomi antar dua negara ini sudah ada sejak dahulu kala. Karena kedekatannya dengan negara-negara di utaranya yang telah dijajah oleh Prancis atau Belanda, pendudukan Inggris pun ragu menghuni area ini. Selain itu, keadaan alamnya yang cukup keras dan sulit untuk mencari makanan membuat area ini ditinggalkan oleh orang-orang Inggris. Tetapi, tetap ada kelompok yang datang untuk mengajar dan menginjili orang-orang aboriginal di daerah itu, yaitu para missionaris, paling utama adalah Oenpelli Mission yang berjalan selama 50 tahun.

2. World Heritage Area
Ada enam area tanah utama di Kakadu National Park yang beragam dengan habitatnya masing-masing: The Arnhem Land plateau dan escarpment complex, atau dikenal juga sebagai “Stone Countries”, the outliers, the lowlands, the floodplains, the southern hills and basins, dan the tidal flats. Lalu, terdapat empat sungai utama yang melintanginya, yaitu The East Alligator River, West Alligator River, South Alligator River, dan Wildman River. Kekayaan habitat dan lanskapnya yang begitu kaya dan bervariasi inilah yang membuat Kakadu masuk ke World Heritage List.

“The Stone Countries” atau area plato atas ini memiliki lingkungan yang kering dan kasar. Air dengan cepat menguap atau mengalir membentuk sungai kecil (creeks) yang seiring berjalannya waktu membentuk area di mana monsoon forest (hutan hujan kecil) tumbuh. Area ini menjadi tempat berlindung bagi binatang di kala musim panas. Tanaman yang dominan di sana bernama “Allosyncarpia Ternata”. Pohon besar yang termasuk kelompok eucalyptus itu hanya ditemukan di Kakadu dan Arnhem Land, di area-area yang tidak rawan bushfire. Bagian-bagian dari Arnhem Land yang menjadi terpisah karena adanya erosi menjadi pulau-pulau kecil tersendiri yang disebut sebagai “The Outliers”.

70% dari Kakadu adalah “Lowlands” yang dikenali dari lapisan tanahnya yang tipis dan banyaknya bebatuan. Di musim hujan, air mengalir dari plato atas dan melimpah dari sungai-sungai kecil sehingga membanjiri area-area yang kemudian disebut sebagai “floodplains”. Tidak seperti lowlands, area ini kaya akan tanah dan sering mendapat air sehingga menjadi area yang kaya akan makhluk hidup. Di musim panas, airnya kembali ke sungai dan isolated waterholes atau disebut juga sebagai Billabongs.

Di sisi selatan terletak “The Southern Hills and Basin” yang terdiri dari area bekas volkano ribuan milliar tahun lalu dan dicirikan oleh punggung bukitnya yang kasar. Sementara itu, pesisir Kakadu sangat dipengaruhi oleh ombak yang bisa mencapai 100 kilometer ke daratan, bervariasi sesuai musim. Ombak yang masuk mengendap di dasar sungai dan tepian membuat area “tidal flats”. Air bercampur dengan tanah dan ditarik lagi ke laut oleh ombak sehingga air di pantai Kakadu menjadi identik dengan lumpur.

3. Rock Art Sites
Terlepas dari kekayaan flora dan fauna Kakadu, salah satu hal yang membuat taman ini begitu berharga adalah banyaknya situs seni yang menampilkan kebudayaan aboriginal di dindingnya. Beberapa lukisannya ditemukan telah berumur 20,0000 tahun, the longest historical records of any group of people on earth. Disebut sebagai “kunbim” oleh penduduk lokal, lukisan ini kebanyakan ditemukan di dalam gua. Lukisan-lukisan ini dibuat untuk berbagai alasan mulai dari untuk pencatatan hasil buruan, menceritakan suatu kejadian, sorcery and magic, kegiatan relijius maupun untuk bermain dan berlatih. Melalui rock art ini, para peneliti menemukan binatang-binatang yang dahulu banyak berada di sana, termasuk baramundi, catfish, mullet, Tasmanian tiger, snake necked turtle, wallaby, dan rock-haunting ringtail possum.

Kini, para pengunjung bisa mengunjungi taman ini melalui Arnhem Highway dari Darwin. Akomodasi yang terdekat adalah Jabiru, di mana ada service station, kantor polisi, klinik medis, dan pusat perbelanjaan. Sebagai bekas kota tambang, kota ini pun menjadi destinasi wisata yang menarik. Namun, kalau ingin lebih adventurous, kalian bisa juga berkemah di area-area sepanjang taman yang dikhususkan untuk commercial camping. Silakan cek situs https://kakadutourism.com/ ya untuk informasi detailnya! Selain itu, sudah ada juga pusat budaya, di mana orang-orang aboriginal masih terus membuat kesenian budaya mereka sampai sekarang dan tentunya toko suvenir untuk berbelanja dan membawa sepercik sejarah dari taman ini. [IM]

Previous articleTokoh-Tokoh Penting Aborigin Dalam Sejarah
Next articleAre You Ready To Party, The INDO Way?