Arsjad Rasjid: Diaspora Indonesia Bisa Menjadi Ujung Tombak Perdagangan

582
Facebooktwitterpinterestlinkedinmail


Dalam dunia kepengusahaan, namanya jelas bak selebritas. Lewat tangan dinginnya, Indika Energy menjadi perusahaan yang tadinya “rugi banyak” menjadi “menang banyak”. Nah, nggak kebetulan bukan kalau sosoknya masuk ke dalam bursa ketua Kamar Dagang Indonesia dan tentu saja memenangkannya. Apa peran KADIN dalam mengentaskan pengangguran di matanya?
Mohammad Arsjad Rasjid Prabu Mangkuningrat, lahir 16 Maret 1970, tak hanya duduk sebagai Presiden Direktur PT Indika Energy Tbk., posisi yang pertama kali didudukinya pada tahun 2005.
Ia juga menduduki beragam posisi di beberapa perusahaan bidang media, keuangan, dan teknologi. Kepemimpinannya yang efisien dan efektif adalah tempaan dari keluarganya yang juga pengusaha dan pendidikan yang ditempuhnya.

Rasjid lulus dari University of Southern California dan Pepperdine University, California. Di tahun 2011, ia dianugerahi Young Global Leader oleh the World Economic Forum. Ia melengkapi pendidikan formalnya di INSEAD Prancis, Harvard Kennedy School AS, dan Lee Kuan Yew School of Public Policy Singapura. Rasjid sangat getol mendalami social entrepreneurship.

Ia terpilih secara aklamasi menjadi Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN) periode 2021-2026 dalam Musyawarah Nasional (Munas) VIII di Kendari, Sulawesi Tenggara.
Ia berkomitmen untuk mengakselerasi pemulihan kesehatan serta membangkitkan ekonomi nasional yang terdampak pandemi.

Kadin di bawah kepemimpinannya juga akan memperluas program Vaksinasi Gotong Royong.
Upaya ini, dilakukan sejalan dengan program vaksinasi nasional yang saat ini gencar dilakukan pemerintah. Memperkuat Kadin di masa depan, Rasjid akan menjalankan empat pilar yang selama ini menjadi visinya.

Mari kita simak wawancara diaspora Indonesia Ivan Paulus (Livingstone Australia) dengan Arsjad Rasjid yang menjelaskan keempat pilar tersebut.

Sebagai Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN) periode 2021-2026 – apa yang menjadi titik fokus dan misi bapak buat industri Indonesia?
Titik fokus dan misi saya membangun KADIN yang inklusif dan kolaboratif tertuang di dalam 4 pilar KADIN, yaitu pemulihan kesehatan dan pengembangan industri kesehatan nasional, peningkatan ekonomi daerah dan nasional, peningkatan kewirausahaan dan kompetensi, serta yang terakhir, penguatan internal organisasi dan regulasi.

Pilar inilah yang menjadi fondasi pergerakan KADIN dalam membangun dunia industri yang maju, berdaya saing, berkontribusi dalam langkah menuju Indonesia Emas 2045. Dimana Indonesia menjadi negara berkekuatan terbesar ke-4 di 2045.

Keempat pilar tersebut diimplementasikan menjadi berbagai langkah fokus Kadin pada tahun 2022. Beberapa fokus KADIN Indonesia di tahun 2022 antara lain:

• Memulihkan ekonomi dan sosial akibat dampak pandemi Covid-19 dengan mendorong percepatan transformasi digital.

– Di Indonesia, teknologi 4.0 memiliki potensi untuk mendorong peningkatan produktivitas sebesar 40-70% untuk masing-masing perusahaan, menambah 20 juta pekerjaan bersih pada tahun 2030 dan menciptakan tambahan $120 miliar dalam output ekonomi tahunan.

– Pertumbuhan ekonomi digital tahun 2025 diproyeksikan mencapai 146 miliar dolar AS.

• Menggunakan ajang international seperti B20 untuk melakukan kolaborasi dan membuka keran investasi di sektor strategis yaitu Infrastruktur dan Transisi Energi.

– Dalam hal infrastruktur fisik, biaya logistik Indonesia secara signifikan lebih tinggi dibandingkan dengan sebagian besar negara lain di kawasan ASEAN, yaitu 24% hingga 26%. Sedangkan biaya logistik Singapura hanya sekitar 7% dan Malaysia hanya sebesar 13%. Oleh karena itu, Indonesia perlu membuka lebar pintu investasi asing dan dalam negeri pada infrastruktur fisik, terutama yang berhubungan dengan infrastruktur konektivitas antar pulau dan antar daerah (Pelabuhan, Bandara, Jembatan) untuk mengurangi biaya logistik.

– Untuk mendukung komitmen pemerintah dalam mencapai net zero emission 2030, kebijakan investasi perlu diarahkan pada transformasi pembangunan ekonomi hijau dan ekonomi biru (maritim) terutama pada sektor pertanian, perikanan dan pariwisata yang dapat mendorong kesejahteraan masyarakat melalui penyerapan tenaga kerja, pemberdayaan UMKM, ekspor komoditas unggulan.

• Mengembangkan potensi daerah terutama dengan meningkatkan kewirausahaan dan penguatan SDM.

– Sosialisasi UU Cipta Kerja terkait kemudahan perizinan tentang PT Perseorangan untuk meningkatkan angka formalisasi dan membantu UMKM untuk mengakses pembiayaan.

– Perlindungan dan pemberdayaan UMKM melalui pendampingan melekat dari Perusahaan Besar untuk UMKM (closed loop ecosystem).

– Indonesia memerlukan investasi pada infrastruktur lunak untuk mengembangkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) dan memastikan masyarakat mendapatkan pendidikan, kesehatan, dan perlindungan sosial yang memadai.

Hingga 2022, tenaga kerja di Indonesia masih didominasi oleh masyarakat yang berpendidikan tingkat menengah kebawah (SD-SMP) sebanyak 57% dari total tenaga kerja. Investasi yang diarahkan pada bidang pendidikan, pelatihan, riset dan pengembangan sangat dibutuhkan untuk menciptakan SDM yang produktif, sehat, dan kreatif.

Bapak pernah bilang bahwa investasi pendidikan itu adalah kunci dan investasi terbesar sebuah bangsa. Apakah bisa diterangkan lebih lanjut mengapa ini merupakan kunci investasi bangsa?
Sumber daya manusia adalah tonggak kemajuan bangsa. Apabila sumber daya manusianya maju, maka sebuah bangsa juga akan maju. Saat ini, Indonesia telah memasuki era baru Industri 4.0, yang ditunjukkan dengan percepatan konektivitas, automasi, dan digitalisasi di industri karena kemajuan teknologi. Namun, percepatan penerapan otomasi serta digitalisasi di Indonesia memiliki risiko untuk menggantikan tenaga kerja manual dan mengakibatkan hilangnya pekerjaan jika SDM kita tidak dapat mengiringi perkembangan teknologi.

Jika dibiarkan, terdapat ancaman peningkatan jumlah pengangguran yang berakibat pada kenaikan angka kemiskinan dan krisis sosial di Indonesia. Kita juga tidak dapat meraup keuntungan produktivitas Bonus Demografi di 2045 jika hal ini tidak segera kita perbaiki bersama.

• Di Indonesia, teknologi 4.0 memiliki potensi untuk mendorong peningkatan produktivitas sebesar 40-70% untuk masing-masing perusahaan, menambah 20 juta pekerjaan bersih pada tahun 2030 dan menciptakan tambahan $120 miliar dalam output ekonomi tahunan.

• Di tahun 2030, diproyeksikan ekonomi digital Indonesia akan mencapai USD 323,6 miliar.

Maka dari itu, pendidikan merupakan investasi terbesar sebuah bangsa. Dalam mengatasi permasalahan ini, pemerintah telah membentuk Tim koordinasi Revitalisasi Pendidikan Vokasi yang tertuang dalam Peraturan Presiden (Perpres) No.68/ tahun 2022 tentang Revitalisasi Pendidikan dan Pelatihan Vokasi.

KADIN sebagai mitra strategis pemerintah juga ikut serta dalam upaya tersebut.

• Menurut data BPS, jumlah pengangguran tersebut jika dilihat dari tingkat pendidikannya yang paling banyak adalah lulusan SMK. Pengangguran lulusan SMK tercatat 10,38%.

Dengan adanya revitalisasi pendidikan vokasi, SDM Indonesia akan memiliki daya konversi yang tinggi – dari pelajar ke tenaga kerja produktif – yang menunjukkan lulusan vokasi dapat terserap dengan baik oleh dunia industri.

Kadin optimis, apabila upaya ini dapat kita lakukan bersama melalui kolaborasi inklusif antara pemerintah, pelaku industri, dan dunia pendidikan, maka kita dapat mencetak generasi sumber daya manusia yang unggul dan berdaya saing untuk memajukan bangsa Indonesia.

Dan menurut bapak apakah Indonesia sudah melakukan hal ini dengan baik? Jika belum – bagian apa yang masih kurang dan bapak yang kita bisa fokuskan lebih dahulu?
Tentunya Indonesia masih memiliki banyak PR kedepan dalam membangun sumber daya manusia yang unggul untuk Indonesia yang maju. Namun, dengan terbentuknya Tim Koordinasi Revitalisasi Pendidikan Vokasi melalui perpres, telah menunjukkan keseriusan pemerintah Indonesia dalam upaya ini.

Saat ini, masih terdapat berbagai permasalahan dalam dunia pendidikan yaitu:

Pertama, kurangnya link and match antara dunia pendidikan, terutama vokasi, dengan kebutuhan industri. Hal ini dikarenakan kompetensi dan kurikulum yang tidak standar antara SMK, Politeknik, Pesantren, Balai Latihan, Lembaga Pelatihan Kerja Swasta, Lembaga Kursus dan Pelatihan. 

Selain itu, Sistem Pendidikan Vokasi sering tertinggal dalam update kompetensi & kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan industri, menyebabkan rendahnya daya saing lulusan Indonesia. Saat ini Indonesia masih berada di peringkat 50 dari 141 negara – di bawah Malaysia, Thailand, dan Singapura – sehingga daya serap lulusan Indonesia ke industri juga rendah.

Kedua, kurangnya praktik dalam Industri karena terlalu berfokus pada teori di sekolah.

Ketiga, kurangnya program insentif berkelanjutan bagi dunia usaha untuk berinvestasi khususnya dalam Sistem Pendidikan Vokasi.

Melalui TKN Revitalisasi Pendidikan Vokasi, fokus prioritas kami adalah dengan mengembangkan standar kompetensi & kurikulum pendidikan vokasi yang berorientasi ke kebutuhan dunia Industri (demand oriented).

Selain itu, kami juga akan mengintegrasikan Sistem Pendidikan Vokasi ganda yaitu magang dan sekolah melalui penguatan kemitraan dunia pendidikan dan sektor swasta sehingga dapat meningkatkan konversi pelajar ke tenaga kerja dan mengurangi pengangguran.

Baru baru ini Bapak juga resmi memperkenalkan inovasi terbaru yaitu Alva One – kendaraan listrik roda dua!! Promosi taglinenya “change the game”. Bisa di elaborasi lebih lanjut apa visi dibalik tagline tersebut?
ALVA ingin membentuk persepsi dan branding di masyarakat sebagai penyedia solusi mobilitas terlengkap yang “Change the Game”, di mana kehadirannya diharapkan dapat membawa perubahan positif ke industri motor listrik di Indonesia.

ALVA bukan sekadar produk kendaraan saja, melainkan sebagai lifestyle mobility solution yang ramah lingkungan. Dengan hadir nya ALVA, Indika Energy juga beraspirasi menciptakan ekosistem green mobility yang ramah lingkungan dan minim emisi bagi Indonesia termasuk produksi baterai, charging swap, dan daur ulang bateri.

Dan kira-kira perubahan positif apa yang diharapkan terhadap industri motor listrik di Indonesia?
Gaya hidup masyarakat Indonesia saat ini tak bisa lepas dari penggunaan smartphone. Berawal dari sini, Ilectra Motor Group, anak usaha dari Indika Energy Group, mengembangkan ALVA sebagai merek motor listrik yang disertai dengan adanya konektivitas antara aplikasi dengan motornya.

Inilah yang serie pertama kami, ALVA One, coba hadirkan. Menjadi game changer di dunia EV roda dua – berkendara lebih nyaman, aman dan ramah lingkungan. ALVA One siap menjawab pain points masyarakat Indonesia terhadap kendaraan listrik. 

Indonesia punya goal untuk mencapai net zero emission 2060. Dengan hadirnya solusi mobilitas yang ramah lingkungan seperti ALVA, masyarakat dapat lebih dimudahkan untuk beralih ke kendaraan listrik. Hal ini dapat mendukung upaya negara Indonesia dalam mencapai target dekarbonisasi kita.

Mengenai perusahaan bapak, Indika Group sendiri berawal dari sebuah bisnis di bidang industri media yang akhirnya bertransformasi ke perusahaan energy terkemuka di Indonesia…. Menurut bapak apakah masih ada tempat untuk “print” media saat ini?
Salah satu nilai yang saya punya adalah agility. Dunia bergerak cepat. Layaknya manusia, entitas bisnis juga harus bisa beradaptasi pada perubahan. Kita harus melihat pasar yang ada sekarang seperti apa? Dengan perubahan zaman yang serba digital ini, media mau tidak mau harus beradaptasi.

Banyak komentator dan analis yang mengatakan bahwa era print media sudah berlalu. Menurut saya print media masih akan hidup dengan target market yang spesifik, terutama pasar hyper-local. Keberadaan print media juga diperlukan untuk membahas suatu isu lebih dalam, melengkapi online media yang dituntut serba cepat.

Pengaplikasian teknologi seperti AR pada iklan-iklan di media cetak bisa jadi nilai tambah dalam menghadirkan pengalaman baru bagi pembacanya.

Dengan 3 kata, bagaimana Bapak mendeskripsikan diri Bapak?
Authentic, Spiritual, Agility.

Authentic: Be yourself, Jadi diri sendiri.
Spiritual: Harus punya nilai-nilai.
Agility: Adaptif, inovatif, dan resilient (tangguh).

Sebagai seorang pengusaha sukses yang masih muda, apakah ada resep khusus atau tips yang bisa dibagikan untuk anak-anak muda yang masih berjuang dengan karir atau bisnis mereka?
a. Jadilah orang yang mau untuk terus belajar, continuous learning. Belajar bisa dari mana saja: mentor, buku, dan bahkan teman. Jangan malu untuk bertanya!

b. Melatih mentalitas. Jagalah pikiran agar tetap positif saat menghadapi masalah dengan fokus pada perbaikan dan persistent.

c. Bangunlah networking dari sekarang.

Terakhir, apakah ada pesan untuk diaspora Indonesia maupun pengusaha Indonesia yang berada di Australia?
Dengan adanya inter-konektivitas dan globalisasi, jarak bukanlah halangan bagi diaspora Indonesia untuk terus berkontribusi bagi Indonesia. Diaspora memiliki peran yang besar bagi perekonomian bangsa, dimana diaspora menjadi ujung tombang perdagangan antara Indonesia dengan negara lain.

Pesan saya, harumkanlah nama Indonesia dimanapun kita berada, melalui karya kita. Dan perang melawan ekonomi hanya bisa dilakukan dengan kolaborasi termasuk kolaboarsi dengan bisnis ekosistem di Luar Negeri.

Selain itu, saya berharap diaspora maupun pengusaha Indonesia di Australia dapat turut serta mendukung program-program pemerintah Indonesia, salah satunya yang saat ini sedang dicanangkan yaitu Diaspora Bonds atau surat utang yang ditujukan bagi diaspora Indonesia, untuk mendorong investasi dalam negeri.

Mari bersama kita majukan bangsa Indonesia, apapun bentuk kontribusinya, dan dimanapun kita berada. [IM] 

Previous articleFathers Matter: Pentingnya Seorang Ayah
Next articleMomen Langka Resepsi Diplomatik Peringatan HUT ke-77 RI di atas KRI Bima Suci