Antonius Auwyang: Sang Juara dari Jayapura, Pengusaha Ekspor-Impor di Australia

1066
Facebooktwitterpinterestlinkedinmail


“Life does not always turn out how you plan it. When you get a knock, you must get up, dust yourself down and have the courage to fight back and claim your crown.”
 Oleh Josep Rustam

Antonius Auwyang adalah Managing Director dari Sony Trading Pty Ltd, perusahaan ekspor-impor yang bergerak di bidang distribusi produk makanan dan minuman dari Indonesia untuk pasar Australia, New Zealand dan Pasifik. 

Saat ini Sony Trading menjadi distributor bagi 26 pabrik besar dari Indonesia, yaitu Finna, Dua Kelinci, Kapal Api, Bamboe, Fibercreme (LNK), Sidomuncul Tolak Angin, Garuda Food, Ultra Jaya, Ceres, Mayora Group, Kalbe, Sasa, Sosro, Kobe, Pondan, Inaco, Munik, Nutrijel, Jans, Taro, Marie Regal, Momogi, Serena, Nissin, Mariza Foods dan Dua Belibis.

Kepiawaian Antonius dalam membaca kebutuhan pelanggan disertai dengan kreativitas dalam memasarkan produk yang bermutu, membuat Sony Trading berperan penting dalam pengembangan ekspor dan pembinaan UMKM Indonesia.

Atas perannya tersebut, Sony Trading dianugerahi Primaduta Award oleh Kementerian Perdagangan Republik Indonesia pada tahun 2021.

Masa Kecil
Melalui ibu yang berasal dari Makasar, Antonius lahir di Jayapura. Ia adalah anak ke-8 dari 9 bersaudara. Sang ayah yang berasal dari Maluku Tenggara memilih untuk tinggal di Jayapura dan memulai usaha sebagai pedagang kelontong.

Antonius mengenyam pendidikan dasar di Jayapura. Ia ingat betul rapor SD-nya dari SD Kristus Raja Jayapura yang banyak mendapatkan angka merah. Kondisi rapor-nya di SMP Negeri 1 Jayapura sedikit membaik, tapi ia tidak begitu merisaukan nilai akademisnya dan lebih menikmati masa kecilnya.

Pendidikan & Karir
Tamat SMP, sang ayah meminta Antonius menyusul kakak-kakaknya ke Jakarta untuk melanjutkan sekolah. Saat itu, ibu Antonius telah wafat. Diharapkan Antonius dapat dibantu oleh kakak-kakaknya dalam belajar.

Bersekolah di Jakarta bagi putra daerah, tidaklah mudah, apalagi dari Jayapura. Banyak olok-olok dan perundungan lisan yang diterima dari teman-teman baru di SMA Sang Timur, Jakarta Barat. Hal ini sangat mengusik hati dan pikiran Antonius.

Tidak ingin selalu diremehkan, Antonius bertekad untuk menjadi lebih baik dari teman-temannya. Bidang yang dipilihnya untuk menjadi yang terbaik adalah pendidikan, karena bidang lainnya seperti olah-raga dan musik tidak memiliki prestige setinggi pendidikan. Selain itu, sulit bagi Antonius mengalahkan anak-anak Jakarta dalam kedua bidang tersebut.

Hasilnya, dari kelas 1 sampai kelas 3, Antonius selalu ranking 1, menjadi juara kelas tanpa mengikuti les tambahan, tanpa terlalu banyak mengganggu kakak-kakaknya yang telah menjadi mahasiswa. Dia pun dikenal sebagai pelajar berprestasi oleh guru dan teman sekolah.

Untuk Pendidikan S1, Antonius memilih fakultas Teknik Sipil di Universitas Tarumanegara. Ia berhasil lulus dalam waktu
4 tahun. Lebih cepat dari waktu rata-rata lulus yang 5 tahun. 

Ketika kuliah, ia sempat menjadi Asisten Dosen untuk mata kuliah Computer di Fakultas Ekonomi Untar. Pada saat yang sama, ia juga membantu toko ayahnya di Jayapura dengan mencari supplier alat tulis kantor di Jakarta.

Ketika lulus, Dosen pembimbingnya, Dr. Ir. FX. Supartono, salah satu pakar beton di Indonesia langsung mengajak Antonius untuk bergabung menjadi konsultan. 

Ia pun menyanggupi. Selain bekerja, Antonius juga sering diminta oleh Pak Supartono menggantikan beliau mengajar, terutama ketika beliau berhalangan. Alhasil, Antonius sering menjadi Dosen Pengganti, dan sering pula mengajar teman-teman seangkatannya yang belum lulus.

Impian Antonius adalah memiliki pengalaman kerja di 3 bidang, yaitu Konsultan, Developer dan Kontraktor, sebelum membuka usaha sendiri. Oleh karena itu, setelah menjadi Konsultan, Antonius bekerja pada perusahaan developer. Jabatan terakhir, adalah Construction Manager yang membangun Kota Baru Parahyangan di Padalarang. Pekerjaan ini dia tinggalkan karena suatu hari diakhir Mei 1998, ayahnya yang sedang dirawat di Australia memintanya untuk datang membantu.

Lahirnya Sony Trading Pty Ltd.
Turut mengelola investasi ayah di Australia, ternyata tidak cukup bagi Antonius. Dia terbiasa dengan aktifitas yang lebih tinggi. Atas saran sang ayah, ia pun membentuk Sony Trading Pty Ltd pada tanggal 07/02/1999. Tapi perusahaan ini belum beroperasi karena kondisi ayah yang memburuk dan akhirnya wafat. Antonius pun kembali ke Jayapura guna menyelesaikan amanat ayahnya.

Guna mengelola investasi peninggalan ayah, Antonius kembali ke Australia. Ia belajar Master of Construction Management (Project Management) dari UNSW agar mendapatkan visa student.
Kuliah ini diselesaikan dalam waktu 1 tahun sambil menjaga putranya yang baru lahir. Setelah lulus, ternyata sulit sekali mendapatkan pekerjaan dibidang konstruksi di Australia. Ia selalu terbentur karena tidak punya pengalaman lokal di Australia.

Akhir 2003, dia mengunjungi supermarket Thai Kee, dan melihat produk Teh Botol yang sama tapi diimpor oleh 3 supplier yang berbeda. Dia pun membayangkan Sony Trading bisa hadir sebagai supplier ke-4.

Pengembangan Sony Trading
“Delivering Excellence” menjadi tag line Sony Trading. Oleh karena itu, hanya produk makanan dan minuman dari supplier yang memiliki reputasi baik yang digandeng oleh Sony Trading.

Antonius pun menerapkan konsep 3A dalam marketing produknya. Accessible: dapat ditemukan di berbagai daerah; Affordable: sesuai dengan daya beli masyarakat; Accountable: sesuai dengan standard peraturan Australia.

Sony Trading pun terlibat dalam berbagai kegiatan CSR, seperti menjadi sponsor berbagai kegiatan komunitas Indonesia dan membantu kegiatan sosial The Kogarah Storehouse.

Menjadi anggota IBC Australia
Menjadi Managing Director dari Indonesia Trading House Australia (ITHA) di 2021 tidak menghalangi Antonius untuk meneruskan keanggotaannya di IBC Australia yang ditekuni sejak 2018.

“Saya senang dengan banyaknya kemajuan yang dicapai oleh IBC Australia saat ini. Termasuk bertemu dengan Pak Thomas, Ketua IBC Chapter Jakarta, dalam kegiatan TEI 2023,” demikian kata Antonius, sang penerima IBC Award 2020. [IM]

 

 

 

 

Untuk membership, silahkan mendaftar ke situs web IBC Australia dan lengkapi formulirnya: www.ibcaustralia.com.au/membership-form/

Previous articleMorgan Theodore Boen: A Story of Passion & the Power of Family
Next articleKolaborasi Historis Australian Institute of Music (AIM) dengan Farabi Music School Indonesia