Yungky Setiawan: Dipanggil Melayani Tuhan Melalui Musik

631
Facebooktwitterpinterestlinkedinmail


Beberapa waktu lalu, INDOMEDIA mendapat kesempatan untuk berbincang-bincang dengan tamu istimewa di Sydney, yaitu Yungky Setiawan. Dalam 3 tahun terakhir, nama Yungky Setiawan mulai dikenal di bidang musik rohani, terutama melalui kanal Youtube dan spotify.

Pria berusia 61 tahun yang juga seorang eksekutif di perusahaan besar ini bercerita tentang bagaimana ia dituntun pada panggilan untuk melayani Tuhan melalui musik. Yuk kita ikuti aja cerita Ko Yungky yang sangat menginspirasi ini.

Saat ini Ko Yungky lagi sibuk apa nih?
Saat ini saya, sih, lagi banyak spend time dengan keluarga sambil menulis lagu dan banyak aktif pelayanan di gereja dan di marketplace. Selain itu saya juga masih aktif sebagai Wakil Komisaris Utama di Bank Mega.

Bisa ceritakan bagaimana Tuhan memanggil Ko Yungky untuk masuk dalam dunia pelayanan?
Sebenarnya, saya baru bertobat ketika saya bekerja di Bank Mega sekitar tahun 1998-1999. Pada saat itu, saya sering diminta untuk datang ke acara Natal di kantor, karena saya salah satunya di kantor yang punya KTP Kristen. Saya itu termasuk yang disebut “Kristen kapal selam” – timbul cuma saat Natal, lalu menyelam lagi dan nggak kelihatan sampai Natal tahun depan. 

Waktu itu, saya juga sangat gila main golf. Jadi, biasanya hari Minggu saya nggak pernah terpikir ke gereja, selalu main golf. Namun, satu waktu istri saya minta ditemani ke gereja, jadi akhirnya saya temani. Kami ke gereja, yang sekarang dikenal dengan GKY, dan nggak sangka khotbahnya, kok, nyantel, yaitu tentang lima roti dan dua ikan.

Lalu, minggu itu, ada persekutuan doa di kantor dan mereka minta saya ikut. Nggak tahu kenapa, saya pikir, ya, sudah, bolehlah ikut. Di hari itu, eh, pendetanya khotbah tentang lima roti, dua ikan. Minggu berikutnya, istri saya minta ditemani lagi ke gereja. Kali ini ke GBI di Mal Puri Indah. Dan, khotbahnya tentang… lima roti, dua ikan lagi. Mulai heranlah saya. What’s going on?

Lalu, saya datang ke pendeta di GKPB dan menceritakan apa yang terjadi. Beliau bilang, kenapa nggak kamu dibaptis saja dulu? Saya jadi bingung. Bukannya biasa hidup harus suci dulu sebelum dibaptis? Tapi beliau bilang, “nggak apa-apa, baptis aja dulu, baru hidupmu nanti diubah.” Jadi, saya ikuti aja dan dibaptis. Saya lalu beribadah di GKPB dan mulai melayani sebagai penerima tamu di pintu.

Saat itu, karena istri saya ikut kelas doa di GBI, maka akhirnya kami memutuskan nggak bisa punya dua gereja. Jadi, kami akhirnya pindah ke GBI. Dari tahun 2009-2012, saya melayani Tuhan di GBI Outbox di Plaza Indonesia. Lalu, ketika anak-anak kami balik dari luar negeri dan ingin beribadah di JPCC, kami memutuskan untuk menemani mereka dan beribadah bersama sekeluarga. Dan sampai hari ini kami beribadah di JPCC.

Saat di JPCC, saya pikir saya cuma mau jadi jemaat aja, deh. Duduk baik-baik, dengerin khotbah. Jadi cukup lama saya nggak ikut pelayanan. Hingga tahun 2020, COVID menerpa dunia dan saya banyak spend time di rumah gara-gara WFH. Tiap hari kerjaannya cuma tiduran, buka Netflix, makan, buka Netflix lagi, and so on.

Sampai akhirnya, saya mikir, “Why don’t I make my life meaningful?” Jadi, saat itu saya mulai membaca Alkitab lagi, lebih serius dari sebelumnya, mendekatkan diri lagi dengan Tuhan dan dengerin kotbah lebih serius. Akhirnya, saya mulai balik lagi melakukan renungan pagi — yang tadinya absen dari 2012, kini mulai lagi di 2020. Saya bilang ke Tuhan, “Tuhan, saya nggak tahu berapa lama lagi saya hidup di dunia ini. Dan kalau Tuhan berkenan, saya mau balik lagi melayani Tuhan.” Setelah itu, saya merasa diterima kembali oleh Tuhan.

Saya mulai bantu mengurus persekutuan kantor. Banyak yang nggak tahu bagaimana mengadakan persekutuan kalau nggak bisa ketemu muka. Jadi, saya bilang, “kenapa nggak pake zoom aja?” Jadilah, akhirnya kami meminjam akun zoom yang biasa dipakai untuk meeting nasional selama 1 jam pada hari Jumat. Alhasil sekitar 100-150 orang mengikuti persekutuan tersebut. Akhirnya, sampai sekarang kami terus menjalani persekutuan kantor secara online agar bisa menjangkau semua karyawan yang ada di kota-kota lain, bukan hanya yang di head office saja.

Pada Agustus 2020, saya mulai iseng main-main gitar. My skill in playing guitar is very limited. Tahunya juga cuma kord yang basic sekali, bisa main hanya buat pacaran, mengiringi Adeline di band dulu waktu remaja.

Jadi, pas Agustus 2020, saat sedang main-main, eh, ternyata dapat melodinya enak. Terus, saya coba masukkan kata-kata dari Mazmur. Eh, masuk juga! Tapi, waktu itu cuma dapat sepotong melodinya, kayak cuma chorus aja. Saya kemudian berdoa (dengan bercanda) “Tuhan, kalau kasih lagu, jangan setengah-setengah, dong.” Eh, ternyata, 45 menit kemudian, lagu tersebut bisa selesai. Nggak pernah bisa tulis lagu, tiba-tiba bisa tulis lagu. Sungguh-sungguh mukjizat. Tapi, bingungnya, ini lagu mau diapain?

Saya kemudian kasih ke gereja. “Nih, ada lagu. Kalau berguna, silakan dipakai”. Setelah itu, ada tiga orang yang berbeda yang bilang ke saya, “Kalau koko mau lagi, Tuhan pasti kasih.” Nah, dari situ saya kemudian menghubungi Wilianto dari GKPB. Dia bilang, biasanya penulis lagu itu membuat demo. Lalu, saya bikinlah demo dan ternyata menurut mereka suara saya nggak jelek, kok.

Mulai dari situ, setiap minggu saya dapat lagu dari Tuhan, yang kemudian dibuat jadi sebuah album hanya dalam waktu tiga bulan. Lalu, Pastor Jose dari JPCC bilang, “Coba aja taruh di digital platform, di Youtube. Kalau memang bagus, pasti ada orang yang suka”. Maka jadilah album “Voice of My Heart”.

Sempat ada waktu beberapa bulan, saya nggak dapat lagu. Baru akhir-akhir ini dapat lagu lagi. I have no intention to be known as a good songwriter, or as a good singer. Semuanya saya mau kembalikan pada Tuhan. Apakah lagu-lagu ini bisa menjadi berkat bagi orang lain, itu tugasnya Tuhan.

Katanya, dalam setiap panggilan ada yang namanya “sacrifice”. Nah, dalam panggilan Ko Yungky, apa saja yang kira-kira dikorbankan?
Time. Minggu adalah family time, tapi sekarang pelayanan. Kadang, get to lunch telat. Kadang, tulis lagu, rekaman lagu, semua makan waktu. Tapi, walaupun itu, apa pun yang bisa dilakukan within my control untuk melayani Tuhan, saya lakukan.

Ko Yungky juga terlibat dalam World Marketplace Ministry Forum, bisa ceritakan soal ini?
WMMF adalah tempat kami ingin membantu anak-anak Tuhan yang berani melakukan kehendak Tuhan dalam pekerjaan mereka. Awalnya, saya bantu GBI mengadakan marketplace sebulan sekali dan menjadi orang tengah antara pembicara dan pendengar. Lalu, kami expand dan sekarang ada di Indo, Singapura, Malaysia dan Australia. Intinya, bagaimana kita bisa berbuah di ladang kita yang bukan jadi pendeta, melainkan ladang kita di marketplace.

Ko Yungky sangat aktif dan punya peran sangat penting, baik di dunia profesional dan pelayanan gereja. Menurut ko Yungky, tantangan terbesar apa buat generasi muda Kristen sepuluh tahun ke depan? Dan, kira-kira, apa saran dari ko Yungky untuk menghadapinya?
Banyak anak muda seems like merasa kebutuhannya nggak bisa ditangani oleh gereja karena merasa nggak relevan lagi. Hal ini perlu ditangani secara berbeda dan harapannya generasi tua bisa spend time dengan anak muda untuk memberikan advice, tapi dengan bahasa yang bisa connect dengan anak-anak muda. 

Bagaimana Ko Yungky membagi waktu antara tanggung jawab kantor dan pelayanan, plus keluarga, yang sepertinya sama-sama penting dan sibuk?
Saat saya masih kerja di perusahaan raksasa, I have unbalanced life. Orang-orang yang mempunyai jabatan direksi dipanggil “Cinderella” – meetingnya jam 11 malam. When we build a career, we don’t have time for anything else. Waktu saya dipanggil balik, tahun 2015, saya sadar saya punya banyak utang bagi keluarga. Meninggalkan keluarga begitu banyak karena terlalu banyak kejar karier dan traveling.

Antara tahun 2017- 2020, saya dapet cucu tiga. Dulu, bos pergi, saya ikut. Sekarang sudah nggak. Makanya, sekarang saya hanya mau posisi supervisor saja, nggak mau operasional lagi. Dengan waktu yang ada, saya mau enjoy dengan keluarga.

Mengambil keputusan dalam bisnis secara Kristen bisa menjadi sesuatu yang membuat kita beda dengan teman-teman kantor ataupun atasan. Bagaimana caranya untuk menangani situasi ketika perbedaan ini timbul di ladang pekerjaan? Apakah Ko Yungky bisa memberi tips mengenai ini?
If anything is within your control, if you can make a decision, you make it. Kalau dari atas, kita bisa menyatakan kita punya pandangan. Kalau ada pilihan lain, kenapa nggak. Tapi, kalau mereka masih terus ingin itu, ya, sudah. Tentunya perlu wisdom dari Tuhan. Setiap hari, saya minta wisdom dari Tuhan, karena tanpa wisdom kita pasti membuat salah.

Ko Yungky kan posisinya sudah tinggi, jadi mudah untuk memberi dampak bagi orang-orang di lapangan pekerjaan. Bagaimana kita bisa memberikan dampak positif dalam kedudukan kita masing-masing saat ini?
My work station is my worship station. Meja kerja kita adalah tempat pelayanan kita. Saya, kalau ada telepon atau meeting dengan sesama anak Tuhan, biasa kami akhiri dengan doa bersama. Wherever you go, jadi berkat buat siapa pun yang Tuhan tempatkan di sekitarmu. [IM]

Previous articleChristhophorus Barutu: Salam Kenal Dari KEPALA ITPC Sydney Yang Baru
Next articleHarmony Day: Tinggal Dalam Keharmonisan Dengan Masih Terasanya Rasisme