Harmony Day: Tinggal Dalam Keharmonisan Dengan Masih Terasanya Rasisme

314
Facebooktwitterpinterestlinkedinmail


Setiap tanggal 21 Maret, penduduk Australia di seluruh negeri kompak merayakan Harmony Day. Tahun ini, tema yang diusung adalah “Living in Harmony”. Perayaan ini didedikasikan untuk keberagaman budaya di Australia yang beragam. Selama beberapa tahun, slogan resmi untuk Harmony Day adalah “You + Me = Us”.

Pentingnya mengenal akar Harmony Day
Di awal tahun 1970-an, paham multibudaya pertama kali dikembangkan sebagai sebuah program kependudukan imigran dan dukungan kesejahteraan yang bertujuan membantu para migran yang berasal dari negara bukan berbahasa Inggris untuk menjadi orang Australia tanpa meninggalkan warisan budayanya. Di tahun 1977, Australian Ethnic Affairs Council mendefinisikan paham multibudaya ini menurut prinsip-prinsip kohesi nasional, pengakuan akan identitas budaya, dan promosi persamaan sosial.

Perdana Menteri John Howard menugaskan Eureka Research untuk memimpin studi anti-rasisme di tahun 1998, untuk “mengeksplor dan memahami titik-titik rawan dan sifat alami rasisme di Australia pada akhir tahun 1990-an dengan pandangan untuk mendukung media massa dan/atau kampanye pendidikan anti-rasisme yang efektif”. Di antara hasil-hasil riset itu adalah sangat dibutuhkannya kampanye terbuka anti-rasisme. Sekitar 85% responden tahu bahwa rasisme menyebar luas di benua kangguru ini.

Dua Tujuan untuk Satu Bangsa
Tak banyak yang berubah sejak tahun 1998 dalam hal sosial psikologi Australia yang lebih dalam. Pemerintahan Howard memaksa untuk menyelesaikan penemuan-penemuan dalam laporan Eureka dari akses publik sampai 2011 dan mempromosikan fokus “living in harmony”. Hasilnya, Harmony Day kemudian diperkenalkan dalam kebijakan multikultural, untuk mensentralisasikan rasa persatuan Australian.

Department of Immigration and Citizenship’s (DIAC – departemen ini eksis dari Januari 2007 hingga September 2013) Diversity and Social Cohesion memberikan dua tujuan untuk diikuti:

1. Meningkatkan rasa hormat, sama rasa, dan rasa memiliki pada Australia yang berasal dari semua ras, budaya, dan agama. Tujuan ini pada intinya berfokus untuk meningkatkan keharmonisan antar-komunitas dan pengertian.

2. Mengembangkan keahlian membangun kapasitas grup-grup komunitas yang berada dalam tekanan karena budaya, agama, dan keragaman ras. Tujuan ini pada intinya berfokus pada dukungan komunitas khusus yang bertujuan membangun kapasitas kohesi sosialnya dan/atau mempromosikan sumbangsih positif mereka pada Australia.

Eits, Rasisme Belum Pergi
Tak bisa disangkal kalau rasisme masih menjadi pengalaman harian bagi orang Australia tak berkulit putih. Adakah rencana untuk menghentikannya? Para pemimpin politik Australia sering berbicara tentang pencapaian-pencapaian bangsa yang multikultur, membuat pernyataan yang menghanyutkan tentang betapa suksesnya negeri ini di ranah keberagaman.

Menurut mantan Perdana Menteri Scott Morrison, Australia adalah negara bermultibudaya tersukses di dunia. Pernyataan yang “ngalemin diri sendiri” ini kenyataannya menutupi realita bahwa Australia menjadi negara yang masalah rasismenya nggak kunjung membaik.

Fethi Mansouri menuliskan masalah laten ini dalam blog The Conversation. Profesor di Deakin University ini menulis buku bersama Amanuel Elias dan Yin Paradies mengenai “Racism in Australia Today” dengan pandangan pada berbagai perwujudan rasisme di sejarah dan berbagai institusi penting.

Menurutnya, sejarah Australia sejak 1788 dimulai dengan kebrutalan aksi rasisme. Kolonisasi hanyalah contoh para orang Kristen kulit putih untuk menunjukkan diri mereka baik secara etnis dan budaya superior. Itu sebabnya mereka bisa mengambil alih orang, sumber daya, dan bahkan budaya.

Sikap-sikap inilah yang belum sepenuhnya pergi. Hasil survey nasional memerlihatkan bahwa hampir 11% responden mengindentifikasi diri sendiri “berprasangka” terhadap budaya lain. Selain itu, 26% mengaku setuju atau tidak setuju.

Bisakah Hidup Harmonis?
Mungkin mudah bagi orang kulit putih beranggapan bahwa rasisme tak lagi masalah besar.
Ada undang-undang seperti Race Discrimination Act dan Australia telah sama sekali meninggalkan White Australia Policy. Adalah perbuatan ilegal mengotak-kotakkan orang berdasarkan warna kulit
dan rasisme terbuka menjadi ide yang tidak dapat terima dalam lingkup sosial.

Meskipun demikian, rasisme dialami oleh oleh orang Australia non-kulit putih. Di tahun 2021, laporan Scanlon menemukan kenaikan tak terduga dalam jawaban responden pada pertanyaan “seberapa besar masalah rasisme di Australia?”. Sejumlah 60% mengindikasikan “sangat besar” atau “cukup besar”. Di tahun sebelumnya, angkanya hanya 40%.

Sementara itu, di Maret 2022, sebuah laporan dari Diversity Council menemukan 43% karyawan Australia non-kulit putih umumnya mengalami rasisme di tempat kerja, dan hanya 18% pekerja “yang istimewa karena rasnya” melaporkan rasisme sebagai problem. Hal itu tidak hanya menggarisbawahi betapa meluasnya rasisme yang ada juga seberapa sering diabaikannya hal ini oleh mereka yang memilki keistimewaan kulit putih.

Rasisme juga merambah institusi-institusi penting Australia, termasuk perusahaan, universitas,
dan layanan publik, serta federal parlemen.

Di tahun 2018, Australian Human Rights Commission menemukan fakta bahwa mereka yang menduduki 2,490 pos senior di Australia, 76%-nya berlatar Anglo-Celtic, 19% Eropa, dan kurang
dari 5% bukan orang Eropa, serta 0.4% dari indigenous.

Krisis dan Rasisme
Rasisme bukanlah fenomena yang terus menerus. Kita telah melihat puncak-puncak rasime terhadap sekelompok khusus Australia, yang berhubungan dengan krisis besar.

COVID-19 adalah contoh betapa tinggi dan tajamnya laporan rasisme di berbagai belahan dunia. Banyak orang Asia Australian, dan khususnya China Australia, melaporkan meningkatnya kekerasan terhadap mereka, termasuk vandalisme dan ejekan-ejekan rasis.

Peristiwa-peristiwa ini, dalam banyak cara, menyamai peningkatan signifikan Islamofobia sejak serangan 11 September dan “war on terror”.

Setelah serangan pembantaian Christchurch tahun 2019, Human Rights Commission menemukan bahwa 80% Muslim Australian sebelumnya menghadapi perlakuan tak menyenangkan karena etnis, ras, dan agama mereka. Rasisme ini berbentuk kebencian, kekerasan, atau komentar negatif di muka umum.

Meskipun peningkatan ini mengejutkan, yang lebih mengagetkan adalah kegagalan kita bersama untuk membangun strategi yang mumpuni untuk mengatasi akar penyebab rasisme, apakah itu orang asli (indigenous), pengungsi, pekerja migran sementara, atau grup-grup minoritas lainnya.

Sebagai masyarakat, kita tak berkuasa bahkan untuk membicarakan rasisme di lingkungan kita sendiri, apalagi mengambil langkah-langkah untuk menyetopnya.

Harga Diskriminasi
Harga rasisme terhadap orang perorangan, keluarga, dan masyarakat tidak terkira.
Yang kita tahu pasti, rasisme berdampak besar pada kesehatan mental.

Ketika orang muda menderita karena rasisme, dan masih bisa bersekolah, mereka nggak akan merasa bahagia ataupun aman. Hal itu akan berdampak pada kemajuan akademiknya dan karenanya berpengaruh pula pada pelatihan dan karier mereka kelak.

Di tingkat makro, kita juga tahu bahwa rasisme merugikan ekonomi nasional triliunan dollar.
Riset-riset menunjukkan bahwa biaya ekonomi yang harus ditanggung karena diskriminasi ras
antara A$21.1 dan A$54.7 triliun dollar dari 2001 to 2011.

Strategi yang Pas
Walau banyak orang akan menolak bahwa Australia bukanlah negara rasis, rasisme tetaplah masalah yang serius. Jadi, di manakah visi bangsa untuk memperbaiki hal ini?

Yang pertama kita butuhkan adalah mengakui kalau rasisme ada dan terasa di berbagai sektor dan kita harus bisa membicarakannya dengan kedewasaan. Hal ini, kadang, adalah tugas yang sensitif dan sulit karena beberapa pemimpin politik bahkan tidak dapat menerima fakta dasar bahwa kita memiliki masalah yang serius.

Rasisme bukan hanya perilaku yang tidak pantas yang dilakukan oleh seseorang.
Rasisme mencerminkan sejarah keistimewaan bangsa kulit putih yang memertahankan
praktik-pratik menekan kolonial, politis, dan budaya orang non-kulit putih.

Oleh karenanya, sangatlah penting kita menggagalkan rasisme kapan saja dan di mana saja.
Yang lebih penting lagi adalah kita membutuhkan strategi jangka panjang. Strategi yang bisa memberikan keadilan bagi Indigenous peoples seperti halnya penyatuan sosial dan politikal
semua grup di Australia yang bermakna, terutama mereka yang bukan berasal dari latar non-Eropa. Dan, di sinilah peran penting Harmony Day.

Warna Oranye
Harmony Day diwakili oleh pita oranye, dan masyarakat Australia didorong untuk mengenakannya sebagai bentuk cerminan komunikasi sosial, ide-ide merdeka, dan dorongan untuk saling menghormati.

Australia adalah salah satu negara dengan penduduk berlatar budaya paling beragam di dunia. Angka-angka Australian Bureau of Statistics menunjukkan bahwa 29.7% populasi Australia lahir
di luar negeri. Kota Parramatta di NSW menjadi kota paling beragam budaya penduduknya dengan 50% penduduknya lahir di luar negeri dan 52% berbicara selain bahasa Inggris di rumah.

Harmony Day mewakili sebuah kesempatan untuk semua orang Australia datang bersama dan merayakan pencapaian-pencapaian besar dan inti nilai-nilai bangsa Australian. [IM]

Previous articleYungky Setiawan: Dipanggil Melayani Tuhan Melalui Musik
Next articleTopeng Bujuh Kantor Atdikbud Canberra Bikin Gemuruh Siswa Canberra