The Voyage From Marege’: Exploring The Mesmerizing Makassar And Vibrant Colors Of South Sulawesi

356
Facebooktwitterpinterestlinkedinmail


Marege’ adalah nama yang disematkan oleh orang bugis berabad-abad yang lalu untuk daerah di pantai utara Australia yang merupakan lokasi dimana mereka mencari teripang. Banyak orang belum mengetahui bahwasanya para pelaut suku Bugis dan Makassar telah melakukan kontak dengan orang aborigin Australia beberapa dekade sebelum orang Eropa mendarat di Australia.

Hal itulah yang menjadi salah satu topik yang dibawakan oleh Professor Camplbel Macknight, seorang ahli sejarah dari School of Culture, History & Language Australian National University, pada acara Indonesian Circle yang berlangsung pada hari Kamis, 21 September 2023 bertempat di Wisma Duta Besar RI Canberra.  

Acara yang dimotori oleh Ibu Dr. Marsia Gustiananda Pramono selaku Circle Leader yang juga adalah ketua Dharma Wanita Persatuan KBRI Canberra ini merupakan wujud partisipasi DWP dalam melakukan soft diplomacy dengan cara memperkenalkan kebudayaan dari propinsi-propinsi yang ada di Nusantara.

Kali ini DWP KBRI Canberra memperkenalkan seni-budaya, pariwisata dan kuliner khas provinsi Sulawesi Selatan dengan mengusung tema ”The Voyage from Marege’: Exploring the Mesmerizing Makassar and Vibrant Colors of South Sulawesi”. 

Judul acara ini merupakan permainan kata yang diambil dari judul buku yang ditulis oleh Profesor Macknight “the Voyage to Marege’” yang menjabarkan sejarah hubungan antara orang-orang Makassar dengan orang aborigin di Northern Territory.

Pada kesempatan ini, Prof MacKnight membawa hadirin melakukan perjalanan dari Marege’ ke Makassar. Beliau mengupas tuntas sejarah dan budaya Bugis dan Makassar secara keseluruhan, memberikan perspektif yang mendalam dan menarik. Acara ini dihadiri oleh sekitar 60 orang anggota Organisasi Wanita Internasional yang ada di Canberra.

Sebagai bagian dari fashion diplomacy, ibu-ibu Pengurus DWP KBRI Canberra memperkenalkan pakaian khas Sulawesi Selatan yaitu baju bodo. Dengan diiringi musik lagu Anging Mamiri, mereka memukau penonton dengan keanggunan baju bodo yang berwarna-warni yang dikenakan dengan kain lipa sabe yang menawan. 

Acara mencapai puncaknya tatkala ibu-ibu pengurus DWP KBRI Canberra mempersembahkan keceriaan dan keanggunan wanita Bugis Makassar dalam bentuk Tari Tulolonna. Irama musik Tari Tulolonna yang riang membuat hadirin tergoda untuk menari bersama-sama. Hadirin tampak sangat gembira saat bersama-sama menarikan Tari Tulolonna yang ceria.

Sherry Lee dan Maisie Howe mengatakan bahwa mereka sangat menikmati acara Indonesan Circle dan banyak belajar tentang budaya Indonesia. 

Sebelumnya, DWP KBRI Canberra pada bulan Maret 2023 telah menyelenggarakan kegiatan Indonesian Circle dengan memperkenalkan budaya dari Sumatera Selatan dan Palembang. 

Bertepatan dengan hari ulang tahun kota Jakarta pada bulan Juni 2023, DWP KBRI Canberra menyelenggarakan kegiatan Indonesian Circle dengan mengusung tema ‘Betawi the melting pot of cultures’.

Tentu saja diplomasi tidak lengkap tanpa mengusung gastro diplomacy. Kali ini para tamu undangan berkesempatan menikmati hidangan lezat seperti sop konro, mie titi, ikan bakar, es pisang hijau, jalangkote, dan masih banyak lagi hidangan khas Sulawesi lainnya. Semua ini menambah semarak acara, memperkaya pengalaman kuliner para tamu undangan. 

Dalam pidato sambutannya Marsia Pramono juga memperkenalkan keberadaan Indonesian Corner di supermarket IGA Canberra City dimana bisa ditemukan produk-produk makanan khas Indonesia. Marsia Pramono mengatakan bahwa acara budaya ini dapat menjadi jendela bagi masyarakat internasional untuk lebih memahami kekayaan budaya Indonesia dan semoga makin banyak wisatawan asing berkunjung ke Indonesia. [IM]

Previous articleYuk Kenalan Dengan MRC, Salah Satu Komunitas Lari Di Kota Brisbane
Next articleFANTASTIC FOOD BAZAAR – FREE ENTRY