Wonder To The Ears: Sebuah Konser Penuh Inspirasi, Persembahan Cantate Deo Youth Orchestra

442
Facebooktwitterpinterestlinkedinmail


Pada hari Sabtu 16 Desember di Sydney Conservatorium of Music, Gereja Reformed Injil Indonesia (GRII) menyelenggarakan konser Cantate Deo yang bercita-cita untuk membangkitkan cinta anak muda terhadap musik klasik.

Seluruh Verbrugghen Hall di Sydney Conservatorium of Music berdengung dengan rasa antisipasi para penonton. Dengan jumlah 487 hadirin, concert hall yang besar ini bahkan dipenuhi sampai ke balkon dan dihadiri oleh Konsul Jenderal Indonesia.

Sebelum wabah COVID, Cantate Deo Youth Orchestra (CDYO) hanyalah sebuah kelompok pemain musik yang tidak memiliki nama, terdiri oleh beberapa anggota gereja GRII yang ingin memperbarui musik klasik di mata generasi muda untuk kemuliaan Tuhan.

Ketika COVID menerpa, anggota-anggota orkestra ini masih ingin melayani jemaat mereka, dan memutuskan untuk memberi pelayanan melalui media online. Dengan perlunya sebuah nama untuk membuka akun Instagram, lahirnya nama Cantate Deo yang memiliki makna “Bernyanyilah Bagi Tuhan”.

Selama perjalanan masa COVID, para anggota Cantate Deo mengunggah beberapa video yang mereka telah rekam sebelum masa isolasi, lalu meneruskannya dengan rekaman-rekaman individu yang digabungkan oleh Hans Sangtoki, konduktor CDYO. Banyak dari lagu tersebut di-arrange oleh Calvin Abdiel (conductor emeritus) bersama dengan Sangtoki.

Setelah peraturan isolasi dilonggarkan, Abdiel mengundang beberapa musikus dari Sydney Symphony Orchestra untuk memberikan masterclass kepada CDYO, mengingat beberapa dari mereka baru saja bermain alat musik untuk pertama kalinya agar dapat melayani jemaat Gereja melalui CDYO.

Beberapa tahun kemudian, diliputi dengan gairah dan kesetiaan, CDYO berlatih setiap hari Sabtu selama sembilan bulan lebih untuk konser akhir tahun yang baru kedua kalinya diselenggarakan di Sydney. Anggota CDYO yang awalnya hanya tiga orang berkembang menjadi 37 anggota, dan terus bertambah tahun demi tahun.

Dalam lima minggu terakhir, tema “Wonder” pun diberikan oleh hikmat Tuhan kepada kedua pembawa acara yang melihat ketakjuban perjalanan yang hadir di dalam setiap lagu yang telah dipilih.

Sounds Like Home
Pada sore itu, di dalam Verbrugghen Hall lampu-lampu mulai redup. Di tengah bisikan para hadirin yang sedang menantikan dimulainya konser, terdengar suara kedua pembawa acara, Hika Njotoputro dan Mahiera Kasumaputri Aliwarga, menyambut para hadirin ke Gadigal Country dimana kami berkumpul.

Tak lama kemudian, terdengar senandung para instrumen tengah diselaraskan. Sebagai pemain biola yang dulunya sering bermain di orkestra juga, suara itu bagiku langsung memicu banyak kenangan.It sounds like home.

Ruangan yang megah ini mulai diisi dengan suara seruling yang halus dan manis, dan lekas terdengar melodi “How Great Thou Art” yang di-arrange oleh Abdiel. Para pemain strings menyusul dengan suara yang merdu berdengung, dan akhirnya bagian brass dan perkusi melengkapi fanfare tembang yang melukiskan kedashyatan ciptaan Tuhan.

Lagu ini menjadi pembuka acara. Lagu berikutnya adalah “Symphony No. 5” karya Beethoven yang sangat dramatis dan indah. Mungkin kita sering mendengar karya ini saat menonton film.

Setelah itu, CDYO membawa penonton ke berbagai dunia fantasi yang memesonakan, menegangkan, dan menakjubkan, dijelajahi melalui karangan Edvard Grieg “Peer Gynt Suite No. 1”.

Diperkenalkan para MC melalui cerita tentang lagu-lagu tersebut, rasanya seperti hidangan pembuka sebelum menyantap hidangan utama yang dimainkan oleh seluruh orkestra. Ketika aku menutup mata, rasanya bukan sedang di dalam aula konser di Sydney, melainkan sedang mengalami suasana di setiap tempat yang Grieg ciptakan.

Walaupun perjalanan ke tempat-tempat di luar imajinasi selalu seru, tentunya there’s no place like home. CDYO umumnya terdiri dari second-generation Indonesians yang lahir atau dibesarkan di Australia. Namun, Indonesia tetaplah sebuah tempat yang dekat di hati bagi mereka semua. 

CDYO membawa kami balik ke kehidupan tradisional sederhana di Indonesia melalui lagu “Ampar-Ampar Pisang”. Melodi yang riang nggak pernah gagal untuk mengingatkan kembali masa-masa kecil ketika bermain dengan teman-teman di taman sekolah, dan suara strings dan harpa yang lembut menimbulkan bayangan matahari terbenam di cakrawala Indonesia.

Perjalanan pulang ke Indonesia diakhiri oleh “Indonesia Pusaka” yang di-arrange oleh Hans Sangtoki dan dinyanyikan oleh adiknya, Jeremy Sangtoki. Vokalnya yang dalam sungguh-sungguh menggetar hati, dan setiap kata dinyanyikan pelan dan sepenuh hati. Tak ada yang melebihi rasa bangga dan haru ketika mendengar lagu-lagu Indonesia dimainkan dan dinyanyikan di konservatorium terbesar di Sydney.

Nada terakhir yang dinyanyikan Jeremy terus bergema di hatiku, lama setelah dia berhenti bernyanyi, dan langsung disambut dengan tepukan tangan dan sorakan dari para hadirin selagi kakak-adik konduktor dan solois berpelukan erat.

Pengagungan Kedatangan Tuhan
Kami mendapat kesempatan untuk menarik nafas selama intermission. Ketika kembali ke ruangan konser, kami disambut dengan paduan suara yang kini mengiringi orkestra.

Setelah semua perjalanan kehidupan yang kami alami di bagian pertama konser Cantate Deo, lagu-lagu yang menceritakan perjalanan terbesar di dunia, yaitu Tuhan yang menjadi darah dan daging untuk menyelamatkan umat manusia, dihadirkan.

“Angel Carol” dan “Star Carol” membangkitkan hati dengan paduan suara yang begitu antusias dan suara lonceng-lonceng yang mengantarkan kemeriahan hari Natal bagi dunia. 

Suasana kemegahan terus membesar dalam beberapa bagian dari “Messiah” yang ditulis oleh Handel, dan aku merasa kagum tidak hanya terhadap komposisi yang begitu rumit, juga terhadap keahlian para pemain dan penyanyi yang membawakan lagu megah ini.

Pada bagian “Hallelujah! Hallelujah!” yang paling terkenal, kami diundang untuk berdiri bersama untuk merayakan kedatangan Tuhan Yesus.

Konser Cantate Deo diakhiri dengan sebuah “Epilogue of Praise” yang menenangkan hati. Pemilihan ini ada alasannya. Di buku Wahyu (Revelation) ada sebuah gambaran bahwa ketika semua lagu-lagu di dunia ini berakhir, akan hanya tersisa satu lagu untuk dinyanyikan yaitu “Worthy is the Lamb”. Maka, setelah selesai memainkan semua lagu-lagu di dalam konser ini, CDYO kembali memainkan satu lagu terakhir dan terdengarlah “Worthy is the Lamb”.

Dibuka dengan nada-nada piano yang halus dan membuat kami semua menghela napas bersama, sebuah perjalanan yang menyatukan kami dalam dua jam yang berlewat sekejap. Diselimuti rasa tenang dan termenung, dan terhibur dengan suasana yang serasa kembali ke Tanah Air, pentas Cantate Deo tentunya selalu menjadi sebuah konser yang tak akan pernah terlupakan.

Soli Deo Gloria – Segala kemuliaan hanya bagi Allah Tritunggal. [IM]

Previous articleHarapan Dan Kenyataan: Benarkah berharap malah mengurangi kebahagiaan?
Next articleIngat, 10 Februari 2024 Datang Ke TPS Untuk Mencoblos