Harapan Dan Kenyataan: Benarkah berharap malah mengurangi kebahagiaan?

305
Facebooktwitterpinterestlinkedinmail


Setiap awal tahun, secara sadar, biasanya kita membuat momentum untuk memulai sesuatu yang baru agar kehidupan membaik. Itulah harapan. Secara definisi, harapan atau ekspektasi adalah segala sesuatu yang kita pikir akan terjadi, sedangkan kenyataan adalah segala sesuatu yang menjadi terlihat/terasa. 

Sementara kita berharap bahwa kedua hal ini ‘berjodoh’, kenyataan sering berkata lain. Kesenjangan harapan vs. realita inilah yang seringkali membuat perasaan kita nggak puas dan nggak bahagia.

Lewat tulisan ini, INDOMEDIA mencoba mengajak pembaca untuk menggali lebih dalam mengapa harapan dapat membawa perasaan kita ke kekecewaaan ketika kenyataan nggak terjadi. Jangan kuatir, INDOMEDIA juga akan memberikan strateginya untuk mengelola harapan-harapan yang terlanjut tercipta.

Apakah Harapan?
Setiap harapan pada hakikatnya terkait pada kepercayaan yang kita semua anut mengenai hasil dari sebuah kejadian. Harapan yang timbul dapat memainkan peran penting dalam menentukan apa yang akan terjadi dan memengaruhi perilaku yang goal-directed. Namun, harapan yang timbul ini juga membawa kita ke rasa kecewa ketika kenyatan yang kita inginkan nggak sesuai dengan yang terjadi.

Beberapa tanda umum yang membuat kita ‘berani’ berharap adalah:
• Sudah menyiapkan hasil tertentu
• Punya visi di dalam pikiran bahwa ini yang akan terjadi dan ini yang kulakukan
• Ada ide respons dari situasi yang akan terjadi

Saat harapan tidak terjadi, tentu akan menimbulkan kekecewaan, frustasi, dan bahkan kemarahan.
Di beberapa kasus, orang bisa sangat ‘lengket’ dengan harapan sehingga nggak bisa melihat kenyataan situasinya. Tentu saja hal ini dapat menyetop mereka untuk mengambil tindakan atau keputusan yang baik, untuk kebaikan mereka sendiri.

Penelitian membuktikan bahwa manusia, ini mengejutkan, kurang mampu memprediksi perasaan mereka sendiri dalam beragam situasi. Contohnya, sebuah penelitian menemukan bahwa pasangan yang baru menikah cenderung akan memperkirakan bahwa tingkat kebahagiaan mereka akan naik (atau minimal sama) selama empat tahun pertama pernikahan mereka. Kenyataannya, justru dalam rentang waktu itu tingkat kebahagiaan cenderung memudar.

Ya, mengagetkan memang bahwa orang cenderung buruk memerkirakan hal-hal yang membuat mereka bahagia. Artinya, harapan kitalah yang mungkin menyebabkan kita berpikir dapat mencapai tujuan-tujuan tertentu yang akan membuat kita senang dan puas. Namun, karena perkiraan-perkiraan ini seringkali meleset, bisa jadi kita berlari di tujuan yang salah.

Jebakan Itu
Novel karya Charles Dickens “Great Expectations” memaparkan masalah dengan harapan. Karakter utama di novel ini, Pip, mewarisi uang dari seseorang yang misterius. Ia melihat keberuntungan ini merupakan langkah awal untuk dapat menikahi gadis impiannya.

Pada akhirnya, saat ia paham bahwa uang bukanlah bagian penting dari rencana besarnya, Pip sadar bahwa ia telah mengecilkan arti begitu banyak hubungan yang penting dan pemberian dalam hidupnya. Harapannya telah merampok kenyataan yang seharusnya ia hargai selagi sempat.

Harapan Dapat Mengurangi Rasa Syukur
Saat harapan kita tumbuh melebihi kenyataan, itu artinya kita tidak menghargai hal-hal yang kita miliki. Alih-alih, kita malah berharap lebih lagi atau membandingkan yang ada di tangan kita dengan hal-hal yang ‘seharusnya’ dapat kita miliki.

Contohnya, sebuah studi menunjukkan bahwa partisipan yang terekspos “ingin kaya” kurang menikmati sebatang cokelat lezat dan menunjukkan sikap yang kurang santai dibandingkan mereka yang tidak terekspos.

Rasa syukur dimaknai sebagai penghargaan atas semua yang kita miliki, dengan tidak menangisi semua yang tidak. Penelitian menunjukkan bahwa mempraktikkan rasa syukur dan aktif menikmati momen-momen kehidupan kita memiliki dampak positif pada kesehatan mental dan kebahagiaan diri.

Harapan yang Nggak Realistis
Terakhir, harapan-harapan membuat kita menjadi lebih kecewa ketika kita mengharapkan lebih dari kenyataan yang ada. Bisa jadi hal itu adalah harapan bahwa pasangan kita dapat berperilaku seperti aktor/aktris di film-film romantis, pekerjaan kita dapat menjadi versi terbaik yang kita impikan sejak kecil, atau hidup yang kita bangun seperti halnya postingan indah di Instagram.

Harapan dapat menciptakan tekanan hebat ketika ia nggak sesuai dengan kenyataannya. Juga, pertimbangkan hal ini, media sosial adalah pengaruh sangat besar atas tekanan hidup. Kita membandingkan momen-momen terburuk hidup kita (yang seharusnya tidak boleh dibagikan secara online) dengan momen terbaik orang lain, yang seringkali sudah di-filter agar terlihat sempurna.

Anda bahkan mungkin tidak menyadari perbandingan yang tidak cocok ini. Ini mungkin menjadi salah satu alasan mengapa mereka yang menghabiskan lebih banyak waktu di media sosial cenderung jadi kurang bahagia.

Ya, harapan kita di dalam hidup ini bisa jadi nggak realistis dan rusak berdasarkan pendapat kita tentang hal-hal yang dimiliki orang lain. Ingatlah bahwa sudut pandang kita terhadap orang lain terbatas dan bias. [IM]

—————————————————————————————————–

“How to Manage Expectations”

Belajar mengelola harapan dapat sangat bermanfaat, terutama saat kita sedang berusaha menghindari jebakan harapan vs. kenyataan. Penting sekali untuk melihat lebih dalam pada harapan-harapan yang menumpuk untuk direalisasikan (dan pengaruhnya pada mood kita).

Mawas Diri pada Harapan yang Terlanjur Muncul
Mulailah dari menilai harapan dalam sebuah situasi. Kalau kita ingin keluar dari jebakan harapan vs. kenyataan, kuncinya ada di mawas diri. Sepenuhnya sadar atas harapan yang muncul dari dalam diri adalah tahap awal yang baik.

Mawas diri atas tindakan yang “seharusnya” akan diambil juga ide yang bijaksana. Misalnya:
– Di dalam situasi yang baru, tanyakan diri kita harapan apa yang akan muncul.
– Tanyakan juga, apakah harapan-harapan itu harus seperti itu. Cari tahu dari mana harapan tersebut berasal dan apakah mereka realistis?
– Ketika merasa kecewa, cobalah berpikir apakah realistis untuk mengharapkan hal-hal yang kita inginkan itu. (Jika iya, buatlah sebuah rencana untuk merealisasikannya di lain waktu. Jika tidak, pikirkanlah langkah-langkah untuk mengelola harapan tersebut.)

1. Bersyukur, bersyukur
Saat kita menyadari bahwa situasinya berbeda dari yang kita harapkan, aktiflah mencari hal-hal positif yang kita masih miliki. Tentu saja kita merasa kecewa. Itu hal yang alami dan nggak terhindarkan. Namun, begitu kita dapat mengatasi kekecewaan itu, ada sesuatu yang awalnya tidak kita inginkan. Hal itu membantu kita untuk lebih menghargai hal-hal yang kita miliki saat ini.

Ambil waktu untuk memikirkan hal-hal yang seharusnya kita syukuri. Atau, pertimbangkanlah untuk menuliskan rasa syukur ini dalam sebuah buku harian.

2. Jangan membandingkan
Waktu kita melihat postingan orang lain di media sosial dan memutuskan untuk menginginkan yang kita lihat, ingatkanlah lagi diri kita mungkin saja ini bukan hal yang nyata. Sangat menyenangkan jika kita tahu pasti arah kehidupan yang kita inginkan, tapi jangan lupakan bahwa apa yang terlihat di kehidupan orang lain belum tentu sama dengan yang kita pikirkan.

3. Yang benar-benar bikin bahagia itu…
Kita mungkin berpikir berlebihan jika kita bisa memiliki ini dan itu yang bisa bikin bahagia. Contohnya, jika kita benci pekerjaan kita tapi tetap bekerja dengan harapan tabungan kita bisa membeli mobil atau pakaian mahal, itu artinya kebahagiaan yang akan kita dapatkan nggak berlangsung lama.

Cobalah benar-benar menikmati semua yang kita miliki saat ini. Sah-sah saja menginginkan hal yang lebih lagi, tapi hidup ini akan lebih bisa dinikmati jika kita bisa menghargai hal-hal yang sudah kita miliki. Menikmati semua milik kita adalah cara terhebat untuk memperpanjang kebahagiaan di kehidupan yang singkat ini.

4. Menerima perataan
Jangan hukum diri sendiri karena merasa kecewa. Daripada mencoba menolak stres atau emosi negatif lainnya, seperti kecewa atau iri, cobalah ambil waktu untuk benar-benar mencerna perasaan tersebut apa adanya, tanpa harus merugikan orang lain.

Namun demikian, mencoba membandingkan peruntungan diri dengan orang lain yang lebih ‘menderita’, juga sama berbahayanya. Lebih baik, cobalah untuk tidak sama sekali membandingkan diri kita ke siapa pun. Satu-satunya orang yang dikalahkan adalah diri kita sendiri. [IM]

Bagaimana Mengelola Harapan dalam hubungan?

Penting untuk menjadi awas akan harapan-harapan yang muncul saat hubungan terjalin agar bisa dikelola. Mulailah dengan menjadi jujur kepada diri sendiri tentang harapan dari hubungan ini. Lalu, komunikasikanlah itu dengan pasangan kita.

Mendiskusikan keinginan kita sangat penting dan memberi kita tempat untuk menegosiasikan dan mengkompromikan harapan tersebut. Akhirnya, ingatlah untuk fleksibel dan berniat untuk beradaptasi sejalan dengan hubungan (dan harapan) yang berubah.

Bagaimana Mengelola Harapan dalam pekerjaan?
Kita dapat mengelola harapan-harapan dalam pekerjaan dengan cara mengecek secara teratur diri kita sendiri akan seberapa realistis dan bisa tidaknya tujuan-tujuan ini dapat tercapat. Ingatkanlah diri bahwa tidak ada situasi dan manusia yang sempurna. Kita semua cenderung mudah berbuat salah.

Jika rasa-rasanya harapan-harapan ini sulit dicapai, ada baiknya untuk mundur sejenak dan menilai kembali situasi. Cobalah untuk memahami alasan itu terjadi dan hal-hal yang kita bisa lakukan ke depannya. Ingatlah, harapan sifatnya masih nisbi, belum tentu jadi kenyataan. 

—————————————————————————————————–

Sydneysiders Bicara Harapan & Pemilu Indonesia 2024

Ivan Paulus

Harapan saya adalah supaya Tuhan Yang Maha Kuasa menyertai dan memberkahi Pemilu 2024 supaya dapat berjalan secara demokratis dan bebas dari konflik. Agar supaya perbedaan pendapat dan perbedaan pilihan tidak menjadikan rakyat Indonesia menjadi terpecah belah, tetapi justru menjadikan semangat masyarakat untuk bergotong royong memajukan Indonesia dengan kedamaian.

Saya berharap Tuhan mengangkat sosok pemimpin terbaik untuk Tanah Air kita. Dan, supaya pemerintah terpilih dapat meningkatkan pemerataan infrastruktur dan kualitas sumber daya manusia di Indonesia.

Semoga pemimpin terpilih yang baru dapat membawa  perekonomian Indonesia untuk tumbuh dengan pesat, lebih maju, lebih berprogresif dalam bidang ekonomi, sosial dan budaya, serta mengecilnya kesenjangan ekonomi dan sosial.

Harapan saya yang terakhir adalah kebebasan beragama dan beribadah semakin nyata di Tanah Air, semakin majunya sikap toleran, dan perlakuan yang sama terhadap minoritas tanpa melihat ras, golongan, dan agama.

 

Nadya Wibowo

Berharap dan berdoa untuk Indonesia agar pemilu 2024 yang akan datang berjalan dengan sebaik-baiknya, aman, dan tenteram. Siapa pun yang terpilih nantinya memiliki jiwa yang dapat melayani rakyat indonesia dengan baik dan jujur, bukan untuk mencari keuntungan pribadi saja. Memiliki hati yang takut akan Tuhan, bermoral, berempati, tegas, dan bijaksana.

Harapan pribadi di 2024: untuk lebih sering refleksi dan mengoreksi diri, menjadi pribadi yang lebih baik dalam rumah tangga, keluarga, dan pekerjaan.

 

Andres Satya

Harapanku, siapa pun yang terpilih, embanlah tugas Anda. Setiap pagi, Anda bangun selama 5 tahun ke depan untuk rakyat semua, bukan kepentingan partai maupun pribadi. Kita mesti unggul dari Vietnam dan Thailand di industri apa pun, terlebih-lebih ekonomi, teknologi, pangan, tekstil, dan tambang.

 

Yova Gracia

Harapan 2024 bisa selesai sekolah tahun ini dengan tepat waktu and moving forward to change my status visa “yeheeeyy” Harapan after Pemilu: semoga pemerintah bisa lebih lebar lagi membuka mata untuk membangun sekolah kreatif secara gratis, khususnya daerah-daerah yang paling terpencil.

 

Robert Sulaiman

Harapan saya di tahun 2024 adalah keluarga yang sehat, sukses di karier, travelling ke Eropa, beli rumah yang banyak, dan Indonesia lebih maju lagi dengan mendapatkan pemimpin yang bijaksana.

Previous articleThe Djamu: Keharmonisan Manusia & Alam
Next articleWonder To The Ears: Sebuah Konser Penuh Inspirasi, Persembahan Cantate Deo Youth Orchestra