Menuai Kebaikan Dengan Bersilaturahmi

48
Facebooktwitterpinterestlinkedinmail


“A friend cannot be considered as a friend until he is tested on three occasions:
in time of need, behind your back and until after your death”
 – Ali bin Abi Thalib

Bulan Juni adalah musim dingin di Australia. Menurut para ahli cuaca, musim dingin tahun ini jauh lebih dingin dari tahun sebelumnya. Bagi para lansia hal ini sangat memprihatinkan, terlebih bagi yang mempunyai masalah penyakit tulang seperti arthritis. Tapi hal ini bukan berarti menghambat kegiatan sehari-hari. Jalan pagi tetap rutin aku lakukan, apalagi kalau matahari dengan ramah menyapa dan menghangatkan tubuh.

Hari Sabtu 18 Juni, aku dan suami sudah menjadwalkan untuk hadir dalam acara pengajian rutin yang diadakan oleh Uswatun Hasanah. Karena kesehatannya, suami sudah tidak mengemudi lagi. Tapi jarak jauh bukanlah halangan, karena transportasi publik dengan biaya yang relatif murah tetap memudahkan langkah kami.

Majlis Ta’lim Uswatun Hasanah yang dibentuk tahun 1986 merupakan Majlis Ta’lim yang mampu bertahan sampai saat ini. Tidak terdengar adanya perselisihan yang menimbulkan perpecahan, yang ada justru kehangatan, kekompakan, saling menghormati pendapat dan memecahkan masalah secara kekeluargaan. 

Hal ini membuat anggotanya makin bertambah, apalagi dengan hadirnya generasi muda yang ikut aktif. Programnya pun semakin maju dan tidak saja berkiprah di Sydney, Australia bahkan sudah dikenal di Indonesia, seperti program Nasi Bungkus yang dibagikan setiap hari Jumat ke masjid-masjid di Indonesia secara bergilir, dan pembangunan sekolah “Yayasan Yatim“ sejak tahun 2019, yang saat ini hampir rampung. Hal ini membuat aku dan suami ingin selalu hadir ber “silaturahmi” yang diadakan secara bergilir di rumah para anggotanya. Bersilaturahmi dengan sahabat memang suatu hal yang menyenangkan dan menambah semangat.

Tepat jam 5 kami tiba di Roselands, di rumah Farried dan Hilda Sungkar dimana acara diadakan. Acara  dibuka dengan sholat Maghrib berjamaah. Dilanjutkan dengan membaca Surat Rum secara bersama, disusul Tausiah oleh bapak Lui Arfandi. Tausiah yang disampaikan beliau mengenai HASAD (dengki, iri hati) begitu menarik, disampaikan dengan sederhana dengan memberikan contoh sehari-hari,  sehingga dapat diterima dengan mudah.

Wabah Covid yang terjadi beberapa tahun telah memberikan dampak yang begitu besar bagi kehidupan manusia. Banyak yang kehilangan keluarga dan mengalami problem ekonomi, membuat kita yang bermukim di Australia membuka mata hati untuk intropeksi diri. Banyak bersyukur bahwa kita masih bisa berkumpul, kehidupan sehari-hari masih terpenuhi dan biaya pengobatan masih terjangkau.

Sering juga kita mendengar kisah miris saudara-saudara kita yang membutuhkan uluran tangan. Dan melalui silaturahmi serta bertukar pendapat di Majlis Ta’lim seperti inilah maka timbul ide-ide bagus untuk diterapkan sesuai kemampuan masing masing.

Memiliki sahabat adalah hal yang patut disyukuri, dan merupakan suatu rejeki yang diberikan Allah SWT. Kita perlu menjaga tali silaturahmi agar persahabatan tetap terjalin hingga batas umur kita, dan saling mengingatkan dalam kebaikan. Maka dalam menjalani sisa umur, kami sempatkan untuk menjalin silaturahmi dengan sahabat dan kerabat. Berada di lingkungan yang membuat hati tenang, adem dan memberikan pengaruh yang besar dalam kehidupan sehari-hari.

Di Majlis Ta’lim yang diadakan 2 minggu sekali ini selain menjaga persahabatan dengan teman-teman lama, ada banyak hal juga yang dapat kami petik dan bermanfaat dalam menjalani sisa umur ini. Be in this world as if you were a stranger or traveler. [IM]

Previous articleSeminar Ketenagakerjaan Pendidikan dan Pelatihan Pariwisata SertaPeluang Usaha di Australia
Next articleMelasti di Pantai Australia dan Pengukuhan Mangku Alit