Melasti di Pantai Australia dan Pengukuhan Mangku Alit

34
Facebooktwitterpinterestlinkedinmail


Umat Hindu Bali di Sydney berbondong-bondong ke pantai Sans Souci untuk melakukan upacara Melasti pada 9 Juli lalu. Mereka membawa perangkat ritual Ida Ratu Gede Sakti Mas Mecaling dan Ida Betara Sidakarya Ireng. Upacara sakral ini juga dilengkapi dengan banten atau sesajen beserta segala persyaratan ritualnya. Area upacara dikelilingi oleh sembilan bendera yang melambangkan dewa penjuru angin.

Acara ritual yang jarang sekali dilakukan oleh Umat Hindu di Australia ini dipimpin seorang pemuka agama Hindu dari Indonesia, pendeta besar, Ida Pandita Daksa Charya Manuaba yang didampingi dua asistennya Jero Mangku Made Dwija dan Jero Mangku I Gede Eka Sarjana.

Upacara Melasti adalah melakukan pembersihan segala kekotoran, dengan memuja keagungan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, Tuhan Yang Maha Esa. Tujuannya untuk melebur segala macam kotoran pikiran, perkataan dan perbuatan. Makna lainnya agar mencapai kebersihan alam semesta dan alam manusia sehingga bersih lahir batin.

“Saya sudah delapan kali ke sini (Sydney). Setelah ini ada beberapa upacara di Bondi dan juga di Melbourne tanggal 24 Juli nanti,” kata Ida Pandita.

Usai upacara Melasti, dilanjutkan upacara Mewinten di Pondok Jero Mangku Nyoman Budi
di Godfrey Street, Penshurst, dan malamnya ditutup dengan upacara Ngrehang. 

Pada rangkaian upacara Ngrehang, Pendeta Hindu Ida Pandita yang memiliki nama asli Profesor Doktor I Nyoman Sutjipta ini juga membaptis tiga pasangan suami istri menjadi Mangku Alit. Mereka adalah Made Samudana-Niluh Sadiartini, I Putu Widyantara Deny Budi-Ni Wayan Ayu Puspawati, dan I Gede Budi Arta-Ni Ayu Komang Sugiawi.

“Selama ini mereka telah mendapat pembekalan diri secara rutin dari Jero Mangku Nyoman Budi, dalam pantauan sekaligus bimbingan dari Ida Pandita,” terang Jero Mangku Made Dwija.

Ia menegaskan, ketiga pasangan yang kelak menjadi asisten mangku ini dinilai telah memenuhi syarat, bersuami istri, dan memiliki tempat sembahyangan secara mandiri. “Yang lebih penting secara mental telah siap dan secara agama terus memperdalam keilmuan agama dan menunjukan dalam perilaku keseharian yang sudah tidak seperti sebelumnya,” tegas Jero Mangku Made Dwija. [IM]

Previous articleMenuai Kebaikan Dengan Bersilaturahmi
Next articleSehati Dalam Keberbedaan