Lebih Dekat, Lebih Akrab Dengan Bapak Dubes RI Untuk Australia, Dr. Siswo Pramono

286
Facebooktwitterpinterestlinkedinmail


Akhir tahun lalu, tepatnya 8 Desember 2021, kita kedatangan Bapak Duta Besar yang baru. Beliau ahli dalam bidang hukum dan tentu saja diplomasi luar negeri. Oh ya, kedatangannya di Canberra menjadi momentum “pulang kampung” karena beliau dulu kuliah di ibukota Australia itu. Nah seperti apa, sih, masa lalu, kepribadian, pemikiran, dan … keluarganya? Yuk, langsung disimak jawaban beliau.

TENTANG KEHIDUPAN PRIBADI

Selamat datang di Australia, Pak Dubes Siswo. Bapak lebih suka dipanggil dengan sebutan apa? Nama lengkap saya Siswo Pramono. Dipanggil ‘Siswo’ boleh, ‘Sis’ juga boleh… Dulu, banyak teman kuliah di Australia yang manggil saya ‘Pram’. Mana yang mudah diingat aja…

Bapak pernah bersekolah di Australian National University (ANU), Canberra. Bagaimana perasaan Bapak bisa “pulang kampung” ke Canberra? Dan, menurut Bapak, perubahannya seperti apa sejak Bapak tinggalkan terakhir kali?
Iya…saya menyelesaikan Postgraduate Diploma di ANU, Canberra, kemudian melanjutkan ke program Master di Monash University, Melbourne. Setelah itu, saya balik lagi ke ANU untuk menyelesaikan program Doktor. Kalau di total-total, sekitar 8 tahun saya sekolah di Australia. Kampung saya, ya Canberra dan Melbourne itu…

Tentu, saya senang ‘pulang kampung’, setelah selesai kuliah di ANU tahun 2003. Hampir 20 tahun saya tinggalkan Canberra. Tapi, saya masih sempat balik beberapa kali, antara lain untuk wisuda dan urusan pekerjaan. Canberra banyak berubah, ya. Banyak suburbs baru. Yang tidak berubah adalah taman-taman kota yang tetap indah, danau Burley Griffin yang tetap biru, dan orang-orang Canberra yang tetap ramah.

Oh ya, mengapa, sih, Bapak nggak sekolahnya di Sydney aja yang lebih akrab dengan mahasiswa Asia pada umumnya, dan Indonesia pada khususnya? Apa kelebihan Canberra buat Bapak saat memilih ANU?
Sydney tempat yang enak untuk membuang stres, setelah pusing kuliah dan di-blebeg PR seminggu…. Banyak pusat hiburan di Sydney. Tapi, kalau saya sekolah di Sydney, wah, bakalan main terus. Bubar sekolah saya. Namun, saya salut dengan teman-teman yang sekolah di Sydney dan berhasil sukses studinya.

Apa kelebihan Canberra? Saya, nih, datang dari metropolitan Jakarta. Di sana, banyak gedung tinggi, tapi sedikit pohon. Di Canberra, banyak pohon tinggi, sedikit gedung… ha haha, jadinya saya suka. I love the wildlife in Canberra.

Tapi saya punya musuh, lho… Saya pernah disamber Magpie saat jogging pagi. Pernah pula dikencingin possum dari pohon malam-malam. Hahaha…

Bernostalgia sedikit ya, Pak. Tempat nongkrong Bapak di Canberra waktu kuliah dulu apa saja, nih? Dan apakah masih asyik ditongkrongi saat ini?
Gue nggak iklan, nih, ya. Tapi, kala itu, malam-malam nongkrong di King O’Malley enak banget, deh… sambil dengerin Irish music, minum cold Guinness, atau, kalau mau anget, ya pesen aja Irish coffee, sambil cekakakan sama teman-teman sekampus. Pub nya, sih, masih ada. Malah sekarang lebih banyak pilihan. Tapi, aku gak berani nongkrong lagi, gara-gara si Omicron brengsek itu.

Kita ke masa kecil ya, Pak. Apa cita-cita Bapak saat kecil dan apakah cita-cita itu berubah-ubah seiiring waktu? Dan apakah menjadi Dubes adalah salah satu cita-cita Bapak juga?
Waktu kecil, saya maunya jadi dokter karena dua Om saya dokter. Suntik, mbayar…suntik mbayar… Sering juga cita-cita saya berubah, ngikut arus teman-teman. Ada, lho, teman saya yang pingin jadi Superman atau King Kong. Nah, yang beginian aku nggak mau ikutan.

Duta besar? Saya tidak bercita-cita menjadi ambassador. Tulungagung itu kota kecil banget. Anak-anak nggak tau ambassador itu pekerjaan apa. Mbedain ambassador sama matador aja juga susah…

Bapak berasal dari Tulungagung, yang berjarak cukup jauh dari kota besar Surabaya. Apakah Bapak melewatkan pendidikan dasar di Tulungagung atau memang sudah bersekolah di Surabaya? Jika baru pindah ke Surabaya untuk kuliah di Universitas Airlangga, apakah ada penyesuaian yang sulit dulu?
Saya tamat SD sampai SMA di Kabupaten Tulungagung. Tapi, SMA saya di Desa Beji, tidak di kota, naik sepeda hampir 1 jam lewat persawahan. Kadang saya nggandol cikar (nunut pedati yang ditarik sapi). Asyik banget.

Walau saya cah ndeso, dan orang tua saya, waktu itu, tergolong ‘pegel’ (singkatan: pengusaha golongan ekonomi lemah), saya rajin belajar dan rajin ikut bimbingan tes. Waktu ujian nasional SIPENMARU, nilai saya bagus, jadinya saya ditawari masuk perguruan tinggi tanpa tes (jalur “Bakat dan Prestasi”), ke Universitas Soedirman di Purwokerto. Tapi, saya pengin ngrasain hidup di kota besar. Jadinya, saya malah milih masuk ke Universitas Airlangga di Surabaya.

Prestasi akademis saya lumayan joss. Saya dapat beasiswa Supersemar, beasiswa Kartini, dan beasiswa Kementrian Luar Negeri sekaligus. Tapi, saya gak lapor ke papa saya, yang pedagang keramik itu. Jadinya, saya juga masih dapat kiriman wesel dari orang tua, hahaha…

Bayangin aja, deh: anak remaja, di kota besar, di kampus top, duit banyak, bebas dari pengawasan orang tua. Live must be celebrated! Ndilalah-nya, saya ini rada-rada extrover, jadinya mudah hidup di Surabaya, dan mudah pula ngumpulin banyak teman.

Dubes Siswo, Ibu Marsia (Istri) dan Lembayung (Anak)

Apa arti keluarga inti dan keluarga besar untuk Bapak?
Bagi saya, keluarga inti means home. Home adalah lingkungan yang nyaman dan menguatkan kita. Sedangkan keluarga besar adalah lingkungan orang-orang, walaupun tidak langsung berikatan darah, namun juga penting buat kehidupan kita. Sehingga, dengan keluarga besar pun kita perlu menjaga hubungan yang harmonis. 

Bagaimana keluarga (dalam hal ini istri dan anak-anak) melihat pekerjaan bapak?
Diplomat adalah profesi, seperti halnya dengan dokter dan lawyer. Dan setiap profesi akan mempunyai konsekuensi dan implikasi bagi kehidupan rumah tangga dan keluarga. Misalnya, keluarga seorang dokter harus siap untuk ditempatkan di daerah terpencil, atau sang dokter sewaktu-waktu meninggalkan keluarga bila ada panggilan darurat kesehatan. Diplomat juga seperti itu.

Keluarga saya mendukung dan bangga dengan profesi saya sebagai diplomat karena ini memang pekerjaan yang baik. Memang, perlu banyak penyesuaian, terutama bagi anak saya, karena kami sering pindah-pindah negara.

Anak saya, Satria Lembayung, lahir di Den Haag, dan dia besar di Berlin. Waktu SD, dia saya masukkan ke Berlin International School. Lalu, Lembayung menjalani masa SMP di salah satu International School di Jakarta. Menjelang Lembayung masuk SMA, kami pindah ke Australia. Dia sekarang masuk ke Telopea Park School di Canberra. Bahasanya ganti-ganti, sistem sekolahnya juga ganti-ganti. Tapi, keluarga saya cukup enjoy dengan berbagai dinamika tersebut.

Bisa ceritakan tentang Ibu Dubes?
Sebaiknya tanya saja sendiri ke istri saya, ya, hahaha…

Istri saya, Marsia Gustiananda, seorang scientist. Marsia lulusan ITB, cum laude, jurusan kimia. Lalu, dia memperoleh Doktor dari ANU, Canberra, di bidang medical science. Kami dulu sekolahnya sama-sama di ANU, lalu kenalan dan pacaran. Saat ini, istri saya lebih menekuni bio-informatics, suatu cabang keilmuan yang sedang berkembang pesat dan banyak aplikasinya di sektor kesehatan.

Selama mengikuti saya dari satu negara ke negara lain, Marsia banyak memanfaatkannya untuk mengambil program-program post-doctoral, maupun mengikuti berbagai kegiatan science di berbagai universitas setempat. Misalnya, Marsia pernah bergabung dengan Protein Chemistry Group di Leiden Institute of Chemistry, waktu saya dinas 4 tahun di Belanda.

Sebelum kami ke Australia, Marsia menjadi Kepala Departemen Biomedicine di Indonesia International Institute for Life Science (I3L), di Jakarta. Namun, karena saat ini kami berada di Australia, maka dia melepaskan jabatan itu, tapi masih mengajar online di I3L. Bulan Desember kemarin, Marsia dan rekan-rekannya di I3L, menerbitkan hasil riset mereka di jurnal ilmiah “Vaccines”, terbitan MDPI. Judulnya: “Immunoinformatics Analysis of SARS-CoV-2 ORF1ab Polyproteins to Identify Promiscuous and Highly Converted T-Cell Epitopes to Formulate Vaccine for Indonesia and the World Population”. Wah, panjang, ya, hahaha…

Bisa ceritakan tentang anak-anak Bapak?
Anak saya cuma satu, cowok. Saat ini, Satria Lembayung berumur 15 tahun. Lembayung sangat terbuka, suka bergaul, dan melucu. Dia menyukai pelajaran matematika, science, dan sejarah. Bahasa asing yang dikuasai, tentunya Inggris, namun dia juga paham bahasa Jerman dan Mandarin, walaupun pasif. Sekarang Lembayung tertarik belajar Bahasa Jepang. Hobinya taekwondo, berenang, fitness, dan sekarang belajar main tenis.

Apa sajakah yang menjadi hobi Bapak?
Hobi saya olahraga dan traveling. Nah, waktu di kuliah Australia, saya suka driving menyusuri Princes Highway, dan mengunjungi tempat-tempat yang unik seperti Ballarat, Sovereign Hill gold mining town, (12) Apostles, atau German Village Hahndorf. Saya juga suka memancing ikan cod dan perch di Molonglo River.

Waktu di Indonesia, sebelum pandemi, saya dan keluarga keliling pakai mobil, dari Jakarta hingga Banyuwangi, singgah di Dieng, pegunungan purba Gunung Kidul, Madura, dan Tengger. Kami juga keliling pakai mobil di Sulawesi, Lombok, dan pulau-pulau lainnya. Menarik sekali.

Hobi lainnya adalah menulis, baik untuk media maupun jurnal ilmiah. Dulu, waktu masih mahasiswa di ANU, salah satu tulisan saya mendapatkan high-commendation di Dialogica Award. Tahun 2020, salah satu kajian saya, bersama sorang rekan diplomat-analis di PADA, Kemenlu, diterbitkan dalam bunga rampai oleh Routledge, London. Judulnya: “Promoting business connectivity among industrial parks in the South China Sea rim and its vicinity”. Banyak lagi tulisan lainnya.

Tiga kata tentang diri Bapak?
Bekerja dan tertawa. Kalau kurang, tolong tambahi sendiri, ya, hahaha…. Life must be celebrated!

TENTANG PROFESI DIPLOMAT

Apakah menjadi Dubes RI di Canberra adalah pos pertama Bapak? Jika ya, bagaimana Bapak melihat pos baru ini? Dan, jika tidak, Bapak pernah bertugas di mana saja?
Sebagai Dubes, ya, Canberra adalah pos pertama saya. Namun, sebelumnya, saya pernah bertugas di Bonn, Den Haag, dan Berlin, dalam jenjang diplomat yang berbeda-beda.

Penempatan sebagai Duta Besar di Australia, merupakan tantangan yang sangat menarik. Australia adalah negara paling maju di Oseania, kaya dengan bahan alam, terutama tambang, dan masyarakatnya inovatif. Sementara Indonesia adalah negara berkembang yang tumbuh supercepat, sekarang sudah menjadi upper-middle income economy, walau sempat terganjal oleh pandemi. Sekarang, Indonesia menjadi Ketua G20 – kelompok 20 ekonomi terbesar di dunia. Total GDP – Purchasing Power Parity Indonesia sudah tiga kali lipatnya Australia. Jadi, banyak hal yang bisa dikerjakan bersama, antara Indonesia dan Australia, baik untuk untuk kemaslahatan kedua negara, maupun kesejahteraan Kawasan Asia-Oseania.

Menurut referensi, Bapak pernah menjabat sebagai Director General/Head of the Policy Analysis and Development Agency (PADA) di Kemenlu dan bertugas di banyak kota di Dunia. Menurut Bapak, tugas-tugas apa sajakah yang seru? Dan, jika bisa diulang, Bapak inginnya kembali ke penugasan apa?
Portfolio PADA adalah membuat kajian-kajian, baik yang aplikatif maupun yang strategis. Termasuk melaksanakan economic intelligent. Karena itulah, di PADA, saya banyak melakukan kajian lapangan maupun pilot projects.

Misalnya, saya dan tim (umumnya para diplomat muda, yang dididik sebagai analis) pernah melakukan kajian ASEAN connectivity dari aspek sea-transport dan renewable energy, utamanya hydropower. Wah, menarik sekali! Selain melakukan hitungan makro-ekonomi, dan menyelenggarakan focus group discussions dengan para pakar, kami banyak melakukan kajian lapangan.

Nah, dalam melaksanakan kajian lapangan inilah, kami menjelajah di pedalaman Asia Tenggara bagian Utara. Kami melakukan penelitian di sungai Irrawaddy di Myanmar dan di sungai Mekong, baik di sisi Laos maupun Vietnam. Kami juga menjelajahi Sabah dan Serawak, hingga ke Memberamo Raya di pedalaman Papua. Selama melakukan kajian ini, kami sering tinggal di desa-desa, dan berinteraksi dengan berbagai masyarakat adat terpencil.

Bayangin, deh, mulai dari greater Mekong sub-region hingga Kawasan Timur Indonesia. Banyak pengalaman budaya yang menarik, termasuk mencicipi berbagai makanan daerah yang super yummy! Mulai dari or lam asli Laos, pho asli Vietnam, nasi lemak di pedalaman Serawak, hingga papeda dan sayur ikan kuning di Papua!

Hasil kajian tersebut sudah kami terbitkan. Judulnya “ASEAN Connectivity in Indonesian context: a preliminary study on geopolitics of hydropower and maritime transport”. Buku itu tersedia di perpustakan di berbagai negara, termasuk di National Library of Australia. Saya pengin mengulang petualangan dan pengalaman yang mengasyikkan ini.

Lalu, kami juga punya pilot projects seperti “Business Connectivity: Andaman-Nicobar and Aceh”; dan “Business Connectivity: Southern Philippines – Eastern Indonesia”. Pilot projects tersebut membawa kami ke berbagai kajian lapangan, mulai dari Chennai, kepulauan Andaman-Nicobar, hingga ke Aceh; dari Davao City, General Santos, hingga Manado dan Bitung. Bayangin, deh, di waktu senggang, kami kumpul di pantai, dan menikmati suvenir dari perjalanan panjang itu: makan tuna bumbu rica-rica, ditutup dengan kopi Aceh, puttu ala India dan roti canai! Oh, we were in heaven!

Bapak juga pertugas sebagai penasihat pada Perwakilan Tetap RI di Organization for the Prohibition of Chemical Weapons (OPCW) in the Hague. Pertanyaan kami, apakah ancaman senjata kimia itu masih nyata dan eksis?
Iyalah! Ancaman senjata kimia sangat nyata. Makanya, kita masih memerlukan OPCW di Den Haag itu. Dalam catatan OPCW, ada 18 negara, termasuk para major powers, yang memiliki senjata kimia. Syukurlah, Indonesia, juga menurut sumber OPCW, nih, tidak termasuk kelompok itu. Indonesia memang tidak mempunyai program senjata kimia, senjata biologi, maupun senjata nuklir. Dalam catatan OPCW, senjata kimia masih digunakan di berbagai konflik hingga tahun 2018 ini. Jadi, kita berkepentingan untuk ikut melarang penggunaan senjata kimia. 

Dubes Siswo dan Melu Retno LP Marsudi

Bagaimana Bapak melihat hubungan Indonesia-Australia saat ini, terutama saat-saat melalui pandemic COVID-19?
A friend in need, is a friend indeed. Hubungan Indonesia-Australia luar biasa bagus!

Dalam hal Covid-19, hingga saat ini, Indonesia telah menerima bantuan Australia berupa 3,4 juta vaksin, dari komitmen 10 juta vaksin. Indonesia juga menerima bantuan dari Australia sejumlah AUD 25 juta, di mana AUD 12 juta di antaranya untuk oxygen-related and other medical equipment. Terima kasih, Australia!

Nah, awal bulan Februari ini, saya menyaksikan penandatanganan MoU Kerjasama Kesehatan antara Menteri Kesehatan Indonesia dan Australia. Jadi, semakin terbuka peluang bagi kedua negara untuk meningkatkan joint research dalam mengantisipasi pandemi di masa mendatang, sekaligus juga joint production untuk vaksin, atau alat kesehatan karena Indonesia mempunyai pharmaceutical industry yang berkembang sangat pesat. Misalnya, Bio Farma, Kalbe Farma, Kimia Farma, dan banyak lagi lainnya…

Dalam IA-CEPA, ada klausula “Powerhouse”, di mana Indonesia dan Australia dapat bekerjasama, baik di bidang perdagangan maupun industri, untuk memasarkan produknya ke negara ketiga. Di luar pasar tradisional Amerika Utara dan Eropa Barat, terdapat pasar potensial yang sangat besar di Global South, yang membentang dari Asia, Afrika hingga Latin America. Pasar bisa digarap bersama oleh Indonesia dan Australia. Termasuk, pasar di sektor obat-obatan, peralatan kesehatan, dan jasa kesehatan.

Nah, dari fakta dan datanya, hubungan ekonomi Indonesia-Australia berjalan bagus. Di tengah gonjang-ganjing pandemi, total trade kedua negara malah melompat dari USD 7.8 miliar di tahun 2019, menjadi USD 9 miliar di tahun 2021. Dalam kurun waktu yang sama, ekspor Indonesia ke Australia meningkat dari USD 2.3 miliar menjadi USD 3.5 miliar. Jadi, defisit perdagangan Indonesia terhadap Australia pun berhasil diturunkan. Rekan-rekan pebisnis diaspora Indonesia di Australia memegang peran sangat penting dalam hubungan ekonomi ini. Saya salut banget sama mereka!

Tentunya peningkatan hubungan ini juga didorong oleh menguatnya infrastuktur diplomasi kedua negara. Gayung bersambut!

Hubungan bilateral RI-Australia ditingkatkan menjadi Comprehensive Strategic Partnership pada tahun 2018. Lalu, disambung dengan kesepakatan Plan of Action dari partnership itu. Kesepakatan ini tercapai saat kunjungan Presiden Joko Widodo ke Canberra pada Februari 2021.

Terbentuknya Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA) merupakan momentum yang luar biasa. Nah, infrastukur diplomasi sudah semakin menguat, tinggal bagaimana kita memanfaatkannya.

Melihat data kasus di Indonesia yang kini jauh lebih kecil dari Australia, banyak orang Indonesia di Australia pesimis dengan keakuratan datanya, berdasarkan kondisi di Indonesia yang menurut mereka mudah dipalsukan/ditutupi. Apakah nuansa pesimisme juga terasa pada hubungan diplomatik bilateral? Bagaimana meyakinkannya kalau benar, karena sulit juga kan meyakinkan warga Indonesia sendiri?
Percoyo, yo wisora percoyo yo wis… Lihat aja data yang di WHO, atau Johns Hopkins University. Masak mereka bohong, sih. Seperti banyak negara lainnya, Indonesia mengalami gelombang ketiga Covid-19, kali ini varian Omicron. Per 5 Februari ini, kasus harian di Indonesia sudah mencapai 33.729 new cases per day. Memang, angka Omicron, per tanggal 5 Februari itu, masih lebih rendah daripada era “peak” di Australia pada awal Januari tahun ini, yang kala itu mencapai di atas 78.000 new cases per day. Tapi kita harus hati-hati, karena dinamika pandemi ini sangat tidak terduga.

So far, tidak ada nuansa pesimisme dalam hubungan diplomasi, malah kedua pihak semakin semangat untuk memanfaatkan era economic recovery. Covid tidak bisa diatasi dengan pesimisme; harus dihadapi dengan kerjasama yang penuh semangat, tapi terukur.

Dulu, Indonesia kelabakan mencari APD (alat pelindung diri) di saat awal-awal pandemi di 2020. Saat ini, ketika di Indonesia vaksinasi dosis-1 sudah mencapai sekitar 90%, dan dosis-2 mencapai 63%, serta kesadaran untuk mentaati protokol kesehatan meningkat, maka roda industri-pun mulai bergerak lagi… Indonesia malah mengekspor APD ke mana-mana…

Apa yang menarik dari dunia hukum dan politik sampai-sampai Bapak memiliki gelar Ph.D di bidang Political Science?
Hukum adalah profesi yang tertua dalam peradaban manusia, sedangkan politik merupakan realitas kehidupan kita sehari-hari. Makanya, kita mengenal sebutan zoon politicon, manusia adalah makhluk politik atau mahkluk yang bermasyarakat. Jadi, sebetulnya, tanpa kita sadari, kita semua sudah sangat akrab dengan hukum dan politik ini.

Saya sangat menyukai bidang-bidang ilmu yang berpaduan atau inter-disipliner, misalnya saya belajar hukum dan ekonomi, serta kemudian politik dan sosiologi. Dengan demikian, suatu persoalan bisa dilihat dari berbagai sudut pandang, sehingga pemahaman kita semakin utuh.

Sampai sekarang, selain sebagai diplomat, saya masih aktif meneliti dan mengajar di berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Dunia akademis masih menjadi bagian dari hidup saya; dan saya memang menyukainya.

Apa asyiknya menjadi seorang Dubes dan apa pula tantangannya? Dan, manfaat apa sajakah yang ingin Bapak berikan pada Australia mengenai Indonesia?
Kalau kita tergolong orang yang optimis, setiap profesi selalu ada aspek asyiknya. Makanya, motto saya adalah “bekerja dan tertawa”. Serius, santai, selesai.

Duta Besar adalah penugasan dari Presiden, tentu ada tantangan, baik yang bersifat substansi maupun bersifat manajerial. Ada aspek “seni” di sini: bagaimana misi tercapai dan seluruh staf bahagia.

Dari latar belakang pendidikan, saya adalah produk Indonesia dan Australia. Wajarlah kalau saya ingin mengabdikan apa yang saya pelajari untuk kerjasama yang lebih baik antara Indonesia dan Australia.

Ingkang murbehing dumadi (sang Penentu Kehidupan) telah mentakdirkan Indonesia dan Australia menjadi tetangga. Dan sekarang, lebih dari sekedar tetangga, keduanya berkomitmen menjadi mitra strategis. Saya ingin hubungan yang sangat baik ini, bisa dirasakan dan dimanfaatkan oleh masyarakat di akar rumput, karena sebagian besar dari kita memang berasal dari sana.

Sebelum bertugas di Canberra, apakah Bapak juga bekerja sama dengan Pak Kris (mantan Dubes RI sebelumnya)? Bisa jelaskan hubungan dan pengalaman bekerja sama dengan Pak Kris?
Saya dan mas Kris adalah satu angkatan di Pendidikan Diplomat di Kemenlu. Jadi, saya sudah mengenal mas Kris lebih dari 35 tahun. Ketika Mas Kris menjadi Duta Besar di Canberra, saya menjadi Kepala Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Luar Negeri. Kami sering sekali bekerja sama, terutama untuk membangun strategi dalam meningkatkan hubungan ekonomi-perdagangan antara Indonesia dan Australia. Banyak join program yang kita lakukan bersama-sama.

Sobat lama di satu misi

Dalam bahasa awam, PR apa sajakah yang kini Bapak emban sebagai dubes RI untuk Australia dan Vanuatu?
Utamanya, peningkatan hubungan ekonomi, perdagangan dan investasi. Kemudian peningkatan kerjasama di sektor jasa, seperti pariwisata dan pendidikan. Terlebih penting lagi, adalah kerja sama di sektor science dan teknologi.

Namun, tidak boleh dilupakan, saya juga harus memajukan kerja sama sosial budaya, sebagai dasar rasa saling percaya dan persahabatan antara masyarakat kedua negara, terutama generasi mudanya. Dalam konteks ini, saya ingin memajukan kembali minat masyarakat Australia untuk belajar Bahasa Indonesia.

Untuk Vanuatu, sebagaimana hubungan Indonesia dengan negara-negara Pulau lainnya di Pasifik, kami mempunyai visi Pacific Elevation, termasuk meningkatkan Kerjasama Pembangunan dengan negara-negara Pasifik. Indonesia saat ini menjadi donor pembangunan, karena kami punya program Indonesian Aid.

Terakhir, apakah ada acara-acara yang diprakarsai oleh Kedutaan Besar RI untuk masyarakat Indonesia di Australia agar diaspora Indonesia lebih kuat lagi jalinannya? Kalau ya, apa sajakah?
Diaspora Indonesia adalah aset penting dalam diplomasi. Di Kemenlu, sampai ada Eselon-1 (staf ahli menteri luar negeri) yang menangani Bidang Sosial Budaya dan Pemberdayaan Masyarakat Indonesia di Luar Negeri. Jadi, kita memang serius dalam melibatkan diaspora dalam diplomasi di Australia.

Bagi saya, jaringan diaspora Indonesia perlu terus diperkuat, melalui pendekatan yang lebih bersifat bottom-up dan society-driven. Indonesia adalah negara demokrasi, Australia adalah negara demokrasi. Pengarusutamaan peran masyarakat juga harus dilakukan melalui cara-cara demokrasi.

Banyak misi-misi Kedutaan, terutama kegiatan promosi ekonomi dan kebudayaan, yang pelaksanaannya dikerjasamakan dengan berbagai network diaspora Indonesia di Australia. [IM]

 

Previous articleSaat Cinta Menjadi Gila Cinta
Next articleCooler Master Sneaker X