“Kok Nggak Ngajak-Ngajak?”

4384
Facebooktwitterpinterestlinkedinmail

“Iiihhh, ini fotonya lagi dimana, sih? Kok nggak ngajak-ngajak?” “Curaaang, aku ditinggaaal!” “Elo gitu, ya. Tiap kali gue ajak ngumpul selalu sibuk, tapi giliran sama dia selalu bisa. Emangnya kita bukan temen, ya?” Dan masih banyak lagi…

Beberapa komentar diatas pasti sering muncul saat seseorang mem-posting sesuatu di laman akun social media mereka. Biasanya berupa foto-foto atau pemberitahuan mengenai lokasi mereka. Tentu, komentar-komentar di atas bisa punya tiga arti:
1. Teguran biasa/sekedar bercanda.
2. Ekspresi rasa kangen. Nah, yang ini sering kejadian. Karena terlalu gengsi bilang kangen, keluarnya jadi berupa tuduhan.
3. Tuduhan serius.

Kalau hanya menyapa – apalagi bila sudah lama tidak berjumpa atau kumpul bersama, serta sudah saling mengenal gaya bercandaan masing-masing – itu tidak apa-apa. Kalau karena kangen? Ngapain gengsi? Daripada bikin yang sudah posting merasa tidak enak dan (apa iya?) harus selalu menjelaskan segalanya pada Anda, kenapa tidak berkomentar yang terdengar lebih positif dan jauh dari kesan ‘menuduh’? Contohnya: “Waaah, asyik pada ngumpul! Kapan-kapan aku mau ikut juga, dong.” Alternatif lain? Daripada menunggu diajak, kenapa tidak mengajak duluan? Gampang, kok. Manfaatkanlah semua akun social media di mana Anda saling terhubung dengan teman-teman Anda selain nomor ponsel mereka. Ya, apalagi bila kalian masih tinggal satu kota. Apa susahnya? Kalau masalah jadwal sibuk, masih bisa diatur atau diatur ulang kalau mau. Yang penting niatnya, ‘kan?

Lagi susah ketemuan? Ya, mungkin waktunya saja yang belum tepat. Bersabarlah. Saling mengobrol lewat social media sebagai pelepas kangen dulu juga bisa. Yang paling repot itu komentar bernada menuduh, apalagi sampai pakai acara marah-marah segala. Terlepas dari niat yang posting (yang sebenarnya juga urusan pribadi mereka, kali), menyindir atau sekalian menuduh mereka pamer atau hang-out dengan yang lain tanpa mengajak Anda juga bukan tindakan bijak. Apalagi bila Anda menyerukan kekesalan Anda di kolom komentar, dimana tidak hanya Anda dan mereka saja yang bisa membacanya, namun juga teman-teman lain yang bisa melihat. Sayang sekali bila reputasi Anda jadi rusak, hanya gara-gara terlihat sebagai teman posesif atau pacar cemburuan. Yah, jadi nggak berkelas, dong?

Paling parah bila salah-paham semacam ini bisa berlanjut menjadi pertengkaran…hingga musuhan. Ada yang sangat ‘lucu’ gara-gara ini: semua teman di dalam foto atau posting tersebut sampai diblokir segala! Intinya, semua bisa diselesaikan dengan bicara baik-baik. Tidak perlu pakai emosi dan bikin drama segala. Kalau belum apa-apa sudah ‘sensi’ duluan alias merasa ‘ditinggal’ hanya gara-gara melihat foto-foto teman-teman segeng nongkrong tanpa (mengajak) Anda, silakan introspeksi dulu sama diri sendiri. Bisa jadi sebelumnya Anda sering menolak ajakan mereka karena terlalu sibuk, sehingga lama-lama mereka enggan mengganggu Anda. Mungkin juga Anda pernah tanpa sengaja menyinggung perasaan mereka, namun lupa atau malah tidak peduli, alias tidak merasa bersalah. Kasus lain, bisa saja itu salah satu random moment. Kebetulan saja waktu itu mereka semua lagi papasan lalu nongkrong bareng – benar-benar tanpa rencana alias spontanitas belaka (memangnya siapa Anda yang bisa melarang takdir?). Kadang memang ada kalanya sahabat terdekat tidak sedang memikirkan kita. Bukan, bukan karena benci atau apa. Selain karena sibuk dan situasi berubah (pekerjaan baru, teman-teman baru, pacar baru, pernikahan, punya anak, dan sebagainya), bisa saja mereka sedang butuh melakukan sesuatu tanpa perlu kehadiran Anda selalu. Anda pasti juga sama, ‘kan? Ada kalanya Anda hanya ingin sendirian tanpa diganggu siapa-siapa, bahkan mereka yang paling Anda sayang sekali pun.

Jadi, ngapain juga terlalu dimasukkan ke dalam hati? (tentu, lain cerita kalau sebelum posting tersebut, Anda memang sedang bermasalah dengan mereka. Entahlah, seperti biasa, saya juga tidak tahu segalanya). Ada pengakuan seorang sahabat: “Gue sayang sama semua temen gue. Tapi, ada kalanya gue hanya ingin nongkrong berdua saja dengan salah satu dari kalian. Gantian, kok. Bukan berarti pilih kasih, tapi sekedar quality time berdua. ‘Kan butuh juga kita.” Iyalah. Ada kalanya berdua terasa lebih privat dan memudahkan seseorang untuk lebih terbuka. Lagipula, tidak semua orang bersifat ekstrovert.

Bayangkan waktu dan tenaga (termasuk pikiran dan perasaan) yang dapat kita hemat bila mau langsung fokus pada duduk permasalahan yang ada (sebenarnya), ketimbang terlalu terbawa emosi negatif. Bicara baik-baik tanpa ngelantur kemana-mana, menuduh yang bukan-bukan, hingga terlalu berkutat pada yang sudah lewat. Bukankah lebih baik demikian daripada membuat diri sendiri kelelahan, apalagi sampai bikin jengah semua orang?

benak ruby

sumber: ruangbenakruby.com

Please follow and like us:
error