Kebaya Goes To Unesco

291
Facebooktwitterpinterestlinkedinmail


Semua orang pasti mempunyai kenangan indah akan sosok ibu. Pelukan ibu yang hangat mengalahkan semua jenis obat-obatan manapun disaat sang anak sakit. Yang selalu kuingat akan sosok ibuku adalah wanita anggun, berkebaya rapi, rambut digulung dengan aroma harum rempah-rempah olahan tangannya.

Kebaya sudah diperkenalkan sejak dahulu kala. Berasal dari Bahasa Arab “Abaya“ yang berarti berpakaian. Kebaya sudah tidak asing lagi bagiku, bahkan ibu suka mendandaniku dengan kebaya pada setiap acara sekolah. Di sekolah guru pun mengenalkan sejarah ibu Kartini dengan kebaya putih dan renda cantiknya yang dikenal dengan Kebaya Kartini.

Kebaya menjadi salah satu identitas busana tradisional yang terus berkembang, mengikuti perkembangan dan kemajuan jaman. 

Sekarang kebaya malah terkesan modern, dipadu-padan dengan asesories sehingga tampil menarik dan dapat dipakai pada acara-acara formal.

Ibu Fanny Erlita Buana selaku Ketua Dharma Wanita Persatuan (DWP) KJRI Sydney mengajak masyarakat dan diaspora NSW untuk bersama-sama berpatisipasi dan mendukung program pemerintah dalam mewujudkan pelestarian kebaya sebagai warisan budaya melalui gerakan “Kebaya goes to UNESCO”, agar dunia perlu mengetahui dan mengakui bahwa kebaya adalah warisan budaya leluhur kita sejak dulu kala.

Maka pada tanggal 15 Februari 2023, ibu Fanny beserta semua pengurus DWP KJRI Sydney mengadakan acara sesi photo bersama para ibu dengan berbusana kebaya.

Mengambil lokasi di Opera House yang merupakan simbol Australia, khususnya Sydney. Bangunan unik kebanggaan Australia yang banyak menarik wisatawan ini adalah hasil karya arsitek Denmark Jorn Utzon. Mulai dibangun pada tahun 1959, diresmikan oleh Ratu Elizabeth pada 1973 dan akan merayakan HUT nya yang ke-50 pada bulan Oktober 2023 mendatang.

Untuk pengambilan sesi photo di lokasi ini ternyata tidak mudah, tidak bisa asal datang saja tapi butuh ijin khusus dari Opera House. KJRI pun melayangkan surat permohonan secara tertulis. Dengan berbekal ijin dan kondisi yang harus dipatuhi, yaitu hanya boleh 50 orang peserta dan diberi waktu selama 1 jam, sesi photo pun dilaksanakan.

Terbatasnya jumlah peserta membuat panitia harus dengan sabar menerangkan situasi dan meminta maaf karena tidak dapat menampung banyaknya peminat yang ingin bergabung.

Sehari sebelum acara, panitia mendapat telpon dari Opera House tentang perubahan jadwal menjadi jam 1 siang, yang seharusnya adalah jam 10.30. Dengan cepat panitia menyampaikan informasi perubahan tersebut kepada semua peserta.

Pada hari yang sudah ditetapkan, para peserta berkumpul dengan kebaya pilihan masing-masing. Photographer pun sudah stand by dengan sigap membidikkan kamera dari berbagai sisi. Walau berkebaya ternyata tidak membatasi gerak para ibu yang lincah dan luwes dalam berpose. Apalagi saat gaya bebas yang diiringi tawa gembira.

Walau sesi photo telah berakhir, banyak peserta yang masih berada disekitar lokasi untuk mengabadikan busana kebaya mereka di lokasi yang spesial ini.

Bersyukur bisa ikut berbaur di tengah para ibu cantik yang mengenakan busana kebanggaan yang beraneka warna. Model dan jenis kebaya pun berbeda di setiap daerah, ada yang dikombinasikan dengan batik dengan motif yang beraneka ragam sesuai dengan daerah dimana batik dibuat, merupakan ciri khas yang tidak dipunyai negara lain.

Batik handmade (Batik Tulis) sangat mahal karena dibutuhkan keahlian khusus dan memakan waktu lama untuk membuatnya. Keindahan, kehalusan batik merupakan karya seni yang belum tentu dipunyai semua orang.

Mencintai kebaya, pakaian khas negara seperti halnya mencintai budayanya menunjukkan jati diri dimana kita berasal. Kebaya tidak saja menjadi salah satu jenis pakaian tapi memiliki makna tersendiri. Bentuknya yang sederhana mencerminkan kesederhanaan masyarakat Indonesia dan tindak tanduk wanita Indonesia yang lemah lembut.

Moment ini adalah bentuk partisipasi dan berperan sebagai Duta Bangsa. Walau sudah lama berdiam di Australia, rasa cinta dan bangga pada Budaya Indonesia tidak pernah pudar.

Terima kasih ibu Fany Buana dan semua pengurus DWP KJRI Sydney yang melibatkan kami dalam acara ini. Semoga moment seperti ini akan sering diadakan sehingga adat dan budaya kita tidak luntur. Mungkin kedepannya bisa membuat acara lebih besar dengan melibatkan generasi muda.

Adalah tanggung jawab kita dimanapun kita berada untuk mencintai budaya Indonesia yang merupakan salah satu kekayaan bangsa Indonesia yang harus dijaga dan dipertahankan dan dilestarikan agar tidak diakui bangsa lain. Perlunya mengenalkan kebaya kepada generasi muda, agar mereka bisa menghargai, bangga dan merasa memiliki Budaya leluhurnya.

Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan sejarahnya. [IM]

Nun jauh Diana
Di Lembah Tanah air ku
Melambai Bunga sekuntum
Berseri mewangi menghiasi ibu
Nun jauh risana

Dilembah danau nan hijau
Membisik hatiku mengapa dirantau

Oleh Yoen Yahya

Previous articleMemaksimalkan Potensi Nilai Jual Properti Anda
Next articleStrategi Baru Untuk Membantu Memandu Penempatan Pengungsi Dan Pencari Suaka Di Masa Depan