Jangan Lupa Bahagia: Pertanyaan Sejuta Dollarnya Adalah “What Is Happiness?”

675
Facebooktwitterpinterestlinkedinmail


Pertanyaan “apa sih bahagia?” memang terdengar aneh, tapi kalau dipikirkan dalam-dalam, kita semua bingung juga menjawabnya. Ya, nggak? 

Kita pikir, bahagia adalah bahagia. Sebuah perasaan menyenangkan. Hati berbunga-bunga. Bibir senyum dan tertawa. Mata berbinar… Ya, itu adalah ekspresi bahagia.

Namun, ditilik dari keilmuan, bahagia jauh lebih complicated. Adalah tugas para ahli untuk mencari definisi yang tepat untuk sebuah kata agar kita, orang biasa ini, nggak sembarangan memakai kata dan kemudian bingung. Ini bahagia atau senang, ya? Bahagia atau puas, ya? Bahagia atau suka, ya? Bahagia atau penuh makna, ya? Aduh, ribet memang. 

Lalu, apa artinya mencari tahu arti kata bahagia, sih? Begini, kebahagiaan atau bahagia jelas memiliki peran yang sangat sangat-sangat penting dalam hidup kita. Bahkan, dampaknya luarbiasa pada cara kita hidup! Siapa yang nggak mau bahagia? Yang pasti, meskipun mereka, para ahli dengan teliti dan tekun melakukan riset mendalam soal bahagia (yap, ada banyak orang cerdas melakukannya, percaya atau tidak), mereka belum memiliki kata sepakat 100% soal definisi bahagia.

Namun demikian, ada, dong, hasil dari penelitian selama puluhan tahun ini soal memberikan perbedaan yang signifikan untuk bahagia dari suka, puas, senang, dan perasaan menyenangkan lainnya. Nah, apa saja yang mereka telah temukan? You wouldn’t believe it!

Definisi Menurut Kamus Oxford English Dictionary (OED)
Pertama-tama, mari kita cek definisi bahagia di kamus ini supaya kita memiliki pengertian yang sama tentang kebahagiaan. Menurut OED, definisi “happiness” ternyata ringkas saja: “The state of being happy” atau dalam kondisi bahagia.

Saking ringkesnya, mari kita lihat lagi definisi OED tentang “happy” yang ternyata lebih detail: “perasaan atau ekspresi senang atau utuh.” Nah, lebih baik, bukan? Dengan demikian, kita bisa menarik asumsi seperti ini: kebahagiaan adalah kondisi perasaan atau ekspresi senang atau utuh.

Dari definisi ini, kita bisa mendapatkan beberapa poin penting tentang bahagia:

1. Bahagia adalah kondisi, bukan sifat. Dengan kata lain, sifatnya nggak bertahan lama, datang dan pergi.
2. Bahagia disamakan dengan perasaan senang atau utuh, artinya bahwa bahagia nggak bisa disamakan dengan sukacita, gairah, nikmat, atau perasaan intens lainnya.
3. Bahagia bisa dirasakan atau ditunjukkan, artinya bahwa bahagia nggak serta merta merupakan pengalaman internal atau eksternal, tapi bisa jadi keduanya.

Setelah mendapatkan tiga poin di atas, kita jadi lebih punya pegangan yang lebih baik soal apa sih bahagia. Minimal, definisi bahagia yang dimaksud OED. Namun begitu, definisi ini bukan harga mati, lho. Seperti yang telah disinggung di atas, makna bahagia masih belum diaminkan bersama.

Menurut Psikologi Positif
Makna bahagia di dalam Psikologi Positif juga tergantung dari siapa yang kita tanya. Di dalam riset ilmu ini, bahagia punya nama yang lebih mirip kode, yaitu SBW atau subjective wellbeing.

Beberapa ahli percaya kalau bahagia adalah komponen inti SWB, sementara yang lain malah percaya kalau bahagia adalah SWB itu sendiri. Terlepas dari itu, kita akan sering menemukan SWB dipakai sebagai singkatan bahagia dalam literatur.

Dan, bicara tentang literatur, kata SBW ini dipakai di mana-mana. Pencarian dengan Google untuk kata “kebahagiaan” memberikan lebih dari 2 juta hasil (per 6 Januari 2019). Lebih lanjut, pemindaian atas kata yang sama pada dua basis data online psikologi terbesar (PsycINFO and PsycARTICLES) memberikan hasil 19,139 hasil, baik yang bersifat akademik, jurnal, buku, disertasi, dan lainnya.

Hmmm, memangnya sesulit itu ya mendefinisikannya secara keilmuan?
Dengan banyaknya pendapat tentang bahagia, tak heran jika bahagia sedikit rempong untuk dijelaskan secara sains. Soalnya, masih ada ketidaksepakatan di antara para ahli di bidang “bahagia” ini tentang makna sebenarnya bahagia.

Menurut peneliti Chu Kim-Prieto, Ed Diener, dan kolega (2005), ada tiga cara utama untuk menjelaskan bahagia dalam psikologi positif:

1. Kebahagiaan adalah penilaian global kehidupan dan aspek-aspeknya
2. Kebahagiaan adalah kumpulan pengalaman masa lalu
3. Kebahagiaan adalah agregat reaksi emosional yang terjadi lebih dari sekali sepanjang waktu (Kim-Prieto, Diener, Tamir, Scollon, & Diener, 2005).

Walaupun pada umumnya mereka semua sepakat bahwa bahagia ada rasanya–puas dengan hidup, in a good mood, emosi positif, senang, dll.–para peneliti ternyata menemukan kesulitan untuk sepakat ruang lingkup bahagia itu sendiri.

Namun demikian, karena kita semua bukan peneliti atau yang hobi berpikir kompleks dan rumit, cukuplah bagi kita untuk berpegang pada definisi OED dan psikologi positif: bahagia adalah kondisi yang memiliki ciri-ciri merasa utuh dan kepuasan secara umum dalam sebuah situasi yang tengah berlangsung.

Nikmat vs. Bahagia
Hubungan yang dekat antara nikmat dan bahagia membuat kita bertanya-tanya gimana, sih, cara membedakannya? Apalagi, menurut OED, definisi bahagia adalah “sedang dalam perasaan nikmat!”

Hubungan keduanya yang begitu dekat memang membingungkan, dan kita sering memakai dua kata ini secara bergantian, tentunya di luar literatur. Namun, sains psikologi positif melihatnya berbeda, dan penting buat kita membedakan kedua kata ini.

Kebahagiaan, seperti yang dijelaskan di atas, adalah keadaan yang ditandai oleh perasaan utuh dan puas dengan kehidupan seseorang atau situasi yang sedang terjadi. Pada sisi lain, kenikmatan lebih intim, dan terjadi pada suatu waktu. Hal ini lebih mengacu pada perasaan berbasis indera yang kita dapatkan dari pengalaman, seperti makan enak, dipijat, dipuji, atau berhubungan seks.

Kebahagiaan, meski nggak permanen, lebih stabil daripada kenikmatan. Kebahagiaan biasanya bertahan lebih lama daripada beberapa saat saja, sedangkan kenikmatan dapat datang dan pergi (Paul, 2015).

Kenikmatan berkontribusi pada kebahagiaan, dan kebahagiaan, dapat memperkuat atau memperdalam perasaan nikmat itu sendiri. Keduanya bisa juga berdiri sendiri-sendiri. Contohnya, kita bisa merasa bahagia karena niat dan hubungan yang tidak ada hubungannya dengan kenikmatan. Atau, kita bisa merasa nikmat meski sedang berjuang rasa bersalah karenanya–dan tidak bahagia di waktu yang sama.

Kebahagian vs. Niat
Kebahagiaan dan niat bahkan lebih berbeda lagi satu sama lain. Jarang sekali kebahagiaan dan niat saling menggantikan, karena memang keduanya menjelaskan dua pengalaman yang berbeda.

Manusia mungkin mirip dengan banyak mahluk lainnya dalam hal mencari kebahagiaan. Namun, pencarian akan niat adalah bagian terpenting yang membuat kita manusia, dan membuat kita unik karenanya. (Roy Baumeister et al. (2013))

Tidak seperti kebahagiaan, niat bukan kondisi datang dan pergi sepanjang hari. Niat lebih merupakan perasaan yang menyeluruh akan tujuan dan perasaan dalam berkontribusi terhadap sesuatu yang lebih besar dari diri kita.

Kutipan Baumeister dan kolega (2013) menyiratkan, ada perbedaan jelas antara metode mencari dan manfaat merasakan bahagia dan niat. Scott Barry Kaufman di Scientific American (2016) menggarisbawahi perbedaan-perbedaan ini yang diteliti oleh Baumeister dan rekan-rekannya dan menemukan perbedaan keduanya, yaitu:

1. Mengetahui hidup seseorang mudah atau sulit berhubungan dengan kebahagiaan, bukan tujuan
2. Merasa sehat dihubungkan dengan kebahagiaan, bukan niat
3. Merasa senang dihubungkan dengan kebahagiaan, buat tujuan
4. Kurang uang mengurangi kebahagiaan daripada niat
5. Orang dengan kehidupan yang lebih bermakna setuju bahwa “hubungan lebih penting daripada pencapaian”
6. Menolong orang dalam kesulitan dihubungkan dengan niat, bukan kebahagiaan
7. Berharap bisa berpikir lebih dalam secara positif berhubungan dengan pemaknaan, tapi secara negatif dengan kebahagiaan.
8. Kebahagiaan lebih berhubungan dengan menjadi penerima daripada pemberi, sementara niat lebih berhubungan menjadi pemberi daripada penerima
9. Semakin banyak orang merasa kegiatannya konsisten dengan tema utama dan nilai mereka, semakin besar niat yang mereka laporkan dalam kegiatan mereka
10. Melihat orang lain bijak, kreatif, atau bahkan gusar semuanya berhubungan dengan niat, tapi tidak memiliki hubungan (dan dalam beberapa kasus, bahkan menunjukkan hubungan yang negatif) dengan kebahagiaan (Kaufman, 2016).

Asal Muasal Kebahagiaan
Menurut Etymology Online, akar kata “happy” dalam bahasa kebanyakan bangsa berasal dari kata “lucky.” Hal ini menyiratkan tren yang menarik–mungkin leluhur kita percaya bahwa kebahagiaan adalah produk dari keberuntungan.

Hal itu juga menunjuk pada kemungkinan perbedaan opini umum antara generasi sebelumnya dan generasi kita di abad 20 dan 21: bahwa kebahagiaan bukanlah faktor vital dalam kehidupan yang baik, tapi bonus yang sangat penting jika ada orang-orang yang mengalaminya.

Darrin McMahon menulis tentang asal dan akar kata “happiness:”  “Adalah sebuah fakta yang nyata bahwa di setiap bahasa Indo-European, tak terkecuali, kembali ke Yunani kuno, kata “happiness” terhubungan dengan kata “luck”. “Hap” adalah akar bahasa Norwegia Tua dan Inggris Tua untuk “happiness”, dan artinya adalah “luck” atau “kesempatan”, seperti halnya bahasa Prancis Tua “heur”–yang memberikan kita kata “bonheur”, yang berarti peruntungan baik atau kebahagiaan. Bahasa Jerman memberikan kita kata “gluck”, yang artinya masa kini adalah “happiness dan chance.” (McMahon, 2006)

Psikologi di Balik Kebahagiaan Manusia
Nah, kini kita sudah tahu apa itu kebahagiaan. Saatnya kita menggali lebih dalam. Apa yang dikatakan psikologi tentang kebahagiaan?

Ada banyak teori yang berbeda tentang kebahagiaan, tapi umumnya jatuh ke dalam dua kategori berdasarkan bagaimana keduanya dikonsepsikan:

1. Kebahagiaan hedonis adalah kebahagiaan yang terjadi saat mengalami kenikmatan dan kurangnya rasa sakit.
2. Kebahagiaan eudaimonis terjadi sebagai hasil pencarian dan pencapaian tujuan hidup, niat, tantangan, dan pertumbuhan pribadi. Kebahagiaan didasari dengan meraih potensi dan berfungsi penuh. (AIPC, 2011).

Beberapa teori melihat kebahagiaan sebagai by-product lainnya, lebih penting penting mengejar cita-cita, sedangkan lainnya melihat kebahagiaan sebagai tujuan akhir umat manusia. Beberapa teori menyatakan mengejar kebahagiaan sia-sia (meskipun mengejar pengalaman dan perasaan penting lain bisa memberikan kebahagiaan yang lebih besar), dan beberapa berasumsi bahwa kebahagiaan dapat dengan sengaja ditingkatkan atau diperkuat.

Meskipun secara detail berbeda, teori-teori ini sepakat pada beberapa poin:

1. Bahagia itu baik, dan orang suka menjadi bahagia
2. Bahagia bisa pergi, dan bersifat sementara
3. Minimal beberapa bagian kebahagiaan kita diatur oleh genetika, jumlahnya sekitar 10% sampai 50%
4. Mengejar dan mendapatkan kesenangan jarang mendapatkan kebahagiaan
5. Ada banyak sumber yang berkontribusi atau membangun kebahagiaan (AIPC, 2011).

Sumber-Sumber Sejati Kebahagiaan
Mengambil semua beragam teori dan penemuan atas kebahagiaan, kita tahu bahwa minimal ada beberapa faktor yang sangat penting untuk kebahagiaan menyeluruh:

1. Pendapatan individual
2. Status pasar pekerja
3. Kesehatan fisik
4. Keluarga
5. Hubungan sosial
6. Nilai-nilai moral
7. Pengalaman emosi-emosi positif (AIPC, 2011).

Faktor tersebut di atas dapat berkontribusi pada kehidupan yang bahagia, tapi peneliti telah menemukan bahwa hubungan yang baik adalah unsur yang teramat sangat penting (Waldinger & Schulz, 2010).

Saat kita bahagia dalam hubungan yang paling penting (biasanya dengan pasangan atau orang terpenting lain, anak-anak dan/atau orang tua, keluarga dekat lain, dan teman dekat), kita cenderung lebih bahagia.

Kita memiliki semacam kontrol bagaimana hubungan kita berlangsung, sehingga membawa kita pada pertanyaan yang menarik dan penting: bisakah kita meningkatkan kebahagiaan.

Bisakah Bahagia Dipelajari?
Jawabannya, berdasarkan banyak penelitian, adalah YES! Kita bisa memelajari cara untuk lebih bahagia.

Sampai ke tingkat mana kita bisa meningkatkan kebahagiaan tergantung dari banyak banget teori yang bisa kita ambil, tapi nggak ada satu pun teori yang benar-benar dapat membuktikan seorang individu tidak bisa meningkatkan kebahagiaannya. Untuk meningkatkan kebahagiaan kita secara menyeluruh, metode paling efektif adalah melihat daftar sumber di atas berupaya mengembangkan kualitas pengalaman di tiap sumber itu.

Contoh, kita bisa berupaya meningkatkan upah kerja, kesehatan, membangun dan menjaga hubungan yang berkualitas tinggi, dan kesemuanya itu, mencari cara untuk tetap memelihara perasaan positif sehari-hari. Itu artinya kita memiliki akses dasar keamanan dan persamaan sosial.

Mengapa Kebahagiaan Sangat Penting?
Kita mungkin bertanya-tanya mengapa kebahagiaan dianggap sebagai sebuah aspek penting kehidupan, karena ada banyak aspek lain yang tak kalah penting untuk membangun kehidupan yang bermakna.

Dalam beberapa cara, sains akan sepakat dengan kita. Tampaknya, kepuasan hidup, niat, dan kesehatan secara menyeluruh dapat dihubungkan dengan kebahagiaan, tapi kebahagiaan tidak selalu menjadi satu-satunya tujuan dalam hidup.

June Silny di Happify menggarisbawahi 14 jawaban atas pertanyaan, “Apa, sih, hebatnya jadi bahagia?”

1. Orang bahagia lebih sukses dalam beragam bidang kehidupan, termasuk pernikahan, pertemanan, pemasukan, performa bekerja, dan kesehatan.
2. Orang bahagia lebih jarang sakit dan lebih sedikit menderita gejala saat sakit.
3. Orang bahagia lebih banyak teman dan sistem pendukung.
4. Orang bahagia mendonasi lebih pada amal.
5. Orang bahagia lebih suka menolong dan cenderung jadi relawan.
6. Orang bahagia lebih mudah mengatur waktu menjalani hidup karena optimisme meringankan penderitaan, kesedihan, dan kedukaan.
7. Orang bahagia memiliki pengaruh positif pada orang lain dan mendorong mereka untuk mencari kebahagiaan juga.
8. Orang bahagia bercakap-cakap lebih dalam dan bermakna.
9. Orang bahagia lebih sering tersenyum, yang bermanfaat pada kesehatan.
10. Orang bahagia berolahraga lebih sering dan berpola makan lebih sehat.
11. Orang bahagia, bahagia dengan apa yang mereka punya daripada iri dengan kepunyaan orang lain.
12. Orang bahagia lebih sehat sepanjang tahun dan lebih lama.
13. Orang bahagia hidup lebih lama daripada mereka yang tidak.
14. Orang bahagia lebih produktif dan kreatif, dan efek ini “menginfeksi” mereka yang bekerja sama dengan mereka.

Hubungan Antara Kesehatan Mental dan Kebahagiaan
Mungkin kita sudah bisa berasumsi dari daftar di atas bahwa ada hubungan 

yang sangat kuat antara kesehatan mental dan kebahagiaan! Saat orang bahagia lebih sehat, memiliki hubungan yang lebih baik, berteman lebih mudah, dan mendapat sukses lebih besar, mudah untuk melihat mengapa kebahagiaan dan kesehatan mental berhubungan.

Sumber-sumber yang berkontribusi pada kebahagiaan ternyata sama dengan yang menyediakan orang perlindungan melawan penyakit mental yang menjelaskan hubungan erat keduanya

Sebuah penelitian terbaru mengeksplorasi hubungan antara kebahagiaan dan kesehatan mental pada mahasiswa dan menemukan bahwa korelasi yang cukup kuat dan sehat menghubungkan dua faktor (Shafiq, Nas, Ansar, Nasrulla, Bushra, & Imam, 2015). 

Kuatnya hubungan antara kesehatan mental dan kebahagiaan cukup menjadi alasan membuat kebahagiaan prioritas penting bagi orang tua, pendidik, peneliti, dan pekerja medis, sekaligus fakta bahwa kita semua senang merasa bahagia! [IM]

 

Happiness: Your Say…

Apa kata Indo-Sydneysiders tentang definisi bahagia

 

Yoen Yahya

Semua orang sudah pasti memimpikan kebahagiaan dalam hidupnya. Bahkan banyak yang bersedia mengeluarkan biaya fantastis untuk mendapatkan kebahagiaan. Contoh: merasa tidak bahagia karena tidak mempunyai wajah sempurna sehingga melakukan operasi plastik. Masih tetap tidak puas karena menemukan sisi lain yang tidak membahagiakan. Begitu seterusnya.

Buatku, bahagia itu sederhana. Setiap hari kucatat beberapa hal, bahkan sekecil apa pun, yang membuatku bahagia. Masih diberikan oleh Allah kesempatan bangun pagi, dikelilingi keluarga yang kucintai. BerSilaturahmi dengan teman. Masih bisa membantu saudara yang terkena musibah. Semuanya kusyukuri. Walau tidak seindah yang diharapkan, nikmati saja dan ambil sisi baiknya. Selalu berpikir positif. Jadi, bahagia buatku adalah selalu bersyukur dengan apa yang kupunya. Mencintai diri sendiri apa adanya dan memaklumi bahwa aku manusia biasa yang tidak sempurna. I am happy with myself. It’s an awesome feeling.

 

Yan Wang

Happiness itu adalah menikmati
apa yang kita telah miliki baik itu berupa fisik ataupun materi.

 

 

Ang 

Happy, ya, perasaan lega dan cukup. Saya happy karena merasa lega bisa tahu masih sehat, makan cukup, tidur nyenyak, bisa kontrol pikiran. 

Happy nggak perlu tunggu waktu yang baik karena setiap waktu itu semestinya bisa happy walau keadaan kurang baik.  Sebelum happy, kita harus bisa merasa bersyukur dulu. Orang tidak bisa merasa happy kalo dirinya tidak merasa lega dan cukup dan jauh dari ucapan syukur.

 

Ethan Hanz 

On my 10th Birthday, I shaved my head bald and raised $222 for Children’s Cancer Foundation. It makes me sad having to know that the sick children doesn’t get to do the things that I can do. So for me, happiness is when I can help people in need.

 

 

Mario

Buat gue, bahagia adalah sebuah perasaan yang sangat sulit diungkapkan atau diceritakan. Maksud gue, Kita bisa menceritakan alasan mengapa kita bahagia, tapi sangat susah untuk mengurai rasa bahagia itu sendiri. Bahagianya setiap orang juga berbeda. Ada yang mengatakan bahagia nggak bisa dibeli pakai uang, tapi ada juga yang bilang buat bahagia itu butuh uang.

Bahagia juga bisa didapat dari kepuasan hati dengan memberi, berkorban dengan ketulusan hati, atau melihat orang lain sedang berbahagia. Tetapi, ada juga orang yang mendapatkan kebahagiaannya dengan cara memuaskan egonya, memamerkan harta bendanya, bahkan ada juga orang yang berbahagia saat melihat orang lain susah.

Bahagia juga terkadang memerlukan pengorbanan. Seperti orang tua yang mengorbankan tenaga dan waktu untuk bekerja agar bisa membahagiakan anak dan keluarganya. Atau seperti suami istri yang harus mengorbankan egonya masing-masing untuk menemukan titik kebahagiaan di dalam pernikahannya.

Bahagia akan terasa kurang jika tidak disertai rasa bersyukur. Ibarat kita hanya bisa makan nasi tanpa lauk, kita tidak akan bahagia jika kita tidak mensyukuri nasi yang kita punya.

Jadi menurut gue, bahagia itu adalah sebuah perasaan yang dapat dirasakan dengan cara yang berbeda-beda dan dari akibat yang berbeda pula. Bahkan, dari hal simpel sekalipun. Seperti ketemu temen, terus ngobrol sampe ketawa-ketawa, tapi juga harus disertai dengan rasa bersyukur.

 

Wan Ho 

Kebahagiaan adalah waktu aku bisa menerima dan bisa bersyukur dengan keadaan/keberadaan yang aku punya. Ukuran dan jumlah yang aku punya mungkin belum sesuai dengan apa yang aku idamkan. 

Dan, pasti berbeda dengan patokan ukuran orang lain. Tapi, aku menerima, merasa cukup dan aku bisa bersyukur pada Tuhan karena Dia yang sudah mengatur semuanya dan Tuhan lebih tahu apa yang terbaik buat aku dan yang aku perlukan.

 

Weddy Rhamdeny

Kebahagiaan bagiku adalah ketika kondisi hati/emosiku merasa senang, puas, dan penuh rasa syukur. Kebahagiaanku yang hakiki kuraih saat aku mengenali diriku, Tuhanku, dunia, serta akhirat. 

Kebahagianku juga bisa menghadirkan rasa gembira, puas, dan merasa hidupku bermanfaat untuk dapat membantu orang lain. 

 

 

Alib

Kebahagiaan sejati adalah apabila kita bisa menolong orang yang perlu ditolong tanpa orang itu tahu kita menolongnya.

Lily 

Kebahagiaan saya adalah ketika setelah operasi, papa saya memiliki semangat yang luar biasa untuk cepat sembuh. Papa memiliki semangat untuk hidup dan penuh dengan kasih. Thanks 

God you are so amazing in the end of this year. Happiness is when u feel grateful and enough for what you have. Happiness is also when you don’t compare your blessing to others.

 

Previous articleIndonesia Menggandakan Komitmennya untuk Meningkatkan Kemitraan dengan Pasifik
Next articlePemerintah NSW Akan Melarang Adu Penawaran