Eric Chang, Seniman Green Wall

649
Facebooktwitterpinterestlinkedinmail


Belajar Engineering, tapi menyimpan passion di perkebunan, membuat pria ini banting stir ke dunia hijau-hijau meski bergelar insinyur. Di tangannya, dinding-dinding menjadi hijau dengan sentuhan artistik yang tinggi. Kenalan yuk dengan holtikulturis yang juga pernah diwawancarai ABC Australia ini.

Pak Eric sudah berapa lama bekerja dalam bidang perkebunan? Bisa cerita sedikit tentang perjalanan menjadi seorang landscape artist spesialisasi pembuatan green wall?
Sebenarnya, kalau ditotal sudah 20 tahunan. Asal mulanya, saya sekolah waktu itu di TAFE. Saya ambil horticulture sambil kerja. Awalnya, apa juga dikerjain – dorong lawnmower dan lain-lain. Pokoknya, semua harus bisa, karena TAFE itu buat skill.

Nah, saya memang dari dulu suka berkebun, meskipun latar belakang saya sebenarnya adalah engineering, tepatnya Chemical Engineering dari UNSW. Nah, dari sana saya kerja, terus merasanya kurang cocok. Polusi lingkungannya dari mesin. Akhirnya, karena suka berkebun tadi, saya teruskann kariernya. Di sini (Australia) kan harus ada kualifikasi, jadi saya ambil lagi kualifikasi.

Baru-baru ini saya berpikir mau spesialisasi. Dulu, company saya namanya Greenscape. Sekarang saya mau lebih spesial ke wall garden, jadi namanya Greenwallscape. Ibaratnya mau create urban green gitu, lho. Kita lihat, belakangan ini bees juga berkurang, ya. Padahal, mereka berguna untuk pollinate bunga menjadi buah. Karena semakin berkurang, jadi lama-lama akhirnya nggak ada lanjutan. Nah, itu penting. Selain itu, karena melihat kebutuhan market di green wall, saya mau lebih spesialisasi di wall garden.

Pak Eric asal darimana? Apa alasan pindah ke Sydney dulu?
Saya sebenarnya asal Jakarta. Setelah selesai SMA, saya pindah ke Sydney untuk  meneruskan sekolah. Ya, keterusan sampai sekarang masih di sini. Jadi, sudah lama ya. Sudah kayak rumah kedua begitu. Meski begitu, saya masih senang bolak-balik ke Indonesia, khususnya di Bali karena dari dulu saya memang suka Bali. Kalau pulang, udah nggak ke Jakarta lagi, soalnya saudara-saudara nggak di Jakarta, kebanyakan di Amerika. Karena jauh, jadi kami sering ketemunya di Bali. Netral. Jadi, semua orang bisa jalan-jalan. Rencananya, saya long-term juga mau tinggal di Bali-Sydney. Bolak-balik dua itu saja.

Di Bali, Bapak paling senang tinggal dimana?
Dulu, waktu pertama, saya paling suka Legian. Saat itu jaman kuliah, masih ABG. Dulu, belum ada hotel. Masih pantai, masih natural. Kalau sekarang, sukanya banyak, kayak Uluwatu yang masih seperti zaman Legian 20 tahun yang lalu.

Bapak kenapa akhirnya memutuskan untuk tetap di Sydney?
Karena sudah terbiasa, mungkin. Sudah biasa sendiri. Di sini juga lebih ada freedom untuk berkarya. Saya bisa mengembangkan sisi artistik saya di bidang lanskap. Ya, memang kalau dibandingkan di Indonesia, memang mungkin pasarnya lebih besar di Indonesia. Di sini sudah tersegmen saja. Kompetisi lebih banyak, jadi harus ada spesialisasinya. I try to be competitive, but people will pay for quality. Here, if you undersell yourself, people will think you’re not doing a good job. In the end, people are happy if you’re doing a good job, and they will be willing to pay more for quality.

Apakah maintenance termasuk dalam service Greenwallscape?
Ya, termasuk untuk clients kami. Kami melakukan maintenance untuk memastikan desain dan konsepnya tetap sama. Umpamanya, pohonnya yang tadinya mau bulat, kalau nggak di-maintain, jadi big tree yang nggak ada bentuknya. Untuk green wall skala kecil, kira-kira beberapa bulan sekali di-maintain, karena sistem irigasinya itu sudah otomatis. Maintenance hanya untuk make sure the irrigation is working correctly, and so on.

Saat diwawancara oleh ABC Gardening Australia, Bapak pernah menyebutkan pengaruh suasana Bali ke desain-desain Bapak. Mungkin bisa cerita sedikit tentang itu?
Yeah, I like tropical feels, you know? And, I think because of my background, saya juga sering mendapat client yang suka tropical feels. Kalau di rumah, saya create yang saya suka, yaitu tropical with all the palm trees and the sounds of water. Tapi, untuk clientI create whatever they like, my design is not limited to tropical and I also do formal designs. Untuk green wall, you can also do native style, dengan tanaman-tanaman asli Australia. Tapi, itu seringkali harus outdoors karena tanaman asli Australia biasanya lebih bisa tumbuh di outdoors. 

Apa proyek yang paling unik yang Pak Eric pernah kerjakan?
Sekitar 12 tahun yang lalu saya dapat proyek di Lombok. Klien yang ingin desain villa, jumlahnya sekitar 20 villa. That was very interesting! Mereka suka Bali-style, dan lokasi villa di Lombok yang kering. It was very dry, above the hills. Jadi, saya create kayak rice field, yang saya desain pakai grass, a lot of types of grass.

And big, massive plantings of grass. Jadi, kalau mereka jalan ke villa, rasanya seperti jalan di Ubud. Dan, di vilanya sendiri saya pakai banyak green wall. Karena tanahnya mahal di Lombok, jadi semua pakai green wall. So, you feel like you’re in a lush forest somewhere in Bali. Saya, sih, hanya terlibat dalam bagian desain. Soalnya, kejauhan kalau harus do the supervision on the construction. 

Apa yang Pak Eric paling kangen sama Indonesia ketika sedang di Australia?
Duren ha ha ha. Di sini nggak ada duren yang enak, adanya frozen, terus bawa pulang mau makan masih frozen. Pas saya balik ke Indo, tiap hari makan duren ha ha ha. 

Ketika Pak Eric baru pindah ke Australia, challenges apa yang Bapak hadapi?
Challenges When I first moved here not much I think, I straightaway loved the lifestyle, cause I like the outdoor sports. Saya dulu tinggalnya di Coogee, by the beach. Jadi, tiap kali sebelum ke uni, saya selalu berenang dulu di pantai.

I think when I first got here, Asians are not very welcome. That’s the challenge. Saya dulu masih experience racism, kayak people lempar telur. Tapi, sekarang sudah berubah kayaknya. So, that’s a good thing. Sekarang Asianya sudah lebih banyak, so we feel like it’s safe. Dan, kayaknya, I think komunitas Indo itu penting sekali, so we can look out for each other and support each other. [IM]

Previous articleThe Sailor Woman Ika Permatasari-Olsen
Next articleRazer Wolverine V2 Pro Controller