Ayu Soetopo ‘Pemberdaya Perempuan Pengusaha Mikro Indonesia’

467
Facebooktwitterpinterestlinkedinmail


Tidak terbilang pengalaman kerjanya, seiring perjalanan hidup, perempuan hebat ini memilih untuk bergabung di perusahaan yang punya social cost terhadap pemberdayaan perempuan. Daya pikir dan imajinasinya kini membantu jutaan perempuan Indonesia. Mari bergabung dengan langkahnya!

Pemberdayaan perempuan adalah upaya nyata dalam memberikan akses dan kontrol terhadap sumber daya, ekonomi, politik, sosial, budaya, agar perempuan dapat mengatur diri untuk mampu berperan dan berpartisipasi aktif dalam memecahkan masalah agar mampu membangun kemampuan dan kesejahteraan bagi diri dan keluarga. Pemberdayaan perempuan merupakan sebuah proses sekaligus tujuan.

Ini adalah perjalanan terbaru dari Ayu Soetopo sebagai Head of Marketing, Branding & Communications di AMAAN yaitu platform digital syariah yang menghadirkan layanan keuangan dan non-keuangan untuk mewujudkan mimpi besar perempuan pengusaha mikro di Indonesia. Sebelumnya, pemegang predikat MBA dari Macquarie University (Sydney) ini malang melintang di lintas industri seperti Panasonic, LG, Samsung, XL Axiata, DBS Bank, ADA. Dirinya selalu bernyali menantang perubahan iklim bisnis yang turun naik.

Keterbatasan dari para perempuan pengusaha mikro adalah kanvas yang digeluti oleh Ayu setiap hari. Melalui data lapangan yang dikurasi bersama tim, maka cakupan dorongan yang disiapkan oleh startup-nya memiliki pengaruh yang optimal secara berkala. 

“Akses terhadap modal dan pasar adalah sesuatu yang pelik bagi customer kami. Mereka tidak punya kolateral bila harus meminjam uang ke Bank dan kami hadir di titik tersebut memberikan pinjaman produktif dan berbagai pelatihan untuk meruncingkan kemampuan berwirausaha,” jelas penyuka musik rilisan 88Rising ini.

Angka pengguna AMAAN tercatat telah melewati angka 1 juta perempuan di 6 provinsi di
Indonesia yaitu Sumatera Selatan, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur dan DKI Jakarta. Melalui beberapa program yang diaplikasikan, Ayu melihat bahwa perempuan pengusaha mikro berusia 20-55 tahun sangat dinamis menjalani konsep kerjasama yang ditawarkan.

“Kami berusaha membesarkan kapasitas mereka untuk mengoperasikan aplikasi digital untuk memproses kebutuhan kerjasama. Ada 4 dompet yang kami siapkan sebagai langkah pengaturan keuangan yaitu Makan Harian, Angsuran, Modal Besok Hari dan Tabungan Masa Depan,” tutur Ibu dari 4 orang anak ini.

Dalam menyelesaikan target kerjanya, Ayu memastikan bahwa eksekusi branding harus terokestrasi dengan baik dari hulu ke hilir. Turunan dari brand key message dan brand value harus terbingkai sesuai dengan service excellence yang dipancang prolifik di lapangan, begitu juga dengan perihal komunikasi pemasaran dan korporat yang sejalan.

“Banyak persoalan baru yang kami temui dan akhirnya menjadi pelajaran untuk bertumbuh dan semakin dekat dengan customer. Kami selalu menganalisa perkembangan dan punya harapan untuk menjadi solusi utama dalam perihal pemberdayaan perempuan di Indonesia,” tutup Ayu penggemar lalapan khas Indonesia. [IM]

Penulis: Aldo Sianturi
Photo: Pribadi

Previous articleVoucher Back to School Premier NSW Siap
Next articleCarla Wijaya: Content Creator dan Communications Professional