Coober Pedy

104
Facebooktwitterpinterestlinkedinmail


Surga Opal Di Tengah Gurun

Berjuluk “Opal Capital of the World”, kota ini terletak di tengah padang gurun dan para penduduknya tinggal di bawah tanah. Sounds dystopian yet? Ayo, kita jelajahi kota unik ini.

1. Why Coober Pedy?
Coober Pedy sendiri diambil dari bahasa Aboriginal “Kupa Piti” yang berarti “white men down holes”! Kota kecil yang terletak 845 km dari Adelaide ini memang kota pertambangan opal. Jadi, bisa dibilang, nama kota ini adalah deskripsi keanehan yang dilihat orang-orang aboriginal ketika melihat orang kulit putih mulai menggali kali, ya… hahaaha. Sebelum diganti menjadi Coober Pedy pada tahun 1922, kota ini disebut Stuart Range.

2. Why live there?
Hanya ada satu alasan mengapa orang tinggal di kota yang terletak di tengah antah berantah ini: pertambangan opal. Dulu, kawasan ini merupakan tempat tinggal Arabana people. Opal sendiri baru ditemukan oleh Wille Hutchison pada tanggal 1 Februari 1915 dan pertambangan baru dimulai di tahun berikutnya. Sekarang pun, 60% penduduk disana adalah orang dari luar negeri dengan mayoritasnya orang Yunani dan Italia. Menariknya, opal hanya ditambang oleh penduduk lokal dan tidak dikuasai oleh perusahaan besar.

3. Why Opal?
Mundur sedikit. Memangnya opal ini seberharga apa, sih? Birthstone bagi mereka yang lahir di bulan Oktober, gemstoneyang cantik khas dengan warnanya yang bergradasi ini merupakan salah satu yang paling popular untuk perhiasan. Biasanya, gem ini diberikan pada ulang tahun pernikahan ke-14 tahun. Opal sendiri dibagi dua: common opal dan precious opal. Jadi, secara harga pun sangat tergantung dengan warna dan kualitas opal itu sendiri. Opal yang paling langka, disebut juga “Fire of Australia”, diberi nilai sebesar $675,000. Tapi, biasanya, sekitar $10 – $6,000 per karatnya. Fun Fact: Australia menguasai 90% opal market dunia, lho!

4. Why live underground?
Oke, pertambangan opal, keren. Tapi, kenapa juga penduduknya harus tinggal di bawah tanah? Simply because of the heat! Dengan suhu di musim panas bisa mencapai 50 derajat celcius, penduduk menemukan opsi yang lebih livable, yaitu di bawah tanah yang suhunya tetap stabil di sekitar 25 derajat celcius. Rumah mereka dibangun berupa gua yang disebut juga ‘dugouts’, lengkap dengan dapur, toilet, kamar tidur, dan lounge. Ternyata, membangun ‘dugouts’ ini biayanya mirip-mirip dengan membangun rumah di atas tanah.

5. Why visit Coober Pedy?
Bukan hanya kota pertambangan, kota ini pun menjadi destinasi wisata yang unik sekali. Percayakah kalian kalau di Coober Pedy ada hotel, pertokoan, dan bahkan gereja bawah tanah juga? Iya, serius! Di bawah lapisan tanah yang gersang karena rendahnya hujan ini, terletak labirin yang menyediakan akomodasi, hiburan, dan pastinya pengetahuan sejarah yang begitu kaya. Jangan khawatir, ada banyak tur yang tersedia agar kalian tidak kehilangan arah di bawah tanah.

Selain itu ada tur yang membawa kalian mencari atau “noodling” for opals, tersedia juga public ‘noodling’ area yang terletak di antara Old Water Tank Road dan Jeweller Shop Road. Bahkan, kalian bisa menggunakan perlengkapan gali dengan ijin yang disediakan oleh Mines and Energy Office. Satu tempat yang wajib dikunjungi lagi adalah Umoona Opal Mine and Museum yang didirikan oleh pusat Aboriginal Interpretative. Di sini, kalian bisa menyaksikan film dokumenter The Story of Opals yang tentunya akan membuat kalian menjadi opals expert!

Ayo, angkat tangan yang penasaran pengen berkunjung ke sini langsung! Yang pasti, aku semakin pengen pandemik ini cepat lalu agar bisa menelusuri kota kecil ini! Untuk informasi lebih lanjut, kalian bisa menengok situs resmi mereka di https://www.cooberpedy.com/

Previous articleDEAR, FUTURE…
Next articleUpacara Perayaan Ulang Tahun CASS ke-40!