Cantate Deo – Dari Orang Muda Untuk Generasi Muda

111
Facebooktwitterpinterestlinkedinmail


Menyiapkan orang muda untuk mengiringi pujian dan penyembahan pada Sang Agung tentu bukan hal yang mudah. Terlebih, jika pujian dan penyembahan itu diantarkan lewat musik klasik. Beruntung, ada dua anak muda pecinta dan pemain musik klasik yang amat sangat berdedikasi.

Selepas ibadah di sebuah hari minggu sore menjelang malam, INDOMEDIA berkenalan dengan dua anak muda yang sangat mencintai dan mendedikasikan dirinya pada dua dua hal: Tuhan dan musik klasik. 

Hans Sangtoki
Calvin Abdiel

Hans Sangtoki, baru berusia 17 tahun dan kuliah tahun pertama di UNSW jurusan Music dan Physic. Satunya lagi Calvin Abdiel, 21 tahun, bertitel Bachelor of Music dengan kekhususan Performance Piano dan memiliki jadwal tur musik keliling Australia sendiri.

Meskipun dibesarkan di Australia, keduanya berdarah kental Indonesia dan saat ini melayani di GRII Sydney, Australia. Satu lagi persamaan keduanya adalah pencetus Cantate Deo, sebuah orkestra yang didedikasikan untuk memuliakan nama Tuhan. Hm… anak muda, musik klasik, dan pelayanan, sebuah kombinasi yang sangat tidak biasa di zaman modern ini, bukan?

Ikuti perbincangan yang sulit diambil nuansanya karena Anda pasti tidak percaya betapa tinggi, besar dan luasnya dedikasi kedua anak muda ini pada Tuhan dan musik klasik.

Kenapa suka musik klasik   secara khusus?

Hans: Dari usia 4 atau 5 tahun, saya sudah les piano. Perlahan, selama latihan piano, saya juga membangun kesukaan terhadap musik klasik khususnya. Dan, sekitar usia 10-11, saya main cello. Saat ini di orkestra Cantate Deo saya main cello.

Calvin: Mungkin karena dari kecil saya suka piano, Di usia 5 tahun, waktu belum kenal musik klasik, saya suka memainkan musik pop. Saya mendengar, lalu bisa memainkannya. Sejak kecil saya sudah punya perfect pitch. Itu awalnya. Saya mulai belajar piano di Indonesia. Kelas 5 SD, kami sekeluarga pindah ke Sydney. Saya sendiri lahir di Jakarta. 

Di Sydney, saya berguru dengan Lynette Morgan selama 2 tahun. Setelah itu, saya mendalami piano di Conservatory High School, sekolah spesialis musik, lalu meneruskan studi musik di uni.

Dengan talenta musik yang luar biasa, apa yang mendorong kalian di usia yang sangat muda ini bermusik klasik untuk melayani Tuhan?

Hans: Buat saya, menjadi orang Kristen bukan hanya “pergi ke atau tidak pergi ke gereja”. Menjadi orang Kristen adalah mengabdikan hidup kita kepada Tuhan. Kenyataan itu saya sadari di usia 14 tahun. Ya, semua itu adalah anugerah Tuhan, dan Tuhan juga yang membukakan pikiran saya bahwa dalam hidup ini bisa saja kita memilih hidup untuk diri sendiri. Tapi, ada pilihan hidup yang lebih indah dan lebih memuaskan, yaitu hidup bagi Tuhan. Sejauh ini, saya tidak memiliki penyesalan, saya puas.

Calvin: Buat saya, pertanyaan itu sudah saya pikirkan karena sering ditanyakan ke saya. Saya punya banyak teman di dunia musik, kenal dengan orang-orang dari kalangan lain, Kristen dan bukan Kristen. Mereka melihat saya banyak berkecimpung di gereja. Satu hal yang saya tahu, waktu kecil, minat saya bukan mengarah ke musik, tapi matematika. 

Satu hal yang saya pelajari yaitu ketika saya bertemu dengan hamba Tuhan di sini, yaitu saya menyadari bahwa anak Tuhan itu tidak hidup untuk dirinya sendiri. Kalau saya menekuni matematika, saya tentu masih tetap menjadi berkat bagi banyak orang. 

Tapi, di musik, saya lebih banyak hands-on-nya. Contohnya, kami tidak hanya mengajar musik, tapi juga belajar bagaimana menginterpretasi musik, bagaimana memainkan musik, dan filosofi di balik itu. 

Kalau boleh dijabarkan filsofinya?

Calvin: Bahwa di dalam hidup ini, kita bukan hidup untuk diri sendiri tapi bagamana Tuhan dapat dimuliakan di dalam hidup saya. Dan, bagamana orang banyak bisa diberkati dengan musik yang kami mainkan.

Bagamana keluarga kalian memberi pengaruh, baik dalam musik dan pelayanan?

Hans: Bagi saya, mereka memiliki peran yang sangat signifikan, karena sejak kecil merekalah yang mendidik saya. Ayah saya adalah seorang penatua di GRII, dan bersama ibu, mereka mengajarkan saya bahwa hidup bergereja itu adalah hidup yang berintegrasi. Maksudnya, hidup untuk gereja dan personal seharusnya menjadi satu dan sebagai orang Kristen, kami dipanggil untuk sama-sama melayani dalam tubuh Kristus. Itu artinya, dari kecil, saya besar di gereja. 

Contohnya, dalam satu minggu, orang tua banyak rapat dan kegiatan di gereja. Tentu saja, di usia remaja, saya memiliki pergumulan sendiri dan memikirkan apakah seseorang itu pantas untuk hidup untuk hal-hal seperti itu. Saya juga harus menemukan tujuan untuk diri saya sendiri. Yang saya temukan adalah saya sadar bahwa hidup yang berintegrasi ini adalah hidup yang memuaskan dan intinya hidup untuk dipakai Tuhan, memuliakan Tuhan dan terbaik bagi saya pribadi.

Calvin: Memang, peran keluarga sangat penting dalam membentuk kesukaan kami terhadap musik sejak kecil dan masuk ke level yang lebih tinggi. Saya memang mendapat banyak disiplin dari orang tua, di mana saya memiliki keharusan latihan. Semakin besar, saya semakin terbiasa, akhirnya menyukainya. Tak hanya itu, mereka juga sangat mendukung, seperti membelikan piano yang baru dan berdiskusi tentang para komposer. Saya juga bermusik agar orang bisa menikmati musik klasik karena masih banyak orang yang belum bisa mengapresiasi musik klasik, terutama di kalangan anak muda, baik di Indonesia maupun di sini juga.

Bisa ceritakan tentang Cantate Deo?


Hans
: Jadi, Cantate Deo sebenarnya dimulai dari kami berdua, bertiga sebetulnya, yaitu kakak Calvin, Claudia. Tahun 2018, kami punya kesempatan untuk melayani ibadah gereja. Meskipun masih lebih muda dan tidak berpengalaman, kami memiliki talenta bermain musik, jadi kami mengambil kesempatan itu. Lalu, kami kumpulan sekitar 7-8 teman yang juga bermain musik, dan mulai latihan. Nah, dari situ kami berkembang dan lebih banyak lagi teman yang mau ikutan.

Tahun 2019, kami mulai berlatih di sebuah community hall, di kawasan Ultimo, dan waktu itu kami mempersiapkan konser untuk acara inaugurasi gedung gereja ini. Itu adalah proyek pertama yang kami lakukan. Lumayan signifikan. Dari situ, sebenarnya nama Cantate Deo diresmikan tahun 2020, saat lockdown. Kami punya banyak nama untuk dipilih, tapi Cantate Deo menjadi pilihan karena merangkum visi kami sebagai sebuah orkestra yang ingin berbeda, yaitu kami tak hanya memainkan musik untuk performance saja, tapi ujungnya adalah musik untuk memuji Tuhan.

Dari situ, berapa hal berkembang. Contohnya, kami mulai membuat video. Ada beberapa yang kami rekam outdoor. Karena lockdown, ada banyak hal digital yang kami lakukan. Hal lainnya adalah kami membuat program, seperti intensive music camp bagi anggota orkestra. Karena mereka bukan profesional–remaja yang masih dalam tahap belajar, jadi kami memanggil guru dari Sydney Symphony Orchestra, dan kami semua belajar. Kami mendorong semuanya untuk belajar musik, teliti dan rajin agar semuanya improved dan lebih mencintai musik yang dimainkan. Selain itu, kami dapat melakukan program untuk anak-anak–sampai usia 10 tahun, yaitu memperkenalkan instrumen-instrumen orkestra karena mereka belum pernah melihat atau mendengar musik klasik. Mereka sangat senang. 

Saat itu, akhir tahun 2020 dan awal 2021, kami mulai merekrut anak-anak yang belum memiliki experience dengan musik atau belajar instrumen. Kami memperkenalkan instrumen orkestra, dan kami membuat sebuah program, di mana kami menyiapkan seorang guru buat mereka les privat instrumen yang mereka minati. Lalu, kami juga membuat ensemble kecil untuk anak-anak, melatih mereka, dan ujungnya, saat mereka beranjak remaja, mereka juga bisa bermain bersama kami dan, bersama-sama, kami dapat memobilisasi mereka untuk penjangkauan teman-teman seusianya agar juga dapat mengenal musik yang indah.

Ini kan semua dilakukan di saat lockdown, ya, bagaimana kalian melakukannya? 

Calvin: Cukup menarik memang, yaitu saat kami membangun nama, mendiskusikan media sosial, dan mendiskusikan bagaimana me-record itu waktu lockdown. Di tahun 2021, saat lockdown kedua, kami banyak berlatih lewat Zoom. Jadi, saya sudah mempersiapkan recording, seperti midi atau digital, lalu saya taruh di Zoom, dimainkan, lalu mereka memainkannya dari rumah masing-masing. Dan, waktu kami buka di bulan Oktober. Nah, ajaibnya, mereka semua bisa memainkan musik itu dengan cara yang sangat minim. Memang, latihan di rumah itu harus konsentrasi agar bisa memainkan semua not. 

Cantata Deo perform di Indonesian Night Market (INM), UNSW

Jadi, Cantate Deo ini lahir di GRII Sydney dan kalian berdualah yang menjadi inisiatornya. Apa yang kalian rasakan setelah dari 2018 sampai saat ini 2022? Bagaimana kalian membina orkestra ini dari tahun pertama sampai sekarang? Apa sajakah yang kalian gumuli?

Hans: Mungkin, kami nggak sangka akan menjadi seperti ini. Waktu memulainya dulu, kami belum ada visi atau misi. Pokoknya, kalau kami bisa main, sudah senang, dan kami lakukan itu. Tapi, kami melihat suatu keunikan dan satu talenta yang khusus, yaitu bukan hanya satu orang sendiri, tapi ada sekelompok orang yang dikumpulkan di satu gereja. Tentu semua itu karena anugerah Tuhan. 

Jadi, kami mulai bergumul dengan apa yang sebenarnya menjadi signifikansi kami. Sampai sekarang pun kami merasa masih dalam tingkat permulaan, sih.

Apakah signifikansi itu sudah ketemu?

Hans: Ya, sekarang kami punya ide yang masih kecil, sih, sebenarnya. Tapi, kami berharap hanya melihat pimpinan Tuhan dalam hal ini. Jadi, dari visi misi ini, kami melihat beberapa hal, yaitu satu, mengenal musik itu apa? Musik untuk apa? Kami melihat, ujung-ujungnya, musik adalah untuk kemuliaan Tuhan, dan mungkin penjelasannya berlapis-lapis. 

Tapi, yang lebih praktis, kami melihat, di kalangan anak-anak generasi kami, musik klasik sudah hilang secara general. Dan, bukan hanya karena musik klasik, tapi juga musik yang berkualitas. Musik yang dibuat oleh orang-orang yang waktu di era jaman dulu, barok, klasikal. Ada satu civilitation di Eropa khususnya lahir dari gerakan Kristen reformasi, dan itu berpengaruh luas bagaimana musik itu digubah dan dikembangkan sedemikin rupa, di mana kompleksitas dan keindahannya benar-benar bisa dinyatakan.

Hal itu adalah sesuatu yang sudah hilang seiring dengan banyak sekali musik pop dan genre-genre lain, yang mungkin easy listening tapi kualitasnya sudah hilang. Itulah yang saat ini kami perjuangkan. Hal lain yang menjadi keunikan kami adalah sebagai orkestra Indonesia dengan member-nya orang Indonesia. Karena di Indonesia, musik klasik masih sangat kecil massanya dan belum banyak orang yang dapat menikmati signifikasinya juga, apalagi di kalangan muda Indonesia. Kami melihat, kami memiliki sebuah signifikasi untuk dapat memengaruhi anak-anak muda di Indonesia.

Setelah ada Cantate Deo, adakah kenaikan minat, terutama pada orang-orang yang kalian jangkau sendiri? Atau, apakah kalian melihat tantangan yang lain, seperti mengajar dan membuat orang menyukai musik klasik itu sulit?

Calvin: Harus diakui bahwa musik klasik itu “lama”, bukan sesuatu yang berasal dari zaman sekarang. Tapi, kami bisa mengajarkannya, menjelaskannya, in such a way yang orang-orang sekarang itu bisa enjoy. Itu yang penting. Contohnya, Tchaikovsky. Ada cerita-cerita balet yang kalau kita ceritakan pada audiens mereka bisa mengimajinasikan bagaimana kondisi di Rusia dan bagaimana dalam naratif itu, si princess yang menjadi swan, berjalan melalui mendengar musiknya itu. Akhir-akhir ini, kami juga melatih lagu-lagu daerah juga.

Nah, sehubungan dengan lagu daerah, saya punya pertanyaan yang berkaitan dengan itu. Kalian tumbuh besar di Australia, khususnya Sydney, yang akar budaya dan tradisinya berbeda jauh dengan Indonesia. Kalian ada di dalam sebuah genre musik klasik. Tapi, ada di dalam gereja yang jemaatnya adalah orang Indonesia. Apakah kalian memiliki pendekatan “Indonesia” yang kalian masukkan ke dalam pelayanan ini?

Calvin: Ini mungkin salah satu facet yang menarik dari orkestra kami. Jadi, selain musik spiritual, kami juga berkonsentrasi pada lagu-lagu Indonesia, dan kemarin, saya memenangkan Kompetisi Nasional Ananda Sukarlan National di Jakarta yang dilakukan online. Untuk kompetisi itu saya banyak riset musiknya Trisutji Kamal, Amir Pasaribu. Jadi, ada komposer-komposer klasik dari Indonesia juga. 

Saya memang memiliki passion untuk memperkenalkan musik Indonesia di sini karena banyak diaspora. Dan, mereka itu belum terlalu mengenal musik Indonesia yang bikin lagu daerah. Selain itu, kami juga melatih lagu daerah, seperti O Ina Ni Keke. Dan, saya juga menjelaskan cerita di balik lagu ini kepada orkestra, dan menurut mereka ini menarik.

Jadi, salah satu approach-nya ada storytelling juga dalam mengajarkan musik?

Benar. Karena kami tidak hanya mengajarkan musik, tapi juga meng-inspire mereka. Supaya mereka bisa mengenal kultur Indonesia lebih baik dari rehearsal orkestra. Itu adalah satu bibit yang ingin kami tanamkan juga di sini, sangat baik untuk mereka sebagai identitas.

Program pelatihan dan pengajaran musik klasik untuk anak-anak ini apakah khusus untuk mereka yang beragama kristen saja atau bebas?

Saat ini, sebenarnya kami belum membuka progam ini untuk publik, mungkin masih beberapa tahun ke depan karena kami masih memulai dengan yang kecil dulu. Ini juga kan baru mulai. Membukanya untuk publik yang lebih luas masih belum didiskusikan. Mungkin bisa, mungkin tidak. Biar lihat di depannya saja nanti.

Setelah 4 tahun mempersiapkan Cantate Deo, hal-hal apa sajakah yang paling menantang?

Hans: Mungkin, satu hal adalah komitmen waktunya. Karena bagi setiap anggota, kami menuntut mereka latihan dan berkomitmen untuk memberikan waktu itu sangat besar. Dan, untuk menggerakkan orang juga lumayan sulit, bukan sebuah proses yang cepat, ada yang berpuluh-puluh tahun, dari generasi ke generasi. 

Contohnya, kami bangkitkan generasi anak-anak agar mereka mencintai musik klasik. Prosesnya pasti bertahun-tahun sampai mereka bisa memainkannya, enjoy sendiri. Dan, dari memberikan musical education, mereka akan mengembangkannya. Edukasi adalah proses yang panjang dan lama.

Calvin: Bagi saya, hampir sama. Kami kan sedang membangun sebuah full orkestra, di mana ada seksi alat gesek, beat, dan brass, seperti terompet. Nah, kami jadi harus mencari beberapa orang untuk memainkan instrumen-instrumen yang lebih sulit, seperti obo, french horn, dll. Kami memiliki satu harapan dan misi dalam pengembangan agar orkestra ini menjadi lebih lengkap. Pergumulannya adalah mencari guru yang bisa mengajarkan mereka. Kami juga sudah melatih anak-anak yang baru ini.

Berapa banyak saat ini jumlah keanggotaannya?

Hans: 23 yang main di orkestra dan mungkin masih sekitar 8-10 dalam training saat ini.
Kami mencarikan tutor musik yang dekat dengan rumah mereka agar bisa les privat. Setiap Sabtu, kami kumpulkan mereka yang sedang dalam pelatihan ini untuk “ngejam” dalam ensamble kecil. 

Selain tampil dalam inaugurasi gereja, acara apa sajakah yang sudah atau akan Cantate Deo gelar? 

Hans: Kami memiliki proyek musik video, kami mendedikasikan waktu untuk filming dan syuting untuk memproduksinya. Contohnya, waktu lockdown, karena nggak bisa ke mana-mana, kami membuat musik video trio, lalu full orchestra yang sifatnya outdoor. Jadi, kami rekaman di gereja yang difungsikan sebagi studio, lalu kami syut videografinya di luar, seperti di depan Harbour Bridge, Opera House, di pantai, dan kami mempromosikannya ke teman-teman kami di Indonesia. 

Selain itu, kegiatan konser anak-anak, di mana kami memainkan lagu-lagu klasik, dan kami juga menceritakan narasi di baliknya, menjelaskan instrumennya, ini apa, suaranya seperti apa, dan kami juga melakukan End of Year Concert untuk student yang dalam development agar mereka mendapat opportunity untuk perform di depan audiens.

Calvin: Kami melakukan semua itu, dan juga kami memberikan performance di ibadah, misalnya dengan wind ensemble, yaitu semuanya menggunakan alat musik tiup.

Hans: Satu hal lagi yang lumayan signifikan, setiap Paskah dan Natal kami juga meng-arrange sendiri lagu-lagu hymne untuk ibadah.

Apa syarat untuk bisa menjadi anggota Cantate Deo?

Hans: Saat ini kami yang menyeleksi anggota kalau kami melihat ada potensi. Kami sendiri belum membuka pendaftaran secara umum. Tapi, satu hal yang kami lihat ada banyak musisi yang “jadi”, dan pasti lebih baik dari para remaja yang ada ikut dalam program pelatihan kami. Namun, kami lebih menekankan untuk melihat mereka yang punya minat dan juga orang tuanya setuju dan ingin anaknya belajar musik meskipun belum ada kesempatannya. Mereka juga memberikan komitmennya setahun atau dua tahun untuk berlatih dan ikut dalam ensemble junior. Dari situ, kami akan melakukan audisi dan wawancara. Kami sangat senang melihat perkembangan mereka yang belajar dari dasar. [IM]

Previous articleLayanan Eazy Passport KJRI Sydney Urai Antrian Pemohon
Next articlePertemanan: The Good, The Bad And The Ugly