Perasaan Pemicu Penyakit!

1146
Facebooktwittergoogle_pluspinterestlinkedinmail

Dalam kehidupan sehari-hari, kita pasti pernah merasa senang, merasa sedih, merasa bosan, merasa capek, dan berbagai perasaan lain yang kita rasakan. Ya, perasaan memegang peran penting dalam kehidupan kita, karena perasaan bisa mempengaruhi hubungan kita dan menentukan kualitas kehidupan kita. Selain itu kesehatan kita ternyata juga memiliki kaitan besar dengan perasaan. Terkait dengan perasaan, pastilah setiap orang yang normal memiliki perasaan dan mampu merespon suatu keadaan sehingga muncullah perasaan.

Namun sadarkah kita bahwa perasaan di dalam jiwa ikut menentukan seberapa sehat kita menjalani kehidupan ini? Memang setiap orang memiliki cara merespon masing-masing terkait perasaannya, dan setiap orang memiliki kontrol akan dirinya. Ada yang cepat untuk merasakan marah, ada yang cepat merasakan sedih, ada juga yang cepat merasakan senang, dan sebagainya. Tetapi, jika yang terjadi malah perasaan negatif yang tidak terkontrol dan terjadi terus-menerus maka ujungnya akan menyebabkan masalah kesehatan yang akan berdampak langsung kepada tubuh orang tersebut.

Joachim Fischer dan Kristina Hoffmann dari Insititut Kesehatan Publik di kota Mannheim Jerman melakukan penelitian bagaimana sebuah perasaan dapat mempengaruhi tubuh manusia. Ia mengatakan bahwa sebuah perasaan marah dapat sampai ke bawah kulit dan tentunya untuk itu harus ada suatu sistem, yang menghubungkan antara apa yang kita alami dengan pembuluh-pembuluh jantung kita. Itu terutama menimbulkan pertanyaan terkait sistem saraf vegetatif, sebagai salah satu sistem saraf kita yang terpenting. Dan pada kenyataannya, perasaan yang timbul terkait erat dengan sistem saraf vegetatif.

Sistem saraf vegetatif atau sistem saraf otonom ini mengatur organ-organ tubuh yang penting tanpa kita menyadarinya. Ini membuat tubuh mampu menyesuaikan diri dengan berbagai situasi. Sistem saraf vegetatif dikelompokkan dalam dua sistem, yakni sistem saraf simpatik dan parasimpatik. Sistem saraf simpatik mengaktifkan cadangan tubuh sendiri pada saat terjadi stress. Sedangkan sistem saraf parasimpatik, sebagai pengerem stres. Pada kasus ideal mereka bekerjasama secara seimbang. Namun saat perasaan negatif seperti marah dan jengkel muncul maka akan mengganggu keseimbangan ini.

Jika perasaan-perasaan negatif itu berdiam dan dibiarkan terus-terusan menguasai seseorang, maka kesehatan emosionalnya akan memburuk. Dan saat kesehatan emosionalnya terganggu maka akan dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh. Alhasil, membuat kita lebih mungkin untuk terserang flu dan infeksi lainnya. Tubuh akan merespon cara kita berpikir, bertindak dan merasa. Beberapa gejala seperti sakit kepala, diare, insomnia, jantung berdebar, sesak napas, kehilangan atau penambahan berat badan, sakit dada dan gejala lainnya mungkin dialami setelah krisis emosional atau masa stress seperti kematian orang yang dicintai atau misalnya dipecat dari tempat bekerja.

Pengaruh emosi terhadap tubuh juga sangat berhubungan erat dengan kelenjar pituitari. Kelenjar ini bertanggung jawab untuk mekanisme yang memicu penyakit, yaitu kelenjar yang berada tepat di bawah otak yang memiliki koneksi dengan area jaringan di otak. Kelenjar inilah yang menghasilkan hormon yang mengendalikan semua fungsi tubuh. Emosi dan perasaan yang kuat berdampak pada pengendalian hormon oleh kelenjar pituitari, selanjutnya berpengaruh pada sistem syaraf tubuh dan akhirnya menimbulkan atau memperparah penyakit peredaran darah, pencernaan, pernafasan dan kulit.

Berikut beberapa perasaan atau emosi negatif dan korelasinya dengan penyakit yang menyerang tubuh:

Sering marah penyebab sakit punggung
Saat kita sedang marah, otot-otot kita mengalami ketegangan yang luar biasa. Termasuk otot-otot pada tulang belakang. Ketegangan tersebut mengaktifkan jalur saraf menuju otot-otot yang mengelilingi tulang belakang. Hasilnya, saat marah kita akan mengalami rasa sakit pada bagian punggung. Semakin tinggi emosi marah kita maka semakin tegang pula otot-otot tersebut.

Sedih pemicu darah tinggi
Perasaan sedih karena kesepian, dapat menjadi pemicu tekanan darah tinggi. Kondisi tersebut terjadi karena penyempitan pembuluh darah, sehingga tekanan darah menjadi lebih tinggi. Jika kondisi kesepian ini terus diratapi maka bukan tidak mungkin bisa semakin berbahaya karena beresiko terkena serangan jantung. Sebaiknya, hindari menyendiri dan memendam masalah seorang diri. Atasi kesepian dengan bersosialisasi dan hal menghibur diri lainnya.

Pesimis meningkatkan resiko stroke
Orang yang pesimis memiliki harapan yang sangat tipis sekali. Mereka seringkali dikelilingi oleh pikiran-pikiran negatif. Orang yang dalam keadaan pesimis dapat merusak pembuluh darah sehingga menyebabkan stroke. Hindari pikiran pesimis dengan membuka pikiran lain. Harapan itu selalu ada dan selalu ada jalan bagi yang berharap.

Cemas beresiko demensia
Bersikap hati-hati itu baik, namun berlebihan hingga tahap cemas adalah hal yang buruk. Orang yang cemas diliputi perasaan was-was dan siaga. Sehingga terjadi ketegangan mental yang menyebabkan meningkatnya hormon glukokortikoid. Hormon ini dalam jumlah yang berlebih dapat mematikan sel-sel otak. Akibatnya penderita akan beresiko demensia (kepikunan).

Please follow and like us: