NOKIA 3310 – Sang Legenda Pengobat Rindu

1035
Facebooktwittergoogle_pluspinterestlinkedinmail

Kekuatan sebuah nostalgia mampu membuat orang rela melakukan beberapa hal bahkan sampai mengeluarkan dana yang mahal. Lihat saja betapa banyak orang beramai-ramai datang ke sebuah konser yang digelar oleh musisi legendaris yang kembali menyanyikan lagu-lagu hits pada jamannya. Atau para penikmat film yang kembali dimanjakan dengan film-film dengan setting lawas. Mulai Mad Men yang bersetting dekade 60-an, hingga Stranger Things yang mengingatkan anak-anak 80-an tentang betapa menyenangkannya bermain Dungeons & Dragons hingga lupa waktu.

Semua orang menyukai nostalgia. Tak terkecuali di Indonesia. Mereka yang hidup dan besar di era 90-an bahkan menghadirkan kembali bayangan setiap hal yang tersimpan rapi di dalam memori mereka. Salah satunya dengan membuat festival 90-an dengan menampilkan panggung musik, mainan, makanan, sampai beberapa penggalan kalimat atau jargon-jargon yang familiar di telinga generasi 90-an.

Ada yang bilang nostalgia membuat manusia di masa sekarang menjadi lebih seimbang menghadapi tantangan kekinian. Menurut Erica Herper, dosen di School of Psychology di Universitas Surrey, nostalgia adalah perasaan hangat yang kita rasakan sewaktu kita memikirkan tentang kenangan-kenangan terindah dari masa lalu kita. Itulah mengapa orang suka sekali dengan nostalgia. Nostalgia merupakan kecenderungan alami manusia yang jika dilihat dari sisi yang positif akan menghasilkan energi yang positif pula.

Energi positif inilah yang seperti sedang dicoba untuk dimunculkan kembali oleh sang raja ponsel, Nokia yang menyajikan sebuah nostalgia masa lalu dengan membangkitkan kembali ponsel legendaris Nokia 3310. Anda mungkin masih ingat betul bahwa sebelum Blackberry dan iPhone menjadi primadona dalam periode sepuluh tahun terakhir ini, Nokia dengan seri 3310 telah menguasai pasar. Melihat sebentar ke belakang di tahun 2000 pasca diluncurkannya seri 3310, Nokia telah berhasil menjual 125 juta ponsel dengan seri ini. Saat itu, dimana-mana Anda akan melihat orang bermain games snake dan mendengar ringtone khas milik Nokia, nyaris setiap jam.

Hampir 17 tahun berlalu sejak Nokia 3310 pertama diluncurkan. Kesuksesan Nokia seolah sulit terulang. Revolusi smartphone membuat Nokia ketinggalan dan Microsoft akhirnya membeli divisi perangkat dan layanan perusahaan Finlandia itu pada tahun 2014. Namun sayang, Nokia seperti lambat untuk mengembangkan diri dan tetap tidak mampu merenggut hati konsumen dibandingkan dengan saingannya iOS dan Android. Perusahaan pada dasarnya memiliki dua pilihan, yaitu menggandeng Android atau Windows Phone. Stephen Elop, mantan CEO Nokia yang dulunya petinggi Microsoft jelas waktu itu memilih Windows Phone. Namun tetap saja, usaha Nokia tersebut dapat dibilang mandek. Seri 3310 yang kembali dibuat ulang dalam bentuk perangkat Windows Phone dengan kamera besar, gagal menarik perhatian publik.

Perusahaan tersebut sekarang menyerahkan produksi ponsel Nokia kepada HMD Global, perusahaan berbasis ekuitas yang ditunjuk khusus untuk memproduksi ponsel tersebut. Kebijakan pertama yang mereka buat adalah mengembalikan 3310 kepada masa kejayaannya, sambil memodifikasi ponsel lama agar sesuai dengan era modern ini. Beberapa waktu lalu di gelaran Mobile World Congress di Barcelona, perusahaan tersebut merilis ulang ponsel Nokia 3310 dan menyebutnya sebagai “One More Thing” pada konferensi persnya. Peluncurannya bukan acara yang wah, namun tentu saja diingat banyak orang. CEO HMD Global Arto Nummela memegang Nokia 3310 baru tersebut dan menekankan tiga hal, yakni baterainya yang tahan sebulan, ponselnya telah memiliki permainan Snake, dan ringtone Nokia yang khas juga telah dimasukkan di dalamnya.

Nokia 3310 memang sebuah feature phone. Memang ponsel 2G ini telah dilengkapi browser, namun hanya versi Opera yang kurang canggih dan hanya mungkin digunakan untuk mengakses internet di saat hanya benar-benar perlu. Tentu saja ponsel ini bisa menelepon dan mengirim SMS, dan bermain snake. 3310 juga hanya seberat tiga ons, dan baterainya benar-benar tahan selama 31 hari dalam keadaan standby, atau hingga 22 jam waktu bicara. Nokia 3310 seri 2017 ini juga dilengkapi kamera 2 megapiksel, layar sebesar 2,4 inchi (240×320), yang walaupun tidak punya fitur touchscreen, kecil, dan beresolusi rendah, namun merupakan pembaruan yang signifikan dari seri lamanya.

Yang paling seru, kalau dulu 3310 tak hadir dalam berbagai warna, kali ini Nokia meluncurkan 3310 dalam berbagai warna, di antaranya warm red (glossy), dark blue (matte), yellow (glossy), dan grey (matte). Kapasitas penyimpanan internal Nokia 3310 sebesar 16 MB dan bisa di-upgrade hingga 32GB, namun nampaknya pengguna ponsel tersebut tak begitu perlu kapasitas penyimpanan yang besar.

Ketika diluncurkan di Eropa, Nokia 3310 dibanderol seharga 49 euro, atau $51 (sekitar Rp. 682 ribu). HMD mengharap orang akan membelinya sebagai ponsel kedua, yang bisa menjadi pilihan ketika mereka lelah dengan iPhone atau smartwatch tanpa harus benar-benar terputus dari dunia. Namun, pasar untuk ponsel ini nyatanya bisa jadi lebih besar dari perkiraan. Di Afrika, misalnya, pada pertengahan 2016 lalu, penjualan smartphone menurun sementara penjualan feature phone melejit hingga 30 persen.

Lalu, akankah Nokia 3310 “Reborn” ini masuk Indonesia? Mungkin HMD bisa memikirkannya dahulu, karena Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara telah menyampaikan, jaringan 2G kemungkinan akan dimatikan pada 2019 mendatang. Hal tersebut dikarenakan jaringan 4G sudah ada di lebih dari 500 kabupaten/kota di seluruh Indonesia. Menurut dia, jika hal itu terjadi, Nokia 3310 reborn kemungkinan tak akan bisa dipakai lagi pada 2019 mendatang. Namun Rudiantara memang belum memastikan apakah jaringan 2G akan benar-benar mati dalam dua tahun mendatang.

Terlepas dari apakah nantinya Indonesia bebas dari jaringan 2G di tahun 2019 nanti, Nokia 3310 edisi 2017 ini tetap mampu menjadi daya tarik tersendiri dibanding smartphone lainnya. Ada faktor nostalgia yang kuat untuk memilikinya, meski dihalangi oleh faktor fungsi dimana Nokia 3310 bukanlah ponsel pintar. Jangankan 4G, mendukung 3G saja belum, karena ini baru sampai level 2,5 GB. Lagi-lagi nilai jualnya terletak pada unsur nostalgia. Peluang Nokia untuk kembali berjaya lagi di pasaran ponsel global masih abu-abu karena untuk mengulang kejayaan seperti dulu akan bergantung pada banyak faktor, seperti inovasi, fungsi, marketing, distibusi, dan lain-lain.

Beberapa pakar menilai, Nokia 3310 hanya akan menjadi euforia sesaat untuk bernostalgia dengan ponsel legendaris tersebut. Namun selanjutnya, orang sepertinya akan lebih kembali ke dunia nyata ketimbang terus larut dalam nostalgia. Bagaimana dengan Anda?

Please follow and like us:
Loading...