BANDA NEIRA, Serpihan Sejarah di Maluku

Facebooktwittergoogle_pluspinterestlinkedinmail

Mengunjungi Maluku tak lengkap rasanya jika tidak menyempatkan diri pergi ke salah satu pulau mempesona di Kepulauan Banda yaitu Pulau Banda Neira. Ada banyak hal dan tempat menarik yang bisa Anda temui di Pulau Banda Neira. Pulau Banda Neira atau lebih dikenal sebagai Bandanaira terletak di Pulau Neira dan merupakan kota di Kepulauan Banda yang berfungsi sebagai pusat administratif dari Kecamatan Banda, Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku.

Banda Neira memiliki nuansa kota tua. Mengapa? karena memang tempat ini merupakan pusat bagi pedagang. Para saudagar melakukan jual beli pala dan fuli yang saat itu merupakan komoditas paling banyak dicari di Kepulauan Banda dan menjadi asal sumber rempah-rempah hingga pertengahan abad ke-19. Tak heran jika kaum penjajah berebut masuk mengambil rempah di tanah ini. Alhasil, bekas-bekas penjajahan bangsa Eropa pun tertinggal jelas dari bangunan-bangunannya yang masih kokoh sampai saat ini, temboknya tebal dan tinggi, dilengkapi tiang-tiang bulat besar.

Jejak peninggalan bangsa Eropa di pulau kecil di tengah lautan Banda ini menyimpan banyak sejarah penjajahan bangsa Eropa di Indonesia. Bahkan sebelum Belanda menancapkan kekuasaannya di Batavia atau Jakarta, Belanda telah lebih dulu menancapkan kekuasaannya di Banda Neira karena kekayaan pala yang pada saat itu merupakan rempah termahal di pasar Eropa.

Hal ini terbukti dari adanya Istana Mini yang pernah ditinggali gubernur jenderal pertama di Indonesia, yaitu Joen Pieterszoen Coen, yang konon dibangun oleh Belanda satu tahun sebelum dibangunnya Istana Merdeka atau Gedung Putih di Bogor. Istana ini disebut Istana Mini karena ukurannya yang terhitung kecil untuk sebuah istana. Selain Istana Mini, bukti lain berharganya kekayaan Indonesia di mata bangsa Eropa adalah Monumen Parigi Rante. Monumen ini memperingati peristiwa dibantainya para saudagar kaya di Banda Naira. Kekayaan rempah pala mereka dirampas dan mereka dibantai di hadapan anak dan istri mereka.

Beberapa orang yang tersisa dibawa ke pulau Jawa untuk dijadikan budak. Beberapa sisa sejarah lainnya juga diabadikan di Rumah Budaya. Didalam bangunan ini disimpan semua peralatan rumah tangga yang dulu digunakan oleh para tentara VOC di Banda Neira. Saat memasuki Rumah Budaya, Anda akan benar-benar merasa berada di masa lalu karena barang-barangnya yang masih asli. Selain itu juga ada beberapa lukisan yang menggambarkan masa lalu, termasuk peristiwa pembantaian saudagar-saudagar Banda Neira.

Anda juga bisa menapaki jejak diasingkannya Bung Hatta, Sutan Syahrir dan Dr. Cipto Mangunkusumo yang pernah diasingkan ke Banda Neira. Ada rumah peninggalan mereka bertiga masing-masing di pulau ini, ada juga tempat bekas Bung Hatta mengajar anak-anak Banda Neira di masa lalu. Bahkan nama Sutan Syahrir dan Bung Hatta dijadikan nama salah satu pulau di kepulauan Banda Neira. Pulau Sutan Syahrir memiliki spot diving dan snorkeling terbaik di lautan Banda.

Peninggalan sejarah lainnya di Banda Neira adalah benteng-benteng yang dulu dijadikan pertahanan bangsa Eropa di Indonesia. Salah satunya adalah Benteng Belgica yang dibangun oleh Portugis sebelum digunakan oleh Belanda. Oleh Portugis, benteng ini digunkan untuk memantau kedatangan musuh. Saat pasukan VOC datang dan menguasai Banda Neira menggantikan Portugis, benteng ini diperbarui dan digunakan untuk memantau lalu lintas kapal dagang di perairan Banda Neira. Benteng ini bertembok raksasa dengan menara di setiap sudutnya dan memiliki pemandangan yang sangat menawan ke arah gunung dan lautan. Selain itu, ada juga benteng-benteng lain yang dibangun Belanda untuk pertahanan seperti Benteng Nassau, Benteng Revengie, Benteng Hollandia dan Benteng Concordia.

Please follow and like us: