VEDI KURNIA BUANA – “Bersyukurlah Agar Semuanya Terasa Cukup”

26
Facebooktwitterpinterestlinkedinmail

Pujian dari Pak Dubes Kris terhadap sosoknya di bidang diplomasi antarnegara ini sepertinya bukan sekadar pujian. Indomedia berbincang dengan Pak Vedi untuk membuktikannya.

Acara Malam Perkenalan dengan Bapak Vedi Kurnia Buana sebagai Konsul Jenderal RI dan keluarganya berlangsung akrab, santai, dan tetap menjaga protokol kesehatan alias online. Duta Besar RI untuk Australia, Kristiarto Legowo beserta istrinya, Cecilia Legowo, turut menghadirinya. “Tingginya jumlah peserta pada acara malam perkenalan menandakan bahwa kedatangan Konjen RI Sydney telah dirindukan masyarakat dan diaspora Indonesia di New South Wales, Queensland, dan South Australia,” ujar Dubes Kristiarto Legowo dalam sambutannya. Ternyata Pak Vedi dan Pak Kris saling mengenal dan pernah juga bekerja dalam satu tim. Oleh sebab itu, Pak Kris tidak ragu untuk menyebut sosok Pak Vedi adalah pekerja keras dan berdedikasi tinggi, sosok yang tepat dalam memimpin pelaksanaan misi diplomasi dan pelayanan perlindungan WNI di wilayah kerja.

Nah, gimana? Damai, kan, kita mendengarnya? Konjen Vedi Kurnia Buana sendiri tiba di Sydney bersama istri, Fanny Erlita Buana, dan kedua putrinya, Zalfa dan Amara, pada 7 September 2021. Saat menerima kedatangan Indomedia di Konsulat RI di Maroubra, Pak Vedi baru saja menyelesaikan masa isolasinya. Tak lebih dari tujuh hari yang lalu. Beliau tampak fit dan … muda!

Konjen kelahiran Cilegon, Banten, 50 tahun silam ini sebelumnya menjabat sebagai Sekretaris Direktorat Jenderal Kerja Sama ASEAN, Kementerian Luar Negeri. Dalam perjalanan kariernya, Pak Vedi pernah bertugas di KJRI Hong Kong, KJRI Cape Town, dan KBRI Seoul. Ia adalah sosok ramah, hangat, sangat sopan, senang bercerita, dan tampak sangat hati-hati bertutur kata. Wah, melihat catatan karier dan kepribadiannya–walaupun hanya dua jam, nih, Indomedia bisa mengasumsikan bahwa Pak Vedi memang sosok yang asyik banget jadi “ayah” diaspora Indonesia di NSW, QLD dan SA. Gimana kalau kita ngobrol langsung dengan beliau agar “kenal maka sayang”?

Wah, enak, ya, Pak, bekerja sebagai diplomat…

Kalau lagi dapat enaknya. Kadang-kadang, kan rumput tetangga kelihatannya lebih hijau di mana-mana. Kita suka lupa kalau orang lain melihat rumput kita pun lebih hijau dari punyanya. Di umur segini, saya suka bilang ke keluarga atau teman-teman bahwa kita harus pandai-pandai bersyukur. Dengan bersyukur, Insya Allah, semua yang kita terima akan terasa cukup saja.


Amin! Pak Vedi, kapan nih, ulang tahun? Dan asal dari mana?

Saya lahir 29 Januari 1971. Ibu saya cerita, saya lahir di hari Sabtu, tengah malam. Saya lahir di kampung, di Cilegon, dekat Krakatau Steel. Di tahun 60-an, namanya Pabrik Baja Trikora. Bapak saya bekerja di sana, lalu keluar dan usaha sendiri, kecil-kecilan. Saat mendekati subuh, menjelang saya lahir, mati lampu di klinik kecil itu. Jadi, saya lahir dalam kondisi mati lampu.

Bapak berasal dari keluarga besar?

Saya anak kelima dari enam bersaudara. Adik saya laki-laki. Dulu, ayah dan ibu saya bertemu di Bandung dalam rangka sekolah. Bapak saya ambil STM, jurusan teknik, sedangkan ibu sekolah kepandaian putri, semacam SMK. Mereka menikah muda. Lulus sekolah menikah. Nah, anak-anaknya, setelah lulus SD/SMP di Serang, kami disekolahkan di Bandung. Ibu berasal dari Serang, dan ayah dari Rangkasbitung. Sama-sama orang Banten.

Mengapa mesti disekolahkan ke Bandung?

Menurut saya, karena pada waktu itu pilihannya (sekolah) di Serang tidak banyak. Masih kampung. Tapi, itu dulu. Sekarang, Cilegon sudah menjadi kota besar. Kami sangat bersyukur bahwa orang tua sudah memiliki visi yang panjang dalam hal pendidikan. Karena di kota besar, kesempatannya lebih banyak, kita bisa belajar lebih banyak. Kita jadi siap berkompetisi karena semakin banyak orang dengan sendirinya kompetisi semakin tinggi.

Bagaimana Pak Vedi mengenang masa kecil dan tumbuh besar di tengah keluarga?

Saya bilang ke banyak orang, termasuk anak-anak saya bahwa saya sangat puas. Saya sekolah di kampung. Dari kakak saya tertua ke saya, kami berlima berjarak 1,5 sampai 2 tahun. Saya ke adik, jauh, 8 tahun. Kami semua sekolah di tempat yang sama. Pagi-pagi, kami berangkat sekolah bersama naik becak atau andong. Tapi, pulangnya sendiri, nggak dijemput. Jadi, masa kecil saya sangat berkesan. Pulang sekolah, main. Jam 5 sore pasti sudah pulang ke rumah. Nggak dipanggil pun, kami pulang sendiri. Saya main di sungai, atau main bola di belakang rumah saya. Di depan rumah juga ada balong (semacam kolam ikan), jadi bisa mancing. Kadang-kadang, sakit juga karena main di balong. Namanya anak kecil. Saya merasa puas.

Kalau saya melihat anak-anak saat ini, walaupun tidak bisa dibandingkan zamannya, ya. Anak saya, satu lahir di Jakarta, sebelum saya di-posting, satunya lagi di Hong Kong tahun 2003. Keduanya seperti tak punya akar. Pulang dari Hong Kong ke Jakarta, mereka harus beradaptasi lagi. Tiga tahunan kemudian berangkat lagi ke tempat baru. Adaptasi lagi. Dengan risiko seperti itu, saya suka bilang mereka–dari kecil, ya–untuk mempersiapkan mereka. Saya rasa, bukan pekerjaan diplomat saja yang begitu, ya. Saya nggak bisa bilang masa kecil saya lebih enak dibandingkan masa kecil mereka. Semuanya sudah berbeda. Yang paling penting adalah melihat kesiapan anak-anak untuk masuk ke masa depan.

Pak Vedi, mohon ceritakan hubungan Bapak dan kakak beradik serta orang tua…

Kami sekeluarga, alhamdulillah, dekat. Selain jarak kelahiran yang cukup dekat, kami punya grup komunikasi keluarga, dan kalau ada perlu tinggal langsung telepon. Kakak pertama saya laki-laki, istrinya merupakan atase pendidikan di Washington DC. Kakak kedua, perempuan, di Sumedang, seorang dokter. Kakak ketiga juga perempuan. Lalu, yang keempat laki-laki, tinggal di Serang, juga PNS. Adik saya PNS juga, di Cilegon. Kami bersaudara berusaha agar yang dekat tidak hanya keluarga inti, tapi juga anak-anak kami. Kelihatannya memang agak sulit, ya. Kami menyadarinya saat ibu saya meninggal bulan Desember lalu. Beliau kan salah satu perekat di keluarga. Kami berusaha untuk tetap menjaga kedekatan sampai ke satu buyut. Saya menyadari perbedaan pendapat itu wajar saja di antara keluarga, apalagi, maaf, antargolongan, antarpartai, dll. Dan, bukan berarti adanya perbedaan bikin ribut, kan? Asalkan kita bisa saling menghargai dan menghormati perbedaan. Orang tua juga mendidik kami untuk memerhatikan keluarga.

Ketika saya bekerja, saya harus bisa merefleksikan keluarga. Saat bekerja, mungkin sikapnya bisa formal. Tapi, kalau lagi nyantai, ya, biasa saja. Saya sangat percaya dengan komunikasi. Jika ingin memeroleh komunikasi yang mendalam, kalau kita merasa tidak kenal dan tidak berusaha mendekat, dan orang yang kita ingin kenal tidak merasa didekati, dengan sendirinya, informasi yang kita dapatkan juga yang datar-datar saja. Tapi, jika sudah ada kedekatan personal–dan profesional, tentunya, kita akan mendapatkan informasi yang lebih dalam.

Ceritakan juga, dong, Pak, tentang pendidikan Bapak. Apakah ketemu Ibu juga waktu kuliah?

Saya TK di Yayasan Pendidikan Krakatau Steel, SD juga di situ, di Cilegon. SMP saya pindah ke Bandung, SMPN 13 di Jl. Mutiara. Di sana, saya tinggal dan diurus oleh kakak-kakak saya yang sudah lebih dulu sekolah. SMA-nya di SMAN 3 Bandung. Mau masuk kuliah, pilihan pertama saya Kedokteran Unpad, kedua, Teknik Lingkungan ITB, dan ketiga, Hubungan Internasional Unpad. Diterimalah saya di HI. Saya bertemu istri juga di kampus Unpad, lagi sama-sama di-OSPEK. Dia ambil jurusan Antropologi. Padahal, waktu SMA, kami satu gedung sekolah, dia di SMA 5, saya di SMA 3. Tapi, malah nggak pernah ketemu. Selesai S1, dan kami udah pacaran selama 4 tahun, saya tanyakan apakah dia mau buru-buru menikah. Kalau mau segera, saya cari kerja. Tapi, kalau tidak, saya ambil beasiswa S2. Dia memilih untuk nggak buru-buru karena sekolahnya juga belum selesai. Setelah mempertimbangkan baik-baik, saya memilih S2 di Magister Management Telkom.

Di tahun kedua kuliah, ada teman dari jurusan HI memberi info kalau Kementrian Luar Negeri sedang membuka pendaftaran pegawai baru. Akhirnya, saya coba. Dulu, proses penerimaan pegawai masih lama. Untung saja tes-tesnya dilakukan pas weekend, saya nggak kuliah. Sampai ke tahap wawancara, itu setahun lamanya. Nah, pas tes wawancara itulah yang bentrok dengan ujian akhir MM saya. Saya pikir, sudah nggak jodoh ini. Eh, ternyata jadwal wawancaranya yang salah tanggal. Jadi, seminggu setelah ujian. Setelah itu, saya diterima. Alhamdulillah. Waktu itu Mei 1997. Juli-nya saya diwisuda. Pertimbangan saya ambil MM karena rencananya, setelah bekerja di perusahaan besar, saya buka networking sekitar 5-10 tahun dan keluar untuk membuka usaha sendiri. Mirip yang dilakukan orang tua saya. Saya tanya juga orang tua tentang diterimanya saya ini. Beruntung, mereka menyerahkannya ke saya karena sayalah yang akan menjalani. Lagipula, saya jika tidak menerima pekerjaan di Kemlu karena proses dan tesnya yang sulit.

Ternyata, restu orang tua memainkan peranan yang sangat penting buat kehidupan Bapak?

Saya jadi terharu… Iya, restu mereka sangat penting artinya buat saya. Calon mertua saya juga saat itu mendorong saya untuk ambil yang Kemlu. Padahal, dulu kan saya pikirnya, PNS gajinya berapa, sih? Sementara, saya rencananya kan mau set-up perusahaan.

Setelah bekerja di Kemlu, apa yang membuat Pak Vedi tetap bertahan di sana sampai saat ini?

Buat saya, ketika saya sudah mengambil keputusan, saya harus berkomitmen. Saya jalani saja. Intinya, saya bekerja, sama-sama mencari berkahnya juga, insya Allah. Saya rasa, nggak ada seorang pun yang jika sudah bekerja tidak mau dibilang nggak bisa kerja. Kita harus kompeten. Nah, dalam perjalanan saya bekerja, saya nggak pernah ingin dicap nggak bisa kerja. Jadi, selama alasannya adalah pekerjaan, walaupun harus pulang malam, misalnya, pasti saya kerjakan. Tentu saja, jika terbentur dengan masalah personal dan saya keberatan, misalnya, ya saya sampaikan ke atasan. Apalagi jika nggak ada kaitannya dengan pekerjaan. Yang penting semuanya bisa dikomunikasikan dengan baik. Itu yang saya percayai. Cari momentum yang tepat, cari gaya komunikasi yang baik, saya rasa tidak ada yang tidak bisa disampaikan.

Waktu itu terpikirkan kalau pekerjaan Bapak salah satunya adalah ditempatkan di sana sini?

Waktu saya masuk Kemlu tahun 1997, saya ikut Sekdiru (Sekolah Dinas Luar Negeri) untuk setiap diplomat baru. Di situ, kami sudah diberi tahu semua risikonya, bahwa perwakilan Indonesia di luar negeri tidak hanya di New York, London, Paris, tapi juga ada di Baghdad, Kabul, Afrika Selatan, Adis Ababa… Kita harus siap di mana pun itu. Dan, saya menyakinkan diri untuk selalu siap karena ini sifatnya penugasan, bukan pilihan.

Apakah benar, Pak, kalau diplomat baru biasanya ditempatkan di negara yang “nggak enak”?

Ya, enggaklah! Saat ini, Indonesia mempunyai 133 kantor perwakilan dengan 3 PTRI (Perwakilan Tetap Republik Indonesia), yaitu di Jakarta (ASEAN), New York (PBB), dan Jenewa (PBB). Lainnya, disebut KBRI (Kedutaan Besar Republik Indonesia) yang berada di ibukota negara perwakilan, KJRI (Konsulat Jenderal Republik Indonesia), dan terakhir KRI (Konsulat Republik Indonesia). Di Australia, KRI ada di Darwin. Semua perwakilan berbeda di skalanya saja. Pelayanan sama. Beda di jumlah staf saja. Kalau, misalnya, KRI Darwin pekerjaannya diperbanyak, statusnya bisa dinaikkan menjadi KJRI.

Nah, pertanyaan ini pas dengan posisi Pak Vedi. Apakah ada program  yang Bapak siapkan di KJRI ini?

Tentunya ada. Saya, sih, melihatnya bukan karena ini program baru dan saya tidak ingin memakai yang sudah ada. Sama sekali bukan seperti itu. Sebelum saya datang, tentunya saya sudah memelajari program-program dan dinamika yang ada, sambil pastinya berkomunikasi dengan Pak Heru, berkomunnikasi dengan Pak Dubes. Saya tetap ingin ada continuity. Kalaupun ada inisiatif-inisiatif baru, itu semua tetap berada dalam koridor program yang selama ini sudah ada. Yang pasti, saya nggak akan melenceng dari yang sudah digariskan. Kita punya IA-CEPA sejak Juli 2020, sebelumnya ada Statistic Partnership di 2018, semuanya ada dalam koridor itu. Yang sekarang ada pun bagus-bagus, perlu diteruskan, tapi tetap ada peluang room for improvement untuk memperkuat dan menjadikannya lebih baik lagi dari yang sekarang. Ujung-ujungnya, yang diuntungkan masyarakat juga. Kami ini kan hanya pelayan, tugasnya melayani kebutuhan masyarakat Indonesia, dalam hal ini di Sydney dan sekitarnya. [IM]

 

 

Previous articleHEALTHY CARE: Kini Hadir Secara Resmi di Indonesia
Next articlePesan Dari Menteri Multikulturalisme NSW