Reuni

1056
Facebooktwitterpinterestlinkedinmail


Sometimes you will never know the value of a moment until it becomes a memory.

Siapa sih yang tidak mengenal kata Reuni. Reuni dapat diartikan pertemuan kembali, mengingatkan nostalgia bersama teman-teman sekolah, sahabat atau keluarga.
Masa-masa indah, bahkan yang terburuk pun menjadi kenangan tak terlupakan.

Sejak Covid acara kumpul dengan temanpun mandek. Namun dengan kecanggihan teknologi, memudahkan kita untuk bertegur sapa melalui zoom atau WA. Bagi para
Lansia dan gaptek dengan pernak-pernik teknologi cukup pusing juga, pencet sana sini malah membuat HP error hahaha… inilah yang terjadi dengan suamiku.

Aku sendiri tidak menyukai zoom. Selain suka problem dengan signal di rumah,
nongkrong depan komputer atau IPad rasanya nggak asyiik. Apalagi anak, cucu suka telpon, sehingga tidak fokus mengikuti program. Aku lebih suka mengikuti kegiatan yang aktif.

Banyaknya group WA yang dibentuk sesuai kepentingan, seperti group organisasi, keagamaan, ex teman sekolah, ngopi etc memudahkan untuk berkomunikasi. Dalam satu group bisa jadi anggotanya mencapai lebih dari 100 orang. Bisa dibayangkan tiap hari bertegur sapa, ucapan selamat pagi, siang, malam. Bahkan video yang sedang viral di posting di semua group. HP pun jadi lemot, harus rajin dihapus satu persatu.

Salah komen dikiiit wuaaah, seru deh. Padahal tujuan dibentuknya group adalah menjalin silaturahmi lebih hangat dan membuat adem. Memantau teman yang sakit dan berita duka. Saling mengingatkan, memberi ucapan pada hari istimewa. serta saling menghormati.

Alhamdulillah dengan berjalannya waktu, Covid mulai sirna. Dengan beberapa kali vaksin daya kekuatan tubuh lebih kuat. Kopdar (kopi darat) sudah mulai berjalan. Dapat bertemu kembali dengan keluarga, sahabat, dan berbagai acara pun mulai digelar.

Beberapa hari yang lalu kuterima surat dikirim melalui pos. Surat sudah kubuka dan
masih tergeletak di meja kerjaku (sejak pensiun, kamarku yang mungil aku rubah menjadi kantor), dimana aku bisa menulis, membaca sambil mendengarkan music favoritku.
Surat itu adalah Undangan Reuni SMA dan belum kujawab.

Ke tempat reuni ini membutuhkan perjalanan yang jauh dan ditempuh dengan pesawat. Panitia juga menyediakan penginapan. Saat kusampaikan kepada suami, ia malah menganjurkanku untuk hadir, sekalian mengunjungi keluarga dan menikmati masa pensiun. Apalagi ini adalah REUNI AKBAR, gabungan 5 angkatan dan pastinya akan meriah. Bahkan suami membelikan tiket pesawat sebagai hadiah ulang tahun yang tidak sempat kami rayakan karena covid.

Sejak menikah, aku mengikuti suami, pindah dan bekerja di negeri seberang. Berpuluh tahun tidak berjumpa teman-teman ex SMA di kotaku, Surabaya. Selain nomor kontak berubah, banyak juga teman-teman yang sudah pindah
ke kota lain.

Suara sorakan gembira dari panitia yang kuhubungi saat kusampaikan aku akan hadir tapi tanpa suami. Entah sudah keberapa kali Reuni yang tidak kuhadiri, selain karena kesibukan kantor juga waktunya yang tidak tepat. Kali ini tidak ada alasan untuk mengelak.

Sehari sebelum berangkat, aku tidak bisa tidur, membayangkan REUNI. Bertemu sahabat, “gang” group volley atau gang basket walau aku hanya pemain cadangan hehehe… Group tari walau hanya sekedar ikut-ikutan asal bisa tampil. Duh semuanya pasti sangat menyenangkan.

Bagaimana aku harus bersikap. Baju apa yang harus kupakai. Aku harus memberikan kesan terbaik, walau sudah tidak muda lagi. Suamiku tersenyum “jadilah dirimu sendiri sayang,” katanya.

Sesuai perjanjian aku dijemput di bandara tanpa diberi tahu siapa yang menjemputku. Saat aku sibuk mencari sosok yang mungkin masih bisa kukenali, bahuku ditepuk dan dalam sekejap kami berpelukan. Sahabatku yang selalu duduk sebangku, masih tetap cantik dan modis. Selama perjalanan menuju tempat acara tiada habis kami ngobrol diselingi canda dan tawa.

Gedung tempat acara diadakan tidak asing lagi yang berlokasi dekat sekolah. Sengaja dipilih tempat ini untuk mengingatkan kembali masa lalu. Bahkan warung mbok Rah tempat kami nongkrong pada jam istirahat sambil menikmati tahu petisnya masih dipertahankan, ini merupakan sejarah bagi kami apalagi yang suka ngutang.
Air mata gembira, terharu menerima sambutan hangat teman-teman. Jujur aku hampir tidak mengenal mereka satu persatu. Berjalannya waktu membuat perubahan terjadi. Angkatanku yang semuanya sudah diatas 70. Banyak yang memakai tongkat atau duduk di kursi roda. Kerut-kerut wajah tidak bisa menutupi usia walau penampilan masih keren.

Suasana semakin hangat dan seru saat saling mengenalkan diri, apalagi dengan mengingatkan hal-hal konyol. Aku dijadikan bulan-bulanan, di plonco karena aku satu-satunya yang datang dari jauh dan praktis lama tidak jumpa. Kenakalan, usilnya masa muda selalu jadi topik menarik. Segudang cerita layaknya kisah seribu malam yang tidak ada habisnya. Obrolanpun berlanjut sekitar keluarga, dan dengan bangga pamer jumlah cucu.

Pemutaran video dan slide kegiatan-kegiatan sekolah dan prestasi-prestasi yang diraih seakan membawa kami ke masa itu. Suasana berubah hening saat ditampilkan photo guru, sahabat yang telah pergi karena Covid atau sakit lainnya.

Berkumpul dengan berbagai ragam kepribadian memang bisa menimbulkan salah persepsi. Ada yang masih suka pamer, komen yang menyakitkan, tapi semua itu sirna bagaikan angin lalu yang terusik oleh sikap hangat yang lebih mengutamakan arti persahabatan.
Hal seperti ini yang membuat sebagian teman tidak hadir Reuni dengan alasan klasik: sibuk atau ada acara keluarga yang tidak bisa dibatalkan.

Sesekali jadi pendengar dan penonton yang baik rasanya lebih aman. Reuni yang berlangsung beberapa jam sebaiknya diisi dengan hal positif sehingga kenangan indah dapat kita simpan dan bisa jadi dongeng menarik untuk anak cucu.

Aku bersyukur mengikuti saran suami untuk hadir di acara ini, selain untuk menyambung silaturahmi juga banyak pelajaran yang kudapat. Perjalanan hidup manusia begitu menakjubkan. Banyak teman-teman yang sukses dan punya jabatan penting,
sebaliknya juga banyak teman harus bekerja keras menghidupi keluarganya.

Dari pertemuan ini kuambil makna Reuni yaitu menjalin persahabatan tanpa menghiraukan status sosial. Persahabatan tulus tanpa mengikutsertakan unsur yang menguntungkan. Jadikan sisa usia senja yang setiap saat akan berakhir bermanfaat dan contoh bagi generasi muda.

Hadirnya beberapa guru, dibalik wajah tua masih tercermin wibawa mereka. Wajah yang dulu angker dan dapat julukan killer dari anak didiknya yang malas, hari itu disambut hiruk pikuk meriah dan rasa hormat. Pahlawan yang telah mengantar anak didiknya
ke gerbang sukses.

Masih ada seminggu di kota kelahiranku, ditemani beberapa teman kusempatkan mengunjungi teman-teman yang kurang sehat dan yang tidak sempat hadir di Reuni. Sebelum berpisah kami berjanji untuk tetap saling kontak.

Dalam pesawat kusimak foto, moment indah, gelak tawa dan canda lucu yang membuatku tersenyum. Di bandara suami sudah menungguku di pintu keluar. Belum sempat ditanya aku sudah ngoceh serunya bertemu sahabat lama. Sosok, status bisa berubah..tapi persahabatan tidak.

HP ku tiada hentinya berdenting. Banyak pesan yang masuk …. ngopi yuk, lunch bareng yuk. Aku bahagia mempunyai sahabat yang tidak pernah berubah. Bagaimana aku mampu menolak ajakan mereka? Apalagi silaturahmi memang dianjurkan.

Di Reuni banyak yang kita gali, mendengar pengalaman teman saat sulit. Bagaimana mereka berjuang untuk tetap move on. Covid juga mengajarkan kita untuk tegar, berbagi dan peduli.

Sesuai dengan janji, ngopi bareng pun terlaksana didukung cuaca indah. Seperti biasa ribut, berisik, rame saat kumpul. Aaaakh Reuni sederhana, sekedar ngopi tapi makna pertemuan ini begitu mahal karena didasari kuatnya nilai persahabatan yang tulus. Semoga silaturahmi seperti ini tetap ada dan dipertahankan. [IM]

 

As you get older you become wiser
as you learned from the past.

You will understand more and more
that it’s not about what you look like
or what you own, it’s all about the person that you’ve become.

(oleh Yoen Yahya)

Previous articleMesin Poker Akan Menjadi Non Tunai Pada Tahun 2028
Next articleJadwal Penerbangan Baru Garuda Indonesia Ke/Dari Australia