Profil PPIA: Dhimas Utomo

1443
Facebooktwitterpinterestlinkedinmail

Apakah kita masih sering surat-menyurat? Mungkin tidak sesering dulu, karena sekarang jamannya e-mail, texting, dan banyak media elektronik lainnya. Walaupun begitu, ternyata masih banyak juga teman-teman kita di Indonesia yang berada di daerah terpencil yang mungkin tidak seberuntung kita dengan semua fasilitas yang kita miliki. Contohnya adalah di Maluku Tenggara Barat.

Untungnya, Indonesia tentunya bangga dengan salah satu anggota PPIA (Perhimpunan Pelajar Indonesia Australia) yang bernama Dhimas Utomo, karena dia memampukan para anak kecil disana untuk dapat melihat dunia luar melalui proyek bernama Sahabat Pena. Berikut ini adalah hasil wawancara Indomedia dengan Dhimas.

IM: Halo, Dhimas! Apa kabar?

DU: Kabar baik. Saya telah menyelesaikan studi saya di Sydney dan sekarang saya telah kembali ke tanah air.

IM: Wah, selamat ya sudah menyelesaikan studinya di UNSW, Sydney. Indomedia berharap semoga Dhimas baik-baik saja di Indonesia. Sebagai founder proyek Sahabat Pena, Indomedia sangat tertarik mendengar sepatah dua patah kata dari Dhimas. Secara singkat, gimana dan apa sih sebenernya project Sahabat Pena itu?

DU: Kegiatan sahabat pena ini adalah kegiatan saling berkirim surat antara siswa-siswi SD di Desa Lumasebu, Kepulauan Tanimbar, Maluku Tenggara Barat, dengan warga negara Indonesia di Sydney, termasuk bapak Yayan Mulyana dari KJRI. Pelaksanaannya dibantu oleh Pengajar Muda Yayasan Indonesia Mengajar yang sedang bertugas di sana.

img_7092

IM: Sebenarnya, apa yang menginspirasi kamu untuk memulai proyek ini?

DU: Inspirasi dari kegiatan ini adalah untuk berbagi cerita, mimpi, dan cita-cita sebagai saudara sebangsa. Ketika anak-anak di Lumasebu menerima surat-surat dari Sydney, mereka sangat gembira. Mereka melihat foto kakak-kakak mahasiswa yang kuliah, mereka melihat keindahan kota Sydney, mereka lalu berani bermimpi bahwa mereka pun bisa. Surat dan foto-foto itu mereka kibar-kibarkan sambil berjalan di kampung, lalu mereka simpan dengan sangat rapi di rumah, sebagai penanda perjalanan cita-cita mereka.

Sementara kakak-kakak pelajar di Sydney yang menerima surat dari tanah air, semakin cinta Indonesia, semakin kenal Indonesia. Mereka mendengar cerita dari saudara sebangsanya jauh di pulau-pulau terdepan perbatasan. Kelak anak-anak muda ini akan menjadi pemimpin negara yang mengenal Indonesia secara utuh.

IM: Dengar-dengar, untuk proyek ini, kamu bekerjasama dengan Anchor of Hope dan juga PPIA?

DU: Ya, kami juga bekerjasama dengan PPIA dan Anchor of Hope dalam menjalankan kegiatan ini. Harapannya akan lebih banyak lagi pihak yang terlibat.

IM: Sejauh ini, tantangan apa saja yang kamu harus hadapi dalam mengurus proyek ini? Mungkin faktor internal yaitu dari proyek ini sendiri, atau faktor eksternal seperti susahnya membagi waktu dengan waktu belajar.

DU: Tantangan yang cukup berarti adalah pengiriman ke Tanimbar. Selama ini biasanya dilakukan dengan menitipkan pihak Indonesia Mengajar yang berkunjung ke sana, karena jika pengiriman dilakukan lewat pos waktunya sangat lama. Saat ini Pengajar Muda sudah purna tugas di Tanimbar. Namun sekarang muncul inisiatif lokal bernama Gerakan Tanimbar Mengajar. Tantangan yang lain adalah merekrut pelajar di Sydney untuk mengirim surat ke Tanimbar. Perlu penjelasan dan ajakan yang persuasif untuk mengajak mereka.

IM: Apakah ada satu dua hal yang mengena di hati selama mengerjakan proyek Sahabat Pena ini?

DU: Hal yang berkesan di hati adalah bahwa kita menjadi punya saudara baru, adik dan kakak. Satu di Sydney, satu di Tanimbar. Awalnya tidak kenal. Bahasa ibunya mungkin berbeda, budaya nya berbeda, tingkat pendidikan berbeda, tetapi kita saudara sebangsa.

Yuk Teman-teman,… mari kita mendukung Dhimas dan project Sahabat Pena ini!

Please follow and like us:
error