Pencarian Cinta Sejati Di Masa Depan

53
Facebooktwitterpinterestlinkedinmail

Baik jangka panjang maupun pendek, komitmen cinta memiliki pro dan kontranya sendiri.

Forever and a day, that’s how long I’ll be loving you.” – Kelly Rowland

Peranan waktu dalam konteks cinta masa depan biasanya terdiri dari dua sikap yang saling bertolak belakang: Makan, minum, dan bersukarialah, karena besok kita mati; atau “selalu dan selamanya.” Sikap pertama bersifat jangka pendek, yang cocok dengan cinta (atau nafsu?) bergairah yang meletup-letup namun tidak ada faktor esensialnya. Menyenangkan, walau hanya sekejab, namun tanpa makna. Sikap yang kedua melihat cinta romantis dan nilai-nilai yang bertahan lama untuk dijajaki bersama dengan dia yang kita cintai. 

Bersenang-Senanglah, Setidaknya Malam Ini Saja 

Let’s forget about tomorrow for tomorrow never comes. Let’s live for now and anyhow who needs tomorrow?” – Frank Sinatra

Pengabaian masa depan cocok dengan pandangan romantisme bergairah yang intens. Intensitas seperti ini membutuhkan aksi sesegera mungkin yang akan “mengipasi” that api asmara; mempertahankan rasa dalam jangka panjang bukan bagian dari skenario ini. Sikap ini dihubungkan dengan asumsi bahwa hidup tidaklah penting karena sifatnya singkat dan sementara. Cinta menjadi tidak penting, karena gairah lebih berperan.

Mengambil sikap hedonistik dari “makan, minum, dan bersenang-senanglah, karena besok kita mati,” mungkin akan memuaskan gairah seksual sesaat, namun tidak akan membuat seseorang mendapat kebahagiaan sejati. Orang yang berprinsip hidup bahwa hidup adalah sementara memfokuskan diri pada kegiatan-kegiatan menyenangkan yang bersifat kekinian. Jika hidup ini memang sangat singkat, mereka percaya bahwa lebih baik dinikmati sepuas mungkin dengan berbagai kegiatan menyenangkan sesaat.

Pikiran Terus berpacu, Kita Tidak Akan Menetap

Membatasi diri terhadap cinta sesaat, dan mengabaikan masa depan, tentu saja adalah hal yang mustahil. Kita tidak hidup hanya dengan cinta yang bersifat sesaat, namun, kita hidup dalam dunia yang penuh dengan kemungkinan akan adanya cinta romantis yang hidup selama-lamanya. Rasanya mustahil untuk bertindak tanpa mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinan tanpa batas. Kapasitas imajinasi kita memaksa kita untuk prihatin tidak hanya terhadap masa kini, namun juga akan kondisi masa lalu dan masa depan – apa yang mungkin dan sedang terjadi.

Tentu saja, orang cenderung berpikir tentang masa sekarang daripada masa lalu atau masa depan, dan pastinya hal-hal potensial yang lebih menyenangkan untuk dibayangkan daripada dialami. Seturut dengan itu, dengan begitu banyak seabrek kemungkinan lain yang menarik, cinta di masa kini menjadi lebih cair secara konsep – dan juga seturut dengan itu, hubungan romantis cenderung lebih rapuh daripada di masa lalu, membuat kita ragu untuk memiliki hubungan cinta jangka panjang yang lebih bermakna.

Masalah besarnya saat ini adalah tidak memfokuskan diri hanya pada kenyataan yang ada saat ini tapi justru sebaliknya – menjadi budak cinta di masa depan, yang akan menodai cinta romantis penuh makna di masa kini. Karena kemungkinan cinta romantis di masa depan yang membuat hati kita “ketar-ketir”, kita jadi tidak dapat menghargai makna cinta sesungguhnya saat ini. Kita cenderung “jatuh” ke dalam cinta “palsu” dan perasaan yang terus berubah-ubah, mengabaikan aspek yang lebih stabil dan bermakna akan cinta sejati itu sendiri. Kita kompromi terhadap kemungkinan cinta yang bermakna dan hubungan jangka panjang supaya dapat mencicipi “getar-getar” cinta yang penuh gejolak walau hanya sesaat. 

Benarkah Mampu untuk Selama-lama-lama-lamanya? 

I’m keeping you, forever and for always. We will be together all of our days. Wanna wake up every morning to your sweet facealways.” – Shania Twain

Waktu adalah faktor penting dalam cinta. Tentu saja, banyak kekasih mengekspresikan harapan mereka untuk dapat bersama-sama selamanya. Saat menikah, sepasang sejoli saling berjanji untuk selalu bersama “sampai maut memisahkan.” Sebuah lagu cinta bersenandung “my endless love.”

Dalam film “Elegy,” yang diambil dari novel karya Phillip Roth The Dying Animal, seorang wanita muda bertanya kepada kekasihnya yang berusia lanjut, “Pernahkah kau membayangkan masa depan denganku?” Pertanyaan itu memiliki inti peranan waktu yang berlaku di dalam cinta. Cara kita melihat sebuah masa depan dengan pasangan kita merupakan ekspresi sejati akan kedalaman cinta romantis. Tentu, dalam hal pentingnya masa depan, banyak orang menghidupi masa depannya saat ini dan bersiap-siap untuk kehilangan. Membayangkan kehilangan cinta tentu membawa kesedihan. Sama halnya dengan antisipasi gairah masa depan membawa kegairahan saat ini juga.

Selalu dan Selamanya Tidaklah Sama

Dimensi waktu dalam cinta memiliki dua aspek utama: durasi dan frekuensi. Harapan seorang kekasih adalah dapat bersama dengan kekasih hatinya selalu dan selamanya mengekspresikan kedua aspek di atas – ingin bersama si yayang sepanjang hayat dikandung badan; dan ingin bersama si yayang setiap hari sesering mungkin.

Kedua harapan tersebut tidaklah sama: contohnya, seseorang bisa saja berharap dapat besama-sama dengan pasangannya selamanya, tapi lebih suka melakukannya pada saat weekend saja! Dia mungkin berharap dapat bersama pasangannya sepanjang hidupnya karena dia adalah pasangan yang cukup baik, dapat memberikan atau memuaskan kebutuhannya dengan optimal saat ini. Tapi, hal itu bukan melulu berarti bahwa waktu bersama si yayang selalu memuaskan. Sebaliknya, mungkin saja ada jarak, baik sementara maupun bersifat fisik, yang memampukannya untuk dapat bersama-sama sang kekasih selama itu.

Tentu saja, hubungan berjarak umumnya dihidupi dengan kualitas di beberapa titik, termasuk cinta kepada pasangannya, bersenang-senang dengan pasangannya, dan obrolan yang berkualitas. Kualitas obrolan ini tentu saja tidak sama dengan pasangan kekasih yang tidak memiliki hambatan dalam jarak. Tingkat komitmen di antara pasangan yang terpisah jarak nyatanya sama dengan pasangan yang secara jarak geografis dekat. Menurut fakta itu, hubungan berjarak memiliki kemungkinan bertahan lebih tinggi. Harapan untuk dapat bersama seseorang sepanjang hidup, pada akhirnya, tidak selalu mengekspresikan cinta bermakna – bisa jadi hal itu hanya berarti sebuah hasrat untuk berbagi hidup yang lebih nyaman.

 

Mencintai Penuh Makna dan Hidup Dengan Nyaman

If I could save time in a bottle, the first thing that I’d like to do, is to save every day till eternity passes away, just to spend them with you.” – Jim Croce

Tinggal menyenangkan dan nyaman dengan seseorang selama bertahun-tahun bergantung pada banyak faktor yang tidak ada hubunganya dengan cinta. Lebih lanjut, sebagaimana banyaknya kegiatan menyenangkan yang kita lakukan sendiri, seseorang yang tidak selalu bersama-sama dengan kita sepanjang waktu terbukti cocok dibandingkan dengan pasangan kita sendiri yang sekian lama telah bersama. Hidup menyenangkan dan nyaman dengan pasangan seperti itu selama bertahun-tahun tidak selalu menunjukkan cinta romantis yang bermakna – tapi, berharap dapat bersama seseorang setiap hari dan sesering mungkin. Cinta bermakna melibatkan keinginan untuk dicintai terus menerus, walaupun tidak diperlukan dalam konteks kenyataannya harus terus bersama sepanjang waktu. Dalam hal ini, kebersamaan itu sendiri, terlihat dalam berbagai kegiatan yang dilakukan bersama, merupakan nilai intrinsik.

Keinginan untuk dapat bersama sang kekasih selamanya adalah salah satu bentuk cinta yang paling bermakna. Cinta itu tetap ada walau pasangannya jelas-jelas sedang menikmati kegiatan dengan orang lain juga; hidup kita dipenuhi dengan berbagai jenis kegiatan bernilai instrinsik dan tidak masuk di akal untuk mengharapkan satu orang untuk memenuhi semua kebutuhan kita. (Beberapa kebutuhan tertentu, seperti yang bersifat intelektual, harus diisi oleh banyak orang.)

Walaupun demikian, riset mengindikasikan bahwa waktu bersifat merusak bagi intesitas romantisme. Helen Fisher mencatat sebuah periode satu sampai tiga tahun cinta menggebu biasanya berlangsung, dan setelah itu perceraian kemungkinan besar akan terjadi. Alasanya cinta memudar sejalan dengan waktu adalah emosi yang biasanya muncul saat kita merasakan perubahan yang signifikan dalam situasi hubungan pribadi kita, misalnya turunnya gairah. Seperti halnya alarm pencuri menjerit saat pencuri masuk, emosi memberi sinyal bahwa sesuatu harus diperhatikan.

Sebuah perubahan tidak dapat selamanya eksis; setelah beberapa lama, sistem menjadikan perubahan sebagai kondisi normal dan hal itu tak lagi menggairahkan kita – tentu, respons seksual terhadap pasangan yang kita kenal menjadi kurang intens dibandingkan dengan pasangan yang baru. Setelah kondisi berganti, kita beradaptasi pada kondisi tersebut dan pengalaman menjadi kurang “exciting”. Pada kenyataannya, frekuensi aktivitas seksual dengan pasangan akan menurun secara bertahap dan pasti sejalan dengan lamanya hubungan berlangsung. Frekuensi ini menurun paling tidak setengah di tahun kedua dibandingkan dengan tahun pertama, dan semakin menurun setelahnya. Penurunan juga ditemukan pada mereka yang hidup bersama, baik pada pasangan heteroseksual maupun homoseksual.

Love Takes Time

Waste your money and you’re only out of money, but waste your time and you’ve lost a part of your life.” – Michael LeBoeuf

Peran waktu dalam cinta memang ambigu. Ada yang berpendapat hal itu bersifat sangat penting. Lainnya merusak, dalam hal membunuh intensitas romantisme. Kita bisa bilang bahwa waktu memang merusak intensitas cinta, yang setiap orang selalu ingin mendapatkan kembali kegairahan cinta pertama, lagi dan lagi. Namun, waktu dapat menjadi aspek positif dan mengikat dalam cinta yang bermakna. Waktu sangat penting untuk membangkitkan dan memertahankan cinta bermakna, karena cinta jenis ini terlihat dalam kegiatan yang dilakukan bersama selama periode waktu tertentu.

Arti pentingnya romansa adalah sebuah proses yang terus menerus yang memadukan intentitas dan kegiatan yang dilakukan bersama. [IM]

Please follow and like us:
error